You are currently browsing the monthly archive for September 2015.

DSC00386Modifikasi penambahan oil cooler memang keren dan sangat bermanfaat. Di Tiger Hitam saya, mesin benar-benar terasa adem, tidak ada sama sekali ketakutan terhadap panas mesin berlebihan yang secara langsung menurunkan performa mesin dan membuat boros bahan bakar, serta jangka panjang memperpendek umur mesin.

Namun, modifikasi tentu ada minusnya jika tidak dilaksanakan dengan benar dan professional. Di oil cooler, salah satu permasalahan yang mungkin muncul adalah pecahnya selang. Ini bukan karena getas semata, , tetapi dari bahan selang. Awalnya saya pakai selang bening macam selang infus, enaknya oli kelihatan mengalir. Minusnya, umurnya tak panjang, amannya ya Satu tahun kalau motor dipakai terus menerus.

Akhirnya dengan pede saya ganti dengan selang bensin mobil yang memang jauh lebih tebal. Saya merasa sangat am an ketika selang sudah diganti dengan selang bensin mobil. Namun, ternyata perasaan terlalu percaya pada kualitas selang diikuti kekecewaan. Selangnya pecah… Dan oli pun bercucuran..untung tidak sampai mencelakakan saya den orang lain. Hanya sepatu yang saat itu berbahan kanvas jadi korban.

Tak percaya selang setebal itu bocor…

Ternyata konstruksi selangnya yang kurang oke sebab ada belahan melintang sepanjang selang. Nah, sedang dalam kondisi panas dan tekanan oli, selang itupun meletek di sepanjang selangnya. Jadi kalau mau beli selang untuk oil cooler, pastikan selang itu berkualitas prima dan konstruksinya cukup aman (tidak ada belahan).

Picture (9)

Pernah mendapatkan permasalahan seperti ini? Pasti pernah, apalagi akalu iseng nyemprot WD40 ke sepatu rem atau cakram.. Dijamin rem cakram Ente langsung rasa rem kereta api hihi…

Nah, kalau lagi jalan, tahu-tahu rem kehilangan daya cengkramnya, itu kenapa ya? Kalau kanvas rem habis, masih lumayan pakem kok, hanya saja piringan cakramnya yang akan tergores-gores, salah-salah malah sangat cepat menipis dan minta ganti cakram.

Kalau lagi jalan mendadak si rem memble, padahal kaliper prima dan hidroliknya prima, nah berarti ada benda asing yang mengotori permukaan kontak cakram dengan sepatu rem. Nah, kelihatan kan oli yang menetes di cakram Tiger saya? Ya ini dia biang keroknya:

Picture (10)

Yup, sil shock depan sudah aus dan minta ganti. Ini terjadi lebih cepat kalau jalanan yang dilalui rusak. Saya mengalaminya waktu membawa si Tiger Hitam ke Jawa Tengah via Pantura yang jalanannya enaknya dilibas pakai BMW GS. oli yang merembes parah itu turun menyusuri suspensi depan dan akhirnya membasahi cakram. Kalau sudah begini obatnya ya harus ganti sil schock depan plus olinya. Cek sekalian kanvas remnya..

Oh ya, jangan coba-coba semprot cairan macam WD40 ke sil karet suspensi depan ya.. Efeknya ya…coba sendiri gih hihihi…

Ini hanya sebuah artikel yang harusnya tertulis 5 tahun lalu. Yup, terbongkar di dalam draft Blog Sesat dan tertera “5 tahun lalu” membuat saya langsung berpikir, betapa cepatnya hidup ini berlalu.

Apa yang didapat? Banyak sebenarnya… tetapi tetap saja ketika semua itu sudah terlampaui, kok begitu saja ya.. Semua menjadi sejarah…. Semua menjadi cerita.

Kalau ada yang bertanya, bisakah sejarah diubah? Menurut Blog Sesat bisa…

Kejadiannya memang tak bisa diulang dan diubah, tetapi maknanya bisa berubah lho…Apa yang dulu terjadi dianggap menyenangkan, di kemudian hari bisa dianggap sesuatu yang memalukan. Apa yang dulu terjadi dianggap sesuatu kegilaan, sekarang bisa jadi dianggap sebuah tindakan seorang jenius. Apa yang dulu dianggap sebagai kehinaan dan kelainan, sekarang justru dianggap sesuatu yang punya daya jual yang tinggi. Dan masih banyak lagi contohnya…

Oke, tak perlu terlalu filosofis… Kita lihat saja Honda Tiger. Di tahun 1994, ini motor adalah impian, simbol status, terobosan…. Sekarang, tentu sudah kehilangan semua maknanya itu kan… Kejadiannya tak bisa diubah, tetapi kejadian-kejadian lain di kemudian hari bisa dan akan mengubah makna kejadian di hari itu.

-bukan filsuf-

Salah satu modifikasi yang bisa langsung mengubah tampilan dan terkesan lebih berkelas tentu dengan mengganti kaki-kaki menjadi lebih lebar. Biasanya sih sebatas velg dan ban saja, sebab kalau ganti garpu teleskopik dan lengan ayun plus suspensi belakang, biaya yang dikeluarkan jelas tak sedikit.

Kalau mau lebih irit lagi sebenarnya cukup ganti ban yang lebih lebar dan profilnya lebih tebal, ya ini langkah yang termurah. Amannya sebenarnya cukup naik satu step atau ukuran dibandingkan standarnya. Nah, kalau lebih dari itu a berisiko mendonat. Berikut ini contoh di Thunder 125 yang ganti ban lebih besar dibandingkan standar. Ban depan ukuran 90/18 dan belakang 110/18. Menurut saya pribadi masih enak dilihat lah, tetapi sudah maksimal, alias sebaiknya tak lebih besar lagi. Silahkan dinilai sendiri ya:

20150919_075659

20150919_075726

20150919_075910

Hari gini membicarakan keunggulan mesin big bang atau screamer tak seru lagi memang, tidak seperti zamannya GP 500cc. Kenapa begitu? Sebenarnya mudah saja, tak lain karena perkembangan teknologi mekatronik di MotoGP. Karakter mesin dan bagaimana powerband bisa diset-set dengan ECU dan perangkat elektronik pendukung lainnya. Belum lagi adanya traction control, lean angle sensor, launch control, antiwheelie control, sport ABS, wah lengkap deh. Kecanggihan elektronika inilah yang membuat karakter pengapian mesin tak terlalu banyak dipermasalahkan lagi belakangan ini, eh, atau saya yang skip ya??? hehe…maklum sibuk gan…

Setahu saya nih, zaman dulu pas GP500cc tenaga mesinnya terlalu meledak-ledak untuk teknologi suspensi, rangka dan ban di zamannya. Risikonya biasanya highsider…Salah atau kecepetan buka gas, ya terpelanting highsider itu…KAlau kelambatan, ya ketinggalan lawan lah..

Nah, kenapa lama-lama pada milih big bang dibandingkan screamer? Lihat gambar ane yang kata pak Tinosidin pasti bagus ya hehe..

Bigbang jadi favorit karena tenaga yang disalurkan lebih rapat, halus aka tak meledak-ledak yang bisa membuat ban belakang lebih mudah kehilangan traksi. Makanya, big bang lebih mudah dikontrol saat keluar tikungan, pembalap bisa lebih pede buka gas, ban pun lebih awet! Nah, karakter ini ya sekarang diambil oleh traction control… Ya begitu deh setahu saya, dan ini hanya inspirasi tebak-tebakan, tak ada sumbernya, jadi ga usah percaya ya…

ohrstoepsel_1.jpg.4407866

Naik motor yang merupakan hobi kita ini juga punya pengaruh buruk terhadap kesehatan kita. Bukan cuma karena terpaan angin atau terik sinar matahari saja yang bisa menyebabkan banyak penyakit berbahaya, mulai kanker kulit, mati saraf wajah atau gangguan paru-paru basah, tetapi ada yang menimpa kita pelan-pelan: menurunnya daya dengar!

Bagi Bro yang masih muda mungkin belum menyadari ini, tetapi percaya deh, seiring waktu itu pasti terjadi. Kemampuan mendengar kita akan berkurang pelaaaan-pelaaaan, eh tahu-tahu Ente sering ngomong: “HAAAHHH??? APA???”

Dulu saya senang knalpot bersuara besar, lengkingan knalpot di rpm tinggi ataupun desir angin di kecepatan tinggi, semua nikmaaaaaaat, tetapi itu ada harganya Bro… Kuping kita pelan-pelan kena dampaknya.

Nah, di Indonesia hal ini bukan masalah..eh masalah deh, tetapi hampir tak ada yang peduli… Di Jerman sih peduli banget, ketahuan dari indikasi: banyak merek produk sumpelan kuping *maaf istilahnya agak kamse ya-red.

ohrstoepsel_hansaplast1.jpg.4408010

Tuh contohnya..Hansaplast asal Jerman bukan cuma produksi plester doang lho…ada juga produk sumpelan kupingnya. Mungkin kalau ane tersesat ke sana lgi ane beli..ya biar gaya juga ya kaya pembalap MotoGP hihihi..

Namun, untuk lalu lintas Indonesia, agak berbahaya juga kalau kita tak mendengar, maklum, banyak oknum seruntulan dan tak jaga jarak, sehingga kalau kita mau pakai alat ini demi kesehatan pendengaran kita, pastikan kaca spion bisa menunjukkan dengan sangat baik kondisi di belakang dan serong belakang kita..

sumber gambar:

http://www.motorradonline.de/zubehoer-teile-werkstatt/ohrstoepsel-fuer-motorradfahrer-im-produkttest/680802?skip=1#1-671378

Boleh jadi itu salah satu istilah yang banyak membuat surfer internet tersesat ke Blog Sesat. Sebuah pertanyaan yang saya pun tak bisa menjawabnya dengan 1-2 kalimat saja. Gampang saja alasannya:

  1. CB 750 di Indonesia tidak banyak, jadi terserah yang jual mau kasih harga berapa, meskipun tentu kelengkapan motor turut mempengaruhi harga.
  2. CB 750 itu hadir puluhan tahun Bro, Ente cari tahun berapa? Kalau cari yang tahun 69 sih dipastikan Ente paham benar motor dan duitnya ga berseri, atau sebaliknya, terlalu naif hihi.. Dijamin ngeri harganya…Maklum, first Superbike yang juga collector item, termasuk di luar negeri sana!
  3. CB750 dianggap motor klassik, meskipun kalau keluaran 90an tak bisa dibilang klassik. Nah, yang namanya motor klassik, ya harganya suka-suka juga, biasanya sih naik terus sesuai inflasi. Namun, kalau mau beli motor klassik, sekarang saat yang tepat lho, maklum, perekonomian lagi lesu gan…

20150823_181333

Nah, yang ini CB650 yang saya jumpai di ajang IIMS 2015 lalu. Yang menjual ada di stand tengah, salah satu rumah restorasi asal Bandung, maaf, kartu namanya ane ketinggalan di rumah hehe.. Pas lihat saya lirik-lirik, dengan ramahnya ada yang menawarkan, bahkan menghidupkan mesinnya.. Wooow, halus dan lumayan rata mesinnya. Saya pegang juga mesinnya saat hidup, minim getaran…pertanda mesin segar bugar, tak hanya penampakannya saja yang lengkap pol!

20150823_181007

Buat saya melihat motor ini nostalgia beraaaaaaaaaaaaaat… Maklum, dulu punya juga, tetapi CB750 police tahun 1982. Persiiiiiiiiiis banget dengan yang ada di depan mata ini, tetapi tak sekomplit yang ini lah. Bedanya saya rasa hanya di kapasitas mesin, lainnya sama plek! Eh, beda dikit engine guard depannya deh..Nah, setahu saya, sebagian besar yang beredar memang CB650! Itu dipakai oleh polisi. Sedangkan yang jatuh ke tangan saya adalah CB750 police, tetapi di BPKBnya dumped milik ABRI.

Jadi kangen deh sama si Bianca Angela, si CB750 saya dulu….Dia cukup spesial, karena itu pertama kalinya saya beli motor pakai uang sendiri di tahun 2010. Harganya dulu sih biasa, tetapi terkesan sangat murah kalau sekarang, hanya 32,5 juta! Itu full paper lho… Bayangkan, sekarang CB200 aja mulai buka 40-50 juta (Nangis garu-garuk tanah-red).

Oh ya, CB 650 ini dilego 135 juta…cukup mahal memang, bahkan sangat mahal pikir saya saat pertama kali mendengar harganya. Namun, setelah pikir-pikir lagi, untuk sebuah motor klassik yang perawatannya tergolong gampang, worthed kok… Motornya lengkap, full paper dan sehat…

Apalagi ya kalau lihat lagi harga CB200 sekarang yang sudah segitu…

105_BMW_R-1200-S.jpg.4370164

BMW HP2 memang salah satu motor tercantik di dunia dengan tampilannya yang sangat khas, Ente ga bakal ketuker mengenalinya dengan motor lain. HP2 memang dibuat BMW untuk membuka jalan bagi BMW S1000 RR, bukan untuk menjuarai kelas superbike sendiri, sebab jelas dengan rancang bangun mesin boxer, tidak maksimal keuntungan yang diperoleh untuk bisa kompetitif.

170_BMW_R-1200-S.jpg.4370308

Nah, BMW sudah mencapai keinginan mereka. S1000RR bisa dibilang sangat sukses di pasaran, bukan karena jasa HP2 sebenarnya, tetapi memang motornya sendiri yang bertenaga terkuli dan bertopspeed tertinggi di kelas superbike. Tak heran, S1000RR langsung jadi favorit di jalan raya.

Nah, kini BMW punya R1200 R dengan liquid cooler, artinya kemampuan mesin untuk dinaikkan tenaganya semakin terbuka. Kabarnya, BMW berpikir lagi untuk membuat motor bermesin boxer yang lebih bertenaga dibandingkan HP2. Motor itu akan dibuat benar-benar kompetitif, bahkan kabarnya akan dibekali tenaga hingga 150 PS yang sebenarnya masih logis dan tak terlalu sulit bagi BMW. MAsih logis, sebab daya tahan mesin masih terjamin lah… Motor itu disebut-sebut bernama BMW R 1200 S.

110_BMW_R-1200-S.jpg.4370182

Selain mesin yang kompetitif, semua teknologi elektronik balap BMW akan dicangkokkan di boxer balap yang desainnya udah direka-reka oleh produsen spesialis parts modif dan aftermarket BMW, yakni Wunderlich. Woow, mantebs ya, dan tampak desain Yamaha R1M mempengaruhi desain BMW kali ini. Ya, beda lah dengan desain ori BMW yang nyeleneh, Wunderlich punya desainer yang lebih paham memenuhi selera pasar.

Kerennya, visor besar ke bawah sehingga kita bisa melihat sektor depan beriupa suspensi dan segitiganya secara elegan. Nah, kalau sudah begini, kebayang ngilernya kita-kita lihat sosok ini di depan mata. Soal harga kalau sudah masuk Indonesia, Ki Gede Anue memprediksikan dengan terawang gaibnya: Pasti di atas 1 Milliar!

Wajar…sebab S1000RR di Indonesia saja dengan angkuhnya dijual lebih dari 800 juta rupiah..ih ngeriiii120_BMW_R-1200-S.jpg.4370218

Sumber: http://www.motorradonline.de/motorraeder/neuer-sportboxer-bmw-r-1200-s/667768

20150823_174808-1

Ini mungkin jadi pertanyaan beberapa orang yang kebanyakan penggemar motor berfairing. Mereka merasa bahwa tatakan plat nomor kendaraan dan peletakannya di bagian depan agak merusak tampilan motor berfairing. Argumen yang sering diajukan adalah pembandingan dengan luar negeri yang tidak semua negara mewajibkan ada plat nomor kendaraan di bagian depan motor. Nah, adik saya juga bertanya tentang hal ini. Namun, saya jawab setahu saya saja, bahwa di Indonesia wajib ada plat nomor depan dan belakang.

Nah, kalau di motor yang umum pasti ada.. Dia mempertanyakan, bagaimana dengan moge??? Setahu saya, moge yang masuk dengan legal pun harus lewat kementrian terkait kan, kalau tak salah kementrian perhubungan. Mereka yang akan menentukan wajib atau tidaknya suatu perangkat di sebuah motor. Misalnya kalau di USA wajib ada mata kucing di sisi depan dan belakang motor, maka di Indonesia tidak… Nah, kalau di Indonesia yang wajib ada tatakan plat nomor depan dan belakang.

Saya pun menunjukkan tatakan plat nomor depan di Yamaha R6 yang ada di booth Yamaha di IIMS 2015 lalu. Tuh kan ada…kan R6 masuk dengan legal dan harus tembus TPT. Nah, adik saya langsung bercerita, motor ayah temannya, Yamaha R1 tak dilengkapi dengan tatakan plat nomor depan! Namun, dia belinya bukan dari Yamaha Indonesia, melainkan melalui importir umum, kalau tak salah dari Moto8.

Saya pikir, mungkin karena melalui IU, makanya tak dilengkapi tatakan plat nomor di depan. Tak lama, adik saya menunjuk sebuah R1 yang juga ada di booth Yamaha. Katanya motornya persis seperti yang di display ini:

20150823_175306

Tuh kan..tak ada tatakan plat nomor depannya juga..

YA, entahlah, saya juga bingung, kenapa R ini tak dilengkapi, sedangkan R6nya dilengkapi. Apakah memang belum dipasang, atau memang dari sananya R1 tidak pakai, sedangkan R6 pakai.

Dugaan saya, karena R1 ini khusus display (terlihat ada codet-codet sedikit-red), makanya belum dilengkapi dengan tatakan plat nomor depan.

Saya rasa, kalau memang sudah tenbus TPT untuk dipasarkan di Indonesia, pastinya motor akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Nah, silahkan lihat Suzuki Hayabusa yang dijual Suzuki di Indonesia berikut ini, sudah diperlengkapi tatakan plat nomor depan toh…

20150823_183712

tersesat muter-muter

  • 1,739,962 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com