You are currently browsing the monthly archive for Januari 2012.

Valentino Rossi Michael Schumacher

Keduanya memang legenda di dunia balap, tetapi yang satu di jet darat, satunya lagi di roda dua. Hebatnya, kedua pembalap ini masih aktif, tepatnya, sejak Schumi memutuskan untuk comeback. Sayang, Schumi sekarang sedang tidak memegang mobil yang cukup kompetitif. Rossi sendiri juga belum jelas prestasinya tahun ini. Hari Selasa hingga Kamis ini, Ducati GP12 sedang di test oleh Battaini dan Checa. Sayang, wartawan dilarang meliput test di Jerez kali ini. Test sendiri dimaksudkan untuk mencari basis set up, maklum, GP12 memang benar-benar motor baru. Bocorannya sih, settingnya dibandingkan dengan motor yang terakhir kali dipakai test di Valencia. Semoga sukses lah, apalagi the Doctor masih ingin mendapat kontrak 2 tahun lagi dengan Ducati: artinya, doi hepi, meskipun prestasinya jelas turun dan tak mencerminkan juara dunia GP9 kali, tujuh di antaranya di kelas pararaja.

Kedua pembalap legendaris ini juga ternyata punya rentang usia lumayan jauh. Schumi berusia 43 tahun dan Rossi Februari ini akan berulangtahun ke-33. Keduanya jelas tidak muda lagi untuk cabang sport masing-masing. Rossi yang punya bakat besar juga di roda 4 mengatakan, dirinya ingin seperti Schumi. Bukan ingin apa-apa, doi hanya ingin, kalau usianya masuk 43 tahun, doi ingin tetap se-fit Schumi.

Ki Gede Anue mengatakan, kalau Rossi mau se-fit Schumi, gampang caranya…mulailah secara teratur datang ke klinik Ki Gede Anue. Rahasia terjamin!!!!!!

Yamaha YZF-R 125

Si mini nan ganteng keluaran Yamaha ini di Jerman kembali kena recall. Keseluruhan ada 9000 unit YZF-R125 produksi 2008-2011 yang kena panggil untuk diinspeksi dan ada sedikit perbaikan. Kecil kok, hanya baut saklar pengaman di standard yang terancam lepas. Saklar pengaman ini memastikan, agar kecelakaan akibat lupa menaikkan standard samping tidak terjadi. Inspeksi dan perbaikan tidak lama, hanya 20 menit. Ya, barangkali ada yang punya YZF-R125 dengan nomor rangka berikut:

Modellcode: 5D71/5D72/5D74/5D75, Fahrgestellnummer: RE061-000140 bis 034437
Modellcode: 5D77, Fahrgestellnummer: RE061-040001 bis 046199
Modellcode: 5D79, Fahrgestellnummer: RE061-048001 bis 048503
Modellcode: 5D7B, Fahrgestellnummer: RE061-054001 bis 054226

Angebot YAMAHA YZF-R125
 
 Menurut Terawang Gaib Ki Gede Anue, Bro sekalian yang tersesat kemari tak ada yang terkena permasalahan ini hihihi.. lupakan sajalah..
 
Kita ngiler saja terus melihat si YZF-R125 yang meskipun sudah lumayan lama hadir, tampangnya tetap keren abis. Doi memang keren abis! Bahkan banyak yang berpendapat, si mini punya desain terbaik dibandingkan abangnya, R6 dan R1 sekalipun.
 
Aneh juga kalau dipikir-pikir, Yamaha di Indonesia yang mensponsori GP justru menjadi pabrikan yang tidak punya gacoan motorsport berfairing 250 cc. Andaikata Yamaha mau menerbitkan motor dengan body YZF-R125, teknologi mesin Vixion, cukup satu silinder 250 cc saja (di back up lewat jalur informal dengan paket bore up 300 cc-red), harga 50 juta pun disinyalir bukan halangan berarti.

Suatu hari saya membawa sebuah aki kering ke rumah teman saya yang punya alat charger aki dengan harapan, aki yang sudah lama nganggur ini masih bisa digunakan lagi.

Saat saya hendak mengambil aki kering ini, teman saya malah bilang: “Meledak! Kaget gw! Bunyinya segede knalpot free flow kalo nembak, gw cuma semeteran dari aki, langsung penging kuping gw, tuh lo lihat aja!”

Yah, seperti foto di samping lah keadaan aki kering pasca ledakan. Jadi ceritanya, ketika pertama dicharge, kata teman saya ada nambah setrum deh, jadi kelihatannya bisa dipakai. Eh, esok harinya, ternyata setrumnya kosong lagi. Teman saya pun mencharge kembali si aki kering, tetapi kali ini gagal! Di voltmeter terlihat, akinya nggak mau ngisi. Nah, setrumnya dia gedein deh…. dan tak lama kemudian: JUEGHERRRRR!!!!!!!

*dont try this at home

Tahun ini, pabrikan-pabrikan yang berlaga di WSBK pasti ketar-ketir dengan kehadiran Ducati 1199. Bahkan banyak fans balap dan pemerhati balap sudah menyangka, Ducati benar-benar akan mendominasi WSBK tahun ini. Namun, ada hal yang pada awalnya lumayan janggal: Carlos Checa bersama Ducati Althea tidak akan menggunakan Ducati 1199, mereka tetap mempercayai Ducati 1198 untuk mempertahankan gelar WSBK 2011nya.

 Hmm… Bisa jadi, Ducati Althea dan Checa malas ambil risiko, sebab, untuk turun di WSBK, mereka butuh motor yang sudah mereka kenal jelas karakter dan bisa mensettingnya. Okelah 1199 lebih mumpuni, tetapi kalau settingan tidak maksimal, wah bisa dipecundangi kompetitor dengan settingan yang sudah hapalan.

Faktor lain yang tak boleh dilupakan: 1199 memang standardnya merupakan mesin V-twin seri terkuli sepanjang sejarah, tetapi kan belum ketahuan tuh, berapa kira-kira powernya setelah ditunning? Apakah powernya memang masih bisa banyak ditingkatkan, atau malah sudah sulit untuk ditingkatkan. Selain itu, jangan lupakan durabilitas mesinnya yang belum pernah ketahuan di ajang WSBK. Namanya motor baru, ingat, perangkat tunningnya juga masih terbatas. Belum lagi karakter mesin terhadap pemakaian ban! Ini pastinya juga harus diperhatikan.

Selain itu, faktor mesin rangka dan ketahanannya (kalau terjadi kecelakaan) harus diperhitungkan matang., ingat brader: REGULASI.  Riskan juga tuh, kalau ujug-ujug langsung memakai 1199.

Jadi, kenapa Ducati masih memilih 1198 jelas kan… Atau jangan-jangan sengaja, kalau tidak WSBK jadi tidak menarik kompetisinya akibat dominasi Ducati?????

Ni soal regulasi:

https://motorklassikku.wordpress.com/2011/11/08/1199-panigale-pasti-anti-gagale/

Ramal meramal merupakan salah satu hal yang mau tak mau dekat dengan dunia blogger motor. Untuk itulah Blog Sesat secara eksklusif mengontrak Ki Gede Anue, salah satu paranormal tenar di kalangan dunia keartisan di dunia lain.

Pada kesempatan kali ini, Ki Gede Anue akan menerawang MotoGP di tahun 2013. Yup, gila memang, tahun 2012 saja belum bergulir itu kompetisi MotoGP, Ki Gede Anue berani-beraninya meramal untuk tahun 2013.

Ada apa di tahun 2013 nanti di MotoGP? Masih ramai seputar diskusi CRT yang dianggap sebagai masa depan MotoGP. Saat ini diskusi cukup hangat terjadi, apakah motor prototype MotoGP yang harus lebih dibatasi pengembangannya, atau motor CRT yang lebih disupport dan dibebaskan regulasinya.

Wacana pembatasan power mesin, putaran mesin dan elektronik seragam layaknya elektronik di F1 menjadi perbincangan. Wacana pembatasan ini tentu lebih mencuat dibandingkan wacana mendorong dan lebih membebaskan CRT. Wajar, sebab membebaskan CRT sama saja memberi ruang untuk pembengkakan dana.

Tim pabrikan dengan motor prototype tentu ketar-ketir juga dengan rencana pembatasan yang akan dikeluarkan Dorna dan berlaku 2013 nanti. Motor prototype dengan harga bias mencapai 5 juta Euro sudah jelas saat ini gak gak gak lepel dibandingkan motor CRT yang masih ratusan ribu Euro. Nah, kalau power benar-benar dibatasi, putaran mesin juga dibatasi, bahkan ada wacana pembatasan budget, tentu ada tim pabrikan yang akan dirugikan, tetapi bisa jadi ada yang diuntungkan. Katanya, pihak pabrikan yang punya motor prototipe sih pada nggak doyan dengan rencana pembatasan yang akan dibahas Mei nanti. Ribet juga yah, jadi, MotoGP memang harus menjaga keseimbangan, antara teknologi dan segala exotismenya vs sisi hiburan alias tingkat kompetitif di dalamnya.

Ki Gede Anue pun meramalkan:

„Nah, siapa lagi yang diuntungkan dengan pembatasan-pembatasan ini kalau bukan Yamaha. Yup, Yamaha memang sudah identik dengan handling terbaik dan stabilitas terbaik di tikungan kencang plus stabilitas yahud kala mengerem gila-gilaan.“

Hmm.. jangan heran kalau 2013 Yamaha bisa tampil semakin di depan… Syaratnya ya selain pembatasan power, putaran mesin dan elektronik seragam, tentu dibutuhkan pembalap dengan karakter jago nikung dan berani duel plus kemampuan hard braking di atas rata-rata.

Pembalap Jerman yang mendapat kontrak 2 tahun bersama LCR Honda, Stefan Bradl, adalah salah satu wajah baru di MotoGP 2012 ini. Pembalap yang baru saja dioperasi dan tahun ini terpaksa merelakan no start 65-nya (karena no itu dibekukan untuk menghormati Loris Capirossi-red) sehingga memakai no 6 pun diharapkan bisa meramaikan kancah MotoGP. Maklum, doi kan juara Moto2 tahun lalu, ya meskipun bisa dibilang lumayan beruntung juga, sebab nyaris direbut oleh Marc Marquez, yang setelah  mendapatkan rangka dan lengan ayun 2012 dari Suter, penampilannya langsung menggila dan nyaris tak tertandingi.

Harapan Bradl bisa kompetitif sebenarnya tak berlebihan. Ingat, dia kan besar di Moto2 dan juga bukan pembalap kemarin sore, jadi, doi secara langsung juga sudah kenal sirkuit dan atmosfer MotoGP. Jangan lupa juga, doi menggeber motor Prototipe Honda RC213V yang diramalkan masih kokoh sebagai motor terbaik. Yup, minimal Bradl tidak boleh kesalip motor-motor CRT! Harapan ini wajar, mengingat jarak antara motor prototipe tercepat dan CRT tercepat masih 4 detik! Jadi, kalau penampilan Bradl kurang oke pun, biasanya sih cuma tertinggal di 2 detikan.

Valentino Rossi yang ditanyakan pendapatnya tentang Bradl berkomentar, bahwa Bradl seorang pembalap yang intelek. Bradl dan Marquez pun terang-terangan, ingin berduel dengan dirinya. Rossi pun merasa harus siap menghadapi tantangan ini dan ingin bisa lebih cepat dari tahun lalu.

Rossi menambahkan, Bradl harus bisa mengenal motor dan  menunjukkan talentanya. Rossi juga berharap, Bradl tak lebih cepat dari dirinya…hihihihi…

Bagaimana ya MotoGP tahun ini??? Bisa jadi, Bradl gontok-gontokan dengan Rossi di papan tengah, kalau saja Ducati masih kesulitan dengan motornya. GP12 sendiri bahkan dikabarkan belum selesai. Motor yang dikabarkan menggunakan rangka full alumunium ini nantinya akan di test juga di Sepang pada 31 Januari bulan ini. Dari situ baru deh, masing-masing team dan penggemar bisa mengukur kekuatan masing-masing pembalap dan team.

Ducati GP 12 sendiri dikabarkan lebih fleksibel, maksudnya lebih banyak membuka ruang untuk setting rangka, rake, posisi mesin, jarak sumbu roda dan sebagainya. Ducati sendiri sebenarnya masih berharap juga, semoga ban baru Bridgestone cocok dengan karakter GP12 nantinya. Ducati menampik, Bridgestone tahun ini diubah lagi karena desakkan pihak Ducati saja. Yah, begitulah ribetnya kalau ban hanya disuplai satu pabrikan. Motor harus menyesuaikan diri dengan ban, tidak seperti dulu, dimana ban bisa disesuaikan dengan kebutuhan motor dan permintaan team.

 

Siapa yang percaya sebuah Honda Vario bisa tembus 180 Km/jam? Rasanya sedikit sekali yang bisa mempercayai hal itu. Yang percaya pun masti mempersyaratkan: mesin harus dikorek habis-habisan. Yup, dengan tenaga standar, tidak mungkin sebuah Honda Vario menggapai top speed 180 km/jam. Namun, hari gini, paket bore up hingga 200 cc sangat sangat lumrah. Dengan volume silinder segitu, ane optimis, kecepatan 180 Km/jam bisa diraih.

Tak percaya???? Ingat kita dulu kala pernah membahas Kreidler? Pabrikan Jerman yang tenar dengan motor 2 tak cc kecil ini pernah pecahkan rekord dengan motor 50 cc 2 tak mereka. Top speed yang diraih motor berbobot sekitar 50 Kg dengan power 17 Ps itu bisa tembus sekitar 170 Km/jam.  Tentunya diperlukan jalur extra panjang untuk tembus kecepatan segitu.

Bagaimana dengan Vario ini? Lupakan sajalah hahaha… dumplang!!!!!!

Ini hanya Vario standard! Tak mungkin tembus 180 Km/jam! Yang ane tertarik di sini, adalah ketika teman ane bilang: Tuh, ban belakang gw pake Michelin!

Wow… gila juga nih anak, katanya bokek, tapi beli ban kelas atas. Doi juga bukan penggemar motor, cuma pemakai saja. Ban produksi pabrikan yang terdepak Bridgestone dari MotoGP ini dibelinya dengan harga 500 ribu rupiah. (Hmmm ane sinyalir yang jual mbak2 cakep-red)

Komentar teman ane: “enak, mantebs… Kata yang jual, bisa bawa beban lebih banyak. Dia juga kasih garansi, kalau serabut di pinggiran ban rontok dalam satu tahun, ban diganti!” (Tau deh, promo doang kali ya…)

Saya pun mendekati ban setengah juta itu. Terbaca: Michelin  M45, 110/80-14. Dan tertera juga 180 km/h v-max! Hmm, jadi minimal ini motor ban belakangnya siap dikebut hingga 180 km/h hihihi…

Jorge Lorenzo macht den Führerschein Soal talenta balap, tak ada yang meragukan kemampuan Lorenzo. Di arena MotoGP, doi pembalap yang konsisten di depan, paling rajin dan banyak mengitari sirkuit saat practice dan dipuji Stoner dalam kemampuannya mengerem.

Pemuda Mallorca berumur 24 tahun ini ternyata belum punya SIM! Doi baru-baru ini bikin SIM. Foto di atas diambil selepas Lorenzo lolos ujian teori. Soal ujian praktik, seharusnya bukan masalah, selama doi mematuhi aturan lalu lintas, dan terutama yang sulit bagi pembalap: tidak melanggar batas kecepatan!

Hmm, jangan-jangan kedatangan Lorenzo kali ini ke Indonesia juga punya agenda terselubung! Bikin SIM! Pembalap yang digosipkan M+ beli rumah di Bali ini jangan-jangan disamping mengikuti acara-acara YIMM, juga akan membuat SIM. Ki Gede Anue menyarankan: di Depok saja! Dengan 300 ribu rupiah (Achtung: harga bisa berubah sewaktu-waktu), dijamin SIM C jatuh ke tangan hihihi….

Hari gini, di Indonesia, kata racing menjadi kata kunci untuk jualan produk-produk di bidang otomotif, terutama roda dua. You know lah, banyak pengguna roda dua yang tingkat pemikirannya belum baik dan banyak juga yang belum cukup matang. Yang begini-begini kalau kena embel-embel racing langsung napsunya tergugah. Ada produk dengan embel-embel racing, langsung deh tertarik. Niscaya kalau ada yang jual spion racing dan dibilang bisa nambah top speed, niscaya masih aja ada yang percaya.

Mulai dari jualan motor, helm, pelumas, parts, Velg, knalpot, semuanya dikasih cap racing! Padahal seringnya malah punya performa di bawah keluaran pabrik. Ya, kalau sebatas itu ane tak masalah, duit ya duit masing-masing. Yang mengusik adalah kalau bawa motornya kaya racing juga! Makan jalur orang, curi angin, rem habis-habisan, buka gas pol-polan, ada orang jalan santai  dengan kecepatan normal dan tidak ngalangin jalan, di gas-gas dan klakson-klakson, kadang “dikentutin pake knalpot racingnya. Grrr… naik darah nggak sih..

Ki GEDE ANUE menghimbau, kalau mau racing, bukan begini caranya… pakai A***S!

*www.kemakan_iklan.de

Banyak bikers domestik dan mancanegara kepincut sama Honda dream, sebuah nama yang tak berlebihan, sebab memang cocok dengan impian banyak bikers.

Pelototi saja sosok Dream yang masih dalam tahap restorasi ini. Bentuknya setengah jadi saja sudah menggugah imajinasi. Bentuk satndardnya saja sudah keren, kena sentuhan modifikasi pun juga boleh bgt! Kebayang nggak, setelah mesin twinnya terpasang, motor bentuknya seperti apa? Hmm ane menghayal, kedua knalpotnya melingkar dan naik ke atas layaknya scrambler. Kedua moncong keluar kanan-kiri mirip-mirip Ducati Monster, yummmy… dah, begitu saja sudah cukup. Apalagi mesin twin Honda dengan knalpot semi free flow menurut saya menghasilkan bunyi yang wow…

tersesat muter-muter

  • 1,786,402 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com