You are currently browsing the category archive for the ‘motor klassik’ category.

AHM sekarang jualan Honda Rebel 500 dengan harga 147 juta lebih.. Memang sih mesinnya universal dan pasarnya ada, walaupun segmented.

Ngomong-ngomong masalah segmented, sebenarnya aneh juga kalau dijadikan alasan Honda tak menjual varian klassik di Indonesia. Lah, kan moge juga segmented. Mungkin pertimbangannya, moge kalau segmented eksklusif ya, sedangkan kalau motor kapasitas kecil bisa dicap tidak laku kalau segmented.

Manisnya main pasar segmented kapasitas kecil sudah dilakukan Kawasaki. Trail, motor sport 250cc, dan terakhir hadirnya Estrella. Dan sesuai dugaan, karena harganya memang tinggi, Estrella begitu segmented. Padahal, dengan harga Estrella yang segitu, sebenarnya Honda masih bisa membalasnya dengan Honda Rebel 250..yang klassik lho, bukan yang Rebel 300. Ini dia penampakan Rebel 250:

20170609_213608-1

Lumayan kan Bro? Motor tahun 80an berkapasitas 250cc ini bermesin twin, ya kaya CB200 saja. Tenaga bisa dibilang kecil, hanya 18PS. Namun, segmen ini ya mengejar kenyamanan dan sound kan… Coba ini motor bisa direborn dengan pengabutan injeksi, wah, kempes pasar Estrella. Apalagi kalau melihat speknya, harusnya bisa lebih murah dibandingkan CBR250RR.

20170609_213614

Gimana Bro? Kelihatannya nyaman banget ya.. dan yang doyan modifikasi chopper, pasti menantikan banget motor macam gini dengan mesin twin berpendingin udara dihadirkan kembali. Saya sih lihat motor ini malah ingat Tiger saya..cakram depannya sama hehe..cek Bro:

20170610_182658-1

Saya termasuk orang Islam yang telat belajar agama, maksudnya adanya keinginan untuk belajar yang muncul dari dalam diri sendiri. Ya, mungkin bisa dibilang baru ada ketika SMP, tapi ya gitu-gitu aja, dan bisa dibilang terlalu pelan progressnya.

Kepikiran untuk sedikit-sedikit menambah bacaan Al Quran untuk sholat pun mungkin baru muncul benar saat SMA dan kuliah.. Itu pun terlalu pelan progressnya, ya malu sih kalau kebayang nanti dimintai pertanggungjawaban, dikasih waktu dihabiskan untuk apa…

Pelan-pelan pun saya coba menghafal surat-surat pendek (dengan progress seadanya alias sangat lama, bahkan itu pun belum memahami maknanya). Salah satu surat yang saya hafalkan adalah At Takatsur. Entah kapan saya mulai bisa menggunakannya untuk sholat. Percaya atau tidak, saya merasa surat ini membawa manfaat bagi saya, mengubah perasaan saya dan cara saya memandang kemewahan.

Waktu SMP-SMA-kuliah, saya masih merasakan, sukses itu artinya banyak uang. Sukses itu adalah kemampuan untuk membuat orang kagum dengan apa yang bisa kita beli, apa yang kita pakai, apa yang kita kendarai, apa yang terparkir di garasi atau ruang tamu kita, berapa yang ada di rekening kita, di mana kita nongkrong, siapa teman-teman kita.. Yup, harta..harta dan harta…

Hingga tiba masa ketika semua yang saya sebut di paragraf sebelumnya menjadi sesuatu yang tak menyilaukan lagi.. Ya, harta itu penting, tetapi alhamdulillah menjadi sesuatu yang tak segalanya lagi, menjadi sesuatu yang bisa dinomorduakan.. Harta itu bukan kebahagiaan, maksudnya harta yang dipamer-pamerkan.. Bukannya harta yang dikeluarkan di jalan yang diperintahkan Allah..

Mari kita refleksikan, apakah benar bermegah-megahan alias bermewah-mewahan itu membahagiakan??? Bayangkan Bro punya semua yang ada di foto-foto berikut ini:20170409_130734

20170409_130626

Gimana Bro? Bayangkan ruang tamu Bro isinya ini semua… Ini semua saya temukan di Essen Techno Classica, kalau yang lain jualan mobil dan motor klassik, nah yang ini entah jualan apa, hanya ada barang-barang jet zet ini..mulai jam tangan super mewah, motor-motor collector items italian classics yang legendaris, hewan-hewan eksotis yang diawetkan, dan banyak sekali peti-peti Louis Vuitton yang entah berapa harganya..koper Rimowa aja mahal enel wkwk…

Berapa lama benda-benda di atas yang bisa disebut creme de la creme itu membuat Bro bahagia? Monggo dijawab sendiri…

Alhamdulillah saya sekarang tak lagi ternganga-nganga dengan barang-barang ini.. Mungkinkah khasiatnya membaca At-Takatsur?? Saya rasa ya…. apalagi setelah saya baca artinya…baru saya sadar, kenapa perasaan saya yang dulu begitu menganggap harta sebagai sesuatu yang sangat penting banyak terkikis..

2017-06-07-03-36-29

Bayangkan Bro punya semua yang ada di foto itu.. Atau di garasi Bro terparkir sebuah Koenigsegg Agera dan sebuah Bugatti Veyron. Nah, kalau suatu pagi Bro bangun sakit kepala luar biasa dan tak berhenti-henti apapun yang diminum dan dilakukan dan ternyata Bro divonis kanker otak yang tidak bisa disembuhkan dengan operasi, masihkah supercar-supercar itu bisa membahagiakanmu?

Yup, kita bisa kerja keras, kadang sikut sana-sini, melalaikan apa yang lebih penting demi mengejar harta. Dan ketika kita mau menikmati hasilnya, ada hal-hal yang bisa membuat apa yang begitu kuat dikejar hilang begitu saja…Sudah banyak contohnya kan??

Di Essen Techno Classica, akhirnya saya bertemu dengan sosok motor yang membuat saya jatuh hati pada motor klassik, yakni Norton Manx. Doi seperti bersembunyi tertutupi mobil-mobil sebuah showroom mobil klassik di situ. Di dekatnya ada meja si pemilik showroom, tapi saya tak peduli hehe..ga pake segan, sok minat saja memelototi idola saya ini.

Sebenarnya saya sudah duga ini bukan Norton Manx original karena memang model buritannya dan tanki Manx tidak begitu. Saya pikir ini Triton alias Triumph plus Norton yang juga memang sangat dikenal di kancah balap motor Inggris sana, tapiiii.. Lho, kok mesinnya Norton.. Kalau Triton kan mesinnya Triumph, rangkanya baru pakai rangka featherbed Norton Manx. Nah ini mesinnya Norton..Udah gitu twin pula, sedangkan Norton Manx kan big single…Hmmm.. Fix, ini bukan Norton Manx, disebut Triton pun juga tak memenuhi syarat. Ya, tapi ini Norton lah, dan benar-benar cafe racer.. Pelototi saja keindahannya:

20170409_125654

20170409_125500

20170409_125618

20170409_125548

20170409_125539

20170409_125531

20170409_125521

20170409_125634

Suka Bro? Sama wkwkwk….

Kalau zaman sekarang kesempatan untuk memiliki motor yang berlaga di MotoGP sangat sulit dan mahal, zaman dulu bisa dibilang jauh lebih mudah dan murah. Ya, meskipun motornya tidak sama sih wkwk.. Ya, mungkin kita sekarang lebih beruntung, sebab motor superbike sudah sangat mirip dengan motor MotoGP, bisa dibeli dengan harga “terjangkau”.

Bagi penggemar GP500, Yamaha menjadi pabrikan yang pertama kali menjual motor 2 tak 500cc yang mendekati motor GP500cc mereka yakni YZR500. Tahun 1984-1986/1987, Yamaha mengeluarkan Yamaha RD500LC yang terinspirasi YZR Kenny Roberts.

20170304_132618

RD500LC dibekali mesin berkapasitas 499cc dengan konstruksi V4 50 derajat berpendingin air Tiap silinder diladeni sebuah karburator Mikuni 26mm. Mesin berteknologi YPVS berkompresi 6,6:1 ini bisa menghasilkan 88PS @9500rpm dengan torsi maksimum 67 Nm @ 5400 rpm. Tenaga segini terhitung kecil untuk ukuran motor sekarang. Motor 600cc supersport jelas jauh lebih bertenaga. Namun, itu tahun 80an Bro.. tenaga 88PS ini merupakan tenaga terbesar yang bisa dihasilkan motor massal jika dibandingkan dengan kapasitas mesinnya. Jadi, memang ada motor yang powernya lebih besar, tapi kapasitasnya ya tidak 500cc.

20170304_132755

Soal top speed, motor dengan 6 tingkat percepatan yang berbobot full tank 216 Kg ini hanya 223 Km/jam saja. Memang rendah sih, tapi balik lagi, itu masih di awal tahun 80an ya dan memang tampaknya memang RD series tidak dibuat berlebihan tenaganya.

20170304_132628

Oh ya, kenapa RD500 LC ini terlihat keren? Karena ini memang bukan standar lagi. RD500LC standar cakram depannya memang dobel, tetapi diameternya lebih kecil dibandingkan standar cakram depan Honda Tiger. Nah, ini sudah lebar kan…

20170304_132650

Soal ban, percayalah, New R15 masih lebih lebar hehe… RD500LC di depan memang lebarnya 120, tetapi di buritan hanya berbekal ban ukuran 130 saja.

Cat pun jelas bukan original. Pemilik RD500 LC ini mengatakan, livery ini bukan dicat, tetapi cutting sticker. Rapi banget ya, dapet banget aura GP500nya, apalagi ini livery legendarisnya Yamaha yang dipopulerkan Kenny Roberts yang 3x juara dunia GP500 menggeber YZR500.

20170304_132635

20170304_132748

20170304_132703

20170304_132734

Gimana Bro? Ada yang minat mendatangkan RD500LC dari luar negeri? Di Indonesia rasanya belum ada yang punya. Kalau RGV500 sih sudah ada hehe…

Dalam sejarah permotoran dulu hingga masuk awal 2000an, Kawasaki dikenal sebagai produsen motor yang punya motor dengan power terbesar dengan top speed tertinggi. Namun, sejak hadirnya BMW S1000RR dan kesepakatan untuk membatasi kecepatan motor jalanan di 300Km/jam, maka image itu pun pelan-pelan luntur. Untung saja ZX-10R sekarang bisa mendominasi WSBK beberapa tahun belakangan ini, kalau tidak, wah, Kawasaki bisa kehilangan goodwillnya sebagai produsen motor terkencang.

20170304_133324

Nah, di kelas 250cc, Kawasaki punya Kawasaki KR-1 yang merupakan penerus Kawasaki KR250 yang sukses. KR-1 disempurnakan lagi, hingga lahirlah KR-1S yang akan kita bahas ini. Buat saya, kombinasi warna inilah yang merupakan kombinasi warna klassik Kawasaki yang sampai hari ini belum dipakai Kawasaki di motor barunya.

20170304_133418

KR-1S diproduksi tahun 1990 hingga 1992. Secara penjualan, motor ini tidak menggembirakan. Alasannya disinyalir karena tidak semewah saingannya yang memang sangat mirip dengan motor yang diterjunkan di GP250, ya kan karena memang motor pesaingnya turun di GP250, sebut saja RGV250 produksi Suzuki dan RS250 milik Aprilia.

20170304_133427

Meskipun begitu, KR-1S yang berhasil menjadi raja top speed di kelas 250cc 2tak. Motor 2 silinder pararel 2 tak berkapasitas 249 cc dan berteknologi KIPS ini mampu menundukkan rival-rivalnya. Motor 6 tingkat percepatan yang meneruskan tenaga 65 PS @10500 rpm mampu melesatkan motor yang berbobot 131 Kg ini meninggalkan Suzuki RGV 250, Aprilia RS 250, Honda NSR250R dan Yamaha TZR 250.

20170304_133439

Top speed tercatat 139 MpH alias 225 Km/jam. Untuk ukuran sekarang memang biasa saja, dengan mudah diperoleh motor supersport 600cc, tetapi di saat itu cukup untuk membuat motor yang dianggap mini (tinggi jok hanya 755 mm) menjadi raja top speed.

20170304_133506

Soal handling, motor yang ukuran velgnya belang ini (depan ring 17 dan belakang ring 18) dianggap lincah. Penjualan dianggap tak menggembirakan bukan karena jagoan Kawasaki ini aura GPnya tidak sementereng saingannya, tetapi karena KR-1S didera image build quality dan reliabilitas yang tak sebaik pesaingnya.

20170304_133347

Gimana Bro? Jadi pingin beli terus modif Ninja RR ya? Hehe…

Anak motor tahun 90an tentu kenal dengan Yamaha RZR. Motor dengan kapasitas mesin 135cc ini cukup laris, tetapi tidak dikenal sebagai motor kencang sih.. Justru RX-King yang lebih senang diotak-atik penggemar kebut di masa itu. RZR bisa dibilang tanggung secara performa dan tampang, apalagi saat itu Honda punya NSR dan Suzuki punya RGR. Tampang RZR yang masih 80an jadi terlihat cupu… Nah, kita bahas sekarang Yamaha RD350 LC YPVS. Lihat sosok motor 2 tak Yamaha ini, Bro pasti jadi ingat Yamaha RZR hehe..

20170304_133058

Berbeda dengan RZR, Yamaha RD 350 LC YPVS tipe 31K (1983-1985) ini bisa dibilang legendaris dan punya penggemar banyak di Jerman. Motor ini sudah masuk sebagai motor koleksi dan dikultuskan. Oh ya, RD350 ini sudah LC alias liquid cooled, beda dengan generasi sebelumnya yang masih berpendingin udara saja dan masih berupa naked bike.

20170304_133223

Kenapa motor 2 tak 2 silinder pararel ini legendaris? Bisa legendaris karena motor ini tergolong yang pertama yang dilengkapi Yamaha Power Valves System yang merupakan hasil pengembangan Yamaha di ajang GP. Dengan kapasitas hanya 347cc, motor ini bisa menghasilkan 59PS @ 9200rpm. Tenaga ini diperoleh dari suplai bensin yang dialirkan oleh 2 buah karburator Mikuni berventuri 26mm. Dengan 6 tingkat percepatan, RD350 bisa ngerecokin moge-moge 4 tak berkapasitas jauh lebih besar. Meskipun tenaganya masih di bawah 60PS, tetapi bobot doi siap tempur full tank hanya 170Kg, sedangkan motor-motor 4 tak kapasitas besar jauh di atas 200Kg. Ya bahkan wajar lho motor sport saat itu berbobot 240Kg.

20170304_133232

Mesin yang menggigit dan bobot enteng menjadi daya jual motor yang sudah dilengkapi YPVS ini. Berkat YPVS, tenaga motor jadi tersalur bertenaga sejak rpm bawah dan konsumsi bensin tentu jadi lebih efisien. Teknologi ini membuat torsi dan power lebih keluar dengan power band lebih luas. Berkat YPVS, tenaga motor kelas 350cc 2 tak ini naik 10PS dari versi sebelumnya.

Untuk berakselerasi hingga 100 Km/jam, motor kelahiran tahun 1983 ini butuh waktu 4,9 detik saja, ini hasil pengukuran majalah Motorrad no 10/1983. Soal top speed tidak terlalu tinggi, bahkan kalau dibandingkan dengan motor 4 tak 250cc sekarang, masih tergolong rendah. Top speed hanya 189 Km/jam saja. Kalau sudah dikorek, ya jauh lah hihi.. tau sendiri kan mudahnya meningkatkan power mesin 2tak.

20170304_133259

Soal stabilitas, kualitas Yamaha lah.. rangka masih mengandalkan pipa baja dengan konstruksi double down tube. Suspensi depan dikawal garpu depan berdiameter 35mm dan juga memanfaatkan udara untuk membantu mengatur tingkat kekerasannya. Di buritan, motor beraroma GP ini sudah bersuspensi monoshock, beda dengan RZR yang masih stereo suspensi belakangnya.

Untuk menghentikan lajunya, RD 350 LC sudah dikawal dobel cakram berdiameter 267 mm di depan dan sebuah cakram 267 mm di belakang. Rem ini cukup lah untuk menghentikan gerak velg depan yang dikawal ban ukuran 90/90 ring 18 di depan dan ban 110/80 ring 18 di belakang.

20170304_133314

Soal konsumsi bensin, wah boros. Motor berkapasitas tanki 20 liter ini minta 9,1 liter untuk menempuh 100Km. Super boros ya, tidak cocok sama sekali buat dijadikan ojek hehe..

20170304_133245

Yang menarik, ada keterangan merk ban yang direkomendasikan Yamaha. Bukan hanya ukuran, tetapi ada merk ban dan tipenya. Keempat merk yang direkomendasikan adalah Pirelli, Michelin, Dunlop dan Yokohama. Hmmm kalau tak salah Yokohama sekarang lebih dinenal sebagai produsen ban mobil ya? Belum pernah lihat ban motor merk Yokohama.

20170304_133114

Gimana Bro? Kepincut? Tak ada RD350, RZR original layak dilirik Bro.. Sudah lumayan mahal sih yang kondisi bagus, tapi layak dipelihara Bro hehe..

Waktu acara Motorraeder di Dortmund, saya sempat nguping di salah satu tempat. Yang mengisi tempat itu sebenarnya club Honda CBX, tahu dong motor 6 silinder Honda yang legendaris itu. Namun, di situ juga ada Honda CB750 super kinclong yang tulisannya pun masih jelas semua. Nah, kata si penjaga tempat itu yang menjelaskan ke seorang pengunjung, CB750 ini memang full baru dan katanya dirakit sendiri di Jerman. Entah benar atau tidaknya, tetapi memang ini motor seperti motor baru keluar pabrik.  Ini dia penampakannya:

20170409_122144

20170409_122154

20170409_122202

20170409_122219

20170409_122231

20170409_122240

20170409_122322

20170409_122350

Gimana Bro? Puyeng ga lihatnya? Dijual 500 juta di Indonesia dengan kondisi begini saya jamin laku hehe…

Ketika ke ajang motor di Dortmund bulan lalu, ada satu motor di parkiran yang langsung mencuri perhatian saya, maklum, tampil beda dan begitu mudah dikenali: Ini BIMOTA!

20170409_112159

Gimana tampilannya Bro? Keren kan? Memang desainnya yang bebas sudut membuat motor yang diproduksi Bimota dengan menggunakan mesin Yamaha Thunder Ace yang berkapasitas 1002cc dengan 5 tingkat percepatan yang merupakan pendahulunya R1 ini tampil beda. Menurut saya ada kemiripan desain dengan TZM, hanya saja dengan lengkungan-lengkungan eksotis Bimota. Oh ya, tau dong, memang pabrikan asal Rimini, Italia ini hobinya membuat motor yang lebih sempurna dibandingkan versi pabrikan. Mereka cuma comot mesinnya saja, lainnya ada yang menggunakan parts lebih berkelas dan ada yang dibuat sendiri oleh Bimota.

20170409_112218

Secara power, ya bisa dibilang tidak istimewa, maklum, hanya mesin standar 1000cc Yamaha 4 tak 4 silinder dengan 5 klep per silindernya. Tenaganya tak sampai 140 PS.. Itu pun sudah ada perbaikan dari versi standardnya karena Bimota membuat airbox yang lebih besar, memodifikasi karburatornya dan mengganti knalpotnya. Meskipun powernya biasa, bobotnya yang 15 Kg lebih ringan tentu membuat motor yang dijuluki superleggera alias super light ini bisa memberikan akselerasi jauh lebih baik dibandingkan Thunder Ace standar. Bisa lebih ringan karena rangka dan lengan ayunnya dibuat sendiri oleh Bimota dengan bahan full alumunium. Berat kosongnya mencapai 183 Kg lho.. Makanya dibilang handlingnya berasa seringan supersport.

20170409_112249

Soal suspensi, motor yang diproduksi totalnya 650 unit dari tahun 1996-1998 ini dibekali Paioli. Rasanya jelas lebih stabil, tetapi hanya cocok di jalan mulus karena lebih rigid… Ya kan lebih race oriented. Meskipun begitu, posisi duduknya dikatakan lebih nyaman dibandingkan Thunder Ace standar, bahkan tinggi joknya terhitung rendah..hanya 770mm! Entah benar atau tidak..hmm masa iya sih.. mungkin sumber dari Blog Sesat salah hehe..namun, kalau dilihat dengan motor-motor disebelahnya yang bukan bergenre sport, YB11 memang tinggi joknya setara..

20170409_112257

Kalau melongok ke cockpitnya, hanya ada satu hal yang merusak..itu lap disempilin merusak pemandangan wkwkwk…

Oh ya, di triple clampnya bisa terbaca, Bimota YB11 ini bukan YB11 biasa, melainkan YB11 edisi 25th Anniversary Bimota. Bimota ini bisa dibilang spesial..tertera kan di fairingnya: YB11 Edizione speciale.. Yup, hanya ada 50 unit. Dan saya beruntung bisa lihat langsung unit ke-47 ini.

20170409_112148

Oh ya, yang agak tanda tanya buat saya sebenarnya suspensinya. Kenapa tidak menggunakan Öhlins yang punya nama besar. Rem memang sudah Brembo, jadi tidak aneh…nah, ini suspensi depan belakang masih Paioli. Daaaan, belum pakai USD Bro.. padahal tahun segini mah moge-moge balap sudah lumrah pakai garpu USD. Meskipun begitu, suspensi depan belakang Paioli ini sudah full adjustable kok.. Dan buat saya, justru terlihat istimewa… Maklum, diameternya gede aja! Coba lihat foto pertama dan terakhir.. Ketara gendutnya suspensi depan Paioli ini.. Setelah saya baca, diameternya 51 mm! Kalau Byson dengan 41 mm saja terlihat gemuk, nah, ini 51mm! Pantesan, sepintas terlihat seperti USD, padahal masih konvensional.. Oh ya, Paioli dipakai oleh Royald Enfield untuk Continental GT Cafe Racer lho..eh, mungkin karena itu di mata saya gengsinya bagi Paioli jadi agak berkurang ya wkwk… Namun, setelah lihat sendiri Paioli dipakai Bimota, ya artinya Paioli memang punya nama besar juga kan..

Motor klassik macam BSA jelas punya nama, tetapi belum tentu sesuai selera semua orang, apalagi anak muda sekarang. Namun, seiring maraknya trend scrambler, terlihat dari Ducati yang mengandalkan Ducati Scrambler 400 sebagai ujung tombak kuantitas penjualannya, motor jenis scrambler tentu lebih mudah diterima.

Nah, menurut saya, dari yang muda sampai yang sepuh tentu banyak yang menyukai BSA Catalina Scrambler ini. Sayang tak banyak keterangan yang diperoleh di lokasi pameran. Hanya bisa diketahui, motor ini bermesin 4 tak single berkapasitas 500cc! Kebayang kan torsinya! Tenaga puncaknya saja sudah mencapai 38PS! Kalau mau diadu drag dengan motor twin 250cc yang dijual di Indonesia, saya sangat menjagokan BSA Catalina Scrambler. Oh ya, motor ini di keterangannya diimport dari USA. Hmmm, ini berkah krisis yang menimpa USA ya, banyak kendaraan keren zaman dulu asal Eropa yang diimport balik ke Eropa.

Oke Bro, ini dia penampakannya:

20170304_135505

20170304_135515

20170304_135520

20170304_135534

20170304_135613

Oh ya, ini motor memang dipakai untuk kompetisi. Saya rasa itu alasannya, kenapa motor ini tak dilengkapi sama sekali dengan kelengkapan berlalu lintas. Bagaimana Bro? Puyeng ga lihat motor Inggris mulus dan ga pake beleleran oli?

tersesat muter-muter

  • 1,739,962 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com