20170304_123416

Maaf, fotonya pakai Yamaha R6 2017 saja ya, daripada comot hak orang hehe..

Memang indent online jadi strategi terkini semenjak pabrikan yakin bahwa mayoritas calon konsumen mereka punya akses internet dan mampu menggunakannya untuk memesan motor baru ini.

Apa yang ingin diraih dengan cara indent online? No 1 ya pasti promosinya… Cuma membuka program ini saja, yang memberitakan di blog sudah banyak kan.. Biasa, kasih spy shoot sebagian..kasih yang utuh, baru deh dikasih test ke media..tentu mayoritas akan berkata yang baik-baik..bahkan mencoba mempengaruhi pembacanya dengan istilah-istilah memuji motor atau jebol iman, jebol tabungan dan sebagainya…ya, itulah cara mensugesti kan hehe…

No.2, tentu bermain-main dengan waktu. Untuk produksi massal mungkin kapasitasnya masih terbatas dan belum semua bengkel resmi ditraining untuk menangani produk baru ini, nah dengan cara ini, produk sudah bisa dikenal dan dihadirkan ke masyarakat tanpa berisiko membuat tudingan kapasitas pabrik dan bengkel resminya belum siap!

No.3, Rangkaian dari spy shot hingga indent online ini tentunya tak bisa lepas dari strategi menyerang sedini mungkin produk kompetitor. Penting Bro, arus informasi harus bisa menutupi sebisa mungkin informasi tentang produk lain.. Simpel saja sebenarnya, intinya ya mempengaruhi pikiran calon konsumen, karena tindakan itu dimulai dari pikiran kan.

No.4 Ketika indent, terutama yang dibuat terbatas jumlah motornya, maka ini akan diberitakan lagi. Selain faktor pemberitaan, produsen akan mendapatkan keuntungan karena mengesankan produknya laris dan diperebutkan. Makin cepat sold out, makin baik!

Kalau dilihat rentetan 1-4, bisa dibilang strategi Yamaha sekarang jitu, meskipun bukan sesuatu yang baru secara strategi. Nah, bisa kebaca juga, sekarang Yamaha akan mengincar: Sold out dalam waktu secepat mungkin.

Nah, kenapa hanya 155 untuk motor “cuma” 34,5 juta???? Ya biar cepat sold out itu! Syukur-syukur hanya dalam waktu 155 menit haha..paham kan maksud saya..

Kalau mau suudzon sih, ya hanya mematok 155 unit itu lebih mencerminkan ketidakpedean Yamaha untuk bisa menjual dalam jumlah banyak dalam tempo yang singkat. Misalkan dikasih 500 unit, kalau ludesnya dalam 1 minggu, ya tentu itu tidak menyenangkan untuk marketing. Bandingkan judul-judul artikel media nanti:

Yamaha R15 V3 Sold Out Dalam Hitungan Jam

Yamaha R15 V3 Sold Out Dalam Seminggu

Tentu nomor 2 yang bombastis kan… Makanya, lebih aman membatasi jumlah produk itu sedikit. Dan, semakin sedikit, maka kesan eksklusif akan semakin muncul dan yang memang sudah naksir dengan motor ini pasti lebih bela-belain indent secepatnya. Saya prediksikan, banyak yang bergadang menanti 1 April demi Yamaha R6 mini ini..

 

Inilah satu-satunya motor warisan WSBK zaman dulu, masih 750cc 4 silinder. Kalau standarnya dulu di tahun 90an tenaganya setara motor supersport sekarang, sekitar 120 PS, maka seiring perkembangan zaman, tenaga Gixxer 750 turut meningkat, kini sudah 150 PS @ 13200 rpm dan torsi maksimum 86,3 Nm @ 11200 rpm.

20170304_104114

Tenaga segitu jelas cukup banget untung mengasapi motor 600cc modern, maklum, beda 20-30 PS dengan bobot setara, yakni 190 Kg.

Meskipun tidak ada lagi kelas balap yang mempertandingkannya, Gixxer 750 di Jerman tetap laris manis! Kalau 1000cc terlalu mahal karena mengikuti perlombaan perang bintang di kelas superbike, maka Suzuki bisa merdeka di kelas 750cc ini, tidak perlu jor-joran fitur sehingga harganya pun tak menggila.

20170304_104043

Saat ditest di sirkuit pun, Gixxer 750 biasanya tertinggal hanya sekitar 2 detik, tak jauh kan.. Buat harian, ya lebih tak ketara lah, paling kalahnya di straight yang panjang. Percayalah, memompa 150 PS di jalanan umum itu rasanya serem!

20170304_104203

Saya memang hanya coba nyemplak dalam keadaan diam. Namun, dari situ saja saya pasti pilih Gixxer 750 dibandingkan Gixxer 1000. Posisi riding Gixxer 750 terasa lebih santai dan kedua kaki bisa menapak mantab.. Kalau naik Gixxer 1000, dengan tinggi 170cm kaki saya memang menapak, tetapi kurang mantab. Buat mendorong maju mah simple, tapi kalau buat memundurkan motor, haha, susah itu..

20170304_103949-2

Secara tampilan, buritan Gixxer 750 pun masih mempertahankan ciri khas lampu rem dobelnya..ya dari tahun 90an masih dipertahankan trendnya. Lampu rem Gixxer 750 terwarisi di Suzuki yang diiklankan Irfan Bachdim ya, yakni Suzuki Hayate.

20170304_104301

Suzuki tampak menekan harga Gixxer 750 supaya tetap ekonomis dan mudah terserap pasar. Bisa dilihat dari penggunaan parts yang terpasang. Misalnya master rem dipasang Nissin.

20170304_104131

Nah, Kaliper remnya Brembo hehe..belang ya, tapi oke lah…toh lebih terlihat dibandingkan pasang master Brembo, tapi kaliper Nissin kan…

20170304_104030

Cockpit Gixxer 750 pun masih klassik, yup belum full digital. Ya sama lah sama Yamaha R6 gress…buat saya, justru ini yang lebih dapet racing feelnya hehe..Lebih gimana gitu..toh di MotoGP pun tak semua pembalap menyukai yang full digital..coba lihat lagi bahasan kita tentang motor Cal Cruthlow yang dibandingkan dengan RCV Marc Marquez.

20170304_104315

Di depan, lampu depan agresif khas Gixxer yang diturunkan ke Satria FU generasi menengah pun masih dipertahankan.. nanti kita bandingkan lagi di artikel selanjutnya dengan Gixxer 1000.

20170304_104125

Oh ya, konsumsi bensinnya diklaim Suzuki 5,2 liter untuk menempuh 100 Km. Hampir 1:20 Bro, irit banget lah buat mesin moge balap berkapasitas 750 cc. Dengan tanki 17 liter, Gixxer 750 bisa keluyuran dengan tenang hingga 300 Km.

Melihat fitur, performa dan merasakan kenyamanannya dalam kondisi diam, saya paham kenapa ini motor memang masih dipertahankan Suzuki dan punya pasar tersendiri.

Kalau ada motor yang paling banyak dikerubuti dan menarik perhatian makhluk halus, maka menurut pengamatan sesat sesaat Gixxer 1000lah juaranya. Ini hasil observasi dan dokumentasi untuk membuktikan keobjektivan hipotesis hasil tinjauan lapangan yang dilakukan sepenuh statusisasi hati:

20170304_103302

20170304_103929

20170304_103536

20170304_103900

20170304_103438

20170304_104223

20170304_103743

20170304_103515

20170304_103502

20170304_103422

20170304_103828

20170304_103612

20170304_103728

20161008_145503-1

20161008_145529

20161008_145536

20161008_145446

20170314_145137

Dari tanggal 14-16 Maret, saya mondar-mandir Ludwigshafen-Mannheim dan ikut seminar di Rosengarten alias kebon mawar hehe… Dari luar kelihatan artsy dan jadul, tetapi di dalamnya modern dan ada beberapa ruangan luas khusus konferensi. Yang buat  saya takjub sih kualitas soundnya..wah, keren, bening abis, tidak menggema dan super jernih tanpa ada dengung-dengung sedikitpun.

20170314_171952

Mannheim bagi saya keren, lebih keren daripada Bochum pastinya..maklum, tergolong kota modern berukuran besar. Namun, semodern-modernnya, mereka mempertahankan bangunan lama. Beda dengan banyak kota di Indonesia yang kadang main robohin saja tanpa melihat sejarah suatu tempat.

20170316_111233

Kesan saya sama kota yang ramai ini adalah: hedon hehe.. Banyak kendaraan mewah dan suara knalpotnya juga besar-besar. Entahlah bagaimana aturan lalu lintasnya hehe..

20170314_171404

20170316_170800

Kota ini letaknya strategis juga, diapit oleh dua sungai besar, yakni Neckar dan Rhein. Enaknya, memang sejak zaman dulu sungai itu masih dipakai untuk memperlancar transportasi. Jadi banyak kapal penumpang atau barang lalu lalang di kedua sungai ini. Sepanjang sungai pun jadi tempat yang bisa menarik turis dan menghibur penduduk kotanya. Bagi mereka yang senang jalan kaki dan main sepeda, sepanjang sungai memang disediakan jalurnya.

20170316_135131

20170316_135227

Atau yang sedang galaupun bisa kepinggir sungai. Bukan loncat, tapi bisa kasih makan bebek dan angsa hehe… Buat cewe-cewe yang galau, coba dicium bebeknya, kali aja jadi pangeran wkwk…

20170316_165934

20170316_170128

20170316_140927-1

20170316_170447

Segitu saja ah ceritanya..bentar lagi Jumatan hehe..

Senin lalu sebenarnya saya harus ke kota Ludwigshafen. Sudah pesan tiket Flixbus yang tentunya demi mengejar harga ekonomis. Pesan yang jam 6 pagi dan harga dapat 15 Euro. Kalau yang siang sudah 29 Euro. Eh, gara-gara telat meninggalkan rumah, saya ketinggalan U-Bahn, dan berentetlah hingga akhirnya ketinggalan Bus di depan mata hikshiks…

20170313_103414

Akhirnya saya naik kereta saja. Dengan tiket NRW sebagai mahasiswa, bisa dipakai hingga ke Bonn. Nah, berhubung lewat Cologne, sekalian saja mampir sebentar, ya nostalgia lah hehe… Ini foto dari pelataran mesjid, lumayan bisa lihat dulu tempat kursus, yakni Carl Duisberg Centrum. Mampir sebentar untuk sholat duha…mungkin ini hikmahnya ketinggalan Bus hehe..

20170313_103557

Saya pun berjalan terus ke arah Bank tempat dulu buka rekening. Butuh duit Bro..kan harus beli tiket kereta yang mahalnya ga lucu lagi itu… Untung cuaca cerah dan tidak terlalu dingin.

20170313_104457

Pemandangan juga bagus..banyak moge mulai berkeluyuran.. Tapi sebanyak-banyaknya, tidak ada tuh istilah parkiran motor penuh wkwk… Parkirpun bisa dibilang di mana saja yang diizinkan.. super gampang deh..

20170313_134913

Saya pun melanjutkan perjalanan ke Bonn. Hmm, eks ibukota Jerman Barat ini dianggap Yognya-nya Jerman karena dianggap kota pusat pendidikan. Namun, kesannya beda kalau kita cuma di stasiun doang. Banyak yang minta2.. masih pada muda juga..fenomena deh.. Kalau di kota kecil, hampir tidak ada fenomena ini..

20170313_132909

Mulai dari Bonn, saya harus beli tiket kereta ke daerah Oggersheim di Ludwigshafen. Meskipun tinggal 1/3 perjalanan, biaya tiketnya 39 Euro, itupun kelas 2 hehe.. (makanya naik Bus itu saya bilang murah).

20170313_142338

Untungnya sih terbayar dengan pemandangan bagus. Jalur kereta antara Koblenz ke Ludwigshafen menyusuri sungai Rhein alias Rhine memang cukup menghibur.

20170313_182953

Dan sore hari sampai di Oggersheim. Ini tapi saya ambil menjelang magrib. Sebenarnya saya harus ke Mannheim, tetapi karena hotel di sana mahal-mahal (di atas 80 Euro per malam), saya memutuskan menginap di Ludwigshafen. Lumayan, dapat kamar seharga 50 Euro per malam. Sedangkan beli tiket harian yang bisa PP Ludwigshafen-Mannheim dan muter-muter sepuasnya, cukup keluar 6,5 Euro saja.

Kalau nonton pameran motor di Indonesia, ke bengkel atau ke dealer motor, biasanya ada poster-poster moge yang jadi andalan suatu merk tertentu. Nah, waktu di Dortmund lalu, saya juga mengalami hal yang sama, ada posternya atau gambarnya yang berukuran super besar, tetapi produknya malah tidak ada! Yup, jangan dikira di Indonesia saja yang begitu, di Jerman, bahkan di kelas pameran besar pun hal ini terjadi. Ini dia motor yang cuma hadir gambarnya doang itu:

20170304_104357

Yup, Gixxer 125 yang dibuat di planet lain, tepatnya di Tambun, Bekasi, justru hanya hadir gambarnya saja. Saya sempat nguping, ada pengunjung dengan anak laki-lakinya yang bertanya ke salesnya, Gixxer 125nya mana??? Salesnya bilang, Gixxer 125 baru akan hadir bulan Juni atau Juli nanti..

Kasian juga sih kalau ada yang khusus datang, ternyata motor yang ingin dilihatnya secara langsung tidak ada. Cukup aneh juga, apalagi gambarnya besar-besar terpampang di booth Suzuki. Gixxer 1000 ada 2 unit, Gixxer mininya malah nihil… Ya mungkin karena memang diproduksinya di planet lain hehe…

Waktu berkunjung ke pameran motor di Dortmund, sebenarnya saya tak ada incaran apa-apa, toh sudah tidak ada motor baru yang akan diperkenalkan di ajang ini. Yup, bukan seelit Intermot di Cologne atau EICMA di Milan. Booth pertama yang saya jumpai adalah miliknya Suzuki. Saya sempat berharap bisa ketemu dengan V-Strom 250 sih, apalagi gosipnya bakal dipasarkan di Indonesia. Sayang tidak ada itu motor yang punya daya pikat di atas pesaingnya macam CRF250 Rally ataupun Versys 250.

Dan, yang namanya rejeki kadang lebih indah dari harapan, malah ketemu sama Suzuki VanVan200 yang tidak kepikiran sebelumnya.

20170304_102640 (1)

Saya langsung terpana melihat sosok berukuran sedang ini. Entah, ini motor bisa dibilang jenis apa. Mungkin bisa dibilang dirt bike atau scrambler. Kalau Suzuki mau menjualnya di Indonesia, dijamin bisa menaikkan nama Suzuki! Yup, ini motor hobi! Apalagi harganya di Jerman sih hanya dijual setara GSX-R125. Kebayang kan kalau dijual di Indonesia dijual 30 juta? Ga bakal laku banyak, tetapi bisa dipastikan bakal ada komunitasnya!

20170304_102711

Nah, sekarang lihat joknya. Biasanya selama ini lihat dari samping biasa saja, pas dilihat dari belakang..buseeet, bohay pol! Menjanjikan kenyamanan yang tak kalah dengan motor besar sekelas Honda Goldwing. Saya pun langsung menungganginya..wah, tidak bisa protes joknya tidak nyaman!

20170304_102916

Dengan tinggi 170 cm, kaki saya leluasa menjejak, bisa main kesana kesini. Setang lumayan lebar dan tingginya pas, wah, seru banget deh buat jalan-jalan santai. Dibawa keluar kota dengan jalan kurang mulus pun, VanVan 200 tampaknya siap setia dan tahan banting. Yup, ini kesannya: tahan banting! Ini itunya di motor ini memberikan kesan sederhana dan kokoh.

20170304_102821

Soal kualitas bahan, saya bisa bilang tergolong baik. Soal bodi-bodi dan lampu, wah oke lah. Hanya di wilayah segitiga setang saja yang nampak agak kasar. Meskipun begitu, masih bisa dibilang rapi!

20170304_102910 (1)

Saya senang dengan area cockpitnya yang minimalis berkelas. VanVan 200 tidak dilengkapi dengan tachometer, pertanda memang ini motor buat santai-santai. Maklum, mesinnya hanya mesin 4 tak 1 silinder 200cc . Tenaganya pun minimalis, hanya 14 PS @8000 rpm dengan torsi maksimum 13,5 Nm @6500 rpm.

20170304_102746

Mesin bertenaga kecil berpendingin udara dan oil cooled ini terlihat lumayan ringkas dan materialnya pun lumayan. Tidak muncul kesan ringkih akibat penggunaan besi masakan, entah deh kekuatannya hehe.. Namun, untuk produk global macam ini, Suzuki sepertinya tak akan menomorduakan kualitas mesinnya.

20170304_102738

Mesin bertenaga kecil ini sebenarnya bisa dibilang cukup untuk membawa motor berbobot kosong 128 Kg ini. Kalau sampai dijual di Indonesia, saya jamin bakal banyak parts pendongkrak performanya, maklum, kan statusnya motor hobi.

20170304_102647

Knalpot yang meliuk ke atas membuat doi tampaknya seru diajak menerjang banjir. Ban yang berprofil tebal pun lebih aman dari serangan ranjau paku. Mungkin yang dipertanyakan untuk touring jauh adalah kapasitas tankinya yang hanya 6,5 liter. Namun, tenang, VanVan 200 hanya butuh 2,5 liter untuk menempuh 100 Km. Ya, jadi Jerman biasa menggunakan satuan seperti itu. Kalau di Indonesia, kita menggunakan satuan: 1: 40. Yup, satu liter untuk menempuh 40 Km. Artinya, kalau cuma mau jalan 200 Km saja sih, VanVan200 aman banget… Lagipula, kalau touring, jalan 100 Km-an amannya ya berhenti dulu, isi bensin, ngemil, minum, mesin pun juga istirahat sebentar.

20170304_102727

Gimana Bro? Leh uga kaaaan…

Dengar nama Sakura, pasti langsung kata terkait yang terlintas di kepala mayoritas orang adalah Jepang. Sama seperti tulip, pasti yang terlintas Belanda. Padahal kedua jenis bunga ini ada di berbagai negara lainnya. Nah, karena sekarang sudah musim semi, bunga-bunga bermunculan dan tunas-tunas di pohon pun juga, ya bisa dibilang musim terindah di negara dengan 4 musim ya musim semi.

20170316_075502

Waktu tersesat di daerah Oggersheim di kota Ludwigshafen, untuk pertama kalinya saya bertemu sakura di Jerman hehe… Eh, atau ini bukan sakura? Tidak bisa dibilang banyak sih populasi sakura di Jerman, tapi setelah saya ngeh bahwa sakura juga ada di Jerman, pelan-pelan bisa dikenali juga. Ada yang warna putih juga lho.. dan lucunya, ternyata di depan tempat tinggal saya juga ada. Bahkan di kampus pun ada. Ini dia:

20170320_131451-1

Kalau di Indonesia, mungkin orang-orang langsung pada selfie hehe… sedangkan mahasiswa di sini berlalu biasa saja.. Ya begitulah, rumput tetangga lebih hijau kan.. Alhamdulillah bisa lihat sakura tanpa harus ke Jepang..ya di Indonesia juga ada sih di daerah puncak.

20170321_165330

Dari awal kelahirannya, R-Series berkapasitas terkecil ini desainnya begitu digemari. Bahkan banyak yang bilang, R 125 adalah yang paling tampan dibandingkan R-Series lainnya.

20170304_124430

Kalau melihat saingannya dulu untuk menggaet kalangan ABG, yakni Aprilia RS125, tidak heran bahwa Yamaha perlu membuatnya seganteng ini. Buat bikers Indonesia pun, doi juga super ganteng dan terpantau ada yang masuk beberapa unit ke Indonesia dengan harga lebih mahal dibandingkan Ninja 250 yang di awal munculnya pun begitu heboh dengan harga 40 jutaan yang untuk standar waktu itu harga yang wow!

20170304_124400

Melihat sosoknya kini, R 125 tetap saja terlihat wow… Meskipun bikers Indonesia sudah tak terlalu menginginkannya lagi seperti saat awalnya dulu.. Maklum, dulu kan di Indonesia hanya ada CBR 150 gen awal dan Vixion hehe..sekarang sih sudah berlimpah ruah motor fairing 150 dan 250cc. Apalagi dengan munculnya R15 generasi ke-3 nanti, bisa dibilang fiturnya sudah selevel R 125, meskipun saya masih berani bilang, R125 masih 1 level di atasnya, cuma kalah sektor mesin lah..

20170304_124259

Motor ini masih tetap dibekali mesin 1 silinder 4 tak, 4 klep OHC berkapasitas 124,7 cc yang menghasilkan 15 PS @ 9000 rpm dan torsi maksimum 12,4 Nm @ 8000 rpm. Lumayan lah buat menggerakkan bodi semoknya yang berbobot 142 Kg.

20170304_124227

Bagaimana rasanya nyemplak motor ini? Saya dengan tinggi 170cm mencoba motor bertinggi jok 818 mm ini. Hmmm kedua kaki masih menapak, meskipun kurang mantap, maklum, ini motor tinggi.  Dan ketika tangan meraih setang, wah, bungkuknya langsung terasa pegal. Saya merasa kurang cocok, meskipun saya senang posisi merunduk balap. Buat saya lumayan extrem posisinya, ga beda dengan 600cc atau 1000cc, tapi tenaganya kan cuma segitu wkwkwk… Jauh lebih nyaman duduk di jok Z900 dan menjangkau setangnya. Buat Bro yang enjoy di atas Gixxer 150 (Tinggi jok 785 mm), wah pasti bakal mikir yang sama kalau naik R 125, nunduknya mulai ganggu hehe..meskipun keren sih, tapi ya terlalu nunduk dengan power mesin hanya segitu. Namun, kalau niatnya memang mau tau riding position motor supersport dan superbike, R 125 dijamin bisa memberikannya!

20170304_124250

Soal handling, hmm saya tidak pernah coba, tapi saya percaya dengan kualitas Yamaha. Dibekali frame ala moge balap, suspensi USD, rem ABS dan ban Michelin, saya rasa itu cukup menjanjikan untuk meminang motor yang dibanderol seharga 5195 Euro ini. Jauh lebih mahal ya dari GSX-R125 yang bermain di 4490 Euro (harga di web Suzuki Jerman), wajar sih kalau melihat kaki-kaki dan bodi Yamaha R 125 ini: USD, velg alumunium lebar, swing arm banana dan ban Michelin, lebih murah malah… R-125 juga unggul di tingkat kerapihan atau kehalusan pengerjaan, silahkan cek foto dashboard dan area setangnya!

20170304_124218

Gimana Bro? Jadi pingin meminang? Menurut saya sih, berburu R 125 second lebih menguntungkan dibandingkan beli motor 250cc baru, punya nilai investasi nantinya di Indonesia.

tersesat muter-muter

  • 1,665,690 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com