You are currently browsing the monthly archive for April 2009.

Masih dalam rangka mencari tahu keadaan Sachs sekarang, kemarin saya mencoba ngubek-ngubek lagi di internet. Akhirnya ketemu juga sebuah teks dari website sebuah media cetak roda dua yang sangat populer di Jerman. Teks itu saya print, dan saya bicarakan lagi dengan teman Jerman saya, semua itu ya untuk meminimalisir kesalahpahaman dalam memahami teks.

Berbagai kejanggalan informasi yang terdapat dalam peluncuran Minerva Sachs 250 memang tidak bisa terjawab begitu saja, sebab teks ini berasal dari tahun 2006. Anehnya, entah mungkin karena saya belum terlalu banyak ngubek-ngubek di internet, minim sekali teks tentang kerjasama Sachs dengan investor atau produsen asing. Apakah hal ini memang sengaja disembunyikan? Tampaknya begitu…. Tampaknya Sachs sendiri berusaha menyembunyikan jati dirinya saat ini. Sachs… masihkah kau seperti yang dulu??? Rangkuman dari teks yang saya temukan dan telah saya bicarakan dengan teman saya mungkin bisa sedikit membuka tabir misteri, siapakah Sachs sekarang…

Judul teks yang dimuat di Motorrad Online adalah: Sachs in Schwierigkeiten (Sachs dalam kesulitan). Di teks itu disebutkan, kalau 99,5% saham Sachs dibeli oleh kelompok New Superior asal Hongkong. Sang investor baru mengumumkan, mereka akan menyediakan dana cair sebesar 10 juta Euro untuk pengembangan model baru motor-motor Sachs. Sebenarnya dengan dibelinya saham Sachs terjadi permasalahan juga dengan rekan Sachs sebelumnya, yakni pabrikan skuter asal Taiwan, San Yang, yang produknya dipasarkan Sachs di Eropa dengan nama Sym.

San Yang tidak suka dengan keputusan Sachs yang menjual diri hampir sepenuhnya. Wajar, sebab yang membeli Sachs adalah kelompok yang mengeluarkan skuter saingan dengan nama Fym. Akhirnya San Yang pun memutuskan bercerai dengan Sachs. Di segi penjualan sendiri, Sym sukses di pasaran, tidak seperti Fym, produk si pemilik baru Sachs. Hartmut Huhn, sang kepala R&D dan bagian penjualan menerangkan, Fym yang diproduksi di Cina kesulitan untuk memenuhi standard kualitas Eropa. Hal ini tentunya berbeda dengan ketika Sachs memasarkan Sym yang diproduksi di Taiwan. Bercerainya Sachs dengan San Yang bukan masalah sepele, sebab tahun sebelumnya Sachs bisa memasarkan sekitar 8000 unit Sym di Eropa. Singkat kata, Sachs benar-benar berada di ujung tanduk, mereka bukan hanya harus membayar biaya operasional perusahaan, tetapi juga harus menanggung tunjangan pegawainya yang sudah pensiun.

Sachs yang tahun sebelumnya mengurangi jumlah pegawai, dari 120 menjadi 44 orang saja, harus menanggung jatah pensiun 700 mantan pegawai mereka. Pengurangan jumlah pegawai hingga 2/3 yang sebagian besar bertugas di bagian produksi ini tidak bisa dihindari lagi. Sachs juga memindahkan seluruh aktivitas produksi mereka ke Cina, ya namanya mengikuti (atau hanyut dalam) arus globalisasi. Hasilnya, biaya produksi murah bisa tercapai. MadAss 125 pun bisa hadir di dealer-dealer Jerman dengan harga sekitar 2000 Euro, sebuah angka yang membuat produk ini bisa bersaing melawan bebek-bebek Jepang seperti Honda Innova (Supra 125 injeksi) dan Suzuki Address 125.
Hartmut Huhn mengatakan, MadAss 125 memang bisa dipasarkan seharga sekitar 2000 Euro, karena mesinnya komplet diproduksi di Cina. Lima orang insinyur Jerman ditugasi mengawasi produksi motor bebek sangar ini di negerinya Wong Fei Hung itu. Yang lucu sih, saat diproduksi di Cina pun, MadAss juga dikloning oleh 13 produsen lainnya di Cina! Entah bagaimana, komponen reject MadAss jatuh ke tangan sebagian dari para plagiator yang kemudian mengolahnya lagi menjadi MadAss yang bukan terlahir di bawah pengawasan Sachs. Ketika ditanyai, kenapa tidak dibawa ke meja hijau, Huhn menjawab: Buang-buang uang! Ya kira-kira sama aja kalau kita kehilangan sendal seharga Rp. 20000, kita tahu siapa malingnya, kita punya buktinya, tetapi mau menuntut si maling lewat jalur hukum. Ya pasti keluar uang dong buat bikin laporan inilah, itulah, ongkos ini-itu… Istilahnya: Sakit hati terobati, tapi ga bakal balik modal……
Sachs sendiri mengakui, kalau hasil produksi mereka tidak sebaik yang dulu saat semuanya komplet diproduksi di Nürnberg, Jerman. Sachs berusaha menaikkan kualitas produksinya di Cina, dan mengakui, bahwa mereka sudah mencapai beberapa kemajuan. Hanya saja, sulit untuk mengatakan produk itu layak menyandang nama Sachs, tidak pantas produk kali ini dianggap selevel dengan Sachs yang sebagaimanamestinya.
Ada bagian teks di Motorrad Online yang menjelaskan reputasi Sachs saat teks itu tertulis (tahun 2006):
Überhaupt fällt auf, dass die Sachs Fahrzeug- und Motorentechnik GmbH dem letzten Teil ihres Namens kaum noch Ehre macht. Denn der im Insolvenzverfahren immer wieder beschworene gute Ruf hört sich seit ein paar Jahren entscheidend anders an. Der Name Sachs steht nicht mehr für solide, technisch perfekte Einbaumotoren

Artinya saya terjemahkan secara bebas: Nama Sachs tidak lagi menuai rasa hormat. Nama baik perusahaan yang berada dalam proses kebangkrutan ini sejak beberapa tahun terakhir mulai berubah drastis. Nama Sachs tidak lagi mencerminkan mesin motor yang secara teknis sempurna dan solid.

Saat ini, Sachs lebih dikenal sebagai produsen motor dengan desain yahud. Di dalam wawancara, Huhn menambahkan, Sachs tidak pernah kehabisan ide, hanya kehabisan uang untuk mewujudkan ide-ide itu. Hanya dengan uang dari investor, Sachs bisa tetap eksis. Huhn sendiri mengimpikan, bisa memproduksi si Sachs Beast menjadi motor massal, yang dapat membawa nama Sachs kembali terhormat. Hanya saja, untuk memproduksi motor sekelas Sachs Beast, sumber daya di Cina diakui tidak bisa memenuhinya.

Terima kasih sebelumnya kepada Bro sekalian yang ikutan nungguin email, sampai hari inipun hasilnya nihil. Saya pribadi juga tidak mengharapkan lagi email itu dibalas, sebab dari sumber-sumber lain terungkap, mesinnya bukan Sachs. Kalaupun diclaim Sachs, silahkan baca lagi teks yang baru saya tulis. Memang itu dari tahun 2006, tetapi keadaan perekonomian kan bertambah kacau… Apakah mungkin Sachs memproduksi sepeda motor di Jerman lagi???

Di Website Sachs tertulis, direktur mereka adalah Wang Tao. Apakah Hartmut Huhn memang memperkenalkan dirinya sebagai direktur saat peluncuran Minerva Sachs, yang menjadi saksi Mas Nugroho Adhi dan Mas Stephen Langitan. Pengenalan diri Huhn sebagai direktur mungkin saja kebijakan marketing. Tentunya beda jatuhnya, kalau yang memperkenalkan diri sebagai direktur si Mr. Wang Tao sendiri, image Sachs=Jerman bisa buyar! Kalau mengingat jumlah saham yang nyaris sepenuhnya dimiliki grup asal Hongkong, kalau melihat fakta Sachs (tahun 2006) menempatkan pabriknya di Cina, apakah kita masih bisa bilang Sachs=Sachs yang dulu??? Terlebih lagi di website Sachs bagian sejarah perusahaan mereka, Sachs hanya menulis kalau pada tahun 2006 ada investor dari Asia yang menanam saham di Sachs, tetapi tidak ditulis 99,5%! Tampaknya Sachs sendiri masih berusaha mempertahankan image mereka sebagai produsen motor Jerman. Setidaknya, nama Sachs masih ada, berbeda dengan pabrikan motor Jerman lainnya, MuZ, yang tahun lalu tutup usia…

Image perusahaan sangat penting! Buktinya, namanya bukan Minerva Tiger Sport 250 kan… PT. Minerva Motor Indonesia berusaha menjual nama besar Sachs! Namun, seperti yang sudah saya ungkit di artikel sebelumnya, Sachs kok masih tidak jelas perannya, jual nama saja??? Kualitas yang jauh lebih penting! Biarpun diproduksi di Cina, di Taiwan, di Thailand, atau syukur-syukur 100% di Indonesia, yang penting kualitasnya tidak mengecewakan. Jaket Alpinestar di sini aja tertulis made in Indonesia kok…

Kalau wara-wiri di forum-forum dunia maya, besar sekali niat masyarakat yang hendak menggebet produk baru PT. Minerva Motor Indonesia. Sayang di website tertera garansinya hanya satu tahun… Jika saya di posisi calon pembeli, mmm.. jujur saja jadi ragu. Takut ya kasih garansi 2 tahun??? Kalau mau produknya laku keras, silahkan mengadakan event uji ketahanan menggeber si Minerva Sachs Sport 250 selama 24 jam non stop di Sentul, seperti yang pernah dilakukan Suzuki! Ya, kalo berani…….. Kalau tidak juga tidak apa-apa, kan banyak yang mau menjadi sukarelawan membeli motor-motor yang desain dan harganya bikin pasar motor sport Indonesia terguncang. Ya, kita tunggu sajalah testimoninya…… Mudah-mudahan bagus…. Biar produsen Jepang yang sudah mapan kalang kabut, sebagai konsumen tentunya kita akan disuguhi produk yang lebih bernilai…

Sumber:

http://www.motorradonline.de/test/vermischtes/sachs-in-schwierigkeiten—in-der-schwebe.244650.htm

http://www.welt.de/print-wams/article144460/Aeltester_Zweiradhersteller_der_Welt_sucht_neuen_Geldgeber.html

http://www.zeit.de/2006/35/Sachs-Bikes

Das Aggregat mit 998 Kubikzentimeter Hubraum und Benzineinspritzung ist in der Standardausführung mit einer Leistung von etwa 100 PS (74 kW) vorgesehen. Darüber hinaus liebäugelt Sachs mit einer Supersport-Variante, bei der das Triebwerk durch einen Kompressor aufgemotzt wird und so eine Leistung von bis zu 160 PS (118 kW) entwickeln kann.
Dieser Wert klingt noch besorgniserregender, wenn man das Motorradgewicht von lediglich 150 Kilogramm dazu in Beziehung setzt. So wird es zum Beispiel möglich, eine Höchstgeschwindigkeit von rund 300 km/h zu erreichen. Es dürfte dann jedoch ganz schön zugig werden für den auf dem superschmalen Sattel kauernden Piloten.
Doch noch ist die Beast ein Prototyp. Was letztendlich für ein Serienmotorrad übernommen wird, ist noch nicht endgültig entschieden. Allerdings, das sagen die Verantwortlichen bei Sachs auch ganz deutlich, werden viele Detaillösungen und Designideen, die den Zukunfts-Racer auszeichnen, von künftigen Serienmaschinen übernommen.
Kalau Bro mengerti teks yang saya ambil dari website majalah Spiegel dari tahun 2001 lalu, Bro tentunya paham betapa digdayanya Sachs dalam bidang teknologi. Berita ini diambil saat Sachs memperkenalkan Sachs Beast, yang saat itu berstatus motor konsep. Motor beraliran minimalis ini bertenaga 100 PS, dengan bobot yang hanya 150 Kg, bayangkan sendiri sensasi mengendarai si Beast! Tidak cukup? Sachs berencana menawarkan versi tune up, yakni dengan kompresor. Hasilnya, tenaga melonjak hingga 160 PS! Logikanya, tenaga 160 PS plus bobot 150 Kg= 300 Km/ jam!
Namun, itu dulu…….. lihat saja fotonya, si Hartmut Huhn, sang kepala departemen riset dan pengembangan Sachs, masih sumringah… Yang saya bingung, kenapa di berbagai blog dan media online mengatakan Hartmut Huhn adalah bos Sachs? Sedangkan, sebagaimana saya tuliskan di artikel sebelumnya, di website Sachs saat ini tertera bosnya Mr. Wang Tao. Di artikel media online dari tahun 2006 pun tertera, Hartmut Huhn adalah kepala R&D Sachs. (Apakah sekarang si Hartmut sudah naik pangkat???) Misalnya saya kutip dari blog Mas Stephen Langitan:
Ketika berada di press conference room, hadir pula Mr. Hartmut Huhn, Director of Sachs Fahrzeug – und Motorentechnik GmbH yang berkantor di Numberg. Turut hadir artis cantik jelita Cut Tari yang meramaikan acara launching serta gadis-gadis manis lainnya.
Namun, soal ini tentunya bukan masalah buat konsumen. Yang jauh lebih penting bagi kita sebagai calon konsumen tentunya kualitas barang. Pertanyaan yang membuat saya bingung, yakni asal usul mesin dan peranan Sachs dalam produksi mesin, terjawab sudah oleh beberapa media on line. Meskipun ada jawabannya, saya masih bingung juga hikshiks…. begini contohnya, saya kutip lagi ya dari blog Mas Stephen Langitan:
“Motor terbaru ini menggunakan mesin motor produksi Sachs dari Jerman yang memang merupakan mitra strategis kami dalam hal ini menyediakan mesin motor, dan juga Megelli dari Inggris yang secara global dikenal sebagai salah satu pembuat disain motor sport terbaik” jelas Ir. Kristianto Goenadi yang diserbu oleh para wartawan di ruangan press conference.
dan juga:
Khusus di pasar Indonesia, MEGELLI akan hadir dengan brand “MINERVA SACHS 250″ dimana mesinnya menggunakan mesin SACHS buatan Jerman yang terkenal sangat handal namun disain perform a motornya mengadopsi brand MEGELLI yang katanya mumpuni dalam urusan disain motor sport.
Berdasarkan kutipan tersebut, saya memahami, kalau mesin motor diproduksi di Jerman. Kemudian saya maen-maen ke blognya Mas Nugroho Adhi. Nah, saya kutip lagi ya:
Terjawab sudah rasa ingin tahu saya dari mana mesin 250 cc yang dicantolkan di sangkar Megelli dari Inggris itu. Mesin dipercayakan pada Tigermotor Thailand untuk dikembangkan dan diproduksi. Tigermotor Thailand selama ini memproduksi mesin 135 cc dan 250 cc. Mesin 250 cc itu dipakai untuk sepeda motor merek Tiger.
Hartmun Huhn, Direktur Sachs Bikes, dalam acara yang sama, menegaskan, mesin yang dibuat Tigermotor Thailand merupakan strategi global perusahaan. Menurut saya tentu ini terkait dengan efisiensi produksi. Seperti yang biasa dilakukan pabrikan otomotif besar seperti GM, Mercedes-Benz, BMW, Toyota, Honda, dan sebagainya.
Dari kutipan tersebut, Minerva Sachs 250 menggunakan mesin yang diproduksi Tigermotor Thailand, bukan Sachs……
Saya tambah puyeng setelah membaca tulisannya Mas Triatmono:
Well,.. terus terang sewaktu lagi browsing.. cukup kaget juga… !!! Coz engine yang digunakan oleh Minerva Sachs … berasal dari Tiger Thailand… !!! Okee… trus sewaktu gue mau mencari gimana seh dengan motor Tiger Thailand ini… !!! Memang cukup mysterius… dan gue explore lebih jauh… berbagai forum itu menyebutkan bahwa Tiger Boxer Thailand itu… didasarkan oleh Cagiva F4 ….!!! Ngerti sendiri khaan… Cagiva itu merupakan anak perusahaan dari MV Agusta… !!!
Pertanyaannya sekarang: Si Sachs kerjanya ngapain ya????????? Ngasih Blue print aja?? Jual nama aja??
Mungkin hasil kutip-mengutip saya ini membuat Bro ikutan bingung, sebelumnya saya mohon maaf. Setidaknya, saya pribadi sangat senang dengan semakin ramainya pasar motor di tanah air dan sangat menghargai langkah berani PT. Minerva Motor Indonesia. Saya hanya ingin mencoba mengupas sebuah misteri….
Sumber:
Tak ada gading yang tak retak.. peribahasa ini berlaku bagi semua benda yang ada di alam semesta, tak terkecuali sepeda motor, produk yang diciptakan oleh makhluk yang mengklaim dirinya sebagai makhluk paling cerdas di muka bumi, tetapi jelas-jelas tidak sempurna.

YZF-R125 yang menjadi idola baru di kelas capung pun tidak lepas dari ketidaksempurnaan. Yamaha Jerman merecall yami mini yang berseri VG5RE061000000140 sampai 020590. Para pemilik si sexy mini ini diharapkan membawa tunggangannya ke dealer Yamaha terdekat. Masalahnya sepele kok, hanya mengganti material yang menghubungkan tanki dengan pompa bensin. Material ini disinyalir rentan rusak, gejalanya ya rembes bensin… Tentu saja para pemilik tidak dikenai biaya se-cent pun.

Apakah recall akan membawa dampak buruk bagi penjualan ataupun goodwill? Tentunya tidak bagi mereka yang paham! Recall adalah pertanda adanya niat baik produsen dan adanya usaha mereka menjaga goodwill. Memang akan ada pihak yang menggunakan recall sebagai alasan untuk menjatuhkan, tetapi sebagai bikers yang nalar, kita paham lah…. Bukankah recall itu tindakan sportif? Bandingkan dengan produk yang misalnya kabel gasnya cepat putus, atau knalpotnya cepat kropos, atau catnya cepat buram, bahkan ngeletek, atau CDInya cepat wafat, atau Shockbreakernya berumur pendek, tetapi tidak direcall…….. Kalau mayoritas konsumen merecall kepercayaan mereka terhadap produsen tidak sportif, nah tau sendiri deh kelanjutannya……

Sumber: PS-Das Sport-Motorrad Magazine
Foto: HP-Klassikku
Kemunculan Minerva Sachs 250 Sport di pasar Indonesia tentunya sudah menjadi buah bibir di kalangan bikers tanah air. Rancangan fairing yang mengingatkan kita pada Honda CBR 600 RR campur lengan ayun ala Bimota plus kapasitas mesin 250 cc menjadi daya tarik yang kuat. Harga yang bisa dibilang murah untuk spek yang ditawarkan tentunya menjadi faktor kuat untuk menggebet motor yang satu ini, apalagi doi diklaim menggunakan mesin SACHS!
Harga yang dipatok di bawah Rp. 30 juta membuat saya puyeng juga, mungkinkah??? Karena di Jerman sendiri dengan 2000 Euro atau sekitar 30 Juta hanya bisa gebet Suzuki Address 125 (injeksi) alias Shogun 125. Apakah mesin 250 cc bisa diperoleh dengan harga yang sama? Memang masih banyak faktor lainnya yang mempengaruhi harga, tetapi range permainan harga untuk motor kelas capung sempit kan?
Saya pun semakin penasaran, hari ini saya kembali ngubek-ngubek Website SACHS. Di bagian produk, saat ini tidak ada SACHS yang berkapasitas 250 cc! Saat melihat bagian direksi, ternyata bosnya saat ini bernama Wang Tao, dari namanya saya tebak doi senegara dengan Wong Fei Hung. Bagaimana peran Mr. Wang Tao di Sachs, saya tidak tahu… Saya pun mencoba mencari tahu, apakah ada kerjasama Sachs dengan PT. Minerva Motor Indonesia, hasilnya nihil, alias tidak tertera di website Sachs. Ketika saya coba mencari daftar importir Sachs, ternyata di Indonesia tidak ada terdaftar importir Sachs. Kalau Bro sempat, silakan bantu ngubek-ngubek ke sini:
Saya pikir, mungkin websitenya belum di update. Untuk itu saya memutuskan mengemail langsung ke pihak Sachs. Begini email yang saya tulis:
Sehr geehrte Damen und Herren
ich möchte mich informieren, ob Sie eine Zusammenarbeit mit PT. Minerva Motor Indonesia haben. In Indonesien wird in kürzer Zeit ein Motorrad mit dem Namen Minerva SACHS Sport vorgestellt werden. Das Motorrad hat 250cc Hubraum und laut PT. Minerva Motor Indonesia ist der Motor von Ihrer Firma in Deutschland produziert. Ich habe Zweifel, da auf Ihrer Website nicht steht, dass Sie momentan Motorräder mit 250 cc Maschine herstellen. Können Sie mich bitte darüber informieren? Ich freue mich sehr auf Ihre Antwort.
Vielen Dank im Voraus für die Aufmerksamkeit.
Mit freundlichen Grüßen
Arie Slight
Kira-kira isinya menanyakan, apakah ada kerja sama Sachs dengan PT. Minerva Motor Indonesia dan apakah Sachs menyuplai mesin untuk Minerva Sachs 250. Di email saya mengungkapkan kebingungan saya dan mohon informasi lebih lanjut. Kita lihat saja nanti, apakah email saya ditanggapi, terus terang saya berharap sekali ada kejelasan atas hal ini.
Jika Minerva Sachs 250 benar-benar menggunakan mesin Sachs, maka tidak perlu lagi kuatir akan daya tahan mesinnya. Jerman tidak dikenal sebagai produsen mesin motor berdaya besar, tetapi untuk soal daya tahan, tidak perlu diragukan. Di Jerman, soal material dan tingkat presisi pengerjaan sangat dijunjung tinggi. Jika Minerva Sachs benar-benar menggunakan mesin Sachs, wow.. keren……. Artinya ada yang berani melangkah dan mengguncang dominasi pasar yang bisa membawa dampak positif bagi kita sebagai konsumen. Jika semua itu benar, artinya PT.Minerva Motor Indonesia sudah memulai langkah layaknya Bimota yang memproduksi segala sesuatunya sendiri dan menggunakan jasa pabrikan besar untuk menyuplai mesin motornya (Hanya saja Bimota mengincar kualitas lebih tinggi dan lebih eksklusif layaknya motor konsep). Sekian usaha saya untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari diri saya sendiri, entah bagaimana kelanjutannya………

Bro, Bli, Uda, Akang, Mas, Abang tentunya pernah dengar nama Mike Hailwood dong? Awas aja kalo nggak! Itu lho, pembalap legendaris asal Inggris yang pernah 9 kali mencicipi indahnya perasaan menjadi juara dunia GP. Tanpa jasa Mike Hailwood, mungkin saat ini Casey Stoner hanya seorang pembalap MotoGP biasa. Kenapa? Sebab tanpa jasa Mike Hailwood, belum tentu Ducati menjadi Ducati yang sekarang ini, atau bahkan Ducati tinggal sejarah….
Mike Hailwood yang sangat sukses sebagai pembalap motor sejak tahun 50an sangat berjasa bagi Ducati, sehingga Ducati beberapa kali mengabadikan namanya melalui produk mereka, sebut saja Ducati 900 SS Hailwood Replica yang merupakan motor jalanan yang diproduksi terbatas, Ducati MHR 1000 (Mike Hailwood Replica) dan terakhir yang bikin gempar bikers dunia: Ducati MH 900 evoluzione yang foto-fotonya terlampir di sini dan akan kita kenali lebih dekat.
Untuk apa Ducati mengeluarkan produk yang menyebut-nyebut nama Hailwood? Kita pelajari dulu sejarahnya: Hailwood ”Mike the Bike” yang sukses di ajang balap motor sempat hijrah ke ajang balap F1. Namun, karena kecelakaan yang hampir melumpuhkan kakinya, doi sempat vakum cukup lama. Yang namanya pembalap, tentunya tidak tahan disuruh nganggur tanpa geber gas abis-abisan. Singkat kata, Hailwood kembali ke selera asalnya: balap motor. Tidak tanggung-tanggung, doi langsung memilih lomba yang paling sulit untuk merayakan comebacknya: Isle of Man pada tahun 1978! Doi saat itu menggeber Ducati 900 SS yang tidak sedigdaya Ducati di Motogp ataupun WSBK saat ini.
Ducati saat itu sudah kehilangan pamor, motor mereka tergolong motor underdog. Dengan tenaga 75 PS dan pembalap yang tergolong tua, tidak ada pakar ataupun fans balap yang percaya kalau Hailwood bisa memenangkan ajang ini. Singkat kata, kalau pasang taruhan atas nama Mike Hailwood plus Ducati, ya siap-siap bangkrut! Ternyata kenyataan tidak sesuai dengan dugaan mayoritas! Hailwood berhasil menembus garis finish pertama. Kemenangan ini menjadi titik balik bagi Ducati. Mereka kembali mendapatkan nama besar dan diperhitungkan di ajang balap motor internasional. Jadi jangan heran kalau nama Mike Hailwood dan Ducati begitu lekat. Pembalap yang wafat dalam kecelakaan lalu lintas pada tahun 1981 ini benar-benar membalikkan kepercayaan diri Ducati dalam membangun motor. Saat itu, sebenarnya Ducati sedang getol mengembangkan mesin diesel, bahkan manajemen Ducati ketika itu melihat masa depan Ducati adalah produsen mesin diesel! Kebayang dong, tanpa kemenangan Mike Hailwood, mungkin saat ini kita sering melihat tulisan Ducati di mesin-mesin genset! Mungkin…..
Oke, sekarang kita menuju ke bintang kita kali ini yang diakui sebagai salah satu karya seni dan maha karya di bidang desain: MH 900 evoluzione. Motor yang kapasitas tankinya hanya 8,5 liter inklusif cadangan ini berbobot sekitar 187 Kg. Si cantik yang mengusung gaya neoklassik ini adalah rancangan bosnya para desainer Ducati, yakni Pierre Terblanche. Doi terinspirasi bentuk motor Hailwood, yakni 900 SS. Doi mewujudkan detail hingga ukuran motor sang legenda sesetia mungkin. Hasilnya, banyak bikers yang berpendapat, berkendara dengan MH 900e tidak terasa menyatu, tetapi serasa di ”atas” motor. Maksudnya, posisinya benar-benar seperti motor balap saat itu yang posisi pengendaranya relatif mundur ke belakang dan tinggi.
Motor seksi ini dibuat sebagian besar handmade lho, hanya sebagian yang diproduksi layaknya motor Ducati massal, misalnya proses pengecatan, mesin dan lengan ayun. Mesinnya tipikal Ducati, yakni V-twin 2 silinder 90° 4 tak berkapasitas 904 cc. Mesin ini memiliki tenaga maksimum 79 PS @ 7500 rpm dan bertorsi pol 76 Nm @ 6500 rpm. Dengan tenaga sebesar ini, doi bisa dibawa ngebut hingga 224 Km/ jam. Mesin denagn 6 tingkat percepatan ini ditopang oleh rangka teralis dari pipa baja chrom molibdenum yang menonjolkan keindahan mesin berpendingin udara si Duke. Mesin twin Bologna disalurkan suaranya oleh knalpot berbahan baja inox yang berhasil melantunkan irama mesin balap motor tahun 70an.
Sektor roda dipercayakan seperti biasa kepada Marchesini 17 inci. Di depan dikawal ban 120/65, sedangkan di buritan dipercayakan pada ukuran 170/60. Untuk menjaga keselamatan bikers, Ducati mempercayakan jasa rem cakram dobel 320 mm Brembo di depan dan cakram tunggal 245 mm di belakang.
Motor seharga 15000 Euro ini menawarkan handling yang lincah dan presisi. Hanya saja, saat melahap tikungan cepat kombinasi kanan-kiri, doi menunjukkan gejala mantul-mantul. Suspensi USD 43mm di depan dinilai cukup baik, hanya saja suspensi monoshock Paioli di buritan tidak sanggup mengimbangi performa suspensi depan.
Yang menarik dari motor ini, doi adalah motor pertama yang hanya bisa dipesan melalui internet. Jumlahnya hanya dibatasi 2000 unit, tak heran, dalam hitungan jam, motor extra eksotis ini ludes terpesan. Dari 2000 unit ini, 500 diantaranya terbang ke Amerika. Para calon pembeli bisa melihat nama mereka langsung di website Ducati. Banyak dari mereka yang harus extra sabar menantikan kehadiran si buah mimpi, maklum, Ducati hanya memproduksi 500 unit per tahun, artinya pemilik MH 900e ke 2000 adalah salah satu manusia yang sudah cukup terbukti kesabarannya.
MH 900e di Jerman nongol pertama kali di ajang Intermot München pada tahun 1998. Saat itu, penampakannya yang wah membuatnya jadi bahan pembicaraan dan topik berbagai media massa roda dua. Seperti biasa, motor konsep pastinya berbeda dengan motor yang dipasarkan, dan seperti biasanya, lebih sederhana dan ditekan harganya. Di motor konsep, MH 900e menggunakan peranti kopling dari titanium dikombinasikan dengan karbon, kopling pun terbuka alias tidak tertutup cover. Sedangkan pada motor yang dipasarkan, kopling hanya menggunakan kopling kering biasa dan tertutup cover. Alasannya: Menghemat biaya produksi dan supaya tidak terlalu berisik.
Di buritan juga tidak jadi dipasang kamera yang berfungsi menggantikan jasa kaca spion Ducati yang memang terkenal minim pandangan. Tadinya, kamera akan disambungkan ke display di cockpit yang menampilkan situasi lalu-lintas di belakang. Rem cakram depan yang tadinya tunggal dan dibuat dari bahan eksotis pun lengser digusur rem standard Brembo. Keeksotisan di wilayah buritan yang menawarkan lampu sen yang ngumpet di dalam moncong knalpot pun dibatalkan. Hasilnya, sen Ducati yang jadi incaran kolektor ini tampil standard layaknya motor lainnya. terlepas dari segala korting, Ducati MH 900e tetap mewarnai impian bikers pencinta motor eksotis, salah satunya Bro Nunoe. Gimana Bro? PUAS??? PUAS???? PUAS???
Sumber:
Mirco de Cet: Illustrierte klassische Motorräder. Enzyklopädie.
NB: Kepada Saudara Nunoe, terima kasih atas request Anda. Rekening sudah kami kirimkan, harap dilunasi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Maaf rekan-rekan seperdjoeangan.. rentjananja saja maoe noelis artikel, apa daja banjak terdjadi ganggoean teknis di compoeter pool Oeniversitas….
.
.
.
tes.. tes.. tes… boenji oedjan di atas keyboard
ilernya toeroen tidak terkira…
cobalah tengok,
kanan dan kiri……..
depan dan belakang lutu temuaaaaaaaa…..huhuhu…….
.
.
.
Foto: HP-Klassikku (Paparazzi Mode: On Fire)
Ki Gede Anue: Bertobatlah Saudara Arie Slight!!!!!!!!!!!!!

Foto: HP-Klassikku



Ada yang baru di ajang Isle of Man, ajang balap roda dua legendaris yang sejak 102 tahun lalu diselenggarakan di sebuah pulau yang terletak di antara Inggris dan Irlandia. Di ajang Tourist Trophy kali ini akan diperlombakan kelas bebas emisi karbon alias kelas motor listrik! Yang namanya balap motor, pesertanya pasti menurunkan motor yang gesit layaknya kura-kura ninja, Cowabunga!!!!!!
Jalanan umum yang berubah menjadi sirkuit raksasa sepanjang 60 Km yang juga dihiasi jalan kelak-kelok plus naik turun khas pegunungan akan menguji ketangkasan si pembalap dan kehandalan tunggangannya. Inilah saat yang tepat bagi motor-motor listrik berperforma tinggi untuk unjuk setrum zrzrttzrzrrrdddttrrrtttrrrzrzrzez…..
Kebetulan di ajang Thüringer Motorradtage bulan lalu saya bertemu dengan salah satu kandidatnya: TTXGP yang diproduksi di utara negara bagian Hessen, tepatnya di kota Kassel yang terkenal dengan objek wisata Herkulesnya. Motor milik Team XXL Racing ini akan unjuk gigi tanggal 12 Juni nanti. Si kuning bertegangan tinggi ini akan ditunggangi Thomas Schönfelder, pembalap yang tidak begitu terkenal tetapi sudah beberapa kali mencicipi podium di ajang TT Isle of Man. Motor ini dibangun oles Thomas Schuricht yang jago otak-atik software dan hardware mesin mobil. Doi didukung oleh jagoan setrum, yakni Marko Werner yang sehari-harinya berkelut dengan teknologi listrik tegangan tinggi dan high performance.
Seberapa kenceng sih motor listrik? Paling kaya maenan bocah!!!!! Weitsss… ini balapan bos, inget zamannya Tamiya kan?? TTXGP dipersenjatai motor 320 V/ 300 A yang sanggup menyemburkan tenaga sekitar 90 Kw, ya kira-kira 120 PS-an lah…(maaf, lagi males ngitung). Mesin yang sanggup berputar hingga 12000 rpm ini berbahan bakar listrik yang bersumber dari baterai Lithium-Ion 326V/ 50 Ah. Saya tidak tahu soal baterai-baterai semacam ini, yang pasti kapasitas itu tentunya sangat besar! Bayangkan, baterai itu harus cukup untuk menggerakkan motor berbobot 300 Kg ini sejauh 60 Km!
Kebetulan saat ajang Thüringer Motorradtage itu, si Mas2nya ngganggur, saya tanya-tanya saja dia.. ya itung-itung sok jadi wartawan lah… Dari keterangan doi, ini motor cuma ada satu sedunia! Artinya yang ada di hadapan saya saat itu memang benar-benar prototipe tunggal! Saat ditanya harganya, doi bilang 55000 Euro! Wow… tambah 6500 Euro sudah dapat Desmosedici yang sudah pasti kenceng n keren abiiieezzz… Harga segitu jangan heran Bro, harga baterainya saja, seinget saya nih, 35000 Euro! Doi bilang, si TTXGP sudah banyak yang pesan lho!
Ketika ditanya, kok ini tulisannya di garpu depan Laverda? Ternyata memang basis motor ini Laverda 650 cc. Namun, di bagian depan tidak lagi terdapat radiator. Mesin didinginkan cukup dengan oil cooler. Saat saya tanyakan, kok beratnya ga ketulungan gitu sih? Kaya Harley aja… Si Mas2nya bilang: Baterainya saja sudah 150 Kg sendiri! Doi menambahkan, untuk ikut ajang Isle of Man, motor maksimal hanya boleh berbobot 300 Kg. Aneh ya? Kok bukan minimal sih? Begini Bro, menurut terawang gaib Ki gede Anue, motor listrik itu masih punya masalah dalam daya tahan dan kapasitas baterainya. Jadi, kalau mau motor bertenaga besar menempuh jarak yang jauh, maka baterainya otomatis semakin besar dan berat! Ya kalo dibandingkan di balap motor bensin sama saja dengan misalnya tidak boleh lebih dari 22 liter.
Saat mesin dihidupkan dan dibawa jalan, wow.. speechlessss… bunyinya tidak lebih keras dibandingkan mesin cukur rambut! Dengan performa tinggi dan nyaris tanpa suara, motor-motor listrik high performance layak dijuluki Ninja! Saat saya kritik, bodinya kok ala kadarnya gini? Kalo mau jualan bagusan dikit dong…. Doi bilang: ini bikinnya cuma 12 Minggu mas, nanti akan kami kembangkan lagi.. Dalam hati saya sangat kagum, saya bikin paper saja bisa satu bulan, eh mereka bikin motor prototipe cuma 12 Minggu! Sayang ada satu pertanyaan yang lupa saya tanyakan: Ni motor bisa dipakai ujan-ujanan ga ya???
Terawang Gaib by Ki Gede Anue
Foto: HP-Klassikku

Minggu lalu, artikel ”Asal Usul Nama Jawa” dari bulan Maret lalu mendapat gangguan gaib dari Mbah Bro Petromaxx. Dalam gangguan gaibnya itu muncullah nama: Suzuki Madura. Saya pribadi juga baru tahu kalau ada yang namanya Suzuki Madura, sebuah sepeda motor yang sayangnya tidak setenar pesaing-pesaingnya, yakni Honda Magna, Kawasaki Eliminator dan Yamaha V-Max.
Nama Madura di motor ini memang diambil dari pulau yang letaknya di ujung timur pulau Jawa dan terkenal dengan karapan sapinya itu (meskipun kadang yang dipakai duél drag race kebo). Senjata khas asal Madura, yakni clurit terlihat mempengaruhi desain jok, bodi dan spatbor belakang motor city cruiser ini.
Suzuki Madura yang hadir di pertengahan tahun 80an, atau tepatnya tahun 1985 dan 1986 hanya diproduksi sedikit oleh Suzuki. Suzuki sendiri menawarkan 2 tipe, yakni GV1200GL dan GV700GL. Keduanya sama-sama menganut mesin V-4 82° dengan 4 klep per silinder (ni kalo minta skir klep bikin pegel dan kalo minta turun mesin bikin bangkrut…). Gosipnya doi diproduksi pada tahun 1984-1985, hanya saja diedarkan pada tahun 1985-1986. Untuk model V700 (disingkat V700 saja ya), Suzuki hanya mengedarkannya di tahun 1985 saja. Jumlah total Suzuki Madura tergolong sedikit, yakni hanya 5099 unit. Jumlah itu didapat dari hasil produksi tahun 1984 sebanyak 3438 unit dan tahun selanjutnya hanya sebanyak 1661 unit.
Kita mulai dari yang berkapasitas kecil, yakni V700. Motor berperawakan gembul ini berkapasitas 698 cc. Untuk memenuhi permintaan mesin V-4 DOHC berpendingin air ini, Suzuki menjatahi V700 dengan 4 buah karburator Mikuni BDS 33 mm. Mesin gahar dengan 6 tingkat percepatan ini memiliki kompresi 10,5:1, yang berarti minta minuman yang lebih mahal. Di spidometernya sendiri, red zone baru diraih di 10750 rpm. Menurut pengukuran majalah Cycle World Magazine, V700 menempuh jarak 1/4 mil dengan catatan waktu 12,89 detik dan memasuki finish dengan kecepatan 102,96 mph.
Kita beralih ke yang lebih besar, yakni V1200. Motor ini berkapasitas tepatnya 1165 cc dan berkompresi sama dengan si kecil. Sesuai kapasitasnya yang lebih besar, doi dipersenjatai karburator berventuri lebih besar juga, yakni 4 buah Mikuni BDS 36 mm, wah bikin keder nih borosnya. Motor berbobot kosong 245 kg ini memiliki tenaga yang masih cukup bersaing dengan V-Max saat itu, yakni 117 PS (kalah 23 PS). Layaknya motor sekarang, motor dengan konstruksi mesin yang sama dan berkapasitas lebih besar pada umumnya memiliki putaran mesin yang lebih rendah. Misalnya motor superbike Jepang 1000 cc meraih tenaga puncaknya di kisaran 12000 rpm, sedangkan yang 600 cc bermain di kisaran 13000-14000 rpm. Fenomena yang sama juga kita jumpai di Suzuki Madura. Jika si kecil mulai kesakitan di 10750 rpm, maka si bongsor mulai bete jika joki menggebernya lebih dari 9500 rpm.
Cycle Magazine Januari 1986 sempat menguji performa V1200. Dari catatan mereka, V1200 memiliki tenaga puncak di roda belakang sebesar 89, 36 PS @ 8500 rpm dan bertorsi maksimum 61,41 Nm @ 6800 rpm. Ketika diadu drag race melawan Yamaha V-Max, Kawasaki Eliminator 900 dan Honda Magna, Suzuki Madura sanggup menghuni tempat kedua di bawah V-Max dengan catatan 11,36 detik @ 117,18 mph. V-Max sendiri unggul cukup jauh, yakni 10,99 detik @ 124,04 mph. Sebaliknya, Suzuki Madura hanya unggul tipis di ajang buang-buang bensin 1/4 mil ini. Honda Magna yang menghuni urutan buncit tembus 11,44 detik @ 118,42 mph, padahal kapasitasnya lebih kecil dibandingkan Suzuki Madura!
Mengapa Suzuki Madura hanya singkat usia produksinya? Menurut Terawang gaib Ki Gede Anue, Suzuki Madura tidak sedahsyat sate Madura ataupun semaut sabetan clurit! Performanya terbilang lembut dan tidak seganas kompetitornya. Menurut para pemiliknya, motor ini memang bukan buat kebut-kebutan, paling enak adalah mengendarainya dengan santai, sebab riding position, jok dan suspensinya memang dirancang untuk itu.
Satu alasan penting lainnya yang dianggap menjadi faktor kegagalan adalah kapasitas tankinya yang terlalu kecil! Jika Honda Magna bisa touring sejauh 174 mil, maka Suzuki Madura hanya sanggup menempuh jarak 130 mil tanpa mampir ke pom bensin, akibatnya, beberapa bikers memodifikasi tanki si Madura menjadi lebih besar layaknya Bo Bariah si tukang pecel di Film Unyil. Penggemarnya sendiri tidak menyebut Suzuki Madura sebagai motor touring, tetapi polite city cruiser. Makanya,kalau sampai ada Bro yang bisa gebet Suzuki Madura, jangan dibobok itu knalpot! Suara mesin V-4 plus knalpot bobok bisa membahayakan keselamatan Bro, apalagi kalau rumah di kampung, wah bisa diclurit sampeyan…….
Semoga dengan adanya artikel ini, Mbah Bro Petromaxx bisa puas di alamnya… jangan ganggu-ganggu lagi ya Mbah Bro… Kita sama-sama makhluk Tuhan, hiduplah di alamnya masing-masing hehehe… pisss ah… kabuuuuuuurrrrr (jurus langkah 1000 mode on).

Sumber: Sinar Petromaxx

Terawang Gaib by Ki Gede Anue
Foto: Bajakan
Pada Djaman Doeloe, saat baru merintis karier sebagai biker, yang paling penting bagi saya adalah motor. Motor selalu saya rawat sebaik mungkin dan diusahakan selalu kinclong. Kebanyakan uang juga keluar untuk membeli peranti modifikasi dan perawatan motor. Sebaliknya untuk diri saya sendiri, saya hanya membeli helm full face dan sarung tangan. Helm full face penting bagi saya untuk melihat dengan baik dan mengurangi risiko kelilipan. Saat itu, teknologi kaca helm half face yang beredar di tanah air masih memble. Hanya dengan helm full face saya dapat berkendara dengan tenang.
Apakah saat itu saya sangat memperhatikan faktor safety? Jujur saya akui: tidak. Contohnya, saat membeli helm half face saya berkata: Bang, helm full face paling murah mana??? Nah itu helm deh yang saya beli. Bagaimana dengan jaket dan sarung tangan? Jujur saja, saya hanya menggunakan jaket dan sarung tangan saat berkendara di siang hari (takut item). Saat itu, hujan, angin, udara dingin tidak saya pedulikan.
Apa maksud judul artikel ini? Cintai diri sendiri secara tidak langsung mencintai orang lain, terutama orang di sekeliling kita. Apa jadinya kalau kita jadi penyakitan gara-gara perlengkapan naik motor yang di bawah standard? Siapa yang susah kalau kita kecelakaan? Ini patut direnungkan, terutama bagi mereka yang menjadi pohon duit keluarga.
Mencintai diri sendiri bisa dimulai dari pemilihan sepeda motor: pilihlah motor yang paling cocok dengan kebutuhan dan kondisi kita masing-masing, singkatnya motor itu enak dikendarai, kita merasa senang mengendarainya dan biayanya tidak terlalu memberatkan. Jangan sampai penghasilan pas-pasan, tetapi motornya kelewat mahal ataupun konsumsi bahan bakarnya kelewat boros gara-gara dikorek sana-sini. Kondisi motor pun harus senantiasa sehat dan layak jalan plus memenuhi tuntutan keselamatan berkendara. Selain itu, sebagai bikers, mencintai diri sendiri wajib diwujudkan dengan cara berkendara yang safe! Soal ini, tidak akan saya bahas lebih jauh, situ dah pinter lah… Faktor penting lainnya adalah peranti keselamatan seperti jaket, helm, sarung tangan dan sepatu. Kalau kita perhatikan, hampir semuanya mengandung bahan karet kan……..Nah ini dia yang ingin saya ulas: karet! Dimana-mana, karet berjasa dalam urusan safety! Sebagai orang dewasa tau sendiri lah ehhehe….. Eitss, kita tidak membahas karet yang itu, tetapi karet yang memiliki kontak dengan kita saat berkendara (sepeda motor).
Kenapa membahas karet? Minggu lalu saya menonton siaran TV yang membahas tentang karet yang haram berkontak langsung dengan kulit manusia. Menurut sebuah penelitian, karet semacam ini menimbulkan risiko kanker! Hiiiiiii……… Barang yang menjadi contoh saat itu antara lain: karet di klakson udara yang biasa dipakai tukang roti, karet yang melapisi pegangan martil, karet yang digunakan sebagai cover setir mobil dan roda karet di bagian bawah kulkas. Karet-karet ini sebagian diproduksi menggunakan bahan kimia yang berbahaya jika terjadi kontak langsung dengan kulit. Kalau tidak salah menerjemahkan, bahan itu disebut minyak ter (ni yang ada di aspal bukan ya???). Minyak ter ini dicampurkan dengan karet supaya karet menjadi lebih alot dan tahan banting. Menurut hasil penelitian, seorang pengemudi mobil yang 2 jam penuh melakukan kontak dengan setir mobil yang covernya menggunakan karet yang mengandung minyak ter, berisiko kurang lebih sama dengan merokok sebanyak 100 batang! Di Jerman sendiri, ada badan yang ditugaskan mencari dan menarik barang-barang yang diproduksi menggunakan material yang berbahaya bagi kesehatan ini. Kebanyakan barang-barang semacam ini diimpor dari RRC. Bahan semacam ini tidak dilarang, jika dalam penggunaannya tidak ada kontak langsung dengan kulit manusia.
Sehabis saya menonton siaran ini, saya langsung teringat, banyak sekali unsur karet yang mengelilingi kita sebagai pengendara sepeda motor, misalnya di perlengkapan kita tadi: helm, jaket, sarung tangan dan sepatu. Di motor pun, grip gas juga memiliki kontak langsung dengan kulit kita jika kita tidak menggunakan sarung tangan. Nah kebayang kan, kalau ada bikers yang susah-payah berhenti merokok karena takut kanker, tetapi setiap hari ia naik motor yang grip gasnya diproduksi dari campuran karet dan minyak ter itu…. Apakah barang-barang untuk bikers di Indonesia aman dari zat berbahaya ini? Apakah badan perlindungan konsumen Indonesia sudah sampai di taraf ini? Saya tidak tahu… Bagaimana sekarang caranya membedakan karet yang mengandung minyak ter dengan karet yang aman??? Saya tidak tahu…… i dont know.. je ne sais pas……. ich weiß nicht…….. non lo so………
NB: Teks di atas adalah salah satu contoh teks yang kurang bertanggung jawab!
Mal Praktek by dr. Arie Slight
Foto: Repro by HP-Klassikku

tersesat muter-muter

  • 1,786,402 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com