You are currently browsing the monthly archive for Februari 2017.

Ngomongin motor Honda yang satu ini memang ga habis-habis, padahal motor ini sudah muncul dari tahun 1991 lalu. Kontak pertama saya dengan motor ini sih awalnya dalam bentuk mainan hehe.. Bisa dibilang, inilah monumen yang dibuat Honda untuk membuktikan kedigdayaannya! Jika motor superbike mereka masih bisa disaingi, dengan NR750, Honda menunjukkan, kompetitornya saat itu jelas bukan levelnya.

Ada banyak hal yang akan kita kupas tentang motor yang hanya diproduksi di dalam 2 tahun, yakni 1991 dan 1992. Motor yang hanya diproduksi 300 unit ini akan kita bahas nanti ya. Kita bahas dulu desain motor yang bunyinya lebih dahsyat dibandingkan RCV, lebih ziing zing Bro..

Bro bisa cek, ada tidak motor jalanan dengan desain seperti NR750? Selama ini banyak yang menilai, desain motor modern yang “klassik” berkiblat ke Ducati 916. Namun, kita sering lupa, Ducati 916 itu baru muncul tahun 1994! Ada yang mengatakan, Tamburini memang menciptakan desain 916 terinspirasi oleh NR750! Lihat saja lampu dual keen eyes NR750! Bandingkan dengan desain Ducati 888 sebelumnya yang cuma mengandalkan lampu tunggal mengotak yang di mata kita sekarang terlihat jadul dan ga keren sama sekali! Lampu sein depan di spion pun sudah nongol tahun 1991 itu!

Pro-arm! 916 punya ciri Pro-arm, bahkan yang tau motor setengah-setengah, menganggap Ducatilah yang membuat Pro-arm di motor jalanan! Padahal NR750 sudah menggunakan Pro-arm, eh, bahkan sudah dari tahun 87 ya dengan adanya Honda RC30.

Underseat muffler pun ada di NR750 terlebih dahulu! Yup, bukan di Ducati 916! Oh ya, itu ngebul bukan oli rembes ya, tapi saat tes memang suhu hanya 4 derajat dan motor baru dinyalakan.

Jadi, kalau Yamaha R1 dijuluki Japanese 916, sebenarnya ya yang dicontek Ducati adalah rival abadinya, Honda! Suka tidak suka, berarti turunan desain R-series memang ujung-ujungnya ke Honda NR750. Semoga tidak ada FB ngamuk-ngamuk di sini wkwkwk…

Sumber foto:

http://www.motorradonline.de/motorraeder/honda-nr-750-im-fahrbericht.809964.html?backlink=mrd-793152#gallery-16

 

Pastinya mahal Bro…Namun, tiap negara punya standar sendiri-sendiri, tentu disesuaikan dengan biaya dan keuntungan panitia setlah memprediksi daya beli penggemar MotoGP di negara mereka itu. Sebagai contoh, Kita lihat 3 negara berikut yang diperoleh dari agen pengedar tiket MotoGP yang sama:

20170207_222210

Yang ini di Assen, Belanda. Pilihannya ada banyak, biasanya ditawarkan harian, atau paket 3 hari di akhir pekan, mulai dari Jumat-Minggu. Nah, di Assen, tiket untuk 3 hari bisa diperoleh mulai 88 Euro. Ini itungannya murah lo Bro…

20170207_222245

Kenapa saya bilang murah, nih liat di Sachsenring Jerman. Untuk menyaksikan 3 hari MotoGP di Sachsenring Yang dekat dari kota Dresden, penonton harus siapkan kocek minimal 159 Euro! Dan itu setahu saya yang termurah-termurah itu berdiri ya, jadi memang tidak disediakan kursi yang sudah dinomori.

20170207_222322

Nah, yang terakhir ini di Barcelona Spanyol. Di web, tampak hanya ada satu pilihan tiket, langsung untuk 3 hari. Dan harganya jauh lebih murah dibandingkan di Belanda dan Jerman, bahkan hanya setengah harga, hanya 72 Euro! Tak heran, penonton di Catalunya, dan sirkuit Spanyol lainnya selalu sangat ramai. Buat penggemar MotoGP asal negara Eropa lain, ini tentu menjadi daya tarik juga untuk mengunjungi Spanyol.

20170207_190944

Jika diminta sebutkan 2 merk lem, Blog Sesat memprediksi, UHU akan berada di salah satu merk yang disebutkan, setelah Aibon hehe…Sebenarnya agak lucu juga, saya baru nyadar lem bening teman Kita prakarya zamannya sekolah dulu ini ternyata buatan Jerman. Sadarnya bukan karena lihat bungkusnya. Saya cek bungkusnya belakangan. Saya menyadari justru dari sebuah mata kuliah bertema morfologi aka pembentukan kata dalam bahasa Jerman. Sama dengan orang Indonesia yang sering menggunakan merk tertentu untuk mewakili produk-produk lain sejenis, di Jerman juga ada fenomena bahasa yang sama. Dalam Linguistik Jerman, fenomena ini disebut Deonymisierung.

Bingung? Begini, dengan contoh pasti lebih mudah. Misalnya, zamannya Kita masih kecil dan belum ada Indomart/Alfamart dan sebangsanya, orang tua kita kadang menyuruh kita ke warung. Nah, mereka minta dibelikan: Indomie, Aqua, Softex, Pampers, Odol dan Baygon. Nah, merknya ga harus merk yang saya sebutkan itu kan…Itulah Yang disebut Deonymisierung. Nah, di Jerman, UHU punya status macam produk di Indonesia yang saya sebutkan itu.

 

Pernah dengar merk Fjällräven Kanken? Kalau belum pernah dengar, mungkin pernah lihat logo ini? Tas merk Fjällräven Kanken pertama kali saya lihat di Indonesia sekitar 3 tahun saat seorang kenalan yang dapat beasiswa dari Jerman balik ke Jakarta. Ada teman bilang, merk ini lagi ngetrend banget, tapi saya tak peduli ketika itu karena nama merknya susah diingat dan ketika itu di Jakarta juga belum “ngeh”.

Nah, pas di Jerman, saya semakin menyadari trendynya merk dan model tas yang aslinya dari Swedia ini. Beberapa kenalan bahkan sudah memilikinya. Tiap hari kuliah, hampir pasti ketemu mahasiswa memakai tas ini. Saking banyaknya, saya berpikir, kalau sampai hilang tasnya, bakalan baper banget yang punya, maklum, banyak kembarannya haha..tentu jadi bisa berpikir negatif, jangan-jangan itu tasnya yang hilang.

Kalau dilihat-lihat, modelnya yang sederhana dan nampaknya kuat memang boleh juga. Namun, saking sudah banyaknya, ogah beli lah tas yang tidak bisa dibilang murah ini. Apalagi di Indonesia, kata teman saya, mulai banyak KWnya. Maklum, laku keras di kalangan anak muda.

Suatu hari, saya ketemu opa-opa Yang tampaknya juga ingin terlihat muda hehe…Ini dia:

20170201_151756

 

Oke, ini artikel terakhir tentang elektronik MotoGP yang bersumber dari majalah Motorrad no. 2/2016. Pernah dengar WinARace? Kalau penggemar MotoGP harusnya pernah lihat atau pernah baca. Nah, itu rupanya kerjaannya Dirk Debus dan tim 2Dnya.WinARace adalah software yang berfungsi “menerjemahkan” data digital dari sensor-sensor motor MotoGP yang dismpan oleh data recording dalam bentuk angka/nilai. Angka/nilai ini “diterjemahkan” hingga bisa dibaca dalam bentuk grafik analog! Software ini pun memudahkan para teknisi untuk mengubah angka/nilai saat melakukan setting, jadi mereka tak perlu terlalu repot secara manual mengubah satu-persatu angka di tabel-tabel yang ada. Dengan menggunakan tetikus alias mouse computer, teknisi bisa langsung membentuk grafik sesuai dengan kebutuhan settingnya. Nah, software ini yang mengubah dari bentuk grafik itu ke data digital dan dimasukkan ke tabel-tabel parameter yang dibutuhkan secara otomatis.

Sebenarnya banyak sekali setting yang bisa difasilitasi oleh software ini. Dalam petunjuk penggunaan software, Dirk Debus dan partnernya sesama pendiri 2D, Rainer Diebold, tentu menuangkan cara penggunaan software ini yang mereka peroleh dari pengalaman mereka selama lebih dari 20 tahun balap motor, terlebih Debus pun juga mantan pembalap motor. Tak heran, modul software ini tebalnya hampir 100 halaman! Software buatan 2D ini dipakai tim MotoGP Yamaha,  KTM di Moto3, dan juga di Formula 1. Di Moto2, 2D yang terdiri dari 30 karyawan ini menjadi suplier tunggal untuk sistem data recording.

Software 2D ini bisa dibilang tak terlalu mahal untuk dunia balap. Versi standar software ini dibanderol 1500 Euro. Sedangkan untuk tim Moto2, kit wajib plus software lengkap dengan sensor-sensor sesuai permintaan tim Moto2 tertentu, harganya bisa dibicarakan sesuai permintaan tim itu.

Dari bahasan-bahasan kita, memang tidak bisa dibilang mudah ya elektronik dan settingnya ini. Untungnya, pembalap tak perlu ikutan sepusing para ahli elektroniknya. Pembalap tak perlu terlalu pusing memikirkan apa yang terjadi di belakang layar. Stefan Bradl misalnya, apa yang dilihatnya di layar laptop tentu grafik-grafik yang jauh lebih sederhana daripada apa yang terjadi di belakangnya.Dia bisa lihat, apa efeknya bagi lap time ketika dia mencoba racing line berbeda, ketika dia mengerem lebih keras atau berakselerasi dengan membuka gas lebih cepat.

Debus menjelaskan, para pembalap MotoGP tidak bisa drastis mengubah karakteristik motornya ketika sedang menggeber motor di lintasan. Ia mengibaratkannya seperti “mendengarkan siaran radio”. Para teknisinya yang memilihkan siaran radionya. Si pembalap bisa membesarkan volume kalau dia suka, atau dia kecilkan volumenya kalau dia tak suka: traction control ada 5 pilihan, wheelie control dan power mesin ada 3 pilihan. Kalau si pembalap ingin mendengar siaran radio lain, dia harus masuk pit. Teknisi akan memilihkan siaran yang si pembalap sukai…

Ya, begitulah kira-kira Bro..alhamdulillah selesai juga hihihi…

Der neue Supersportler aus den Händen von Erik Buell: die EBR 1190RX.

Pabrikan motor berskala kecil, tetapi bernama besar, Buell, akhirnya dipastikan gantung setang piston alias gulung spul.. Melihat karya terakhirnya, EBR 1190 RX yang pastinya lebih keren dibandingkan RX-King dan keturunannya, sungguh sangat disayangkan.

Der neue Supersportler aus den Händen von Erik Buell: die EBR 1190RX.

Memang Buell sudah berkali-kali divonis mati, tapi kali ini matinya enelan..Berdasarkan sebuah pemberitaan, EBR (Erick Buell Racing) yang berkedudukan di East Troy, Wisconsin,USA, memasuki fase tinggal nama. Sangat disayangkan kalau melihat karya-karya yang sudah mereka hasilkan. EBR sendiri berterima kasih pada para pekerjanya yang sudah bekerja keras. Mereka pun tak menyalahkan siapa-siapa…

Kepailitan ini dikarenakan EBR kesulitan mencari dealer yang mau memasarkan produk mereka dan semakin banyaknya suplier komponen EBR yang juga gulung tikar. Bangkrutnya EBR memang tidak bisa dilihat di webnya, tetapi pihak Motorradonline berhasil mendapatkan informasinya dari sorang juru bicara EBR-Investor Liquid Asset Partners.

Meskipun bangkrut, EBR masih memberikan jaminan untuk kewajiban mereka kepada pelanggannya. Mereka memastikan ketersediaan parts untuk motor-motor Buell yang memang gagahnya khas itu. Liquidasi pabrik dan sarana produksi EBR akan dimulai bulan Maret 2017.

Buell sendiri tahun 2009 lalu diceraikan oleh Harley Davidson sebagai anak perusahaan. Meskipun begitu, Erick Buell masih bisa mempertahankan EBR  dengan susah payah, meskipun akhirnya tahun 2015 bangkrut dengan mundurnya Hero, pabrikan asal India. Meskipun begitu, Buell belum menyerah, dan berhasil mendapatkan investor-investor baru. Bahkan tahun 2016, mereka membuat motor baru yang ditujukan untuk pasar USA. Namun, kem telah menjadi gundul, impian Buell sudah harus berakhir sekarang.

Sumber:

http://www.motorradonline.de/vermischtes/aus-fuer-ebr-buell.811230.html

Kiprah Suzuki GSX-150R di Indonesia memang baru dimulai, dan dari pemantauan dengan metode Terawang Gaib, rata-rata puas denngan performanya yang memang terbaik di kelas 150cc yang sudah ada di pasaran saat ini. Catatan top speednya pun sudah mulai mendekati motor 2 tak 150cc zaman dulu , top speed ya, bukan akselerasi.

Wacana GSX-R 250 yang menggunakan mesin identik dengan Inazuma jelas ditolak mentah-mentah oleh mayoritas. Inazuma yang versi street bike/ touring saja susah laku, apalagi kalau memaksakan konsep mini superbike dengan mesin yang sama plus bobot yang sudah hampir setara motor 600cc modern.

Kalau Suzuki di bawah kekuasaan Blog Sesat, tim development Blog Sesat lebih mengincar kelas 250cc single silinder dengan catatan sebagai berikut:

  1. Wujud dan ukuran sama plek dengan GSX-R 150. Bukan mengulangi kesalahan CBR 150 dan 250 yang tampaknya identik lho, tetapi yang dikejar adalah harga seekonomis mungkin dengan bobot seringan mungkin, jadi jangan jadi 250cc yang moge wannabe! Dengan ukuran sekarang pun, GSX-R 150 masih lebih besar dibandingkan Moto3. Ukuran bannya saja 95 di depan dan 115 di belakang! Kelas 150cc sekarang, apalagi R15 nanti, ban belakangnya sudah seukuran CBR400RR!
  2. Dengan kesamaan ini itunya, komponen kedua motor ini akan hampir serupa semuanya kecuali di bagian mesin. Ini belajar dari bertahannya Honda jadul dengan CB dan GL-series yang partsnya bisa saling tukar. Syukur-syukur Cuma beda di blok mesin ke atas saja! Para penggemar oprek mesin pasti jatuh cinta sama yang beginian…
  3. Ini yang menentukan: power maksimum! Jelas harus bisa melewati KTM RC250 dan Ninja 250 RR Mono. Ya, semakin mendekati Moto3 Feeling ya makin baik..meskipun ga bakalan wkwk.. Kebayang Motor 50 PS dengan berat 82 Kg, tak heran Top Speednya bisa 235 Km/jam. Harganya ya juga gila, 3 kali harga motor supersport 600cc. Intinya, power sedikit lebih besar dari KTM RC250 dan sedikit lebih ringan dibandingkan si oranye, harga sedikit lebih ekonomis, itu sudah cukup.

 

20170202_194059

Yang namanya orang Indonesia yang doyan makan pedas, pasti ada tantangan tersendiri kalau tersesat untuk waktu lama di Jerman: nyari sambel yang pedas! Sejak adanya era internet, semua itu sudah bisa diatasi sebenarnya, tinggal pesan via internet, maka sambel pedas ala ABC atau sambel Pemuda gitu bisa diperoleh di sini… Wah, padahal saya nyarinya sambel Bu Rudy yang biasanya saya beli kalau tersesat ke Surabaya wkwk…Mungkin ada juga di Jerman, saya belum nyari benar-benar sih..

Namun, berhubung saya orang aneh, kadang saya suka bereksperimen. Sambel umum di Jerman yang tidak pedas (meskipun ditulis pedas, atau extrapedas, bahkan ada gambar api, gambar naga, asli ga cukup pedas) saya pun mencoba mengoplos sambal cupu itu dengan cabe rawit hehe..ala-ala pedagang tidak jujur gitu Bro wkwk..

Nah, langkah pertama, tentu harus cari cabe rawit. Ketemu deh di toko Vietnam, tetapi dinamai Bird Chili. Wow, didatangkan ke kotanya Habibie, yakni Aachen hehe..Beli cabe di sini juga tidak murah tentunya, Cuma sedikit, tapi mahal, kaya narkoba wkwk…

100 Gr. cabe rawit dihargai 2,39 Euro. Artinya dengan kurs 14000 Rupiah, 1 Kg cabe rawit di toko tempat saya beli dihargai lebih dari 330 ribu Rupiah hehe…Makan pedes sih senang ya, tapi kalo keluar duit segitu, sayang juga..makanya digunakan teknik oplosan!

20170202_194335-1

Tinggal ambil cabe rawit secukupnya, buang batangnya, cuci, potong kecil-kecil, dan akhirnya dimasukkan ke sambal cupu Yang tidak pedas itu.

Hasilnya lumayan lah.. Ada Aroma rawit dan rasa pedas Yang meningkat, walaupun masih belum bisa menyaingi sambal Pemuda atau sambal Bu Rudy hehe… Namun, niat makan pedas dengan dana terbatas tercapai..

Dari judulnya, sudah tau sendiri dong tentang apa. Yang kadang tersesat ke sini pun tau, harga parts BMW NOS memang seakan suka-suka penjualnya. Nah, ini saya ada hasil lain lirik-lirik parts BMW di Ebay, bisa jadi pedoman, bisa juga tidak, maklum, barang NOS. Kalau second, pasti masih di bawah NOS lah harganya, bahkan bisa setengahnya.

Mari kita mulai tinjauan harga parts BMW klassiknya…

20170130_001205

Harga Switch lampu, klakson dan rumahnya original produksi BOSCH Yang bisa digunakan untuk BMW R27, R50 sampai R69S dihargai 450 Euro! Dengan kurs 1 Euro 14000, maka untuk komponen ini, pembeli harus keluar uang: 6,3 juta Rupiah. Oh ya, itu belum ongkos kirim ke Indonesia dan pajak yang entah berapa, dulu sih kalau tak salah 32,5%. Bayangkan, berapa harga lengkap barang NOS kalau lengkap ini itunya yang nempel di setang?

Bagaimana kalau satu set tanki BMW R27 NOS? Berapa harganya? Secondnya saja sudah mahal banget Bro, 300 euroan lah minimal… nah, ini dia, Kita mulai dari keran bensinnya ya:

20170130_001003

Kalau main motor biasa, keran bensin paling puluhan ribu rupiah, nah keran bensin merk Everbest ini dihargai 65 Euro, plus 5,5 Euro untuk ongkos kirim. Hmmm…masih kebeli lah ya, meskipun agak nyesek…

Nah, sekarang kita lihat harga emblem BMW di tanki R27. Jarang-jarang sebenarnya ada yang jual emblem R27 NOS, sekalinya ada, ini dia:

20170130_000802

Kebayang Bro, 110 Euro baru dapat emblemnya doang hihihi…. Tunggu, kalau keluar 1,5 juta lebih untuk emblem (belum termasuk ongkir dan pajak), berapa harga tanki BMW R27 NOS? Ini dia:

20170130_000707

Yup…Tanki original  BMW R27 yang juga sama dengan BMW R26 ini dihargai 1.475 Euro alias Rp. 20.650.000. Itu belum termasuk ongkos kirim dan pajak. Oh ya, belum termasuk karet tankinya dan tutupnya ya wkwk…

tersesat muter-muter

  • 2.481.344 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com