Honda NR 750

Judul itu mencerminkan kebingungan saya, ini motor mau dikategorikan sebagai motor apa. Mau dibilang klassik, terpenuhi banyak kriteria, kecuali umurnya yang masih relatif muda. Yang paling bikin aneh kalau dibilang klassik tentunya teknologi yang dia miliki. Teknologi kaki-kaki yang sampai hari ini secara nama tak bisa dibilang lebih canggih: lengan ayun pro arm dan suspensi USD. Fairing pun dari carbon fibre. Setang piston pun sudah titanium dan masih banyak lagi. Bahkan di samping RC213V-S pun, NR 750 yang harganya dulu 100.000 DM di Jerman ini mash terlihat ga malu-maluin secara teknologi dan desain! Motor yang di foto ini milik seorang kolektor yang mengundang wartawan Motorrad untuk mencobanya. Tentu sebuah keberuntungan mengetest motor yang hanya ada 300 unit ini. Kata si pemilik, motor semacam ini jelas sangat sulit untuk diproduksi lagi. Berdasarkan perhitungan doi, harga 100.000 DM itu sebenarnya murah, bahkan dia bilang, Honda rugi bisa 100.000 DM per unitnya! yup, menurut dia, motor ini layak dibanderol 200.000 DM!

Si pemilik ini berhasil mendapatkan motor yang nilainya makin lama makin mahal ini dari Italia. Wajar, hanya 300, dan untungnya sih katanya dari 300 unit itu kondisinya hampir bisa dipastikan bagus semua, maklum, para pemiliknya terlalu sayang menggunakan motor yang teknologinya lebih edan bahkan dibandingkan motor superbike dan GP500 saat itu. Bahkan, ban yang terpasang masih original haha…

Motor V4 750cc ini sebenarnya ide kelahirannya sudah sejak tahun 70an. Tahun 1978, Honda menciptakan NR500 untuk terjun di ajang GP500. Melawan motor 2 tak yang bertenaga 2xnya motor 4 tak dengan kapasitas yang sama di putaran mesin yang sama. Nah, supaya tenaga 4 taknya bisa nguber, Honda berpikir untuk membuat motor 4 tak dengan rpm tinggi untuk mengejar power 2tak. Untuk itu, Honda merasa butuh jumlah silinder 2xnya 2 tak, nah, berarti Honda butuh mesin 8 silinder 500cc untuk melawan mesin 4 silinder 2 tak. Masalahnya, regulasi GP500 membatasi jumlah silinder maksimal hanya 4 silinder!

Untuk itu, Honda mengakalinya dengan membuat motor berpiston oval, jadi ceritanya 2 piston disatukan dalam 1 silinder. Honda pun berhasil membuat mesin ini dan mengatasi permasalahan kebocoran kompresi yang muncul ketika desain piston itu tidak bundar. Mesin NR 500 berupa V4 dengan 8 klep dan 2 busi per silinder. Satu piston pun diteruskan tenaganya oleh 2 setang piston. Dengan stroke pendek yang memungkinkan putaran mesin tinggi, mesin NR 500 mampu menghasilkan 115 PS/ 17.500 rpm. Meskipun begitu, NR 500 gagal menghadapi keperkasaan mesin-mesin 2 tak 500cc.

Gagal di tahun 1978, Honda balik lagi tahun 1987 dengan NR 750 yang merupakan pengembangan NR 500. Kali ini bukan di GP500, tetapi di balap Le Mans yang merupakan balap motor yang mementingkan ketahanan motor. Dengan tenaga hampir 160 PS/ 15.500 rpm, NR 750 memperoleh tempat start ke-2. Tenaga segitu jelas di atas rata-rata para pesaingnya yang baru mampu memiliki power sekitar 130PS. Hanya saja, saat balap, NR 750 mengalami kerusakan. Meskipun begitu, keperkasaannya sudah sempat disaksikan di balapan ini. Karier balap NR 750 pun diakhiri oleh FIM yang melarang penggunaan piston oval tak lama setelah itu karena dianggap terlalu tampan.

Nah, mesin V4 750cc ini akhirnya dijadikan mesin untuk motor jalanan. Versi masalnya cukup diberi kemampuan 125 PS/ 14000 rpm dan bobot 230 Kg. Melihat power dan bobot, jelas NR 750 bukan lagi menjadi motor balap murni. Orang lebih melihatnya sebagai motor touring. Yup, masih ada Honda CBR 900 yang bobotnya belasan Kg lebih ringan dan tenaga lebih besar. Lagi pula, NR 750 harganya bikin dompet orang tajir pun bisa ketar-ketir. Makanya, motor yang disebut juga RC40 ini pun lebih sering dijadikan pajangan.

Sumber:

http://www.motorradonline.de/einzeltest/honda-nr-750-im-fahrbericht.793152.html

Iklan