20170429_093904

Yang namanya pulang itu adalah sesuatu yang begitu dirindukan… Ya mudah2an kita termasuk orang yang merindukan pulang ya, sebab itu artinya kita dikaruniai “rumah” yang membuat kita merasa “di rumah”. Sekian lama tak pulang, banyak barang yang harus saya bawa. Ya ingin bisa menghadirkan senyuman juga kepada orang-orang yang akan dijumpai. Dan banyak juga keperluan pribadi sih..

Pas sudah sampai di bandara sih enak, yang repot itu justru dari asrama mahasiswa ke stasiun U-Bahn.. berat euy mesti geret-geret koper dan bawa tas yang lumayan berat juga. Saking beratnya, sampe ngos-ngosan wkwk…

Di tengah ngos-ngosan itu, saya kepikiran, alangkah enaknya kalau pulang, tapi barang-barang yang saya geret-geret ini sudah dikirim ke Indonesia..wah ringannya.. Dalam keterengah-engahan membawa beban berat ini sejauh beberapa ratus meter, saya malah kepikiran, nanti kalau “dipanggil pulang” gimana ya??? Bagaimana kalau harta itu jadi beban dan memperlambat “kepulangan”. Mungkin saking kita anggap pentingnya harta itu, kita memilih tak mau “pulang”.

Gempa di Jakarta hari ini kembali mengingatkan saya sama yang namanya “pulang”. Saya lumayan paranoid sama gempa.. Saat kejadian gempa, apalagi di tempat-tempat tertentu, kita bisa berpikir “inikah saatnya pulang?”

Haruskah pulang dengan beban bawaan yang begitu menyiksa? Hmmm.. Kenapa tidak dikirim saja sebagian besar beban itu sehingga perjalanan ringan dan menyenangkan? Saya langsung teringat: “Harta yang dihabiskan di jalan yang diperintahkanNya, itulah harta sesungguhnya di tempat kita pulang nantinya” Alangkah enaknya ketika bawaan yang berat itu bisa kita nikmati di tempat tujuan tanpa harus bersusah payah menggeret-geretnya.. Kalau bisa dikirim, buat apa digeret-geret???

*mengingatkan diri sendiri