Teringat masa-masa ketika masih baru jadi anak SD. Mainan anak SD zaman dulu ya paling main bola, main tak jongkok, main benteng, main pesawat-pesawatan kertas, manjat-manjat pohon atau nyari ikan di got pakai saringan santan wkwkwk..

Ada salah satu mainan lagi yang lumayan seru karena butuh modal dan butuh keterampilan juga, yakni main kelereng alias gundu..

20190303_143508

Yang menarik di sini, kita sebagai anak kecil perlu modal untuk beli kelereng. Bisa dibilang murah sih, tapi bagi yang uang jajan sedikit atau tak diberi uang jajan, bisa punya kelereng sendiri dan ikutan main itu “prestasi keuangan” tersendiri juga.

Saya sendiri tak pernah punya banyak.. Maklum, tergolong anak yang tidak punya uang jajan hihi.. Kalau punya, harus minta extra, jadi bukan rutinitas untuk selalu punya uang saku.. Sekali beli kelereng, paling kebeli 3 butir saja.. ya seingat-ingat saya, mungkin paling banyak saya punya 10 kelereng. Itu paling banyak ya..

20190303_150739

Yang serunya dalam main kelereng, kalau kita kalah atau kelereng kita kena, maka kelereng kita bisa jadi milik teman main kita.. Ya tergantung kesepakatan.. Jadi, sebagai yang kere dan ga jago main kelereng, ada periode di mana saya tak punya kelereng sama sekali hiks…

Yang menarik di masa itu, punya kelereng beberapa butir saja rasanya sudah bahagia. Yup, cukup punya kelereng.. Pas ketemu temen yang punya segenggam kelereng entah karena jago mainnya atau memang banyak uang jajannya, itu ngelihatnya sudah wow banget..

20190605_161132-1

Suatu hari datang seorang anak yang bukan dari geng main kami… Dan dia bawa setoples penuh kelereng… BUSEEEEET.. ini kata orang sekarang SULTAN!

Itu kelereng sebanyak itu yang biasa punya kan warung.. yup..beli kelereng dulu di warung sih haha..

Sebagai anak kecil, otak belum nyampe, kalau orang punya rumah dan punya mobil itu jelas lebih kaya dibanding yang punya kelereng setoples.. Kelereng setoples itu bagi kami anak-anak kecil sudah sesuatu yang wow banget.. ya otaknya kan memang baru sampai segitu..

Nah, ketika sudah dewasa, ya yang kita lihat salah satunya adalah kendaraan seseorang.. Ada yang punya kendaraan yang memukau mata kita.. ya kalau punya teman ya harusnya kita bilang MasyaAllah kan supaya Allah jaga hartanya..dan kita menghindari dari mata ain’ yang membuat harta teman kita itu bisa rusak atau hilang..

Nah, kalau masih kecil yang kita anggap SULTAN adalah anak dengan kelereng setoples (karena otaknya kan belum nyampe ya hihihi…), nah sekarang yang kita anggap SULTAN adalah orang-orang dengan kendaraan mewah lebih dari satu..bahkan kolektor kendaraan mewah..

Oh ya, pernah dengar kalau bagi Allah dunia dan seisinya ini tak lebih bernilai dari sebelah sayap nyamuk? Karena tak bernilainya, Allah kasih tuh dunia buat siapa saja yang dikehendakiNya… Jadi kepemilikan seseorang bukan jadi patokan, dia dimuliakan Allah atau tidaknya..

IMG-20190501-WA0038-1

Permasalahannya, apakah otak kita sudah sampai untuk memahami hal ini? Apa bedanya seorang anak melihat anak lainnya yang punya setoples kelereng dengan orang dewasa yang melihat orang dewasa lainnya yang punya sederetan kendaraan mewah?

Mungkin sebagian dari kita baru bisa melihat tak terlalu bernilainya di dunia ketika kita sudah di kehidupan selanjutnya… Di situ kita akan melihat kegemerlapan dunia seperti kita sebagai orang dewasa sekarang melihat setoples kelereng