You are currently browsing the monthly archive for Desember 2011.

Dani Pedrosa ist froh, auf seiner Werksmaschine sitzen zu dürfen

Selain berada di tim sama, Pedrosa dan Stoner punya pandangan sama atas fenomena CRT bikes tahun mendatang. Keduanya satu hati tidak minat menunggangi CRT bikes, kalaupun kemungkinan itu datang tahun 2013 nanti, ya sesuai sikon lah… Stoner lebih tegas menyatakan ketidaksukaannya, sedangkan Pedrosa sedikit lebih diplomatis. Doi masih melihat-lihat keadaan. Sebenarnya kita tak perlu antipati juga, sebagai bikers pencinta kecepatan, kita tentu juga menyukai motor-motor kencang. Pembalap macam Stoner dan PEdrosa pun demikian. Mereka sudah pernah menunggangi motor yang gila-gilaan performancenya, dipastikan mereka juga akan kehilangan faktor hepi-hepi kalau sampai mengendarai CRT bikes. Ya mirip-mirip pembalap MotoGP, kalau mereka ke Superbike, mereka merasa turun kelas! Dan, kalau sudah merasa sensasi geber MotoGP, motor Superbike bakal terasa kurang greget. Pedrosa bahkan mengatakan, bukan faktor mesin saja yang kalah kompetitif dari prototipe, faktor lainnya macam rangka, rem dan suspensi pun doi anggap belum sebaik MotoGP! Inilah faktor yang menjadi alasan kedua pembalap itu enggan menggeber CRT bikes.

Bagaimana dengan Rossi? Doi membuka hatinya untuk CRT bikes. Rossi menanti perkembangan keadaan dan dia oke-oke saja kalau masa depan malah diwarnai dominasi jumlah CRT-bikes, bahkan kalau prototipe tergusur CRT bikes. Buat the Doctor yang terpenting bukanlah motor, tetapi kompetisi! Namun, jangan lupa juga, kompetisi yang ramai bukan ditentukan jumlah motor dan pabrikan yang berbeda-beda!

Sebenarnya sedih juga melihat MotoGP yang seperti megap-megap mencari peserta. Alasan dana kelewat besar selalu dikedepankan. Namun, kalau kita bandingkan dengan F1, rasanya dana untuk tim MotoGP masih bisa dibilang kecil! Atau perlu kita akui, kalau MotoGP itu memang tak sepopuler F1, sehingga sangat sulit untuk pengadaan dana di ajang ini?

Ki Gede Anue menyarankan Dorna, untuk meningkatkan Popularitas, segeralah melirik negara macam Indonesia, India dan negara Amerika Latin yang saat ini tidak menyelenggarakan MotoGP. Kasihlah diskon buat negara-negara ini, toh dengan meningkatnya popularitas, uang akan menyusul….

Iklan

Suatu hari lagi ikutan teman mencari BMW R25 ke daerah Jakarta Pusat. Si empunya R25 ternyata punya Vespa-vespa berkelas, yup, dia memang anak Vespa, malah salah satu biang Vespa sepertinya kalau mendengar ceritanya. Dulu Vespanya buanyaaak, belasan, dan koleksinya bukan Vespa sembarangan.

Namun, yang terlihat di malam itu hanya dua saja (bukan yang di foto lho…). Dia bercerita, Vespa-vespanya dijual untuk biaya pengobatan. Wah, kasihan, sakit itu memang mahaaaaaaaaal…..

Namun, tahukah dia sakit apa?

Ceritanya, dia turing ke Bali, di sana mereka disambut anak Vespa setempat. Singkat kata, mereka minum-minum… (ya, nggak semua anak motor gitu ya…). Namun, namanya atas nama brotherhood, susah menolak juga kali ye.. atau nggak mau dibilang cemen atau sok alim??? Minuman pun diracik, sialnya pakai campur ini-itu… cairan yang diperuntukkan untuk hal lain pun ikut masuk ke dalam minuman oplosan.

Tak lama, beberapa peserta pesta miras pun mulai pusing dan muntah darah. Si pencerita kisah ini pun mulai merasa tak enak dan langsung ambil inisiatif. Doi naik vespanya ke rumah sakit terdekat. Doi bilang, kisahnya ini juga sempat masuk TV, maklum, semua peserta pesta miras meninggal dunia, hanya dia yang selamat! Itupun sempat koma satu bulan! Keluarganya pun menjual vespa-vespanya untuk biaya pengobatan…

Semoga kita bisa belajar dari sini… Takut dibilang cemen, apa takut miskin, atau parahnya lagi, malaikat maut?

*gambar hanya ilustrasi

Sudah beberapa lama si Tiger Hitam hanya punya lampu kecil, sebab lampu besarnya sedang rusak, rumah lampunya sedikit meleleh dan fittingnya pun terpaksa diganti yang murahan (waktu korslet sudah malam hari, jadi pakai yang ada saja).

Tidak nyaman tentunya naik motor tanpa lampu yang memadai, bahaya bagi keselamatan. Karena itulah doi jadi banyak nganggur atau dipakai untuk jarak dekat dan siang hari saja.  Mau lekas diganti ke bengkel, tak sempat-sempat, maklum sibuk…(sibuk nonton, makan n tidur).

Akhirnya setelah ada waktu dan uang sedikit, saya beranikan membeli rumah lampu baru, ya yang variasian aja… Alhamdulillah ketemu yang kualitasnya lumayan dan tampilannya benar-benar mirip originalnya, hanya minus tulisan Stanley dan kode.

Sebelumnya sempat terpikir untuk ganti lampu model lain. Sebenarnya ngincer lampu Scoopy, ya biar si Tiger Hitam ganti tampilan dikit lah… Lampu Scoopy juga tampak manis dan masih tetap klassik, jadi gaya neo klassik masih bisa tetap dipertahankan, ya mirip-mirip juga sama Duke Monster atau V-Rod lah.. Namun, akhirnya tetap pilih lampu model originalnya. Akhirnya dapat juga itu lampu, tak mahal, harganya 63 ribu rupiah. Untuk soal fitting lampu, saya tak mau ambil risiko, dipilihlah yang original. Harganya lebih mahal dari lampunya huhuhu… 75 ribu! Gak papalah.. yang penting aman dan awet, apalagi sekarang wajib nyalakan lampu di siang hari juga…

Singkat kata, akhirnya saya beranikan diri meretelin mata si Tiger Hitam. Ih ngeriii.. takut salah pasang, maklum, belajar elektro cuma di SMP. Namun, berharap warna kabel fitting sama (kan masih orsi), jadi saya berusaha optimis.

Setelah melepas kedua batok lampu, kabelnya pun saya keluarkan perlahan.. mudah kok, sebab tak perlu mencopot soket-soket kabel, hanya perlu hati-hati saat menarik semua kabel dari batok lama. Ternyata kabel lampu depan utama hanya 3, yakni putih, hijau dan biru. Berhubung warnanya sama, ya tinggal copot dan ganti. It works… horeeee.. lampunya nyala… dah, tinggal pasang deh batok barunya.

Kebetulan dapat batok yang krom, sebab yang hitam sedang tak ada stok. Karena buru-buru dan tak banyak waktu, saya beli saja, ya biar belang dikit, mudah-mudahan masih masuk lah..

Kata nyokap sih aneh, lampunya kebagusan, motornya kan buluk hihihi…  Gak masalah lah, ganti nuansa dikit… Sepintas jadi mirip CB-super four hehehe… (ngimpi.de)

Suatu hari ketika tersesat ke bengkel Vespa saya diceritakan si pentolan bengkel tentang kisah sebuah Vespa PTS yang jatuh ke tangan seorang yang cukup berada. Vespa PTS itu ditebus murah, hanya 2,5 juta… murah bener ya..

Nah, yang mahal ngebangunnya, habis 20 juta ckckck… Namun, buat orang yang punya rumah di pondok Indah, ngeluarin duit sebanyak itu bukan masalah, cuma kaya beli HP aja kali ya hihihi..(iriberat.de)

Si empunya mengecat PTSnya di tempat yang punya kualitas pengecatan top, tak heran bisa tembus 3 juta rupiah. Kualitas memang ada harganya Brader… Tak puas dengan tampilan saja, mesin pun di upgrade. Blok silinder dan knalpot pun didatangkan dari negerinya Mario n Luigi, untuk kedua komponen ini, 8 juta rupiah harus terbang ke negeri produsen Vespa.

Kaki-kakinya pun dibenahi. Velg asal Italia yang bisa pakai ban tubless seharga 1,6 juta sepasang dilapisi Battlax. Singkat kata, si empunya ingin PTSnya di test. Doi cuma mau tahu, sekencang-kencangnya Vespa berapa sih??? Doi pun meminta joki menggeber PTSnya di kawasan Pondok Indah, supaya melihat dengan mata kepala sendiri, doi menggeber HD dan mendampingi PTSnya.

Dan, setelah digeber sekitar 1 Km, spidometer Koso yang terpasang di Vespa menunjukkan angka 160 Km/jam saja. hiiiiii…ngeriiiiii… Apa rasanya tuh…

*Gambar hanya ilustrasi

450_Kawasaki-ER-6n (jpg)Siapa yang tak tertarik dengan moge Kawasaki yang berikut ini. Bentuknya yang serba pas memang menarik, apalagi harganya benar-benar tergolong adem di kantong. Tak heran, ini motor laku keras dan menjadi motor naked bike best seller Kawasaki. Di Jerman, posisi motor ini bahkan duduk di peringkat ke-2 motor terlaris 2011 di bawah BMW R1200 GS. Di Inggris, Italia, Spanyol, Prancis dan Jerman, motor ini laku hingga 60ribu unit! Tak heran, sebab doi memang praktis, cocok untuk harian dan handlingnya mudah. Selain itu, ER-6N termasuk cocok bagi bikers berperawakan kecil, apalagi keluaran terbaru nanti yang memiliki rangka baru. Tak heran, motor ini begitu disukai- dan tak heran, Kawasaki sangat memperhatikan kelangsungan penjualan motor rakitan Thailand ini.

Kawasaki ER-6n 2012Secara penampakan, catnya pasti terlihat lebih segar. Front lamp pun dapat desain baru, lampu sen pun bergeser, dari shroud damping ke wilayah samping front lamp. Buntut pun juga didesain baru dan dipermanis dengan lampu rem baru.

Tak cuma penampilannya saja, motor seharga 6995 Euro ini banyak direvisi oleh Kawasaki. Dengan software baru yang mengatur sistem injeksi, doi punya torsi yang lebih mantebs dari putaran bawah. Sejak 3000-4000 rpm, akselerasinya sudah lumayan yahud. Kalau mau ngebut, cukup mulai dari 6000 rpm, maka mesin twin pararel 650 cc ini siap mengeluarkan power maksimalnya yang tetap sama di 72PS. Meskipun torsi dikatan lebih mantebs dari putaran bawah, torsi maksimalnya malah turun, dari 66 ke 64 Nm. Top speed yang bisa tembus 200 Km/jam pun lumayan, enaknya, motor ini juga masih stabil di kecepatan itu, terlebih versi 2012 dibekali ban Dunlop terbaru, yakni Rodsmart II yang dinilai stabil dan top dalam memberikan feedback.

Tak hanya rangka dan lengan ayunnya yang baru, tankinya juga brau, lebih tinggi 2 cm dan naik kapasitasnya, dari 15,5 jadi 16 liter. Motor ini juga cocok untuk touring jauh, sebab setang juga dibuat lebih lebar 2 cm dan posisi jok dibuat terpisah. Kedua jok pun dibuat lebih tebal, nyaman… Desain hadel untuk boncenger pun baru, boncenger semakin betah deh… Buntut juga didesain lebih pendek 1 cm dan lampu LEDnya pun baru.

Suspensi depan dan belakang juga baru lho, lebih panjang dan jarak mainnya juga lebih jauh dari versi sebelumnya. Kawasaki merancang motor ini bisa menahan beban lebih banyak, naik jadi 200Kg! Wah, bisa buat dagang gas dan Aqua galon nih… Knalpot juga dikabarkan baru dan menambah penyaluran torsi putaran bawah. Sayangnya, karena penggunaan knalpot kolong, jadi tak pakai standard tengah deh nih motor. Namun, untuk sehari-hari di kemacetan, motor ini juga masih enak buat nyempil, sebab sudut putar kemudinya pun diperbesar, tentunya tak sebesar Bajaj roda 3 lah hehehe….

Perubahan lainnya ada di filter udara. Tadinya pakai filter busa yang dioliin sedikit, kini jadi model filter kertas. Selain itu, ABSnya pun juga mendapat sentuhan perbaikan. Rider pun lebih aman dari bahaya ban terkunci saat mengerem habis-habisan.

Kawasaki ER-6n 2012_2Spidometer juga mengalami pembaruan. Selain jelas terbaca, doi juga diperlengkapi dengan dobel tripmeter, jadi rider bisa tahu jarak tempuh total dan jarak tempuh rute yang baru dilaluinya. Motor ini pun cocok bagi mereka yang doyan ECO-riding, sebab ada juga petunjuk konsumsi bahan bakar rata-rata dan konsumsi bahan bakar saat itu juga.

Hmmm.. menarik memang, apalagi kalau jual R27 bisa gebet nih motor hihihihi……

BMW R27 dan Honda Tiger Blog Sesat sudah lebih dari setahun ini menggunakan oli Shell. Performanya memang lumayan oke. Dulu Tiger Hitam beralih dari Castrol Power 1 ke Shell karena testimoni adik saya. Katanya, memakai oli Shell itu mantebs, Thunder 125nya jadi lebih responsif dan mesinnya adem. Nah, merasa Castrol Power 1 yang dipakai tak terlalu istimewa, beralihlah saya pakai Shell. Ya, oke sih..mesin memang terasa lebih adem dan tak terlalu berisik.

Nah, sekitar awal bulan ini saya pakai Thunder 125 adik saya, lalu saya tanya: Kok klepnya jadi tidak berisik? Dia bilang, dia ganti Pertamina Enduro, soalnya ini oli recommended untuk Thunder 125 kata forum-forum motor 125 cc ini. Selain itu memang ada BM1, tetapi karena harganya tinggi, adik saya pakai Enduro. Menurutnya, mesin jadi lebih responsif dan bunyinya juga berkurang. Wah, mantepan Enduro dong… Eh minggu lalu dia beralih lagi ke Shell, dan dia bilang, tarikan motornya kembali lemot dan klepnya kembali agak berisik…

Pengalaman tak sampai situ, lusa lalu saya ngobrol dengan mekanik Vespa yang doyan bangun Vespa balap. Doi merekomendasikan, oli samping pakai Castrol saja, jangan pakai Shell katanya. Dia bilang, sekarang Shell tidak bagus, baunya sangit dan banyak kerak di ruang bakar. Padahal, dulu tak begitu….

Hmmm.. selepas mendengar kesaksian dan rekomendasi doi, saya jadi teringat pengalaman dengan Shell dari adik saya yang sudah saya ceritakan di atas. Wah, kenapa begitu ya? Ini juga kan kesaksian dari pemakai lho… bukan orang yang punya kepentingan apa-apa.

Apa benar kualitas Shell menurun????? Jangan sampai demi memperluas pasar dan mengejar harga ekonomis, kualitas olinya diturunkan kan… Saat ini sih saya belum ada rencana beralih dari Shell, meskipun begitu, kesaksian-kesaksian tadi lumayan mengusik juga.. Kalau ada produk merk lain dengan harga sama punya performa lebih bagus, siapa yang tak tergoda???

Bikers yang sudah lumayan lama berkecimpung di dunia permotoran pasti tahu motif ban seperti di foto. Motor-motor batangan yang diciptakan untuk bekerja keras banyak yang menggunakan motif alur ban depan macam ini. Motif garis-garis atau kembang tahu memang saat ini sudah lumayan jarang, sebab setahu saya tidak ada lagi motor keluaran gress di tanah air yang menggunakan kembangan yang terlihat jadul ini. Sekarang memang trendnya ban dengan kembangan yang minim motif, ya lebih terlihat sporty dan keluar aura balapnya lah… Tak heran, banyak yang berpaling dari ban dengan motif kembang tahu ini, akibatnya, jumlah persediaan pun menipis dikarenakan suplai dari produsen yang pastinya menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Bagi Bro yang merasa grip di musim penghujan kurang, mungkin bisa melirik model kembang tahu. Katanya sih kembangan model gini paling top gripnya di lintasan basah. Dulu saya juga pernah coba di Tiger Hitam, it works lah… Cengkraman ban di lintasan basah maksimal. Di lintasan kering pun juga oke kok, tidak terlalu menggigit ketika motor tegak, jadi tak perlu kuatir, lari motor jadi berat. Namun, ada kelemahannya juga: Kotor! Yup, buat Bro yang banyak lewat jalanan bertanah atau rusak, dijamin dibuat dongkol. Apalagi kalau motor masuk ke dalam rumah atau garasi. Banyak tanah yang nempel dan terselip di sela-selanya.

Buat mereka yang doyan modif ala motor jadul, ban model gini juga layak dilirik lho… Keluar kesan klassiknya deh! Sayangnya, ukurannya sangat terbatas. Jadi, jangan harap bisa menemukan ban dengan kembangan kembang tahu dengan ukuran tapak lebar. Oh ya, satu keuntungan lagi untuk ban dengan tapak model kembang tahu: harganya relatif ekonomis lho…

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah karakter berkendara yang harus ahak diubah. Ban dengan kembangan macam ini, sepengalaman saya, kurang cocok untuk rebah, sebab permukaan di pinggir ban ketika menikung cukup minim. Saya pernah coba dengan R27 waktu di Bali lalu. Saat menikung ke kiri, R27  menawarkan kestabilan mantabs menggoda untuk diajak rebah. Dengan kemiringan normal sih oke, tetapi ketika saya coba lebih rebah lagi, ban depan R27 kehilangan grip. Langsung reflek menurunkan kaki kiri dan menegakkan posisi motor.. pfyuuuh…. selamat..selamat…

 Dalam dunia internet bikers tanah air, istilah “dijambak setan” sudah menjadi istilah lumayan umum dan mudah dimengerti. Istilah ini dikaitkan dengan kemampuan akselerasi motor yang dahsyat. Saya mengenal istilah ini pertama kali sekitar tahun 2007an dari sebuah forum motor. Bikers pencinta kecepatan pasti mendambakan sensati “dijambak setan”.

Kalau biasanya orang takut ketemu setan, maka setan yang doyan menjambak ini dicari-cari. Tak sedikit yang berani keluar ratusan ribu hingga jutaan demi merasakan “jambakan setan”. Korek sana sini, ganti komponen sana-sini, duit mengalir deras untuk urusan yang satu ini, terlebih lagi kalau setan miliknya ternyata kalah kuat jambakannya dibanding motor lawan, atau hanya sekedar kalah tarik-tarikan di jalanan. Si Setan pastinya senang kalau duit kita-kita lebih deras mengucur untuk merasakan jambakannya, dibandingkan digunakan untuk memberi makan anak yatim atau untuk membantu orang yang membutuhkan.

Nah, kalau saya tanya: “takut mana, SETAN atau MALAIKAT?????”

Saya yakin mayoritas menjawab: *SETAAAAAANNNNN…

“Kenapa????  ”  *Soalnya setan mengerikan, jahat, ih ngeriii.. kalau malaikat baik…

“Terus, Mau dijambak Setan apa Malaikat????”   * ——————– (mikir dan diam)

Silahkan brader sekalian pikir… Kalau “dijambak setan”, kekuatan jambakannya tergantung seberapa dalam kita puntir gas, sedangkan kalau “dijambak malaikat(maut)”, wah suka-suka si malaikat. Dan ingat, jambakannya tak terduga, dan malaikat tidak akan gagal! Kematian tidak bisa dipercepat atau diperlambat dari yang sudah ditakdirkan. Sampeyan sholat, baca Assalamualaikum dan tengok ke kanan, bisa jadi sebelum tengok ke kiri sudah kena “jambakan malaikat”.

Jadi, Brader sekalian hati-hati ya merasakan “dijambak setan”, bisa jadi si malaikat juga mau ikutan ngejambak…

Bikers yang memang doyan motor pasti ingin tampil dengan kendaraan yang beda dan menuai decak kagum. Bagi mereka yang mengendarai motor baru, pastinya tujuan tadi dicapai dengan langkah modifikasi, sedangkan mereka yang naik motor tua bisa dua jalan, yakni modifikasi, yang satunya lagi restorasi kembali ke bentuk originalnya.

Soal motor baru mudah saja, tinggal sesuaikan aliran modifikasi yang dikehendaki dengan budget. Kalau mau modifikasi agak berat, tentunya harus diserahkan ke bengkel modif berpengalaman, sebab kalau salah, motor malah kelihatan beda tipis dari odong-odong. Yang perlu diingat sih: Jangan kebanyakan bongkar pasang dan buang-buang duit untuk modif, sebab kalau mau dijual lagi, lupakan saja biaya modifnya tadi…Misalkan mau modif Tiger hingga mirip moge dengan kaki moge asli dan fairing berkualitas, wah bisa-bisa kena 50 jutaan.  Biasanya, kalau modif semahal itu, status motor lebih sering jadi pajangan atau kendaraan akhir pekan. Kalau buat saya sih, daripada modif habis 50 juta, mending cari moge sekalian!  Tapi duit ya duit masing-masing, terserah…

 Bagaimana dengan restorasi motor tua? Hmmm.. lebih aman sebenarnya kalau dibalikkan ke original, sebab harganya dipastikan meningkat. Namun, tetap saja harus ada hitung-menghitungnya, sebab restorasi bisa jadi jauh lebih mahal dibandingkan modifikasi. Prinsipnya, jangan mengeluarkan biaya restorasi hingga harga motor + biaya restorasi lebih tinggi dibandingkan harga motor itu di pasaran, KECUALI kalau motor klassik itu mau disimpan cukup lama.

 

tersesat muter-muter

  • 1,826,628 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com