You are currently browsing the monthly archive for Juli 2010.

Kalau ketemu moge di jalan, kadang kita betah-betahin ngekor di belakangnya. Kalau ketemu doi di parkiran, kita sempat-sempatin foto-foto. Kalau ada yang punya kita sempatin minta izin buat nyemplak, ya biar tahu saja rasanya menunggang moge. Ketika nyemplak doi, sering terbersit keinginan untuk menggebetnya. Ini terlihat dari muka-muka penyemplak yang mupeng dan senyum-senyum mengkhayal nggak jelas! Kalau kantong pas-pasan, maksudnya cuma pas buat beli moge second, kepikiran juga pajak dan onderdilnya. Lebih berat lagi kalau yang kita taksir moge balap. Namanya berarwah racing, pasti lebih mahal kalau sampai kenapa-kenapa. Lalu, apakah harus ragu dan takut melangkah ke jenjang selanjutnya?

Sebenarnya, kalau ada rejeki, tidak perlu ragu untuk membeli moge tahun 95 dan tahun-tahun lebih muda lagi. Apalagi di Indonesia, dimana moge sport rata-rata jarang digeber beneran di sirkuit. Digeber di jalan pun hanya sesekali, intinya mesin seharusnya tidak perlu diragukan keadaannya (asalkan pemilik menggunakan oli yang tepat dan memperhatikan perawatannya).

Apa yang harus diperhatikan?

Pada intinya sama saja dengan membeli motor biasa. Cek fisiknya, kelurusannya, nomer mesin dan rangka, suara mesin, adakah baret di sisi kiri atau kanan gerabox,  suspensi, komstir dsb. Yang penting juga dicek adalah kelistrikan. Kalau bisa, diperhatikan juga, apakah kelistrikannya masih standard, sebab bagian ini yang biasanya KO duluan akibat keteledoran si pemilik, bukan mesinnya yang KO duluan! Di Jerman, daya tahan motor-motor Superbike Jepang mendapatkan ancungan Jempol! Honda sejak dulu terkenal bandel dan “matang” dalam keseluruhan hal. Yamaha R-Series pun sudah dianggap memiliki mesin yang tahan banting, 100 ribu kilometer bukan masalah baginya! Nah, Sekarang coba Bro pikir, apa motor-motor Superbike 2nd di tanah air sudah menempuh jarak sejauh itu? Dan, kalau kilometernya misalnya lebih dari 30 ribu, apakah 30ribu itu dilalui dengan digeber di jalanan kaya jalanan di Eropa sana yang bisa seenak-enak jidad dalam menyalurkan adrenalin balap? Kalau Bro masih merasa sangsi, silahkan pilih Superbike yang paling bandel mesinnya. Di Jerman, predikat Superbike dengan mesin berdaya tahan tertinggi dipegang oleh Gixxer! Nah, jadi jangan takut menggebet moge racing dari Pabrikan Suzuki ini! Di Jerman sendiri Gixxerlah Superbike favorit dan paling banyak dijumpai di Sirkuit-sirkuit di Jerman. Dengan kebandelan mesinnya, tak heran, Gixxer merajai balap ketahanan Le Mans.

Peranti Racing Haram!

Dapat tawaran motor Superbike berspek racing? Jangan takut… Knalpot racing, power comander, koil dan nosel racing, dkk tidak terlalu membebani daya tahan mesin, apalagi kalau cuma dipakai berweekend ria di Jakarta! Hanya ada satu peranti racing yang perlu diwaspadai, yakni Quickshifter. Kalau si moge sport sudah dipasangi komponen ini, berhati-hatilah meminangnya!

Quickshifter sebenarnya di indonesia pun bukan barang baru, tetapi sudah sejak awal 2000an digunakan dalam ajang drag race motor! Dengan peranti ini, perpindahan gigi benar-benar sangat singkat. Di salah satu website produsen Quickshifter dijelaskan, dengan peranti ini, pembalap bisa sangat mudah dan cepat memindahkan gigi saat berakselerasi. Dengan bantuan Quickshifter, pembalap tidak perlu pakai acara pencet kopling segala yang bisa menurunkan tenaga mesin! Gas juga bisa tetap dibuka penuh! Artinya, saa klep sedang terbuka maksimum pun pembalap tetap bisa pindah gigi! Bayangkan, gas tidak perlu turun, layaknya motor matic saja. Quickshifter dengan segenap snsor dan mekanismenya membuat pembalap cukup menyentuh tuas gigi saja. Peranti ini akan memutus arus sepersekian detik saat pindah gigi, sehingga perpindahan bisa cepat dan sangat mudah. Jadi ingat ketika di Sachsenring lalu, saya dengar sendiri bagaimana M1 mengeluarkan ltupan-letupan keras dan menggelegar saat perpindahan gigi, sementara gas tetap bisa dipanteng, hanya terputus extra singkat dengan letupan-letupan keras itu.

Kenapa Quickshifter haram? Maksudnya tidak disarankan untuk membeli moge 2nd yang sudah memakai atau pernah memakai peranti ini? Berdasaran pengalaman, peranti rada ajaib ini seringkali merusak gearbox Bro… Apapun merk motornya, Gearboxnya cepat rusak kalau pakai Quickshifter! Nah Ente pikir sendiri sekarang kalau si Superbike dambaan yang rusak Gearboxnya!

Foto: HP-Klassikku

Kehadiran produk Minerva yang satu ini memang banyak menuai kontroversi. Ada yang pro, ada yang contra. Berhubung saya tidak punya yang aslinya, ataupun yang copynya, saya sih tenang-tenang saja….

Melihat penampilan produk copy yang satu ini, ada bagian yang cukup menarik minat, yakni bagian yang paling sering dilirik untuk membedakan, mana yang asli, mana yang copy. Yup, garpu up side downnya! Kebetulan saya menemui satu unit motor copy paste ini dan mengamati keseluruhan wujudnya. Tampak cat yang kusam dan rompal-rompal dan berkarat di bagian-bagian tertentu yang membuat motor seakan sudah berusia diatas 8 tahun. Jarum spidometer pun terlihat patah, padahal fairing depan dan spatbor masih mulus. Kaca spidometer pun jauh lebih kusam dibandingkan kaca spidometer Tiger hitam saya yang alhamdulillah masih cling bin bening.

Terlepas dari semua kondisi kurang mengenakkan itu, tampak garpu depan USDnya masih mulus dan tidak ada lumeran oli, dalam hati, wah boleh juga nih…. Saya penasaran juga sama daya tahannya. Barangkali ada bro yang juga tertarik untuk menggunakannya untuk modifikasi. Berikut ini beberapa pertanyaan saya, harap infonya ya dari Bro yang mungkin lebih tahu….

1. Performa dan karakternya bagaimana? Sebenarnya sih tidak terlalu mengharapkan dari sisi ini, yang saya lebih ingin tahu adalah daya tahannya.

2. Apakah dijual bebas, berapa harganya dan dimana bisa mendapatkannya?

Danke sebelumnya….

Barangkali ada yang berminat atau mau main BMW Klassik, R25 ini entry levelnya…Bisa dibangun pelan-pelan, bisa juga dicustom!

Surat: STNK Hilang, sudah ada surat hilangnya. BPKB ada.

Kondisi: Mesin hidup, kelengkapan body dan pernak-pernik lihat foto… atau lihat langsungsaja (Jakarta). Buka harga Rp. 25 Juta, nego…

Hubungi Yoyok 08129594725

BMW Hadir….

Yang belum antik juga nongol…

CB-Twin pakai kaki moge + oil cooler, sangar juga…

Kecil, tapi maniiieess….

BSA dengan engine guardnya yang khas… tapi desain engine guard begini buat motor sekarang not recomended Bro…

Ini kayanya dari zamannya orang Indonesia belum kenal kata “pom bensin”…

Nggak punya Norton Manx??? Norton Commando mungkin bisa mengobati kerinduan…

Ini kalo nggak salah Norton CS-1, salah satu motor balap tersukses di dunia…

Ini BSA Golden Flash, kalo nggak salah lagi nih…(ketauan_amatir.de)

The incredible Hulk Sunbeam!

OMG…Ariel..lepas dari tahanan???

Eh, ada Ariel lagi…

Ariel siap menaklukkan hati…. dan body hihihi…..

Foto: HP-Klassikku

Di jalanan kita sering menjumpai motor-motor batangan yang diperlengkapi engine guard, sebut saja yang menempel di bankay Honda Tiger, Mega Pro, Suzuki Thunder,  hingga Yamaha Scorpio. Kebanyakan yang memasang engine guard, kalau dilihat dari gaya modifnya yang seringkali memakai box, adalah penggemar touring. Di dalam kota sendiri, menurut saya penggunaannya lebih merugikan, bukan sebatas bobot, tetapi juga faktor safetynya. Terlebih lagi, banyak pengendara yang menggunakan engine guard menjadi overacting dan “nyeruduk-nyeruduk” sesama bikers yang berlawanan arah.

Bagaimana sebenarnya? Apakah peranti yang satu ini safe? Sekarang kita lihat, bukankah namanya engine guard? Artinya yang dijaga itu sebenarnya mesin dan si motornya secara umum, bukan pelindung untuk si pengendaranya. Di motor-motor besar, engine guard digunakan untuk menahan, jika motor rubuh. Di motor kepolisian, fungsinya bertambah lagi untuk  menaruh toa, sirene dan juga lampu patroli. Bagaimana di motor touring? ya, di motor touring seringkali juga digunakan untuk meletakkan dan mengubah posisi kaki. Nah, fungsinya meluas kan…

Desain yang Baik

 Bagaimana sebenarnya desain engine guard yang baik? Mengingat fungsinya meluas juga untuk melindungi kaki si pengendara agar tidak terjepit motor saat motor rubuh (ingat, rubuh atau jatuh pada kecepatan rendah!). Sekarang, silahkan perhatikan desain engine guard yang saya lampirkan, semua itu adalah contoh desain yang benar, jadi kecil sebatas untuk melindungi mesin motor, jadi tidak terlalu lebar.

Kriteria lainnya adalah ujung yang membundar seperti  ) dan juga kecil diujungnya, tidaklah lebar seperti beberapa desain yang ada di pasaran motor tanah air. Desain ini safe dibandingkan dengan yang model ] yang di tanah air dibuat besar dan memanjang dari dekat tanki hingga ke bawah. Kenapa berbahaya? bayangkan kalau kaki si pengendara malah tertimpa engine guard yang modelnya memanjang seperti ini! Kaki berisiko terjepit lebih besar, malah kalau terjatuh dan motor terseret, kalau kaki tertimpadan terjepit engine guard model begini, bisa-bisa engine guard mengamputasi kaki si pengendara! Jadi kalau mau pasang engine guard, perhatikanlah desainnya, yakni yang sisi vertikalnya seminim mungkin.

Foto: HP-Klassikku

Di tahun 1998, Indonesia dikejutkan dengan parahnya krisis moneter yang merambat ke krisis di berbagai bidang kehidupan. Di tahun yang sama, jagad permotoran pun tidak kalah terkejutnya dengan hadirnya si legenda baru Superbike, yakni Yamaha R1-RN01 yang tampil elegan dengan desainnya yang dijuluki Japanese 916.

Bukan semata desainnya yang membuat pencinta motorsport hatinya meleleh, tetapi performa yang ditawarkan yang penuh dengan teknologi GP lah yang membuat motor ini begitu mendobrak. Siapa sih yang tidak mau memiliki motor dengan performa Superbike yang wara-wiri di WSBK dengan harga terjangkau???

Motor-motor WSBK saat itu masih 750 cc (4 Silinder) dan menghasilkan tenaga maximum sekitar 170 PS, sedangkan R1 generasi pertama hanya tertinggal sedikit, yakni 150 PS. Memang masih kalah 20 PS, tetapi muraaaaahh…. Bandingkan saja, motor WSBK itu hanya tahan digeber hingga 1 kali race, sedangkan R1 bisa tahan hingga 100 ribu Km tanpa masalah!

Dengan tenaga ala motor Superbike dan handling ala motor Supersport, R1 pun laris manis dan banyak membuat bikers lupa daratan, maksudnya benar-benar lupa daratan! Banyak pengendara R1 yang mengalami kecelakaan  highsider! Ini diakibatkan karakter motor yang berpower besar, bertorsi melimpah ruah, berbodi ringan, jarak roda pendek, tetapi suspensinya terlalu empuk! Tampaknya kestabilan R1 dengan rangka Deltabox II dari alumunium dan lengan ayun yang panjang plus peletakan mesin yang rendah, ditambah pembagian bobot sempurna, yakni 50-50 di ban depan dan belakang,  menawarkan kestabilan mantabs sehingga membuat bikers banyak yang lupa diri hingga mengalami kecelakaan itu.

Yang sangat layak dipuji pada R1 generasi pertama ini adalah mesinnya. Mesin yang bertorsi besar, bahkan untuk ukuran sekarang! Ini didapatkan dengan pengembangan mesin baru yang berkapasitas 998 cc DOHC dengan tenaga 150 PS (98 PS untuk pasar Jerman). Tenaga ini didapat dari mesin yang berteknologi 5 klep per silinder, dimana masing-masing silinder dilapis legit yang dipatenkan Yamaha hingga tahan gesekan. Bahan ringan untuk kepala silinder pun bisa dijumpai, yakni dari magnesium! Di sisi lainnya, setang piston juga diperkuat, tetapi bobotnya lebih ringan. Untuk membuat mesin lebih kompak, fly wheel dirancang cukup tinggi letaknya, ini meminimalisir juga beratnya putaran si “roda gendeng” akibat terendam oli!Motor yang sangat kompak dan ringan, yakni 65,3 Kg, lebih ringan dibandingkan generasi sebelumnya, yakni mesinnya YZF-1000R. Mesin pun dirancang kompak, hingga berukuran lebih pendek hingga 81 mm dibandingkan versi sebelumnya. Sistem EXUP baru pun membantu mendongkrak torsi maksimum R1! Tidak heran, bahkan hingga saat ini, akselerasi 0-100 Km/jam R1 terbaru adalah yang tercepat, yakni 3,1 detik, meninggalkan Superbike Jepang lainnya yang hanya menorehkan 3,2 detik.

Untuk berakselerasi dengan gigi tertinggi dari 50 ke 150 Km/jam, R1 perdana hanya tertinggal 0,3 detik dari R1 gress yang membutuhkan waktu 7,9 detik. Bagaimana jika RSV-4 diadu dengan si R1 perdana dalam soal kuat-kuatan torsi ini? Kalah Bro…kalah 1,7 detik! (Ingat, ini pakai gigi 6 lho…., artinya dari rpm extra rendah). Tidak heran motor singset berbobot 203 Kg ini begitu diminati.

Kembali lagi kita membahas motor Superbike awal 90an yang merupakan era Superbike favorit Blog Sesat. Melihat Superbike Honda yang satu ini tentunya langsung familiar, layaknya melihat RC30 dan RC 45 yang pernah kita bahas dulu. Berbeda dengan motor Superbike Honda yang berkode RC, motor CBR tidaklah semahal RC, karena komponen yang digunakan tidak seeksotis yang terpasang di motor-motor berkode RC.

Marilah kita lebih mengenal si CBR 900 RR (SC 28) yang memulai kariernya dari tahun 1992 dan berakhir hingga 1995. Motor yang satu ini merupakan motor massal yang cukup melegenda karena prestasinya membuat tonggak sejarah baru di arena permotoran. Sesuai judul, motor yang satu inilah yang membuat motor Superbike sekarang ramai-ramai fitnes dan diet hingga bobotnya lebih bersahabat dan asoy untuk “bersenang-senang”.

Motor yang untuk ukuran zaman sekarang terlihat gembrot inilah yang dulunya mengajak dengan paksa para jagoan pabrikan lain untuk berdiet. Dengan bobot full tank 207 Kg, motor ini sudah bisa dibilang luar biasa ringan di massa itu!

Dengan mesin 4 silinder berkapasitas tepatnya 893cc dengan tenaga 128 PS, motor kece ini harus bertarung dengan big bike pabrikan lain yang mendadak seakan-akan menjadi motor-motor penderita obesitas! Jagoan Honda ini bisa membungkam Gixxer 1100 W yang KO karena berbobot 259 KG serta Kawasaki ZZR 1100 yang lebih gembul dengan 271 Kg! Bagaimana dengan Yamaha FZR 1000 yang lebih enteng, yakni 242 KG? Kalah juga tuh dicincang si Fireblade!

Memang saat itu Honda sedang senang-senangnya membantai pabrikan lain, diawali dengan hadirnya CBR 600 F dengan power asli 100 PS yang membuat motor Supersport lawan menjadi “turun kelas”. Berbeda dengan kelas Supersport, di kelas Big Bike, CBR 900 RR bisa membantai dengan tenaga yang lebih kecil, tetapi bobot yang jauh lebih ringan plus handling yang lincah! Tidak heran, motor yang terbit 18 tahun lalu yang merupakan desain Tadao Baba ini menjadi legenda. Mereka-mereka yang kurang duit untuk menggebet RC30 dan RC 45 pun melirik CBR 900 RR original sebagai aset investasi yang menjanjikan!

Ada yang kurang sebenarnya kalau kita melihat motor sekarang yang jelas-jelas mengedepankan semboyan memperhatikan segi safety. Bandingkan dengan motor generasi sebelumnya, motor masa kini yang diedarkan ATPM semakin minim dengan penggunaan mata kucing alias reflektor. Kini, reflektor hanya dijumpai di bagian belakang motor saja, bahkan seringkali disatukan dengan rem belakang, misalnya yang ada di Suzuki Smash.

Di satu sisi, bisa dibilang ini sdikarenakan faktor desain modern yang lebih mengedepankan desain minimalis. Hadirnya mata kucing dianggap membuat penampilan motor terlalu ramai, atau malah bisa-bisa dibilang jadul! Seharusnya untuk urusan safety, mata kucing tidak cuma di belakang saja yang bisa memantulkan cahaya yang datang dari belakang kendaraan. Di buritan motor biasanya di sisi kanan dan kiri masih harus dipasang reflektor berwarna merah, sedangkan di bagian depan berwarna kuning layaknya lampu sen. Di motor keluaran AHM, setahu saya terakhir kali dipakai di varian GL Pro, padahal AHM sangat menggembor-gemborkan safety riding. Kok malah Minerva yang memperlengkapi motornya dengan reflektor kuning ini???

Mata kucing alias reflektor menurut saya sangat penting, dari pengalaman riding Bro sekalian, pasti sudah pernah menjumpai keadaan dimana si mata kucing menyelamatkan kita dari aksi “menyundul” kendaraan di depan kita saat malam hari dan minus penerangan lampu jalan. Di saat lampu rem mati, dan seringkali jarang langsung kita ketahui, bisa jadi tanpa kita sadari si mata kucing sudah menyelamatkan hidup kita.

Mengingat pentingnya reflektor, saya pun membeli paket murah meriah ini di Jerman, murah Bro, 18 buah hanya 1 Euro! Tiger hitam yang reflektornya sudah babak belur pun saya timpa dengan reflektor yang lebih besar, untuk melekatkannya, saya memanggil jasa solder of fortune, lumayan, kuat dan tidak perlu beli lem.

Reflektor Untuk Motor Baru

Lalu, bagaimana segi safety motor terbaru keluaran ATPM yang mencari peruntungan di tanah air? Di buritan, memang bukan permasalahan. Yang jadi permasalahan adalah kurangnya reflektor di kanan-kiri motor, di bagian depan dan belakang! Kalau produsen takut motornya terlihat jadul, sebenarnya ada cara lain. Bisa dengan penggunaan stripping atau sticker yang mengandung fosfor, ataupun emblem merk yang mengandung material yang bisa memantulkan cahaya itu! Dengan cara ini, motor masih bisa tampil minimalis, bahkan bisa lebih bergaya di malam hari tanpa mengesampingkan segi safetynya.

Foto: HP-Klassikku

 Kejadiannya sekitar beberapa minggu lalu. Ada rekan kerja yang kembali ke Jerman setelah 6 tahun bekerja di tanah air. Si Bule Gila yang satu ini (maklum Bro, naik motor bebeknya Jakarta Style!) minta keris sebagai kenang-kenangan.

Singkatnya seorang rekan kerja yang punya banyak  chanel mendatangkan dua orang pengrajin keris. Setelah bercakap-cakap sedikit, terpilihlah keris yang terfoto ini. Menurut si pengrajin yang juga distributor keris-keris “berisi”, keris yang asli keris ini harus dimandikan dengan air kembang, minimal setahun sekali dan setelah itu diolesi minyak khusus keris.

Keris tripamor (tiga corak berbeda) ini sayangnya tidak ada yang mau membawa pulang, sebab sebelumnya orang-orang di tempat kerja saya pada ngobrol yang mistis-mistis soal keris. Singkatnya, sayalah kebagian kerjaan yang orang lain pada nolak, biasa lah, namanya juga bawahan huhuhu…. Jadi, saya yang harus menyimpan keris Empu Nularin aka Empu Gondrong yang lumayan panjang dan berat ini selama sekitar seminggu, hingga pesta perpisahan si Bule gila itu tiba.

Keris itu pun saya taruh kamar saya, orang rumah pun tidak ada yang otak-atik, bahkan megang saja pada ogah. Suatu malam, saya sedang otak atik R 27 di kamar sebelah kamar saya(ditaruh di kamar, nggak punya garasi Bro huhuhu…). Kejadiannya sekitar jam 11 malam, ketika itu, orang rumah sudah pada tidur. Di gang pinggir rumah terdengar ada seorang Ibu rempuan yang dari suaranya sepertinya masih balita. Mendadak si ibu berujar “Subhanallah…Subhanallah…” dan si anak terdengar mulai berisak tangis. Tidak sampai 3 detik, lampu rumah saya mati. Saya lumayan bete, namanya lagi bongkar-bongkar motor. Sementara itu, suara si ibu dan anaknya masih terdengar, dan semakin menjauh dari samping rumah saya. Untung saja lampu hanya mati tidak sampai 10 detik. Nyokap keluar kamar karena terbangun karena AC mati akibat padamnya listrik. Nyokap bilang, “kok ada suara klotak-klotek dari kamar kamu?”

Saya sendiri sih tidak mendengar apa-apa, ada juga saya yang lagi bongkar-bongkar motor. Ada apa sebenarnya saat itu???? tau ah gelap….(mati lampu kan…).

Akhirnya dua hari sebelum keris diserahkan, keris kembali saya keluarkan dari sarungnya. Sial…karatan…. masa ngasih hadiah keris karatan… Tidak ambil pusing, saya keluarkan jurus saya sebagai dukun motor, yakni cairan anti karat dan sikat kawat…hasilnya, keris kembali terlihat fresh dan bahkan lebih mengkilap hihihi…

 Diantara motor-motor masa kini yang banyak mengandalkan bodi plastik, jenis bebek adalah jenis yang dari dulu paling mengandalkan jurus ini untuk membuatnya terlihat lebih gagah sekaligus cantik plus melindungi si pengendaranya dari cipratan air. Di satu sisi, plastik memang ringan dan murah sebagai bahan baku produksi, tetapi kelemahannya adalah mudah pecah, terlebih jika dudukannya dirancang tidak kokoh ataupun kurang presisi.

Si Smash 110 tahun 2002 di rumah keluarga Sesat adalah salah satu contohnya. Suatu hari si pemilik bilang ke saya, kalau bodi sampingya pecah sehabis saya pakai. Padahal itu motor saya pakai seharian dan tidak ditinggal-tinggal di parkiran ataupun kena benturan lain.

Setelah melihat artikel Blog Semprul Lek Djie, ternyata pecah bodi Smash sebelah kiri memang sudah jadi seperti penyakit bawaan. Menurut analisis saya, ini diakibatkan getaran yang berlebihan ketika melalui jalanan rusak, lubang, atau melalui polisi tidur terlalu cepat. Masalahnya, kunci jok ada di sebelah kiri bodi dan membebani bodi kiri Smash, sehingga pada masa jenuhnya, terbelah lah bodi kiri belakang Smash secara vertikal!

Adik saya, si pemilik motor minta dibelikan lem besi campur ataupun lem seperti power glue. Namun, saya teringat pada kehandalan Solder of Fortune. Menurut pengalaman, lem-lem tersebut tidak akan ampuh untuk jangka waktu yang panjang. Oleh karena itulah, Solder of Fortune saya paksa turun tangan.

Bodi belakang sebelah kiri yang hendak di solder dibersihkan terlebih dahulu, lalu berbekal cable ties ukuran besar, atau biar lebih hemat, pakai bekas potongannya saja, retakan ini bisa disambung hingga benar-benar kuat. Jadi, sebagai pengganti timah, saya gunakan cable ties yang saya pasang melintang layaknya jahitan. Dengan bantuan solder, potongan cable ties dilumerkan hingga menyatu dengan plastik bodi Smash. Setelah “jahitan melintang”, saya timpa lagi dengan cable ties yang saya pasang sepanjang retakan, kemudian saya lumerkan lagi hingga menyatu dengan bodi. Dari luar, tampak lumayan rapi dan seharusnya bisa lebih rapat. Di Smash ini terlihat kurang rapih, karena sempat didiamkan selama 2 minggu dan motor dipakai terus, akibatnya kerusakan bertambah parah.

Sudah 3 minggu sejak perbaikan, bodi hasil penanganan Solder of Fortune tetap kuat, walaupun Smash ini sering dipakai melewati jalanan rusak. Jadi, kalau bodi motor Bro mengalami masalah yang sama, gunakanlah cara ini! Waktu pengerjaannya relatif cepat (sekitar 10 menit) dan tidak perlu menunggu lama layaknya kalau menggunakan jasa lem.

Kesaksian Blog Semprul:

http://lekdjie.wordpress.com/2010/07/02/bebek-babak-belurdab/

Foto: HP-Klassikku

tersesat muter-muter

  • 1,739,962 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com