20161231_132118

Geld regiert die Welt adalah sebuah peribahasa dalam bahasa Jerman yang memiliki arti harfiah “uang memerintah dunia.” Yup, kekuasaan dengan harta itu memang sangat identik.

Apa hubungannya sama foto? Beberapa sudah bisa tebak sepertinya hehe… Ya, sebenarnya itu teman saya asal negeri tirai bambu, sebut saja namanya Wong Fei Hung. Di akhir tahun lalu, saya bersama seorang teman asal Korea Selatan, sebut saja Oppa, diundang ke rumah Wong Fei Hung. Kami di kampus bisa dibilang senasib hehe..

Wong Fei Hung baik sekali orangnya, dia menjemput saya dan Oppa di stasiun Bielefeld dan memasakkan kami makan siang. Wong Fei Hung dan istrinya yang juga punya teman orang Indonesia paham, saya hanya bisa memakan makanan halal hehe.. Sehabis makan pun, dia dan istrinya mengantarkan saya dan Oppa kembali ke stasiun.

Selama masak dan makan, kami banyak bercakap-cakap tentang negara kami. Saya pun menceritakan, kalau di Indonesia memang ada ketakutan ekspansi Cina yang memang sudah menjadi superpower, dan makin ke sini makin menjadi-jadi dengan kekuatan modal, diaspora penduduknya dan ambil alih teknologinya. Wong Fei Hung sendiri bisa memahami, tapi menurut dia, kalau dari yang sudah-sudah, permasalahan biasanya muncul di internal Cina sendiri dan mereka tidak melakukan agresi terhadap bangsa lain. Hmm, benar atau tidaknya tentu perlu dicek lagi, ya tapi itu yang disampaikan.

Kalau melihat diaspora orang Cina memang bisa dibilang mereka lebih punya hegemoni di dunia ini dibandingkan Amerika Serikat dan Rusia. Makin ke sini pun makin ke jelas. Di tempat tinggal saya, tentu yang saya tahu di lantai saya yang ada 13 kamar, yang pasti mahasiswa asal Cina ada 5 kamar. Banyak dong, sebab 8 kamar lainnya dari negara-negara berbeda. Dengan banyaknya mahasiswa Cina di Jerman, kebayang banget kan kedepannya, betapa sektor teknologi Cina yang didukung banyaknya SDM yang berpendidikan tinggi dan dana berlimpah ruah akan berkembang pesat, dan ini sudah terlihat jelas. Alih teknologi pun mudah dengan membeli perusahaan-perusahaan Jerman, dan ini sudah banyak lho… ya belum dari sektor roda 4 sih, tetapi sektor roda dua sudah..sebut saja Sachs.

Minggu lalu, ada tetangga baru yang juga asal Cina, jadi ada satu mahasiswa Cina yang pindah, nah yang menggantikan mahasiswa Cina juga. Sebut saja namanya Chong Lee. Saya senang juga ngobrol dalam bahasa Inggris dengan Chong Lee, karena orangnya supel dan memang senang ngobrol.. Tak semua mahasiswa Cina senang ngobrol juga, ada yang cuma bilang “hallo,” bahkan disapa “hallo” kadang kalau ketemu di dapur bersama tak dibalas wkwk… di situ kadang saya merasa sedih…

Awalnya saya tunggu reaksi Chong Lee di awal perkenalan kalau dia tau, saya orang Indonesia. Maklum, akibat kerusuhan 1998, saya pernah ketemu juga mahasiswa Cina yang tau-tau menabuh genderang perang wkwk… Untung si Chong Lee tidak tipikal seperti itu. Dia bahkan langsung menimpali begitu saya bilang saya dari Jakarta atau Indonesia (lupa yang mana saya bilang). Nah, dia semangat berkata: “Teman-teman saya banyak yang ke sana..” Saya menimpali, apakah teman-temannya bekerja/berbisnis.

Chong Lee mengatakan: “teman-teman saya ke sana beli rumah..” Eng ing eng… Kebayang ya banyaknya duit mereka, pergi ke Indonesia untuk beli / bisnis rumah wkwk…

Seram? Takut suatu hari nanti kita cuma bisa ngontrak doang? Ya ada kekuatiran seperti itu, tetapi dengan globalisasi dan aliran modal yang makin mudah, siapa yang bisa menghentikan fenomena ini???

Iklan