Trend retro sudah muncul lebih dari 3 tahun belakangan ini. Produsen sudah banyak yang meluncurkan motor retro yang dibekali dengan kemampuan mesin terkini dan efisiensi bahan bakar motor modern. Produsen Jepang dan produsen Eropa, kecuali Ducati dan MV Agusta sudah menikmati manisnya segmen ini.

20190303_145454

Motor dari kelas mahal sampai kelas ekonomis bisa diperoleh di pasaran. Awalnya orang cari tampilan retro karena ingin tampil beda. Ya yang doyan motor klassik dan retro dari sananya sih tetap main motor klassik. Nah kebanyakan yang beli motor baru bergaya retro tentunya anak baru. Anak baru yang kesengsem dengan gaya klassik terpenuhi keinginannya untuk tampil beda. Namun, seiring waktu, ya makin banyak lah motor-motor baru itu.

Kebutuhan untuk tampil beda yang tadinya terpenuhi dengan motor bayu bergaya retro pun pelan-pelan tergusur. Yup, orang bukan semata butuh retro, mereka lebih butuh tampil beda… Di sinilah masuk semangat custom alias modifikasi.

Yang banyak duit ya modifikasi motor baru.. Yang pas-pasan ya lirik motor lama. Tentu ada plus minusnya.

Namun, kita lihat dari aspek duitnya saja ya… Okelah kaya, okelah banyak duit. Namun, kalau sebatas buang uang banyak saja dengan hasil minim, ya rugi.. Biarpun kaya, kalau rugi ya ga kelihatan oke lah..

Coba, motor baru yang terhitung mahal, dimodif mahal… motor macam ini keunggulannya ya untuk dipakai sendiri. Mesin masih segar dan handal.. Namun, soal gengsi, ya sangat tergantung parts yang dipakai. Kalau partsnya biasa saja, ya rugi.. dari motornya sendiri pun kalau produk baru yang sangat massal, ya tidak berkelas.

IMG-20160530-WA0044

Nah, yang mau motor baru, tapi mau custom dan nikmatnya maksimal, perlu sedikit kenekatan melirik produk Cina.. Tentu tak sembarang produk.. Carilah yang 2 silinder hehe.. Kalau sudah dimodif, ya yang lebih penting dijadikan bahan tentu konfigurasi mesinnya. Jangan sudah mahal-mahal modifikasi, mesinnya masih satu silinder umum hihi..

20180523_204103-1

Jadi, di tengah boomingnya produk retro dan custom, ya tetap harus pintar-pintar juga.. Bukankah makin banyak pilihan kemungkinan tersesatnya makin besar?

*artikel tidak jelas