“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). Hari ini Indonesia kembali berduka atas kecelakaan pesawat yang terjadi..

Pagi-pagi, kabar inilah yang saya dengar.. Ketika pergi ke balai kota untuk mengambil visa yang sudah jadi, di videotron pun sudah tertayang berita duka ini:

20181029_083352

Ketika mengambil perpanjangan visa pun, si bapak-bapak yang bertugas menanyakan: Sudah dengar kabar pagi ini? (tanpa menyebut di mananya, tetapi karena dia tau saya dari Indonesia, ya saya jawab: sudah). Kami pun bicara singkat tentang keadaan di Indonesia. Menurutnya Indonesia lagi tak tenang..

Saya bilang, ya tenang-tenang saja, tergantung di daerah mana.. Memang sedang banyak bencana alam skala besar. Ditambah kecelakaan pesawat hari ini…

Dia bilang dia khawatir, karena anaknya akan ke Indonesia.. Ya saya bilang, wajarlah..namanya juga orang tua, mau segede apa itu anak juga tetap anak..

20181029_083359-1

Kejadian macam ini tentu sangat berat bagi yang ditinggalkan.. Bahkan bagi banyak masyarakat Indonesia, ini tentu akan tertanam dalam memori kolektif kita. Lebih berat juga tentu bagi yang pernah merasakan ditinggal orang tercinta karena kejadian serupa. Yang punya orang-orang tercinta yang bergelut di bidang penerbangan pun tentu juga akan dihinggapi was-was dan kekhawatiran.

Jujur, saya termasuk yang jadi was-was tiap kali terbang… Aneh, karena saya cinta penerbangan, menikmati dunia penerbangan, naik pesawat jadi hiburan tersendiri. Namun, belakangan ini, kesenangan itu bercampur juga dengan kekhawatiran. Salah satu aktivitas di waktu luang saya adalah menonton video-video aviasi. Yang menarik juga tentu mempelajari bagaimana kecelakaan-kecelakaan penerbangan terjadi. Pengetahuan tentang ini di satu sisi mengurangi rasa takut terbang, tetapi di sisi lain bikin takut juga. Karena hal-hal kecil bisa mengawali terjadinya kecelakaan pesawat. Ketika terbang, justru saya jadi sadar, betapa pemurahnya Allah mengizinkan kita bisa menjelajah bumi dengan sangat cepat. Betapa pemurahnya Allah dengan menjadikan jutaan penerbangan menjadi penerbangan yang selamat dan kita mendapatkan apa yang kita inginkan dengan penerbangan itu.

Oh ya, ada satu ayat yang selalu terlintas di benak saat terbang:

2018-10-29-08-49-43

Kalimat “Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih.” sungguh jadi yang mengingatkan saya jika dalam penerbangan, apalagi saat cuaca buruk, betapa kita semua bergantung pada Allah. Manusia dengan segala teknologi dan kepintarannya tak pernah bisa jadi jaminan keselamatan 100%! Pesawat baru dan cuaca bagus plus pilot berpengalaman pun tak menjamin 100%. Semakin kita tahu bagaimana faktor-faktor kecil bisa menyebabkan maut menjemput sebuah penerbangan, harusnya bisa semakin memudahkan kita memahami kalimat dalam Al Mulk ayat ke-19 ini.

Ayat ini juga yang dikatakan jadi awal Abbas Ibnu Firnas, cendikiawan Muslim pertama asal Spanyol yang memikirkan bagaimana caranya orang bisa terbang, jauh sebelum Leonardo da Vinci mengemukakan ide itu. Bahkan sang Maestro asal Italia itu dikatakan juga terinspirasi Ibnu Firnas.

Semoga yang ditinggal bersabar dan yang pulang ke Tuhannya pulang dalam segala keridhoanNya…