Oke, ini artikel terakhir tentang elektronik MotoGP yang bersumber dari majalah Motorrad no. 2/2016. Pernah dengar WinARace? Kalau penggemar MotoGP harusnya pernah lihat atau pernah baca. Nah, itu rupanya kerjaannya Dirk Debus dan tim 2Dnya.WinARace adalah software yang berfungsi “menerjemahkan” data digital dari sensor-sensor motor MotoGP yang dismpan oleh data recording dalam bentuk angka/nilai. Angka/nilai ini “diterjemahkan” hingga bisa dibaca dalam bentuk grafik analog! Software ini pun memudahkan para teknisi untuk mengubah angka/nilai saat melakukan setting, jadi mereka tak perlu terlalu repot secara manual mengubah satu-persatu angka di tabel-tabel yang ada. Dengan menggunakan tetikus alias mouse computer, teknisi bisa langsung membentuk grafik sesuai dengan kebutuhan settingnya. Nah, software ini yang mengubah dari bentuk grafik itu ke data digital dan dimasukkan ke tabel-tabel parameter yang dibutuhkan secara otomatis.

Sebenarnya banyak sekali setting yang bisa difasilitasi oleh software ini. Dalam petunjuk penggunaan software, Dirk Debus dan partnernya sesama pendiri 2D, Rainer Diebold, tentu menuangkan cara penggunaan software ini yang mereka peroleh dari pengalaman mereka selama lebih dari 20 tahun balap motor, terlebih Debus pun juga mantan pembalap motor. Tak heran, modul software ini tebalnya hampir 100 halaman! Software buatan 2D ini dipakai tim MotoGP Yamaha,  KTM di Moto3, dan juga di Formula 1. Di Moto2, 2D yang terdiri dari 30 karyawan ini menjadi suplier tunggal untuk sistem data recording.

Software 2D ini bisa dibilang tak terlalu mahal untuk dunia balap. Versi standar software ini dibanderol 1500 Euro. Sedangkan untuk tim Moto2, kit wajib plus software lengkap dengan sensor-sensor sesuai permintaan tim Moto2 tertentu, harganya bisa dibicarakan sesuai permintaan tim itu.

Dari bahasan-bahasan kita, memang tidak bisa dibilang mudah ya elektronik dan settingnya ini. Untungnya, pembalap tak perlu ikutan sepusing para ahli elektroniknya. Pembalap tak perlu terlalu pusing memikirkan apa yang terjadi di belakang layar. Stefan Bradl misalnya, apa yang dilihatnya di layar laptop tentu grafik-grafik yang jauh lebih sederhana daripada apa yang terjadi di belakangnya.Dia bisa lihat, apa efeknya bagi lap time ketika dia mencoba racing line berbeda, ketika dia mengerem lebih keras atau berakselerasi dengan membuka gas lebih cepat.

Debus menjelaskan, para pembalap MotoGP tidak bisa drastis mengubah karakteristik motornya ketika sedang menggeber motor di lintasan. Ia mengibaratkannya seperti “mendengarkan siaran radio”. Para teknisinya yang memilihkan siaran radionya. Si pembalap bisa membesarkan volume kalau dia suka, atau dia kecilkan volumenya kalau dia tak suka: traction control ada 5 pilihan, wheelie control dan power mesin ada 3 pilihan. Kalau si pembalap ingin mendengar siaran radio lain, dia harus masuk pit. Teknisi akan memilihkan siaran yang si pembalap sukai…

Ya, begitulah kira-kira Bro..alhamdulillah selesai juga hihihi…

Iklan