You are currently browsing the monthly archive for Desember 2016.

bmw-monas1

Peribahasa yang tetap lestari di dalam bahasa Indonesia salah satunya ya “Rumput tetangga lebih hijau.” Bukan apa-apa, nempel banget dengan sifat manusia yang sebenarnya tidak baik. Secara tidak langsung, ada rasa iri di situ… Secara tak langsung, kita sebenarnya kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Nah, ini juga yang dulu saya alami.. Tidak ngiri sih, cuma kalo foto itu senangnya foto sama motornya teman, bukan motor sendiri hehe.. wajar kali ya, kan kepikirnya, sama motor sendiri itu bisa foto kapan saja..

550820_3639057408318_1558690219_n

Singkat kata, si Bianca Angela, motor Honda CB750 yang juga merupakan motor saya beli sendiri pertama kali sudah berpindah tangan.. Waktu itu keadaan keuangan kering kerontang..kalau tak salah gara-gara beli BMW R27 hehe…CB750 Police bersurat dengan tertera di BPKB dumped ABRI yang saya beli 30 jutaan dan perbaiki hingga 10 juta lebih itu pun berpindah tangan…

Lumayan sih, laku 50 jutaan, lupa pasnya berapa. Kalau dipikir-pikir, kangen banget dengan mesin 4 silindernya yang bunyinya berwibawa. Perawatannya juga sangat mudah. Hanya saja waktu itu setting karburatornya belum ketemu-ketemu haha, saya masih perlu banyak belajar. Kalau bersihin dan bongkar karbunya doang sih sudah bisa. Motornya juga gampang hidup, hanya larinya yang belum dapet… Kalau ngandalin mekanik moge terus, bolong juga kantong, apalagi kalo mekaniknya gede omongan doang, duit ngucur hasil sejenak aja enaknya hahah..

Karena PRnya masih lumayan banyak dan keuangan negara terancam, akhirnya motor yang pajak per tahunnya sekitar 500 ribuan ini saya lepas. Dan bodohnya, ternyata saya belum pernah foto-foto mesra sama Bianca Angela hikshiks….

550820_3639057448319_41448778_n

https://motorklassikku.wordpress.com/2008/10/20/ayo-merakit-triton/https://motorklassikku.wordpress.com/2008/10/20/ayo-merakit-triton/

Ini artikel awal-awal ngeblog dari tahun 2008. Isinya sih tentang perkiraan biaya  kalau mau buat motor model cafe racer, dalam hal ini yang jadi acuan gayanya Triton alias Triumph Norton. Kenapa saya bilang ngaco? Karena keadaan tahun 2008 dengan sekarang berubah, dan ini satu lagi pembuktian bahwa motor klassik itu memang mengikuti arus inflasi, bahkan bisa lebih gila lagi lajunya dibandingkan inflasi.

https://motorklassikku.files.wordpress.com/2008/10/triton1.jpg

Di artikel itu, dengan uang 5 juta, CB 100 bisa dijadikan bahan, CB 200 juga bisa dijadikan bahan dengan biaya 15 juta haha… Hari gini, saya bakal digampar bolak balik kalau ngomong begitu! Dapat Honda CB 100 seharga 5 juta saja susah, walaupun masih bisa… tetapi itu kondisinya pasti bahan atau sudah banyak tidak ori dengan kebutuhan perbaikan mesin atau surat tak lengkap.

Yang lebih parah lagi yang CB 200. Hari gini, 15 juta buat beli CB 200 bodong alias suratnya yatim piatu saja tidak bisa! Kalaupun masih ada, tanpa surat dengan keadaan tidak utuh atau kena modifikasi berat, dan itupun tidak lengkap atau jauh dari kata rampung! Hari gini, CB 200 kondisi original bersurat lengkap sudah mulai dipasarkan di atas 40 jutaan hingga 50 jutaan. Bahkan ada yang pede pasang harga 70 juta untuk satu unit CB 200.

Nah, satu-satunya dari artikel itu yang masih benar justru yang pertama! Bikin Cafe racer dengan bahan Suzuki Thunder 250 dengan biaya 20 juta. Memang ini motor termasuk motor hobi, terbukti dari harganya yang cenderung stabil di belasan juta, tak seperti Thunder 125 yang menukik parah, bahkan sekarang lebih mahal Honda Win atau Honda GL100 hehe…

Di Indonesia:

img-20160720-wa0023

Di Jerman

img-20161214-wa0004

Sekian…

Jok model susun atau model meninggi ke belakang memang keren, bisa dibilang salah satu perubahan desain motor memasuki dekade 80an. Makin ke sini anehnya makin naik, bahkan cenderung berlebihan. Kalau dulu dibuat naik agar boncenger bisa ikut menikmati pemandangan ke depan, kini dibuat naik banyak yang dengan tujuan utama estetika. Ujung-ujungnya, kenyamanan sedikit di korbankan.

Bukan cuma boncengernya yang tak nyaman di perjalanan dan naiknya susahnya amit-amit, ridernya juga kadang risih kalau yang dibonceng ga oke haha..atau kaku, karena gerakan motor jadi makin terganggu keseimbangannya. Ya ini akibat titik berat yang semakin jauh dari titik berat motor.

Kelemahan lainnya adalah: baret! Jok Tiger hitam saya dulu baret karena kena sepatu saya sendiri hikshiks..sedih aja ngelihat jok baret… Saya kurang tinggi mengangkat kaki saat mau naik. Ya, kadang efek celana yang terlalu ketat membuat ayunan kaki tertahan, dan breeet..baret deh.. mungkin masih untung baret, kalo celana bahannya yang robek, baaaah, bisa koyak hasil pencitraan selama ini..

Oh ya, untuk mencegah itu, ada satu tips nih untuk naik motor jok susun atau jok boncenger yang tinggi. Modelnya sebenarnya orang dengan tinggi badan di atas rata-rata, jadi agak terlihat lebay..tapi boleh ditiru dalam keadaan terpaksa. Motor yang dinaiki, si picek nan ganteng, BMW S1000RR:

20160903_201358

Langkah pertama, pastikan motor terstandard dengan kokoh, lalu pegang setang kiri, kaki kiri naik ke footstep kiri.

20160903_201400

Seperti naik tangga, kaki kiri menjadi pijakan, tangan kiri menyeimbangkan dan tangan kanan meraih setang kanan sambil kaki kanan diayunkan ke sisi kanan motor.

20160903_201403

tadaaaa…. risiko baret nyerempet jok belakang bakal jauh diminimalisir..

Btw, ini artikel emang ga penting banget..

Tidak direkomendasikan melakukannya, apalagi di motor yang footstepnya bisa dilipat! Salah-salah footstepnya malah kalah dan meletot, kalau sampai meletot dan melejit, ya rusak deh..belum lagi risiko kita terjatuh akibat footstep yang mendadak melejit karena tak kuat menopang bobot tubuh berlebihan. Saya pernah hampir jatuh karena footstep yang melejit ini.. Kalau footstep yang model pipa melintang, itu jauh lebih kuat.. Tapi model seperti itu adanya di motor yang joknya datar kan haha..

Jadi, lupakan saja apa yang baru dibaca di artikel ini…

20161008_120118

Di Indonesia, kita rata-rata menyebutnya motor fairing dengan motor batangan atau naked bike atau apalah hehe.. Terlalu luas juga kalau harus disebutkan semua. Bedanya sangat mudah, apalagi semakin ke sini, pabrikan dituntut bekerja efektif dan efisien. Salah satu yang dikorbankan sebenarnya adalah ketajaman sebuah produk, maklum, kan dituntut banyaknya common parts supaya harga sebuah kendaraan bisa lebih ekonomis. Di Indonesia, untuk membuat naked bike gampang, cukup lepas fairing, ganti head lamp, kasih setang konvensional, maka jadilah…

Hal ini memungkinkan karena motor fairing alias motor sportnya tak se-sporty seharusnya. Tidak perlu itu ada ubahan pada mesin, karena tenaga motornya kecil hehe..dikorting lagi, alamat naked bikenya ga dilirik… Posisi foot step pun tak ada penyesuaian, ya itu karena memang motor sportnya tak terlalu track oriented.

Oh ya, bedakan antara power naked bike dengan street fighter ya.. Power naked bike itu motor superbike yang ditelanjangi dan dilengkapi dengan setang tinggi. Ini trend tahun 80an dari balap AMA superbike yang pembalapnya memilih gaya power naked bike! Ketika balap di Eropa mengandalkan fairing dan posisi rider menunduk, di Amerika, wah gayanya begini..Hmmm kalau di Indonesia gaya RX-King lah haahha..setang tinggi tenaga binal!

20161008_113653

Nah, kalau motor yang dijadikan basis adalah sebuah superbike 1000cc, ya sudah tak bisa lagi itu sekedar ganti setang dan lepas fairing saja! Bukan semata karena mengejar biaya murah Bro tenaga mesinnya diturunkan dan posisi duduk diubah, tetapi memang karena alasan keamanan! Motor superbike yang ditelanjangi dan diganti setang tinggi saja hari gini terlalu liar untuk dikendarai! Motor akan cenderung wheelie terus dan feedback plus traksi roda depan sangat buruk! Nah, agar motor bisa dikendarai, maka dengan sengaja tenaga diturunkan, dan posisi pengendara agak digeser ke depan agar roda depan lebih banyak menerima bobot! Inilah alasan utama, tenaga motor-motor macam BMW S1000R (versi nakednya BMW S1000RR), Aprilia V4 1000 Tuono Factory (versi nakednya Aprilia RSV4)dan Yamaha MT-10 (versi nakednya Yamaha R1) dikorting 20%. Yup, rata-rata dari 200PS diturunkan ke kitaran 160-170PS!

20161008_111332

Logikanya, yang telanjang harusnya lebih ringan! Namun, di kelas Superbike sekarang, itu jelas tak berlaku, bisa-bisa tak ada yang beli! Motor-motor berfairingnya jelas lebih ringan! Ini dikejar dari material yang beda!

Sebagai perbandingan R1 dan MT-10. Ini contoh motor yang harganya paling beda jauh dibandingkan BMW dan Aprilia punya. MT-10 ditawarkan seharga nyaris 5500 Euro lebih murah. Apa saja sih bedanya. Kita lihat ya..

Ini sumbernya

Perbedaan Mendasar R1 díbandingkan MT-10

Yamaha YZF-R1 Yamaha MT-10
Motor
tenaga 200 PS @13.500/min 160 PS@11.500/min
torsi 112 Nm @ 11.500/min 111 Nm @ 9000/min
kompresi 13,0:1 12,0:1
klep masuk 33 mm 31 mm
jumlah injektor per silinder 2 1
Volume Airbox 10,5 l 12 l
material setang seher titanium baja
material bak oli dan cover mesin magnesium alumunium
gear belakang  41 mata 43 mata
material knalpot Titan stainless steel
 velocity stack variabel fix
master rem radial konventional
material rangka belakang magnesium baja
tanki di bawah jok konventional
material velg magnesium-alumunium alumunium
sensor kemiringan ada tidak ada
 bobot 199 kg 213 kg
akselerasi 0-100 km/h* 3,3 sek 3,2 sek
akselerasi 0-200 km/h* 7,4 sek 8,7 sek
akselerasi di gigi 3. 30-100 km/h* 4,8 sek 4,1 sek
topspeed 285 km/h 245 km/h
harga 18.496 Euro 12.995 Euro

Merek Motoguzzi memang identik dengan Italia dan masih tetap Italia, tidak seperti Benelli yang sudah mulai berganti penguasa ke Negeri Tirai Bambu sehingga mulai dan memang tidak Italia lagi. Secara keuangan entahlah posisinya, tapi kalau dilihat dari produksinya, tampaknya Motoguzzi sudah punya pasar sendiri, yang meskipun kecil, tapi membuat produsen ini tetap bisa bertahan. Beda dengan MV Agusta yang sebenarnya sudah beberapa kali bangkrut, dan saat ini pun hutangnya luar biasa, untung saja masih ada investor yang siap mempertahankan keeksklusifan merk yang identik dengan Giacomo Agustini ini.

Motoguzzi memang bisa dibilang seperti Harley Davidson, ya sepertinya ga mirip-mirip banget. Namun, sama-sama motor yang tergolong konservatif dan mempertahankan tradisi. Dari dulu ya kelihatan benang merahnya. Tenaga mesin pun tak performance oriented. Namun, dengan mesin V melintang khasnya, Motoguzzi jelas punya penggemar sendiri. Meskipun mesinnya bunyinya tak segahar HD dan tak sewibawa BMW, tapi bentuknya itu lho…indah, anggun, membuat yang memandang ingin memiliki hehe..

Berikut foto-foto Motoguzzi Le Mans 850 milik seseorang yang serumah dengan saya waktu di Köln. Ya ga serumah sih, cuma satu gerbang haha.. Iseng-iseng saya foto dan duduk di atasnya. Pemandangan dari cockpit melihat mesin menjulur keluar itu memang sesuatu banget…Selamat menikmati una bella rossa italiana ini..

20160817_184958

20160817_185011

20160817_185023

20160818_124722

20160818_124713

Oh ya, kalau moge-moge Jepang banyak yang menua dan semakin tak ada harganya, Motoguzzi tua tidak begitu. Tak kalah lah dengan BMW atau motor-motor Inggris, Motoguzzi bisa bertahan bahkan naik harganya..artinya memang doi dianggap motor klassik..yup, klassik alias berkelas..

20160909_182534-1

Beberapa bulan lalu, kota Köln mengalami darurat balap liar. Hal ini terjadi setelah dalam sebulan ada beberapa kecelakaan di jalanan dalam kota Köln yang merenggut korban jiwa. Kebanyakan korbannya adalah pengendara sepeda. Memang 3 nyawa untuk ukuran Indonesia sedikit ya, tapi buat orang Jerman ini sangat meresahkan, yup, ketika rasa aman mereka terusik, mereka akan gelisah! Maklum, biasa hidup teratur dan aman. Nah, pelakunya rata-rata anak muda usia 20an! Yah, lagi hobi-hobinya pamer diri di depan cewe-cewe lah, apalagi di jalanan dalam kota. Penyakit lainnya, mereka suka memvideokan aksi kebut-kebutan mereka di jalan dalam kota. Nah, yang model begini-begini sih mudah menangkapnya, dan mereka membuat barang buktinya sendiri hehe… Wah, kalau blogger di Indonesia hidup di Jerman, sudah  kena denda berapa itu, belum lagi SIM dicabut.

20160901_143752

Bukan sebatas pelanggaran batas kecepatan saja Bro, tapi juga kelakuan zigzag, tidak mendahulukan pejalan kaki atau pengendara sepeda di trotoar, tidak menjaga jarak aman, ya arogansi di jalan gitu deh, itu semua bisa ditindak. Tentunya perlu barang bukti kan.. Nah, polisi dalam kendaraan sipil yang bertugas merekam kebandelan ini..dan kalau sudah keterlaluan dan dirasa aman untuk dihentikan, mereka aka menghentikan.

Kalau sudah dihentikan, mobil akan diperiksa. Kalau sudah kena tunning atau tak standar knalpotnya, sebenarnya tidak apa-apa, tapi harus dicatatkan di surat-surat kendaraannya agar legal. Nah, kalau di Indonesia kan belum sebegitunya. Modifikasi dianggap ilegal, tapi penindakannya juga jauh dari kata konsekuen.

Contohnya nih, kalau di Jerman, knalpot boleh diganti, mesin boleh dikorek, tapi tercatat. Nah, begitu modifikasi tak tercatat, atau tak sesuai dengan spek yang dicatatkan, mobil akan disita untuk dinilai oleh lembaga TÜV, apakah mobil itu masih layak untuk dipakai di jalan atau tidak. Kalau sudah begitu, wah mahal Bro…

Soal kebisingan knalpot juga diukur pakai HP. Kalau melebihi ambang, ya pasti di sita! Enaknya, knalpot boleh ganti, selama ambang kebisingannya diperhatikan. Kalau di Indonesia kan undang-undangnya jelas, pelaksanaannya tidak! Walaupun harusnya undang-undang direvisi agar tidak mematikan hobi, kreativitas dan industri. Ya, seperti di Jerman boleh ditiru lah, boleh dimodifikasi, tetapi bersertifikat. Jadi, polisi-polisi oknum juga semakin sempit ruang mainnya.

Achtung: mobil-mobil di foto bukan mobil pelaku!

Ini ciyus Bro, saya tidak sedang becanda… BMW enelan yang benar-benar Bayrische Motorenwerke itu ada yang dibuat di Indonesia! Memang bukan motornya sih, tapi apparelnya.. Misalnya pada jaket berikut ini, semoga masih kebaca ya..

20161211_184042

Ini dari jaket BMW, memang samar-samar sih tulisannya, tetapi masih kebaca kan kalau jaket ini buatan Indonesia. Sayangnya sih harga jaketnya saja bikin haha hihi ga jelas. Maklum, orang selevel saya belum ikhlas beli Jaket seharga Honda Tiger second haha…

Awalnya sih saya kurang suka sama jaket-jaket BMW, tetapi lama-lama lumayan kesengsem juga. Apalagi sama yang model-model jaket ala pengendara GS yang dibuat dari goretex.. Ya, paling nanti ujung-ujungnya beli second atau bikin sendiri pesan di Indonesia.. Tinggal cari bordiran atau emblem BMW deh, pasang haha.. Maklum, kalau kere harus kreatif kan… Kalau mau kaya pun juga harus kreatif hehe..

Sekitar 2 tahun lalu di IIMS, saya pernah bertemu dengan SYM. Boleh dibilang lumayan sih kalau lihat kualitas bodinya, bening dan terlihat lumayan kokoh. Bisa dibilang secara kualitas penampakan, tak kalah dengan produk Jepang. Nah, di Intermot 2016, saya ketemu lagi dengan SYM, kali ini ada motor batangannya, bukan sekedar motor matic atau big scooter seperti yang saya lihat sempat ditawarkan di IIMS. Namanya cukup merepotkan: SB CR 300i. Yup, motor produk Taiwan ini memang kalau dibulatkan berkapasitas 300cc. Eh, tapi kalau dibulatkan korupsinya jauh, maklum aslinya hanya 278,3cc.

Mesin 4 tak 1 silinder ini sayangnya tak dikatakan bertenaga berapa saat di pameran. Namun, dengan pendingin air dan klep yang sudah 4 buah, tampaknya calon pembeli boleh berharap lumayan banyak pada tenaga yang dikeluarkan! Apalagi sudah dibekali dengan 6 tingkat percepatan.

20161008_122929

Soal teknologi, jangan ragu.. Karena dijual di EU, artinya doi tembus Euro4, pasti pakai injeksi lah. Kalau soal handling, wah entahlah. Dari penampakan rangka yang mengingatkan saya pada motor balap Inggris zaman dulu macam Norton Manx dan suspensi belakang dilengkapi dengan tabung, hmmm sepertinya menjanjikan! Suzuki GT250 juga rangkanya mirip seperti ini, dan asli, stabilnya memukau hehe…

Untuk pengereman, tak perlu ragu… sudah cakram depan belakang kok. Diameter 288mm di depan, dan di belakang dikawal cakram 220mm. Dan tentunya sudah ABS sesuai norma Euro4. Hmm..coba dibuat seakan-akan tromol ukuran besar dan sudah duplex…Eh, tapi jatuhnya pasti lebih mahal..

20161008_122922

Aslinya motor ini gagah Bro, kepincut deh. Di foto sayangnza tak fotogenic! Mungkin pemilihan warna gelap di area mesin membuat auranya jadi kurang keluar! Meskipun kelihatan sterk, bobot doi tak semengintimidasi Inazuma kok, masih di bawah 160 Kg, tepatnya 154 Kg. Masih termasuk wajar kan…

20161008_122805

Kalau dibuat versi 250cc, wah bakal menggoda! Dan kalau yang nempel di tanki logo BMW, haha,dijual 80 juta juga laku! Atau TVS barangkali berencana membuat motor macam ini dengan mesin yang se-DNA dengan BMW G310R..hmmm patut dinantikan kalau ada ide ke sana.. Daripada buat motor bergaya modern terus, ya dikomporin lah buat yang neo classic hehe…

20161008_122912

Gimana Bro? Keren kan… Andai mesin CBR250 dikawinkan dengan rangka macam ini dan jadi Tiger 250 hmmm….

Ada teman yang berniat membangun BMW R25nya agar kembali original. Namun, semakin ke sini, tak hanya harga motornya saja yang semakin gila-gilaan, di Indonesia mulai masuk 100 juta Bro… HArga partsnya pun di Jerman ikut bikin mules.

Sebagai salah satunya ini nih, karburator Bing bawaan BMW R25/3. Yang secondnya saja sudah 300 Euroan Bro, alias mendekati 5 juta untuk karbu bekas dengan kondisi entahlah… Dan itu masih di Jerman lo barangnya.

Nah, kalau ada yang jual NOS, maka jangan heran harganya bakalan mahal. Namun, tak terbayang, mahalnya sudah kaya logam mulia hahaha…

20161204_204317

Tuh Bro..700 Euro! 10 juta lebih untuk sebuah karburator baru dengan teknologi tahun 50an ahahah..Ih ngeri…

tersesat muter-muter

  • 2.456.416 x 1000 rpm

Kata yang tersesat

arieslight pada Velg Jari-Jari Lebar Honda…
arieslight pada Huruf “G” di Blok…
retrocustomento pada Velg Jari-Jari Lebar Honda…
ardyyy pada Huruf “G” di Blok…
arieslight pada Terong Susu Hehe…

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com