You are currently browsing the monthly archive for Januari 2018.

Sebagian orang membeli kendaraan atau memodifikasi dengan tujuan untuk menarik perhatian. Itu sih masalah mudah …cukup tampil sebeda mungkin, dijamin perhatian bisa didapat.

Berikut adalah salah satu contoh kendaraan yang dijamin sangat ramah lingkungan dan tampilan berbezaaa wkwkwk..

20170409_134726

Gimana Bro? Menarik juga sih ya..

Namun, kalau diperhatikan, riding positionnya aneh banget ya..posisi setang setara dengan jok, waduh, gimana itu ya.. Ngayuhnya juga bingung..kalo tinggi ngepas, jangan-jangan ga bisa ngayuh.. jangankan ngayuh, cara naiknya aja sudah puyeng..

Pagi ini jendela kamar saya dibuat bergetar… Nampak ada nafsu yang bergejolak dan menggebu-gebu dengan intensitas yang belum pernah saya alami sebelumnya. Jendela kamar khas Jerman yang sebenarnya kedap suara seperti tak mampu menjalankan tugasnya. Terdengar hembusan angin kencang yang tak berhenti-henti, dari pagi hingga sore!

Friederike..itu namanya.. Doi badai..*bukan rambut badai terus diombre wkwk…

Ketika malam ini saya baca, rupanya Friederike dinyatakan sebagai badai terdahsyat dalam 10 tahun terakhir ini di Jerman.. Wow, pantas saja.. Di dalam kamar yang gedung kokoh begini saja dibuat deg-degan dengan bunyi jendela hingga mulai menderit-derit dan begitu jelasnya bunyi angin menerpa gedung. Lucu juga mengamati burung merpati yang masih nekat terbang.. Kalau menentang arus angin, mereka seperti stagnan, kalau ikut arus, jadi kuenceng haha..

Menjelang siang, saya harus ke kampus.. ngeri juga sih, takut benda-benda asing terbang kena kepala. Baca-baca doa, saya pun jalan ke halte Ubahn. Sepanjang jalan, banyak dahan patah berserakan di jalan. Yang tumbang tak ada sih, untung, karena pohon-pohon kan sudah tak berdaun.. Kalau masih musim panas angin sekuencang ini, wah bakal banyak pohon tumbang sih..

20180118_123330

Sampai di halte Ubahn, wah angin berhembus sekuenceng-kuencengnya. Sampai beneran berasa takut ketiup angin Bro! Baru kali ini saya mengalami angin kuenceng langsung kena badan dan masalahnya intensitasnya cukup lama.. Halte sampai goyang-goyang, dan anak kecil sampai hampir terjatuh ketiup angin. Saya pun rasanya mau tiarap takut jatuh hihi.. Dan baru kali ini saya merasakan, HP di tangan hampir jatuh gara-gara ketiup angin! Yup, HP di tangan mau jatuh karena HPnya ketiup angin wkwk..

20180118_123629

Di seberang jalan ada 2 unit kran yang sempat membuat saya kuatir. Kepikiran kejadian yang ada di Mekkah. Ketika saya amati, hmmm proyek dihentikan..baguslah, mereka tampaknya begitu memantau berita dan ramalan cuaca. Dan mereka sudah antisipasi dengan mengatur arah sebisa mungkin tak banyak menangkap angin.

Sampai di kampus, saya cek..wow, rupanya Friederike menghadirkan angin sampai kecepatan 140 Km/jam. Ya, rata-rata sih yang tertingginya ada di 115 Km/jam. Namun, di sumber lain malam ini, ada yang mengatakan sampai 160 Km/jam dan menimbulkan beberapa korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas.

Artikel ini ga penting banget ya hihi..tapi tadi pas di halte saya merasakan yang namanya angin, sesuatu yang tak terlihat, sesuatu yang tak bisa dipegang atau dianggap tak bisa menyakiti, menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.. Sampai saya doa-doa karena takut kena hembusan kuenceng dan suara angin yang berasa di belakang mesin jet pas take of wkwkwk..yang namanya mati itu udah seakan berasa di leher tadi..alhamdulillah masih dikasih selamat..

Ada yang pernah dengar merk Adler? Mungkin pernah dengar, tapi itu nama kiper timnas Jerman, Rene Adler hihi..

Bukan itu Bro, tapi Adler produsen sepeda motor… Memang jarang sekali terdengar, sebab eksisnya sudah lama, bahkan sempat vakum produksi sepeda motor. Adler sempat produksi macam-macam sih, mulai mesin ketik, sepeda roda tiga, mesin pesawat, sampai mobil. Siapa yang sangka, di awal-awal produk mobil mereka lumayan merajai pasar Jerman. Di tahun 1914, 20% mobil pribadi di Jerman bahkan bermerk Adler.

Adler yang berkedudukan di Frankfurt am Main sendiri sudah tutup tahun 1998. Lucu juga sih, lokasi pabriknya di Frankfurt ada di jalan Gutleutstr., daerahnya Ulis Motorradladen. Saya kebetulan sempat lewat situ waktu harus tersesat ke Mannheim. Adler sendiri namanya masih terdaftra di bursa saham. Adler yang sudah dibeli investor dikabarkan lanjut berusaha, tetapi sejak 1999 jadi perusahaan yang bergerak di bidang properti hihi..

Nah, Blog Sesat sempat ketemu dengan salah satu produknya. Setelah diselidik sebentar, Blog Sesat menduga sepeda motor yang kental bentuk sepedanya ini diproduksi tahun 1904-1906. Mereka hanya menyebutnya Modell 4. Tenaganya 2,5 PS. Tak ada keterangan lebih lanjut atas produk ini di Wikipedia hehe.. Ini dia penampakannya:

20170409_122650

20170409_122751

20170409_122829

20170409_122820

20170409_122708

20170409_122857

Gimana Bro? Keren ya.. Sampeyan pasti ga punya yang lebih klassik lagi haha.. maklum, di situ diterangkan, ini motor produksi tahun 1905. Menarik sih mengamati sepeda yang ditempel mesin motor De Dion ini. Lebih menarik lagi mengamati mekanisme tuas-tuasnya, sedangkan motor sekarang menggunakan kabel, bahkan mulai nirkabel wkwk..

Vespa Kongo alias Vespa 150 T/4 de Luxe bisa dibilang BMW banget. Tak heran, karena memang diproduksi di kota Augsburg, Jerman. Kota ini letaknya masih di satu negara bagian dengan kota tempat motor-motor BMW zaman doeloe diproduksi, yakni negara bagian Bayern alias Bavaria yang ibukotanya Muenchen.

Apa saja kesamaannya? Hmm.. platnya dikatakan lebih tebal dibandingkan Vespa sejenisnya yang diproduksi tidak di Jerman. Penengnya pun seperti motor-motor Jerman..

Kalau kita lihat di daerah setang, sudah ada beberapa kemiripan dengan BMW klassik. Lampu cabe yang merupakan lampu indikator lumayan mengingatkan pada lampu indikator di batok lampu BMW jadul. Saklar-saklarnya pun mengingatkan pada saklar-saklar BMW jadul. Kelihatannya cupu sih, tetapi jangan tanya harganya, ngeri bener.. cukup untuk beli Velg lebar 5,5 inchi hihi..

Lihat lampunya Kongo, maka bukan merk Siem yang nongol di situ. Sama seperti BMW, lampu-lampu yang digunakan buatan kota Lippstadt, yakni Hella. Yup, lampu depan dan belakang Vespa Kongo buatan kota yang ada di negara bagian Nordrheinwestfalen ini. Klakson 6 voltnya pun juga buatan Hella. Hmm..sama-sama 6 volt kaya BMW jadul ya…

Jok yang digunakan pun mereknya sama dengan yang dipakai motor-motor BMW, yakni Denfeld. Tak percaya? Ketik saja di Google: Denfeld, nanti yang keluar bakal banyak motor BMW klassik.

Ya, sekian dulu yang terpantau… barangkali kalau bisa dipelototi lebih dekat akan ada barang-barang lain yang juga buatan Jerman..ya siapa tahu handel-handelnya merk Magura juga, pengapiannya Bosch, pistonnya Nueral dan filter udaranya Mahle hihi.. Hmmm, terobsesi juga nih punya Kongo hikshiks..

Ngomongin Vespa Kongo di kalangan penggemar Vespa itu ibarat ngomongin final liga Champion buat penggemar bola. Serunya buat diomongin doang…kebeli barangnya nggak hihihi..

Ada yang bilang Vespa buatan kota Augsburg, Jerman ini hadiah dari Soekarno. Ada yang bilang hadiah dari pemerintah Kongo. Ada juga yang bercerita Vespa ini sebenarnya hasil tabungan kontingen Garuda 2 dan 3 yang bersepakat untuk membeli Vespa ini dengan honor mereka selama menjadi pasukan yang bertugas di Kongo. Mana yang benar??? Entahlah…

Saya pun coba cari tahu sebentar (maklum, sibuk wkwk..), bagaimana sih sebenarnya produksi Vespa di Augsburg. Rupanya yang kita sebut di Indonesia sebagai Vespa Kongo merupakan produksi terakhir Vespa di Augsburg.

Jadi, di tahun 1961, Vespa Augsburg sudah memperketat produksinya dan membatasi produksinya pada Vespa 150 T/4 versi de Luxe saja, tidak lagi memproduksi Vespa 150 T/4 versi normal. Bedanya di jok, versi normal menggunakan jok ayun yang terpisah, sedangkan versi de Luxe satu jok panjang buatan Denfeld. Nah, versi de Luxe inilah yang kita kenal sebagai Vespa Kongo. Versi de Luxe terlihat lebih keren karena juga dilengkapi pernik-pernik chrome yang membuatnya terlihat lebih mewah alias de luxe hihi..

Tahun 1961, jumlah Vespa 150 T/4 dikurangi produksinya karena pabrik lebih memilih memproduksi Vespa GS. Jumlah produksi keseluruhan juga semakin berkurang. Di tahun itu, hanya 2177 Vespa 150 T/4 yang diproduksi, setara dengan 22% total produksi pabrik Vespa di Augsburg.

Vespa 150 T4 versi Normal     [vespa150BA], S. 2.

 

Vespa 150 T4 versi de Luxe  sumber: [vespa150BA], S. 3.

 

Tahun 1962, pabrik Vespa di Augsburg sudah megap-megap dan sudah terlihat tanda-tanda siap gulung tikarnya. Vespa GS/4 yang diproduksi pun gagal menggairahkan permintaan pasar. Di tahun ini, Vespa 150 T/4 yang diproduksi hanya 1900 unit. Sayang sekali, padahal di tahun ini pun dihadirkan pilihan: 3 atau 4 tingkat percepatan. Nah, Vespa Kongo yang hadir di Indonesia ini ya sebagian dari 1900 unit ini. Gak heran ya langka.. Kan setelah itu tak ada lagi produksinya…

Pabrikan Vespa di Augsburg pun akhirnya tutup usia pada Oktober 1963. Di tahun itu, pabrik ini hanya memproduksi 400 unit Vespa 125 dan 506 unit Vespa GS/4.

Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan ya..

Sumber:

http://www.vespat4.de/Historie.html

20180112_135336(1)-1

Sehabis Jumatan dan pas menunggu U-Bahn (semacam tramp yang bisa beroperasi di bawah tanah dan bisa muncul ke permukaan, dipacu hingga 80 Km/jam-red), di perempatan saya ketemu sesosok motor yang bikin baper hihi..

Motornya sih biasa aja, Honda CBF 500 kalau tak salah… Ya mirip Tiger atau Megapro lama dengan velg lebar, mesin twin inline pendingin udara dan lampu belakang mirip supra generasi pertama hihi.. Ngelihatnya gimana gitu..padahal motor biasa, bunyinya pun biasa.. Hmm mungkin karena sosoknya mengingatkan pada Tiger Hitam dan saya yang baper sudah lama tidak lihat motor beneran di musim dingin dari jarak dekat.

Apa hubungannya dengan hipotesis yang terkoyak? Jadi hipotesis pribadi saya selama ini: musim dingin, orang tak naik motor!

Dan setelah saya amati lagi, musim dingin pun rupanya masih banyak yang naik motor. Apalagi beberapa hari belakangan ini suhunya bahkan bisa naik sampai 11 derajat. Di suhu 5 derajat pun masih banyak yang naik motor, meskipun bukan motor sih, tapi skutik-skutik 50cc 2 tak gitu..

Jadi, kalau memang sudah bikers, biar musim dingin pun akan tetap naik motor. Mereka hanya tak naik motor kalau salju saja.. bukan masalah dinginnya saja, tetapi memang terlalu riskan jatuh. Apalagi di sini yang mahal itu justru body partsnya motor. Harganya berlipat-lipat harga di Indonesia lho.. Jadi, kalau di Indonesia dengan 2 juta sangat mudah menemukan fairing original lengkap second, nah di sini dengan 2 juta paling cuma dapat 2-3 panel saja. Yang murah justru kalau beli motornya langsung seutuhnya… Kalau memang sabar, bisa diperetelin dan jual satu-satu hihi…

Lanjut pembahasan Kawasaki Z1-R Turbonya…

Motor semi-massal turbo pertama dan motor tak bergaransi ini tentu punya kisah tersendiri yang menarik disimak. Turbo yang tercangkok di motor bermesin besar dan bisa dibilang motor tercepat Kawasaki saat itu tentu membuat jagat superbike era akhir 70an itu gempar. Tenaga 130 PS yang dijanjikan benar-benar membuat pesaingnya terlihat jinak!

Namun, itu kan di atas kertas! Kenyataannya, penjualan di tahun pertama tak sesuai harapan. Handling bawaan dengan tenaga Z1-R standar saja sudah kewalahan, nah, kebayang dong betapa besarnya ketimpangan handling dengan powernya. Percuma saja jadi power superbesarnya!

Tak selesai sampai di situ! Banyak laporan masuk, bahwa mesin jebol! Wkwkwk.. untung tidak ada garansinya… Namun, ini tentu mempengaruhi image yang berimbas langsung pada penjualan Z1-R TC yang ditawarkan hanya dalam warna silver kebiruan. Tekanan turbo yang 10 Psi (sekitar 0,7 bar) rupanya overdosis! Putaran mesin melengking melebihi batas yang tentu sangat memperpendek umur! Apalagi memang tidak adanya limiter mesin! Belum lagi karakter mesin jadi haus oli dan minta tambah oli setelah beberapa ratus Km saja. Untuk menambah oli dibutuhkan alat. Repotnya, perkakas motor tak terbawa di motor karena tergusur pompa bensin elektriknya. Kebayang kan kalau motor ini jatuh ke tangan bikers yang kurang telaten cek oli, kasar dan suka-suka buka gas tanpa memikirkan ketahanan mesin?

Tergebuk dengan permasalahan mesin jebol sehingga penjualan lesu, Kawasaki pun melakukan beberapa perbaikan untuk Z1-R TC tahun 1979. Tekanan turbo dikurangi dosisnya jadi 6 psi alias 0,42 bar, dosis yang dianggap sehat. Tenaga pun tentunya turun dari 130 ke 105 PS. Ya, jauh turun sih, tetapi masih lebih besar dibandingkan produk pesaing. Sirkulasi oli pun diperbaiki dan pompa bensin diganti ukuran yang lebih kecil. Dan, untuk menekankan bahwa motor yang kali ini beda dengan motor turbo sebelumnya.

 Warna sebelumnya di versi tahun 1978 dianggap terlalu kalem! Kawasaki pun memutusan menngunakan warna hitam dengan grafis sporty. Designer legendaris di dunia custom, Rollin Sanders yang dikenal dengan Molly-Designnya dipercayai mendekorasi motor berturbo edisi 1979 ini. Oh ya, warna hijau khas Kawasaki dan livery balap pabrikan Yamaha mulai tahun 1972 dengan kombinasi kuning-hitam juga merupakan “penemuan” Molly-Design.

Total Z1-R TC 1 yang terjual ada sekitar 250 unit dan Z1-R TC 2 juga hanya 250 unit. Ada pendapat yang lebih kurat yang menyatakan, versi TC1 laku 350 unit dan versi revisi hanya 150 unit saja. Hmmm berarti keburu susah ya jualan motor berturbo! Terbukti segala pembaruan dan tampilan keren tak mendongkrak angka penjualannya.

Tahun 1980, undang-undang di California melarang produsen motor menjual motor dengan knalpot custom. Dengan tekanan hukum ini, berakhirlah karier Kawasaki Z1-R TC2! Tak ada kelanjutannya karena terjegal aturan hukum. Akibatnya, dengan hanya adanya sekitar 500 unit saja motor “modifan” pabrikan ini, harga unit yang masih selamat dan original melambung tinggi..

Gimana Bro? Boleh juga ya kalau punya Binter Merzy atau W175 dimodifikasi bergaya Kawasaki Z1- R TC2…

Sumber:

https://www.motorradonline.de/motorraeder/kawasaki-z1-r-turbo-im-klassiker-test.846418.html?backlink=mrd-825262

DSC09932Sebenarnya ini artikel lama, ada di draf Blog Sesat sejak 1 Maret 2013 hihi…Saya buat artikel ini baru judul dan pasang fotonya, tetapi belum sempat ditulis lagi. Dan hari ini saya teruskan setelah 5 tahun kurang 2 bulan haha…

Oh ya, BMW R25 ini sempat jadi titipan Allah untuk Blog Sesat. Tidak niat beli sih, tapi diyakinkan teman, bahwa si penjual yang juga temannya sangat butuh dana. Daripada di lepas ke orang lain, lebih baik kalau motor ini saya bayarin saja. Dan karena alasan merasakan pernah di posisi butuh duit, dan tiba-tiba ada orang yang tak kenal langsung dengan saya memberi pinjaman, saya pun memutuskan membeli R25 ini. Sebenarnya itu uang tabungan buat beli rumah sih, rencananya mau beli rumah tanpa harus kredit, tapi gagal maning-gagal maning wkwkwk.. Saat itu, R27 sudah ada, jadi sebenarnya tak terlalu besar keinginan merawat BMW R25. Namun, karena teringat saya pernah di kondisi sulit, ya saya niatkan juga untuk bantu-bantu. Apalagi sebenarnya ga rugi kan karena dapat R25. Saya pikir, ya masih bisa dijual lagi, cuma perlu waktu saja. Dan sempat terpikir juga bisa buat wara-wiri harian. Dan saat itu harganya masih sekitar harga Kawasaki Ninja 250 baru.. masih kebeli lah (meskipun tabungan jadi tinggal ratusan ribu wkwk..itu mah abis-abisan ya..).

Singkatnya, R25 ini saya rapihkan pelan-pelan setelah pindah tangan..Ya dibantu teman, saya sedia dana saja. Senang juga sih, beberapa kali sempat sunmori di Jakarta. Surat pun dibayarkan pajaknya yang lumayan lama mati. Repot juga karena plat daerah. Entah berapa lama R25 ini dititipkan di Blog Sesat. Saat artikel ini saya mulai tulis, mungkin itu hari terakhir saya kendarai R25 ini.

Sore itu, saya kendarai R25 ini ke rumah teman. Saat lewat di daerah Villa Cinere Mas, tiba-tiba kok tiba-tiba ada bunyi sangat halus tapi menggema. Saya kira bunyi helm kemasukan angin..tetapi saya tak merasa angin cukup kencang hingga helm berdengung layaknya sedang di kecepatan 100Km/jam. Lah, orang saat itu sedang jalan santai paling kencang 30 Km/jam. Eh tak tahunya di belakang sebentar diikuti BMW R1200 GS silver. Doi pun menyalip dan kasih jempol…. Entah siapa dia.. Senang aja ketemu sesama riders BMW..saya sayangnya tak bisa balas karena doi sudah melesat dan R25 klaksonnya sedang tak aktif..

Ya, mungkin itu saat-saat terakhir dengan si R25. Doi terpaksa dilepas karena ada beberapa faktor. Saya sebenarnya senang memakainya untuk jalan-jalan sering-sering. Namun R25 pun lama-lama jadi motor yang terlalu mahal hihi..serem euy bawanya.. Selain itu, plat nomor daerah jadi PR tersendiri.. Saya pun butuh dana cadangan dan ada serangkaian hal lain yang menjadi faktor pendesak saya untuk mengikhlaskan R25 mengakhiri kebersamaan dengan Blog Sesat… Alhamdulillah pernah diberi kesempatan bercengkrama bersama R25 di jalanan Ibukota….

DSC09933

Setelah sekian lama menanti (beberapa bulan wkwk..), akhirnya Blog Sesat diberi kemampuan untuk membeli alat baru pendukung mobilitas Blog Sesat. Ya, tentu butuh yang handal, sebab sehari-hari alat ini akan menempuh jarak 4-5 Km. Biar gaya dan ga kalah dengan youtuber, tentu ada acara unboxingnya hihi..

20180102_110634

Tadaaaa wkwk… ya Bro, sepatu.. Datang di saat dua pasang sepatu lainnya sudah mangap-mangap dan dilem UHU. Mana lagi sering hujan gini, kaos kaki sering basah karena solnya sebenarnya sudah jebol hikshiks…

Apa hubungannya dengan V4? Blog Sesat tak maulah berdusta..ini buktinya:

20180102_112439

Kaaan ada V4nya haha… Alhamdulillah beli sepatu lagi setelah terakhir beli sepatu presidennya SBY dan Walikota Jakarta JKW hehe.. Mudah-mudahan sepatu ini bisa awet hingga minimal 2 tahun ke depan.. Ya ga lama-lama lah, sebab di sini memang saya jalan kaki jauh lebih banyak dibandingkan di tanah air. Tadinya sempat tertarik Puma BMW atau Ferrari, tapi karena terlalu “gaya” dan lebih cocok kalau buat indoor dan sering naik mobil, saya pilih sepatu lari saja. *Padahal sebenarnya karena harga Puma Axis V4 tak sampai setengah harga Puma Ferrari atau Puma BMW itu sih haha.. you know me so well laaa… O ya, kenapa Puma? Apakah karena Tiger Hitam menginspirasi? Mari kita lihat penampakannya:

Saya menamainya si Bubu haha… mengingatkan pada si Bubu hiks hiks.. Ya biar menemani saya ke sana-sini lah.. Hmmm.. Kalau naik Excel Rose cocok lah warnanya..

20180102_110905

Dan ada aksen hijau stabilonya.. mengingatkan saya juga pada sosok berikut ini:

Image result

Selain alasan itu, pingin juga sekali-kali punya merk Puma. Kalau di Indonesia, yang setara gini katanya sih 1,2 jutaan, sedangkan di sini -karena diskon juga- saya peroleh seharga 29,95 Euro saja termasuk ongkos kirim. Ya, murah lah ya ga sampai 500 ribu rupiah. Dan sekarang juga prinsip saya bukan beli sepatu yang termurah, tetapi belilah sepatu yang sekiranya awet.. demi mengurangi masalah limbah juga kan..

20180102_110940

Karena banyak alasan itulah, akhirnya Blog Sesat memutuskan setelah berpikir-pikir selama 3 hari untuk memilih produk ini. Oh ya, Puma saingan berat Adidas lho.. Lucunya, mereka adalah perusahaan milik kakak beradik, Adolf Dassler yang kita kenal dengan perusahaan Adidasnya dan Rudolf Dassler yang memisahkan diri akibat konflik pribadinya di zaman Perang Dunia ke-II dengan Adolf Dassler. Doi keluar perusahaan dan mendirikan Puma, perusahaan yang lebih kecil, tetapi kemampuannya menerkam kini cukup meyakinkan. Kisah konflik dan kesuksesan kakak-beradik ini sudah difilmkan juga lho..

Oke Bro..gitu dulu.. Semoga V4 awet hihi..sekarang masih belom beroperasi, takut becek wkwk…, maklum, lagi sering hujan..

Kawasaki H2R memang lumayan bikin heboh kids zaman now dengan turbo superchargernya. Buat kids zaman 80an, supercharger dan saudara seperguruannya, turbo, di motor mah bukan hal baru. Nah, kali ini kita kenalan dengan salah satu motor yang pertama dilengkapi turbo.

Teknologi turbo di motor tak lepas dari perlombaan pabrikan motor Jepang gede-gedean power motor berkapasitas besar yang muncul sejak akhir tahun 70an. Mayoritas bikers menyetujui bahwa motor massal pertama yang menggunakan turbo adalah Honda CX500 yang diproduksi tahun 1981. Namun, turbo di motor yang bersifat “semi massal” sudah ada di tahun sebelumnya, yakni sejak tahun 1980 melalui Kawasaki Z1-R TC. Kawasaki Z1 pun dikenal sebagai motor massal pertama yang menggunakan teknologi injeksi!

Kenapa Blog Sesat mengistilahkan semi massal? Karena memang tak semua Kawasaki Z1 dilengkapi turbo. Hanya hadir di USA melalui dealer-dealer mereka yang bekerja sama dengan Turbo Cycle Corporation untuk memproduksi Z1-R TC.

Kawasaki Z1-R Turbo im MCL Test.

Cerita dimulai di tahun 1977-1978 ketika Kawasaki ketar-ketir mempertahankan image mereka sebagai produsen motor bertenaga buas, sebuah image yang sudah terbangun berkat hadirnya big bikes Kawasaki seperti Z1, Z900 dan Z1000! Kenapa Kawasaki ketar-ketir takut kausakiti? Jelas, karena pabrikan Jepang lainnya tentu tak tinggal diam! Bagaimana pabrikan Inggris? Zaman ini Inggris sudah tenggelam dengan kebanggaannya wkwk.. Soal performa, motor Inggris sudah habis, tak sanggup menghadapi konstruksi mesin 4 silinder inline motor-motor Jepang!

Dari hasil intelijen, pabrikan pesaing siap-siap dengan motor yang bisa merebut image kebanggaan Kawasaki. Pusat pemerintahan Kawasaki di Akashi sudah mengendus, Suzuki siap merampas image Kawasaki dengan Suzuki GS1000 bertenaga 90 PSnya! Tak selesai di situ, Yamaha terpantau siap meluncurkan motor yang lebih wow lagi secara kapasitas: XS 1100 siap memporak-porandakan dunia big bikes dengan tenaga 95 PS dan penggerak gardan, bukan rantai! Ancaman dua pabrikan itu rupanya belum seberapa dibandingkan Honda yang siap meluncurkan motor yang membuat big bikes zaman itu yang bermesin 4 silinder inline terlihat rada cupu! Yup, Honda tercyduk akan menggebrak jagat persuperbike-an zaman itu dengan motor 6 silinder mereka yang bertenaga 105 PS, yakni Honda CBX 1000!

Melihat laporan intelijen, bos Kawasaki pun bergidik galau.. Kawasaki Z1-R yang mereka perkenalkan di akhir tahun 1977 yang merupakan pengembangan Kawasaki Z1000 jadi terlihat seperti Ninja yang hanya bersenjata pisau roti. Memang tanki dan desain jok baru demi riding position yang lebih oke dihadirkan. Tudung motor pun dibuat lebih meruncing yang mengesankan agresivitas motor. Velg depan 18 inchi yang lebih kecil dibandingkan milik Z1000 menjanjikan kelincahan yang lebih. Piringan cakram pun sudah dilengkapi dengan lubang-lubang untuk pelepasan panas yang lebih baik.

Kawasaki pun sadar, daya jual motor mereka adalah tenaga mesin yang terbesar di kelasnya! Tenaga mesin pun juga diupgrade dengan karburator diameter 28mm yang 2mm lebih besar dibandingkan versi sebelumnya. Dikombinasikan dengan konstruksi knalpot 4 in 1 pun, tenaga harusnya meningkat 5 PS. Kawasaki pun menjanjikan 90PS. Namun majalah Motorrad yang mengetest Z1-R dengan dynamometer mengabarkan tenaga di roda belakang ada di 75 PS saja. Test secara keseluruhan bahkan lebih menyedihkan! Jagoan Kawasaki ini tak hanya babak belur di power, tetapi juga di handling!

Tak ayal Kawasaki pun harus ambil langkah drastis! Kawasaki yang dalam keadaan tertekan harus berpikir keras, bagaimana bisa menonjol dibandingkan produsen-produsen senegaranya.  Cara paling gampang tentunya dengan menaikkan power mesinnya. Ide untuk memasang turbo demi mendongkrak tenaga pun datang dari para dealer Kawasaki di USA. Namun, ide ini tertolak oleh petinggi-petinggi Kawasaki di Jepang yang tak menyanggupi risiko yang harus ditanggung! Maklum, turbo di zaman itu identik dengan pendek umur hihi… Salah-salah nanti jurus andalan Ninja malah Kamikaze! Belum lagi memikirkan klaim garansi dan risiko-risiko lainnya…

Di USA sendiri sebenarnya mesin 4 silinder didopping turbo sudah hal lumrah di balap-balap dragrace. Bahkan ada produsen-produsen turbo yang menyediakan paket komplet turbo kits! Alan Masek, seorang general manager Kawasaki USA yang sudah mengusulkan ide cangkok turbo ini dan ditolak para petinggi Kawasaki pusat pun tak ingin setengah-setengah! Doi cabut dari Kawasaki dan mendirikan perusahaan Turbo Cycle Corporation dan membeli Turbo kits dari produsen turbo yang sudah tenar, American Turbo-Pak (ATP).

Dengan perangkat Turbo ini, doi memodifikasi mesin Kawasaki Z1-R yang umum di pasaran (berwarna biru silver-metallic). Yang namanya bekas petinggi Kawasaki, tentu doi mampu buat kesepakatan dengan dealer-dealer Kawasaki USA untuk memasarkan motor versi turbo ini dengan nama Z1-R TC yang dipasarkan di USA.

Namun, tentu motor ini beda dengan Z1-R yang tanpa turbo dalam hal garansi! Ini bisa dibilang sebagai motor baru yang tak bergaransi! Haha..jangan-jangan ini motor pertama dalam sejarah permotoran modern yang tak disertai garansi ya.. Jadi pembeli harus menandatangani kesepakatan, motor yang dibelinya tidak bergaransi!

Hasilnya, Kawasaki bisa menggebrak di dunia bigbikes dengan motor bertenaga 130 PS! Paling tidak, kehadiran Z1-R TC bisa menjembatani hingga nantinya Kawasaki melahirkan GPZ 1100! Monster turbo silver kebiru-biruan ini minimal diharapkan bisa menaikkan image Kawasaki yang juga menaikkan penjualan Z1-R versi standard yang terhitung “jinak” di kelasnya. Namun, itu kan harapannya Kawasaki, bagaimana kenyataannya?

Ceritanya bersambung di lain kesempatan ya Bro…

 

Sumber:

https://www.motorradonline.de/motorraeder/kawasaki-z1-r-turbo-im-klassiker-test.846418.html?backlink=mrd-825262

tersesat muter-muter

  • 2.481.083 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com