020_Mahdental_20130904_Krummbachtal.jpg.2464126

Pertanyaan ini saya rasa dengan mudahnya dijawab mayoritas warga Jakarta dengan: “MAUUUUUU”

Paris memang kota yang indah, lokasi impian banyak warga dunia. Sebagai orang yang pernah tersesat tahun 2004 lalu di kota extraromantis ini, saya bisa memahami hal itu.

Namun, tidak semua hal di Paris lebih enak dibandingkan di Jakarta, terutama bagi kita para bikers. DPRDnya kota Paris telah menjatuhkan keputusan untuk memperbaiki kualitas udara kota yang sering dijuluki juga “Ibukota Afrika” ini.

Mulai Juli 2016 mendatang, motor keluaran tahun 2000 dan lebih tua dari tahun 2000 dilarang memasuki ring dalam kota Paris. Jadi, yang bakal beredar di pusat kota hanya motor tahun muda saja! Lebih parah kan tuh dibandingkan kita di Jakarta yang dilarang masuk Thamrin!

Di Jerman juga ada lo daerah yang ramah lingkungan. Di zona ini, mobil dan truk yang memenuhi syarat tertentu dilarang melintas. Nah, bedanya, di Jerman motor tidak kena aturan ini. Jadi, bikers Jerman bisa happy kemanapun tujuannya di Jerman.

Meskipun aturan baru ini dianggap menyebalkan oleh bikers paris yang Februari lalu telah berdemo “Je suis Biker” dan mengajukan petisi, aturan ini menurut saya oke lho.. Adil! Sebab mobil dan truk juga kena! Jadi mobil tahun 1997 dan lebih tua serta truk/bis yang lebih tua dari tahun 2001 juga ikut dilarang masuk ke sentral kota Paris.

Namun. aturan ini masih lebih enak dibandingkan di Jakarta. Sebab para pemilik kendaraan tua yang banyak hobiist motor/mobil tua ini masih bisa menikmati seluruh kota Paris pada hari Sabtu dan Minggu. Di hari kerja, jam pelarangan pun tak 24 jam, hanya pada pukul 08.00-20.00. Masih lumayan dan fair sih menurut saya… Tujuan bisa dicapai tanpa harus terlalu semena-mena terhadap pemilik kendaraan tahun tua!

Picture (3) (1)

Pada suatu hari Minggu di tahun 2014, kedua produk Suzuki ini bertemu muka. Minggu pagi yang cerah itu pun mereka manfaatkan untuk lari-lari kecil di jalanan Ibukota. Mendengar raungan mesin berpakasitas besar dan menikmati hembusan udara libur Jakarta di atas motor klassik Suzuki memang menjadi sebuah cerita yang layak dan indah dikenang.

Bagaimana cerita test ride gank Suzu Peyot Tua ini? Begini ceritanya:

Teman saya mengendarai GT 250 dan saya memilih menikmati kenyamanan GSX 750. Lihat dari posturnya saja sudah ketahuan kan, bahwa GSX 750 benar-benar motor besar! Hanya bannya saja yang kecil, lainnya gede dooong… Lihat saja, GT 250 itu sudah lebih besar dibandingkan dengan Honda Tiger, nah, kebayang kan besarnya si Mr. Big GSX 750?

Picture (4)

Jika naik GT, rider akan merasa tinggi, sebab posisi duduk yang tegak dan posisi jok yang lumayan tinggi. Feeling semitrail didukung suspensi dan rangka ala sport, GT benar-benar memberikan feedback yang sangat baik ke pantatmeter sehingga rider sangat bisa merasakan traksi ke jalan. Dalam hal ini, saya akui, GSX kalah Bro… GSX lebih didesain untuk memberikan kenyamanan berkendara, sehingga traksi ban ke jalan dan keadaan permukaan jalan tidak terlalu terasa dan terdeteksi pantatmeter. GSX memang menjejak mantap ke jalan, tetapi karena suspensinya extraempuk, rider dibuat takut untuk lebih berakrobat kecil-kecilan menggunakan GSX. Beda lainnya yang begitu terasa, rider GSX lebih berposisi in the bike, sedangkan GT on the bike. Posisi setang kedua motor ini sama-sama santai, tetapi GSX bakal terasa lebih santai, wajar, sebab posisi duduknya lebih rendah. Dalam keadaan kencang, rasanya lebih enak geber GT dibandingkan GSX, sebab setang GSX terasa lebih tinggi dan lebar.

Bagaimana pengereman? Wah, dua-duanya meskipun sudah berumur, tetap oke banget mempertahankan performanya. Di sini, GSX lebih tahud remnya, sebab di depan sudah dobel cakram dan di buritan juga sudah cakram. GT, meskipun remnya terlihat simpel dan sudah berumur, tetap yahud berperforma. Karena GT lebih ringan, ujung-ujungnya sih saya prediksi kemampuan berhentinya sama baik, hanya saja lebih nyaman mengerem dengan GT. Mungkin karena remnya tidak intimidating dan posisi duduk GT lebih nyaman untuk mengerem. Setang GSX yang lebih tinggi, membuat motor ini agak ngeri saat mengerem keras, maklum, tangan juga dituntut lebih kuat di sini.

Picture-2

Bagaimana performa mesinnya? Di atas kertas, GSX jauh di atas GT, bisa 3 kali lebih bertenaga dibandingkan GT. Namun, karena bobotnya yang berat, tak mudah juga menundukkan GT yang hanya 247 cc! Jadi, kalau sama-sama jaga rpm, GSX jelas menang. Namun, kalau ditarik dari putaran mesin rendah, GSX akan tertinggal lebih dulu dibandingkan GT yang digeber dengan rpm yang optimal.

Untuk suara, kalau stasioner dan digeber, menurut saya GSX lebih senyap dibandingkan GT. Namun, ya sesenyap-senyapnya GSX jadul ya tetap lumayan gahar suaranya. Nah, kalau GT yang digeber, yang dengar bakal lebih banyak heheh… Uniknya GT 250 ini juga ada di suara mesinnya. Saat digeber di rpm menengah dan atas, bunyinya malah lebih keluar bass nya, jadi malah mirip motor 4 tak 4 silinder hehe..

Soal panas mesin, GT enak lah, tak terasa lebih panas dibandingkan Honda Tiger standar, sedangkan GSX yang masih oil cooler ini ya mirip-mirip Tiger standar deh panas mesinnya, mungkin sedikit lebih terasa, sebab ukuran mesinnya yang lebar, bahkan keluar-keluar lebarnya dibandingkan tanki. Namun, untuk ukuran moge 4 silinder, GSX ini yang teradem yang pernah saya test.

Bagaimana konsumsi bensin? Memang tidak diukur, tetapi saya berani pegang GSX untuk masalah irit-iritan bahan bakar hihihi… GSX yang sudah dilengkapi karbu vakum tergolong irit Bro, sedangkan GT, dari bunyinya saja, sudah terasa borosnya haha…

Ya, begitulah ceritanya……

Isu begal yang semakin meluas dan meresahkan membuat kita lebih waspada dan mencari cara menghindarinya. Soal cara menghindari begal bermacam-macam, mulai dari menghindari daerah tertentu di jam tertentu, mengubah cara berkendara, mengganti motor, bahkan ganti kendaraan. Namun, ada cara yang lumayan mudah dan efektif:

Jalan kaki… hihihi peace ah…

Oke, seriusan dikit. Selain kita harus waspada dan memasang spion yang baik agar bisa memantau keadaan di belakang, mungkin pakaian yang tepat bisa membantu: Pakai jaket loreng ala ABRI yang bisa sampeyan peroleh di berbagai tempat dan pakai helm warna biru muda ala anggota TNI AL atau Marinir hehe.. Entah ini tips berhasil atau tidak, silahkan dipertimbangkan sendiri. Menurut Terawang Gaib Ki Gede Anue, jurus ini lumayan lah…

Yang menarik tentu juga membahas, kenapa begal semakin marak saja? Adaka skenario besar yang tersembunyi di balik maraknya begal motor dan pemberitaannya? Apakah nantinya akan berkembang ke larangan penggunaan motor atau jam malam bagi motor??? Pemirsa, mungkinkah itu terjadi?

Untuk menganalisis fenomena pemberitaan yang ada, tentu diperlukan ilmu-ilmu gaib ala critical discourse analysis yang memiliki pentolan-pentolan macam Foucault, Teun van Dijk, Stuart Hall, Sara Mills dan sebagainya. Ki Gede Anue yang dengan kesaktian tiadaguna mewawancari tokoh-tokoh ini dengan metode segaib-gaibnya sehingga keilmiahannya tak perlu dipertanyakan lagi.

Hasil dari penelitian Beliau, ternyata ada indikasi akan adanya gerakan-gerakan POLRI yang cukup advance dan bisa menggebrak. Kerinduan masyarakat akan sosok PETRUS dijawab dengan dihadirkannya sosok PETRUS, tentu sudah lebih baik, efektif, tak kenal takut, bahkan kabarnya PETRUS ini tahan bacok dan tahan timah panas hingga ukuran sedang. Wartawan Blog Sesat dan Kesatuan Unit Intelijen Tindak Lapangan Akademik Nasional dan Kewilayahan (KUNTILANAK) berhasil menemukan fakta-fakta menarik. Kabarnya POLRI sudah menghubungi OCP dan mengundang ahli-ahli robotik, metalurgi, PINDAD dan para begawan software yang biasa menangani game online. Mereka bersinergi menciptakan satuan khusus yang nantinya langsung diturunkan untuk memberantas begal. Ini dia gambar dari anggota satuan khusus itu:

robocop3c

 

Robocop-2014-07

Kesatuan pengganti PETRUS ini nantinya tidak lagi misterius, mereka bisa diajak beramah-tamah, melaporkan kondisi lalu-lintas, diminta bantuan mengawal rombongan, masuk acara 86. Dan, kabarnya, kalau begal sudah tobat semua dan berhasil dinetralisir hingga 0%, satuan ini juga akan melayani perpanjang SIM dan STNK door to door.

*Blog Sesat tidak bertanggungjawab atas isi, kefiktifan dan efek yang ditimbulkan artikel ini.

Picture (3)

Jika sebelumnya kita sudah mengupas tentang Suzuki GT250, kini awak Blog Sesat akan melaporkan, bagaimana sensasi mengendarai motor 2 tak twin pararel 250 cc ini. Berikut testimoni test ride yang terjadi sekitar pertengahan tahun 2014 lalu.

Begitu naik ke motor ini, hmm, motor ini terasa besar dan lumayan berat. Jika GT 185 lumayan mencengangkan dengan ukurannya yang seperti Tiger (sebelumnya saya kira hanya sebesar CB200), nah GT 250 tidak mencengangkan. Ya tidak kaget lah, kan logikanya, yang 250 pasti lebih besar daripada yang 185. Jadi, untuk ukuran mirip lah, sama-sama berasa naik motor semi trail, hanya saja lebih berat dan lebih lebar dibandingkan yang 185. Beratnya ini jelas terasa harus menstandar tengah si GT 250, pake tarik napas dulu dan diiringi ngeden Bro.. terasa beratnya dibandingkan saat harus standar tengah Tiger.

Menghidupkan motor ini agak berbeda dibandingkan motor Jepang mayoritas, sebab selahnya ada di sebelah kiri. Untuk menyelahnya pun agak repot, sebab rider dipaksa turun dari sadel. Nah, bunyinya mesin 2 tak kapasitas besar mungkin bagi kebanyakan bikers terdengar aneh, salah-salah agak seperti bemo haha.. lumayan berisik dan kurang beraturan, ya namanya juga mesin jebolan tahun 76, tentu butuh rekondisi, apalagi ini mesin karburatornya masih original, tak heran mesinnya bunyinya sudah agak berantakan dan asap lumayan banyak. Motor ini sendiri masih dilengkapi tabung oli samping terpisah, jadi ridernya tak perlu jadi bartender hehe..


20150208_144732 Test ride pun dimulai. Kesan pertama, Hmmm langsung berasa jadi bintang film zamannya Rano Karno, Roy Marten dan Chris Salam masih muda dulu… Feeling semi trail terasa karena posisi tubuh kita yang tegak dan suspensi yang mantabs… Perpindahan gigi juga halus, sama lah dengan yang versi 185.

Bagaimana akselerasinya? Jelas lebih kencang dibandingkan yang 185. Kalau yang 185 akselerasinya halus, tapi tau-tau kencang, sedangkan akselerasi GT 250 terasa lebih mantab, masih bejaban dengan motor 150-200 cc keluaran terkini. Teman saya sudah membuktikan saat berboncengan dengan abangnya. Mereka bisa bejaban dengan Vixion yang riding sendirian. Ya, menurut saya akselerasi motor yang kalau fit powernya 30 PS ini tak terlalu ganas, ya karena sudah uzur juga dan butuh peremajaan sih. Kalau di jalan, ya bunyinya cukup intimidating sih, jadi yang nyalip juga sopan-sopan.

Berapa top speednya? Entahlah. Spidometernya mati… Namun, saya pernah mengikuti GT 250 ini dengan Excel Rose. Nguber akselerasinya, Excel Rose yang kapasitas mesinnya sudah sekitar 160ccan tak mampu menyalip, tapi ketinggalan juga tak jauh. Saat tengah malam di daerah Pangeran Antasari, spidometer Excel Rose sempat menunjukkan 120 Km/jam, tetapi GT250 masih anteng di depan. Berhubung urat takut masih ada, ane tak mau juga terlalu nempel. Maklim, GT remnya asoy, sedangkan rem Excel Rose amsyoooong….

Yang spesial dari GT 250 adalah pengeremannya yang tergolong yahud. Cakram dan kaliper bawaannya masih berfungsi sangat baik, sedangkan rem tromol di belakang tak perlu diperdebatkan, silahkan lihat di foto, ukurannya besar, setara motor-motor balap di zamannya lah…Tuasnya juga bukan ditarik tungkai, tetapi ditarik kabel.

Yang hebat banget dari motor ini adalah handlingnya! Asli Bro, mau Ente yang bawa motor, atau Ente jadi boncenger, ini motor benar-benar memberikan feedback yang yahuuuuuuud. Sampeyan ga bakal ngeri kepleset karena motor kehilangan grip! Motor benar-benar memberikan perasaan nyaman dalam menikung dan merasakan daya cengkram ban ke  lintasan! Asli, Ane juga bingung kenapa, mungkin karena rangkanya yang khas motor balap di zamannya. Rangka ini beda lho dengan GT 185 dan GT 380nya.

060_Test und Technik_Fahrbericht_BMW R nineT.jpg.3027718

Kemunculan BMW R NineT memang menjadi pelepas dahaga bagi fans BMW yang merindukan gaya klassik, maklum, belakangan ini BMW terlalu berani dalam membuat desain. Desainnya memang unik dan dijamin mudah dikenali, tetapi desainnya tidak cocok dengan selera orang kebanyakan, bahkan kalau itu bukan BMW, dijamin desainnya jadi bahan dagelan.

BMW R NineT sudah terdeteksi sampai di tanah air sejak beberapa bulan lalu, banyak yang sudah melihat langsung motor kece ini di tanah air. Banyak yang langsung jatuh hati bukan karena desainnya semata, tetapi karena ukurannya yang terhitung kecil dan kompak, jadi buat orang Indonesia dengan tinggi 170cm, motor ini tidak membuat jinjit jinjit sedep… Hanya harganya saja yang lumayan bikin ngilu-ngilu biker papa seperti saya huhuhu… Bisa beli rumah Bro…

Kalau buka OLX, R NineT dijual 500 juta off the road. Bro juga bisa cek di dealer resmi BMW di Bali, atau ada juga gerainya di Pacific Place Jakarta. R NineT dijual off the road seharga 484 juta. Kok beda dengan OLX? Entahlah.. padahal keduanya sama-sama off the road. Barangkali karena belum termasuk ongkos kirim sih. Kalau tak salah 484 juta itu harga di Bali.

Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa hingga saat ini motor sehraga 14.500 Euro di Jerman ini tak beredar di jalanan? Padahal seru juga kalau bisa melihat langsung wajah dan performanya. Berikut ini kira-kira hasil akselerasi motor bertenaga 110 PS ini :

Top Speed dari klaim official BMW: 217 km/h

Akselerasi: 
0–100 km/h   3,3 sek
0–140 km/h  5,5 sek
0–200 km/h  13,3 sek

Ga kalah juga tuh dalam soal akselerasi 0-100 Km/jam dibandingkan motor superbike modern!

Konsumsi bahan bakarnya juga lumayan, untuk 100 Km, R NineT negak 5,3 liter bensin, jadi untuk jalan-jalan santai antar kota, motor kece bertanki 18 liter ini sanggup keluyuran hingga 339 Km.

Oke, kita kembali ke keganjilan, kenapa R NineT hanya dijual off the road?

060_Vergleichstest_BMW_R_nineT_Stand.jpg.3088048

Kabarnya sih, karena motor ini belum sepenuhnya lulus perizinannya..apa tuh, TPT kali ya?

Bukan motornya yang belum tembus, tetapi karena ban bawaan, yakni Continental Road Attack C2 belum bersertifikat SNI hihihi… Kata BMW Indonesianya sih, sedang diusahakan perizinannya, ya bayar-bayar dikit lah, optimis tembus kok.. Kalau tidak tembus ya, artinya versi Indonesia mungkin bisa dipasangi ban moge yang sudah SNI, dan atau ban yang sudah dipakai moge-moge yang umum dijual Kawasaki, Yamaha dan Suzuki di Indonesia, pasti ada deh, kan ukurannya umum kok: 120/70 ZR 17; 180/55 ZR 17

Kabar dari Jerman, kalau mau enak, bisa ganti dengan Metzeler Roadtec Z8. Permasalahannya, ban tipe dan merek ini sudah SNI belum ya? Repot juga ya, motor jadi belum berkeliaran di jalan karena bannya belum tembus aturan di sini hihi…

Foto dan Pengukuran: http://www.motorradonline.de

http://www.motorradonline.de/vergleichstest/bmw-r-ninet-und-bmw-r-1200-r-im-test-daten-und-messwerte-bmw-r-ninet/534764?seite=2

Picture (4)Mencari gir motor umum memang perkara gampang. Apalagi kalau merknya Yamaha. Rasa-rasanya Yamaha lebih banyak tersedia pilihan girnya. Ini tak lepas juga mungkin dari RX-King yang memang jadi motor yang paling digemari untuk dioprek, sebab terkenal murah dan hasilnya bisa maksimal untuk menaklukkan jalanan.

Untuk merk Suzuki, entahlah. Pengalaman dari Suzuki Smash sih lumayan menyenangkan, sebab si Smash juga ada ukuran gir yang berbeda dari gir standardnya. Dan pilihan gir itu memang original juga dari Suzukinya. Entah juga sih, apakah motor Suzuki lainnya ada pilihan. Kalau Thunder 125 sepertinya tidak ada ya, sebab banyak yang menggunakan gir RX-King kalau butuh ukuran tak standard.

Picture (3)-1

Bagaimana dengan Honda? Entah juga lah hahah.. Yang pasti Tiger juga setahu saya tak ada pilihan gir original AHM yang beda dari ukuran standard pabrikan. Jadi, kalau mau aneh-aneh dengan Tiger, wah sulit tuh. Untungnya hari gini sudah ada produk lainnya yang menawarkan ukuran berbeda untuk Tiger, misalnya buatan Daytona dan Sinnob. Wah asik banget tuh, sayang niat ngoprek Tiger keburu padam. Kurang nyamannya lagi, gir Tiger ini dibanderol di atas harga gir original Tiger.Jadi, kalau mau beda, sampeyan kudu rela bayar lebih!

Bagaimana dengan motor klassik? Wah, dapat gir original saja sudah syukur banget. Kalau dapat, harganya juga bisa membuat calon pembeli istighfar..

Picture-2 (1)

Singkat kata, saya membutuhkan gir untuk Honda Dream CP 77 yang berkapasitas 305cc. Karena saya doyan eksperimen, cobalah saya belikan gir belakang Honda Tiger. Karena tahu belum tentu pas, akhirnya saya coba dulu beli KW seharga 50 ribu.

Dan benar, dudukannya tidak pas dan gir Tiger lebih tipis dibandingkan Dream. Kalau sampeyan coba-coba bubut dudukannya, ya kira kira hasilnya bisa seperti gampar paling atas, tetapi itu sebenarnya sudah salah bubut lho hehe.. Melayang deh duit untuk gir dan ongkos bubut. Kalau mau dipasang sebenarnya bisa saja, tetapi diameter Tiger lebih besar, akibatnya mentok tutup rantai Dream. Karena sayang, akhirnya saya putuskan coba buat gir saja. Urusan repot-repot cari barang aneh-aneh atau mengerjakan yang aneh-aneh, saya langsung kontak Aal di 0856 8380 856. Akhirnya setelah diukur-ukur dan dipesankan ke tukang bubut, jadi juga. Gir juga lebih tebal, jadi lebih sesuai dengan bawaan Dream. Untuk yang ini, saya keluar 400 ribu rupiah, tidak jauh lah dari harga gir motor variasi kelas atas macam Daytona dan Sinnob, dan rasanya sih masih lebih murah dbandingkan originalnya Dream (itu juga kalau ada barangnya). Kalau gir yang dibuat lebih kecil, tentu lebih murah.. Ya, gitu deh kira-kira kalau Bro butuh gir yang memang tak ada di pasaran, harus bikin…

Picture (5)-1Dari pesan sampai jadi ya bisa habis waktu seminggu, tergantung ukuran gir, bahan yang diinginkan dan seberapa lama tukang bubut mengerjakannya.

Seru juga sih sebenarnya buat-buat gir begini, apalagi bagi pencinta modif mesin extrem..ya bikin gir tentu sudah jadi makanan sehari-hari. Bahkan bikin gir rasio yang jelas jauh lebih kompleks dan lebih mahal. Kalau motor tua ya bikin standard saja, toh yang penting fungsional..

DSC00769Satu lagi motor sempat tersesat ke rumah keluarga sesat, satu unit Suzuki GSX-750 Police jebolan 1985. Motor ini ya masih bisa dibilang abangnya Satria 150 F lah, teknologinya mirip, sama-sama DOHC (tapi klepnya 16 wkwkw), sama-sama berpendingin udara plus oli. Oil cooler membuat motor ini lebih praktis dalam perawatan dan relatif tidak serewel adik-adiknya yang sudah menggunakan radiator.

Kita mulai dari spek motor ya.. Meskipun perawakannya besar, ya jelas lebih besar lah dibandingkan Bandit 400 atau Yamaha R6, bobotnya ternyata tak terlalu berat. Berat kosongnya 208 Kg, sudah tergolong ringan untuk motor di eranya. Duduk di atas GSX ini juga membuat sampeyan merasa tak terintimidasi. Dengan tinggi cukup 170 cm, kedua kaki sudah bisa menapak sempurna. Setang yang tinggi dan radius putar yang besar membuat doi nyaman dipakai sehari-hari atau meliuk-liuk di jalanan parkiran. Karena ground clearancenya rendah, sampeyan juga relatif mudah untuk memundurkan motor ini. Namun, ada negatifnya juga, GSX ini relatif mudah mentok polisi tidur yang agak tinggi, jadi harus lebih hati-hati melintasi polisi tidur.

Mesin GSX 750 ini berkapasitas 747 cc. Mesin 4 tak 4 silinder inlinenya bisa menyemburkan 90 HP @ 9500 rpm dan torsi maksimum 68 NM @ 8500 rpm, sudah cukup banget lah buat touring atau berakselerasi di jalanan umum. Keempat karburator vakum Mikuni 32 mm cukup menyediakan power untuk si GSX, menurut test, GSX ini punya top speed 217,2 Km/jam dan untuk urusan akselerasi 402 meter, motor dengan 5 tingkat percepatan ini hanya butuh 12 detik.

20140731_135914-1

Bagaimana sensasi mengendarai GSX jebolan 1985 ini? Nomor satu yang pasti keren adalah tampilannya: klassik khas 80an dengan mesin yang besar. Melihat mesin menjulur lebih lebar dari tanki rasanya gimana gitu… Bunyi khas 4 silindernya juga membuat perjalanan lebih sensasional. Bunyinya masih lebih kasar dibandingkan Yamaha R6.

Meskipun kapasitasnya 150 cc lebih besar dibandingkan R6, power GSX ini sama sekali tidak intimidating. Salah narik gas masih aman lah kalau motor tegak dan jalanan tidak licin. Tarikannya tidak terlalu galak dan membuat kita serasa beralih dimensi. Akselerasinya terhitung jinak dan terkontrol. Kalau naik R6 rasanya nguiiiiiiing…….. tau-tau udah jauh, kalau naik GSX ini rasanya Wuuuuuuuuunnnngg… ga jauh-jauh amat dan karena badannya yang besar, sampeyan akan terlihat agak rusuh hehe…

IMG-20140713-WA0000-1

Yang istimewa dari motor ini adalah kenyamannannya. Nyaman Bro.. handlingnya tergolong ringan dan nurut, sudah hampir tak ada bedanya dengan handling motor baru sekarang. Rem pun juga tak ada keluhan, apalagi suspensi depan dan belakangnya sudah adjustable alias bisa disetel-setel. Dibandingkan CB 750 tahun 1982 yang pernah saya coba juga, handling GSX 750 1985 jauh lebih nurut, rem jauh lebih pakem dan tenaga jelas lebih ada, beda generasi banget… Mungkin karena GSX sudah monoshock, sedangkan CB masih stereo. Oh ya, untuk pengereman mendadak, memang GSX belum dibekali ABS, tetapi garpunya sudah antidive! Teknologi balap yang sudah bisa dinikmati di moge jalanan!

Melirik GSX untuk dikendarai sehari-hari sah-sah saja. Konsumsi bahan bakarnya termasuk irit. Saya pernah coba memakainya sejauh sekitar 20 Km, sebelumnya saya isi Shell V-Power full tank. Rpm tak terlalu tinggi, normal lah, tapi saya tidak tau berapa rpm karena spidometer dan tachometernya mati. Untuk menempuh kira-kira 20 Km itu, saat saya buka tankinya, wah, nyaris tak berkurang.. Ya perkiraan saya sih, tak sampai 1 liter, atau separah-parahnya ya berkurang 1 liter lah..

Yang agak ajaib dari motor ini adalah panas mesinnya. Beda dengan CB 750 1982, CBR 400 RR dan R6 yang pernah saya coba, GSX ini tergolong adem! Panas memang ada, tetapi tidak menyengat di kaki. Riding 30 menit saja di sor e hari tak akan membuat ridernya turun motor dengan peluh bercucuran hehe..

Kelemahannya ada juga! Selain ground clearance yang pendek, doi harus rutin dipakai. Kalau tidak, aki dan karbu vakumnya malah ngambek. Nah, kalau sudah ngambek, rada repot juga, susah hidupnya dibandingkan moge yang masih pakai karburator biasa.

Kelemahan lainnya adalah, velgnya yang depan ring 17, tetapi di belakang ring 16. Nah, pilihan bannya terbatas. Bagi yang senang ganti velg lebar juga repot, sebab lengan ayunnya tergolong sempit. Kalau mau ganti velg lebar ya harus ganti lengan ayun lebar juga.

Area setang juga agak sulit kalau mau diganti setang pendek. Bisa sih, tetapi kabel-kabelnya itu harus ikut diganti semua, sebab setang bawaannya tergolong tinggi, jadi kalau mau ganti setang pendek, keluar biayanya lumayan banyak.

Kelemahan lainnya adalah desain airboxnya. Kalau membersihkan saringan udara saja sih gampang. Namun, kalau mau membersihkan airbox menyeluruh kan harus dilepas biar enak disiram-siram. Nah, airbox di GSX ini baru bisa dicopot kalau turun mesin! haha… cacat desain nih dari sananya…

Ya, begitulah kira-kira sharingnya.

Hari ini lagi iseng-iseng lihat OLX alias tokobagus. Ada tawaran Cb200 1976 Warna Merah. Ngakunya plat H. Ngakunya barang ada di Cilacap. DST….Cape deh ngelajutinnya..soalnya si penipu brengsek yang pakai nickname preztige_cubez dan ngakunya bernama Ukon Dwiyono SE ini jelas2 memakai foto2 Cb200 Blog Sesat!

20150215_203831 (1)

Doi juga jual CB 750 lo…terus sok pakai keterangan :nego di tempat wkwkwk…Bull shit, paling minta dp duluan…

Mau coba Bro? Ni hpnya

0812 9160 03150315

Nah’ Klo jadiin ni orang target operasi terus masuk acara TV 86 seru juga nih hihihi….. Kalo  perlu pakai adegan kabur terus dihadiahi timah panas…

20150131_203916-1Tak selamanya dompet itu tebal. Begitu juga dengan karyawan Blog Sesat. Saat pemasukan dari usaha kucing ngepet berkurang, banyak karyawan Blog Sesat yang harus putar otak, bagaimana caranya agar perut tak bunyi-bunyi dan bikin tengsin di depan masyarakat.

Kalau dompet sedang tebal, kadang makanan dengan harga semi tak logis masih dijabanin. Kadang, kita khusus jauh-jauh mengunjungi suatu tempat. Di restoran-restoran tertentu, bahkan kita harus dandan-dandan dikit supaya tak terlihat kamse di restoran itu. Bahkan, kita “terpaksa” naik roda empat kalau mau makan di situ. Singkat kata, kita jadi korban kapitalisme. Udah jadi korban, bangga lagi hahaha… Hidup memang kadang aneh.. ya, tapi begitulah permainan hidup, and you can’t avoid the game.

20150208_193338

Untungnya karyawan Blog Sesat bukan tergolong orang-orang yang mau kelihatan eksis. Supaya tak terbawa arus riya yang membahayakan, karyawan Blog Sesat dengan kesadaran penuh tak mau buka akun Path atau Instagram… wah, lumayan aman dari godaan untuk sok-sok eksis dan menikmati hidup metropolitan.. Ya, tak sepenuhnya terlepas dari arus itu sih, tetapi bisa jauh diminimalisir.

Arus informasi yang banyak dan terbuka membuat banyak orang melihat dengan mudah kehidupan orang lain. Yang enak dilihat tentu yang indah-indah kan.. Nah, yang indah-indah di kota besar ini biasanya yang mahal-mahal kan.. Nah, kalau orang melihat yang mahal-mahal itu sebagai sesuatu yang normal, harus dikejar, dan jadi pedoman: beginilah seharusnya hidup, wah bisa gila nih kita-kita yang berkantong tipis…

20150208_184349

Lagi-lagi ya kita berpulang saja pada petuah yang klassik dari pak haji: Urusan dunia lihat ke bawah! Urusan akhirat, lihat tuh ke atas!

Yup.. klassik dan biasa banget sih petuah ini, tetapi tetap harus dipahami berkali-kali..

Oke… buat Bro yang lagi care kere, tak usah sedih.. makan enak tuh tak harus mahal. Misalnya nasi goreng cah Brebes di daerah Mayestik, Jakarta Selatan ini.. lokasinya tepat di seberang kantor polisi Mayestik. Rasanya beda deh dengan nasi goreng kebanyakan, porsinya lumayan juga lho. Dan pastinya bisa membuat dompet tetap bahagia meskipun isinya mayoritas Pattimura semua hehe… Cuma Rp. 35000 Bro…..

Mahal??? Weits, itu dapat 2 porsi nasi goreng ayam dan 1 porsi nasi goreng ati. Kalau traktir teman, dengan 35 ribu itu, yang bahagia bisa 4 orang: ente, 2 orang teman ente dan si penjual nasi gorengnya!

*Ujung-ujungnya promosi wkwkw…

Foto yang berikut ini pasti bisa sampeyan kenali. Yup, Pengendara Harley yang kabur karena nekat masuk jalan Thamrin, padahal sudah dilarang masuk bagi kendaraan roda dua, ditambah lagi Harleynya bodong alias tidak dilengkapi dengan surat-surat resmi. Banyaknya saksi mata di situ dan kamera yang mengabadikan tentu membuat doi dan Harleynya jadi salah satu pengendara dan Harley terkenal se-Indonesia.harleh

Seperti biasa, harus ada kejadian dulu, baru ada tindakan konkret. Kabar dari seorang teman, minggu lalu polisi gerah karena petugas mereka di lapangan tampak bodoh juga dengan kecolongan macam ini. Tindakan tegas kepolisian pun sudah dinantikan masyarakat yang merasa, banyak ketidakadilan dalam hal berkendara yang terkesan dibiarkan saja oleh kepolisian.

Kata teman saya, polisi mengadakan razia Harley bodong di Senayan City hihihi… Pakai membentuk Satgas khusus segala! Yaelaaaah…, tapi maklum lah, supaya yang merasa dan memiliki backing juga bisa kena ciduk tuh. Kan selama ini, ketegasan sulit ditegakkan, sebab banyak yang melanggar atasannya sendiri atau orang yang punya relasi dengan atasannya. Kasihan dong polisi yang memang mau tegas.. mereka dihadapkan pada dilema yang lumayan riskan dan jadi tantangan berat bagi nurani mereka.

Menurut teman saya, razia juga meluas hingga ke Monas. Anak-anak club motor antik yang bawa Harley juga kena periksa. STNK “bantuan” disobek-sobekin…Hasil dari razia Harley bodong ini konon berhasil menjaring 3 Harley yang surat menyuratnya berstatus yatim piatu. Wah, enak bener tuh ya, pake Harley blinkblink, suara besar, kelihatan gagah dan mentereng, tak segan masuk jalur Busway, bisa parkir di pelataran pusat perbelanjaan, tak bayar pajak pula…

Semua kesenangan itu usai setelah motor diciduk polisi. Kalau dari cerita-cerita, ngeluarin si motor yang dikandangin ya bisa hampir seharga motor itu hehe..kapok deh…

Dengar-dengar, polisi tegas begini juga karena ada “dorongan” dari Mabua yang memang menjual Harley bersurat.  Mabua tentu terkikis rezekinya dengan banyaknya Harley bodong yang bisa dengan leluasanya berkeliaran di jalan. Syukur-syukur sih kalau ketegasan ini bisa lebih rutin dijalankan… Ya, jadi, saat ini, Harley-harley bodong pun memilih bobo manis di rumahnya masing-masing.

Oh ya, bagaimana nasib motor yang dikandangin? Dulu sih kadang ini dijadikan cara untuk membuatkan si motor surat resmi. Jadi, si motor sengaja diciduk. Lalu, saat pelelangan, yang akan mengambil yang punya itu motor. Nah, dari situ bisa diproses deh jadi surat resmi, ya karena tidak adanya program pemutihan.. Itu juga jatuhnya mahal lho..

Namun, itu dulu ya, sekarang entahlah..saya hanya orang jelata hehe..

Ya, semua isi artikel ini hanya ceritanya dan katanya.. barangkali ada benarnya, tetapi bisa jadi banyak salahnya wkwkw..

tersesat muter-muter

  • 947,348 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 116 pengikut lainnya.