Apa itu framing? Buat yang belajar ilmu komunikasi media maupun analisis wacana kritis, ini mah mudah dijawab ya. Sesuai namanya, membingkai! Tujuan membingkai itu ya sama seperti menggiring si penerima pesan untuk fokus ke hal tertentu saja. Artinya, framing itu berguna untuk membentuk opini! Yup, subjektif! Nah, berhubung yang namanya media itu dituntut objektif, tentu mereka berusaha sehalus mungkin dalam menggiring opini. Media tak bisa eksplisit, sebab taruhannya adalah kredibilitasnya.

Framing yang baik akan bisa membuat penerima teks memiliki opini sesuai yang dikehendaki pembuat teks tanpa merasa “digurui”. Hari gini dengan berkembangnya hypertext, framing bisa dibantu dengan komentar-komentar penerima teks. Nah, komentar-komentar ini bisa jauh lebih eksplisit dan menggiring, karena kan komentator tak dituntut untuk objektif!

Sebagai contoh framing berkualitas buruk, kita lihat nih berita CNN Indonesia tentang penutupan Diskotik Exotic oleh Pemprov DKI.

Gimana Bro? Gampang kebaca kan, ke mana arah penggiringan opininya? Dengan memasukkan tukang parkir yang mengeluh tentang pendapatannya, itu saja sudah sangat kebaca.. Apalagi si tukang parkirnya komentar, si diskotik juga berbagi dengan warga blablabla…. yup, bawa-bawa agama juga… Makin kebongkarlah framingnya yang cupu itu!

Jadi, ibarat kalau ada pengedar narkoba atau koruptor ketangkap, dia dikasih kesempatan untuk mengatakan hal serupa bagaimana? “saya korupsi kan untuk menghidupi keluarga saya..orang tua sakit.. masyarakat sekitar rumah juga terima qurban blablabla…”

Rendahnya kualitas framing bisa dilihat dengan banyaknya komentar yang membongkar kedok framingnya…  Karena keeksplisitannya framingnya, pihak yang berkepentingan dengan framing ini pun akan kesulitan untuk berkomentar yang logis…