Merek Motoguzzi memang identik dengan Italia dan masih tetap Italia, tidak seperti Benelli yang sudah mulai berganti penguasa ke Negeri Tirai Bambu sehingga mulai dan memang tidak Italia lagi. Secara keuangan entahlah posisinya, tapi kalau dilihat dari produksinya, tampaknya Motoguzzi sudah punya pasar sendiri, yang meskipun kecil, tapi membuat produsen ini tetap bisa bertahan. Beda dengan MV Agusta yang sebenarnya sudah beberapa kali bangkrut, dan saat ini pun hutangnya luar biasa, untung saja masih ada investor yang siap mempertahankan keeksklusifan merk yang identik dengan Giacomo Agustini ini.

Motoguzzi memang bisa dibilang seperti Harley Davidson, ya sepertinya ga mirip-mirip banget. Namun, sama-sama motor yang tergolong konservatif dan mempertahankan tradisi. Dari dulu ya kelihatan benang merahnya. Tenaga mesin pun tak performance oriented. Namun, dengan mesin V melintang khasnya, Motoguzzi jelas punya penggemar sendiri. Meskipun mesinnya bunyinya tak segahar HD dan tak sewibawa BMW, tapi bentuknya itu lho…indah, anggun, membuat yang memandang ingin memiliki hehe..

Berikut foto-foto Motoguzzi Le Mans 850 milik seseorang yang serumah dengan saya waktu di Köln. Ya ga serumah sih, cuma satu gerbang haha.. Iseng-iseng saya foto dan duduk di atasnya. Pemandangan dari cockpit melihat mesin menjulur keluar itu memang sesuatu banget…Selamat menikmati una bella rossa italiana ini..

20160817_184958

20160817_185011

20160817_185023

20160818_124722

20160818_124713

Oh ya, kalau moge-moge Jepang banyak yang menua dan semakin tak ada harganya, Motoguzzi tua tidak begitu. Tak kalah lah dengan BMW atau motor-motor Inggris, Motoguzzi bisa bertahan bahkan naik harganya..artinya memang doi dianggap motor klassik..yup, klassik alias berkelas..

Iklan