You are currently browsing the monthly archive for April 2010.

Weekend kemarin, salah seorang wartawan blog sesat berkesempatan mencicipi performa FZR 600. Moge tahun 90an awal bagi segenap karyawan kami merupakan moge favorit, mungkin karena di saat itulah para karyawan blog sesat mulai doyan motor.

Motor yang dikunjungi merupakan motor simpanan, kondisinya bisa dibilang sangat baik. Tahun pembuatan tepatnya tidak diketahui, tetapi saya perkirakan tahun 1992 kebawah (maklum, tanpa surat). Semua body masih mulus, mesin masih sangat halus, suspensi bekerja sempurna dan tidak ada bocor oli sedikitpun! Tidak heran juga sih, wong baru 13000 km-an… Motor memang bisa dibilang sangat menggiurkan, semuanya original, hanya knalpot saja yang sudah memakai Yoshimura.

Saat pertama menyalakan motor lumayan sulit, tidak mau dengan starter listrik, digas, ataupun dichoke, maklum, cukup lama bertapa. Selain itu, aki pun sudah lemah, dan utusan blog sesat lupa bawa aki. Merasa penasaran berat, akhirnya motorpun didorong daaaaann..hidup!!!!!!!!!!!

Raungan mesin in line 4 silinder bertenaga hampir 90 PS terdengar begitu lembut saat stasioner, memang moge-moge Yamaha bisa dibilang memiliki suara yang paling halus. Baru saat digas knalpot Yoshimura unjuk congor, itupun tetap merdu di telinga.

Soal tarikan, yah lumayan lah, masih sama dengan Tiger Hitam saya saat lagi ganas-ganasnya. Namun, itu di kecepatan rendah saja lho. Motor ini bisa dibilang cocok bagi pemula, gasnya lembut dan mudah dikontrol. Posisi duduk pun beda tipis dengan si Tiger hitam. FZR memang boleh dibilang rider friendly, baru naik langsung merasa akrab dan tidak ragu. Hanya saja, sebagaimana moge simpanan (yang sudah lamaaaa disimpan)lainnya, rem depan seakan tidak bekerja. Untung rem belakang masih bisa bekerja maksimal mengawal ban bertapak 160. Posisi duduk yang nyaman dan cocok dengan tinggi badan 170an memang sudah jadi point plus untuk dipakai sehari-hari, tetapi sudut putar motor ini sangat minim (apakah karena pembalap suka yang minim???). Untuk berputar di jalan yang muat dua mobil, motor masih harus maju mundur hingga 3 kali! Gak banget deh buat macet dan nyelip-nyelip di hehutanan kendaraan ibu kota.

Soal tampang, memang motor ini sangat membuat para karyawan blog sesat ngiler dan menangis sambil garuk-garuk tanah. Namun, begitu mendengar harga yang ditawarkan, kami langsung bisa manggut-manggut saja. Maklum 70 juta! Masalahnya tanpa surat, kalau ada, ya oke! Kalau buat simpenan saja dan memang sudah jatuh cinta, memang motor yang satu ini sangat ideal mengingat kondisinya yang sangat muyuuuuzzzzzzz…. Karyawan blog sesat pun hanya bisa berterimakasih atas kesempatannya dan sesantiasa berdoa, mudah-mudahan ada rezeki lebih buat meminang doi…. Lihat sendiri cantiknya pesona moge awal 90an:

Foto: HP-Klassikku

Masih ingat tulisan BMW K1 yang pernah ditayangkan di blog sesat ini? Banyak hal yang bisa melatarbelakangi, mengapa motor yang satu ini (nantinya-red) menjadi motor klassik. Sebut saja bentuknya yang tiada dua, produsennya yang ternama, teknologinya yang terbaik di zamannya dan dikembangkan di wind tunnel, terlebih lagi sebagai tonggak sejarah bagi BMW dalam menciptakan desain radikal.

Sepulangnya saya di Indonesia, ada beberapa unit K1 yang terpantau melalui media gaib (baca:internet) yang tersesat di Indonesia. Saya sendiri sempat “tersesat” dan secara tidak sengaja menjumpai 2 unit di 2 tempat berbeda. Keduanya bisa dibilang malah dalam kondisi sangat baik, maklum, keduanya berstatus simpanan. Boleh dibilang, hampir semuanya tak bersurat. Maklum, bisa jadi diambil untuk BMW-BMW anyar, wong bisa ngirit hingga ratusan juta hanya gara-gara surat! Tak pelak banyak K1 atau BMW tahun 80 dan 90an menjadi berstatus “yatim piatu” sehingga harganya jatuh. Soal K1, mumpung jatuh, gebet Bro…. Ingat saja, BMW R51/3 saja dulunya juga “dibuang-buang”, sekarang, silahkan cari deh yang kondisi bagus dan bersurat… Minimal harus pegang 150 juta! Minimal lho…. kalau dapat dibawah itu, artinya Ente dapat “harta karun”.

Okeh, nikmatilah penampilan K1 hasil jepretan HP-Klassikku:

Bangun pagi..bangun pagi, ga ada roti, ga ada kopi, ya okelah kalo begitu…inyong ke kantor, buka internet, eh di Yahoo ada artikel tentang penentangan film Cowboys Paradise…

Isinya memang dokumentasi tentang praktik Gigolo di Bali. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, dari 10 tahun lalu saja sudah penuh cerita tentangkerjaan yang kalau tidak kenal norma-norma ini dibilang kerjaan paling enyakenyakenyak…

Saat menyimak trailer singkatnya, ada adegan para gigolo ini sedang menikmati berkendara dengan si kuda besi. Tampak jelas ada satu unit Yamaha Mio, satu unit Honda Tiger dan satu unit Yamaha Jupiter Z Burung Hantu. Teori kalau Yamaha melakukan product placement disini terbantahkan dengan kehadiran sebuah Honda Tiger disitu. Profesi para gigolo pun bisa diperdebatkan, apakah akan mendongkrak si merk motor, atau malah menjatuhkan. Secara penampilan, pastinya bisa menjadi sarana pemasaran gratis. Namun, bisa jadi penampilan di film ini dijadikan bahan untuk ledek-ledekan: Gigolo, Yamaha motornya! dsb.nya.. Ledek-ledekan semacam inipun bisa diperdebatkan, apakah menurunkan popularitas, atau malah sebaliknya. Lihat saja di film-film Amerika Serikat, Harley yang digunakan untuk ugal-ugalan, tindak arogansi ataupun untuk sarana pelaksanaan tindak kejahatan justru menaikkan imagenya sebagai motor bad boys, orang “merdeka” atau orang berjiwa petualang.

Secara bisnis, bisa jadi wisata sex yang juga terkenal di Thailand ini mengundang banyak turis hadir ke bali. Apalagi kacaunya keadaan di Thailand yang terkenal juga menyediakan jasa yang satu itu, turut menambah tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke pulau tempat  cari duitnya Nunoe ini. Pertanyaan, apakah si Mio dijual oleh Nunoe karena alasan Mio dipakai gigolo memang tidak bisa terjawab sekarang, tunggu pemeriksaan tim ahli blog sesat dulu ya… Intinya, profesi yang diperanklan Richard Gere dalam film “American Gigolo” ini memang di satu sisi ditentang oleh masyarakat yang memegang kuat norma dan adat, tetapi di sisi lain sudah jelas terlihat di depan mata dan bisa jadi menjadi alasan utama sekian persen turis untuk memilih pulau Dewata untuk bersenang-senang. 

ttd. Arie Slight

The Indonesian Gilelo

Melanjutkan artikel “budidaya pembalap”, kita bahas soal kompetisi dan motor balapnya, sebab, banyak “bibit” tanpa adanya kompetisi dan motor yang tepat digunakan untuk berkompetisi sama saja bohong, sebab adanya motor balap yang tepat dan kompetisi yang baik dan terorganisir plus struktur penjenjangan yang jelas dan tidak mudah berubah-ubah bisa kita ibaratkan “kolam” yang baik untuk pembesaran “bibit” itu.

Soal motor, kita berkaca saja pada Jerman (maaf, kanalnya cuma Jerman-red) yang sebenarnya bukan negara yang banyak memiliki bikers. Namun, di sana, motor yang ditawarkan bisa dikategorikan “bebas dan tidak terbatas”. Artinya, mereka punya kolam untuk “bibit” yang masih kecil hingga bibit kelas kakap sekalipun. Bagaimana di Indonesia???? Ya, situ tahu sendiri lah, untuk kelas kakap, bisa dibilang extra terbatas dikarenakan harga dan pajaknya yang membuat kelas ini bisa dibilang nyaris kosong dari “bibit unggul”.

Bagaimana dengan kelas kecilnya? Tetap terbatas kan…. Bahkan motor bebek dan matic yang sejatinya buat alat transportasi semata pun dipaksa jadi motor balap, akibatnya: tuh motor pendek umur! Bibit terbitan motor semacam ini pun “tidak sesuai speknya” dengan motor-motor kompetisi balap internasional. Akibat negatif dari “penyalahgunaan” fungsi motor ini pun mudah terlihat imbasnya di jalan, banyak pengguna motor sejenis yang jadi sembalap, merasa motornya motor balap, kalau habis nonton GP bawa motornya langsung serasa bawa motor  MotoGP! Ini tidak lepas juga dari tersedianya part (katanya sih-red) racing untuk motor-motor yang “dikerjapaksaken” jadi motor balap.

Silahkan lihat foto teratas… Nah, di Jerman, anak bocah naiknya motor balap mini itu (Honda 50cc 2 tak bertenaga kalau tidak salah 5 PS). Bentuknya yang kecil sesuai dengan postur anak-anak yang dikoordinasi ADAC (IMI-nya Jerman) supaya belajar balap sedini mungkin. Itupun seingat saya baru boleh jika si bocah sudah menginjak 8-9 tahun. Nah, untuk anak seumur ini, sudah ada kompetisinya lho, sedangkan anak-anak Indonesia baru belajar muter-muter komplek yang sebenarnya ilegal dan berbahaya!

Nah di Indonesia, motor mini Honda semacam itu kan mahal, gimana dong????? Disinilah sebenarnya kita bisa bergerak bebas, modif saja motor bebek jadi motor mini! Soal mesin, standard saja! Sebab disini kita mau mencari bibit, bukan mau jualan part racing atau promosi bengkel. IMIlah yang seharusnya bisa mengorganisir kompetisi untuk anak-anak ini! Kompetisi ini tidak butuh trek besar, motor juga murah, jadi tinggal tunggu kemauan saja! Bahkan kalau kompetisinya sudah rapih dan berjalan, ini bisa jadi bisnis baru kan… Mobilers aja punya gokart!

Nah, di sebelah si Honda Mini, ada Aprilia RS 125 yang dipakai untuk terjun di sirkuit sesungguhnya. Dalam sebuah siaran TV Jerman, ada anak umur 11 tahun pun sudah boleh terjun di kelas ini (menggunakan motor ukuran standard-red). Kelas pemula ini pun dijaga kompetisinya. Motor yang digunakan hanya Aprilia RS 125. Tenaga maximum di kelas junior hanya boleh 35 PS di roda belakang. Berat pembalap plus motornya minimal 117 Kg dan suspensi hanya boleh yang standard, artinya tidak perlu sampai ganti banyak parts karbon ataupun velg extra ringan, jadi total biaya modif motor bisa dibilang sangat murah! Ban yang dipakai pun adalah Metzeler yang dipakai di jalan raya. Intinya, semua aturan ini membuat kompetisi berjalan fair dan murah. Pembalap bisa menang karena setting yang tepat dan kemampuan si pembalapnya sendiri! Tidak heran kompetisi sangat ramai, di seri IDM junior 125 cc sendiri diikuti 47 starter, bahkan 8 orang diantaranya cewe! Waktu ngubek-ngubek paddock, wow, pembalap cewenya imut-imut dan lutu-lutu hehe….

Untuk bisa menerjunkan pembalap belia yang masih berumur di bawah 17 tahun untuk langsung ikut GP 125, sistem kompetisi di Jerman pun mengakomodirnya. Oleh karena itu, ada kelas 125 cc yang bebas! Artinya, motornya bukan hanya Aprilia, bisa juga pakai dari produsen lain. Tenaga mesin dan part racing pun tidak dibatasi, jadi bisa lebih dari 50 PS plus kaki-kaki kelas wahid! Tidak heran kalau saat digelar GP 125, pembalap wild card tuan rumah bisa ikutan ngubek-ngubek di barisan tengah, tidak seperti di Indonesia yang istilahnya kalau tidak teroverlap sudah jago banget!

Nah, di Indonesia, memang motor Superbike tidak bisa didapat dengan harga murah, tetapi bukan berarti harus balapan bebek ataupun skutik saja. Terlepas dari minimnya fasilitas untuk menggelar balap motor sport (batangan) yang punya kecepatan lebih tinggi, kompetisi motor sport ini harus digalakkan. Kawasaki Ninja 2 tak dan 4 tak memang saat ini sebagai satu-satunya pilihan untuk menyelenggarakan balapan di kelas ini. Persetan dengan setan, urusan merk motor yang cuma itu saja. Yang kita butuh kan kompetisi balapnya dan motornya. Kalau pabrikan tidak mau turun ya lupakan saja, itu hak mereka, namanya juga orang dagang! Toh di luar sana terbukti di kelas capung yang terpakai hanya Aprilia…

Selanjutnya bicarakan regulasi. Minimal ya harus ada kelas standard dan FFA. Dengan kelas standard kita akan mendapatkan “bibit unggul”, di kelas FFA kita akan dapatkan mekanik dan bengkel unggul. Siapa tahu Indonesia jadi rajanya korek-mengorek Ninja 250 R dan jadi pusat pengembangan onderdil racingnya! Nah, kalau di kelas FFA ini nantinya yang menang yang itu-itu saja dan lebih diakibatkan faktor dana, baru deh dibuatkan regulasi tambahan.

Foto: HP-Klassikku

Berhubung saat ini para penggemar MotoGP lagi ketar-ketir menantikan MotoGP Jepang yang terombang-ambing efek meletusnya gunung di belahan utara bumi ini, blog sesat sekalian saja mengikuti musim “gunung meletus” kali ini.

Memang negara kita dan segenap rakyatnya sangat jarang bisa berprestasi di tingkat dunia dan diakui memberikan efek besar terhadap berbagai sendi kehidupan masyarakat internasional, tetapi alam kita sudah terbukti bisa bicara banyak di ajang internasional, bahkan sangat ditakuti. Nah, bagian alam manakah yang sangat ditakuti dunia internasional itu, apalagi kalau bukan gunung berapinya!

Bro tentunya tahu, kalau gunung Krakatau dengan letusannya membuat doi begitu terkenal. Nah ada lagi lho gunung yang lebih terkenal letusannya, yakni gunung Tambora yang nongol di muka bumi Indonesia, tepatnya di pulau Sumbawa. Letusan doi di tahun 1815 bahkan disebut-sebut, dalam periode yang tercatat manusia, sebagai letusan yang paling banyak minta korban jiwa, yakni lebih dari 70 ribu jiwa! Ada bahkan yang bilang lebih dari 90 ribu jiwa! Maklum kalau simpang siur, wong sekarang saja masih suka kesulitan menentukan jumlah korban sebuah bencana alam kan? Kedahsyatan letusan Tambora cukup legendaris, sebab bukan cuma bisa terdengar dari pulau Sumatera, tetapi abunya bisa membuat tahun itu menjadi tahun “bebas musim panas”! Akibat abunya, Eropa dan Amerika mengalami gagal panen, itulah sebabnya korban yang timbul begitu banyak.

Sesuai judul, yup, kita belum selesai. Apakah Bro baru mendengar sekarang adanya Gunung Toba? Kalau Danau Toba tahu dong…nah Gunung Toba itu ya posisinya di Danau Toba yang sekarang. Orang Jerman menjuluki gunung yang satu ini sebagai Supervulkan, atau ada yang bilang Megavulkan! Bagaimana tidak, wong kawahnya itu ya seluas danau Toba saat ini!

Jangan heran juga kalau Bro baru dengar istilah Gunung Toba sekarang, sebab penemuan ini memang masih relatif baru, baru beberapa tahun. Itupun akibat kerjasama tidak sengaja antara ahli geologi, kelautan dan seorang ahli yang meneliti lapisan es di kutub (utara kalau gak salah). Dari penelitian mereka, mereka sama-sama menemukan, bahwa sekitar 74000 tahun yang lalu, permukaan bumi mengalami perubahan suhu drastis, turun mendadak hingga 10 derajat celcius! Akibatnya, banyak makhluk hidup dan vegetasi yang punah.

Para ahli punya 2 dugaan, kalau tidak akibat abu yang timbul dari meteor atau asteroid raksasa yang menghantam bumi, ya dari letusan gunung berapi. Singkatnya, si ahli geologi ini yang berhasil meminta hasil penelitian si ahli yang meneliti tanah di dasar laut dan ahli yang ngubek-ngubek Kutub Utara. Saya lupa bagaimana ceritanya, tetapi sampailah ia di Danau Toba, dan setelah meneliti unsur tanah di sana, ternyata hasilnya cocok dan sama dengan zat yang terkandung di dalam sample tanah dari si ahli kelautan dan ahli kutub. Mereka bertiga tadinya meneliti sendiri-sendiri, tetapi akibta sama-sama menemukan angka 74000 tahun itu, maka bisa disimpulkan, penyebabnya sama: Letusan si Supervulkan Toba. Akibat letusan ini, saat itu diperkirakan populasi manusia tinggal 10 ribu orang saja!

Saat ini, Indonesia pun masih ditakuti dengan berbagai potensi gunung berapinya. Namun, kita masih boleh relatif tenang jika dibandingkan warga Amerika Serikat, sebab, potensi munculnya Supervulkan edisi kedua bukan di Indonesia, tetapi di taman nasional Yellow Stone di Amrik  sana. Btw, semua informasi ini saya tonton di TV Jerman sekitar 1 tahun lalu, eh pas nonton 2012, ternyata yang dipakai sebagai latar belakang permasalahan juga letusan gunung berapi ya… dan lebih tepat lagi si Yellow Stone.

Nyasar sedikit nih, kalau ditanya, kiamat itu akibat terkena tumbukan benda langit layaknya film Armagedon atau malah dari dalam perut bumi itu sendiri, sepertinya saya pilih dari perut bumi sendiri (ya berdasarkan pengetahuan pribadi yang sangat terbatas tentang gambaran kiamat di Al Quran sih…).

Sewaktu mau menjalankan hobi saya yang melihara ikan (murah, beli di perikanan di Ciganjur yang cuma 5 menit dari rumah, seplastik 10 ribu tuh hehehe), saya teringat pada dunia balap tanah air, terutama pada “pembudidayaannya”.

Kalau boleh dibilang, negara ini banyak menangnya dalam hal yang menyangkut kuantitas, tetapi kalau menyangkut kualitas???? Itu memang lain soal…. Secara bibit, wah banyak Bro kita punya bibit unggul, terbukti di berbagai kompetisi internasional di berbagai bidang atau disiplin ilmu, sudah cukup sering kita berbicara banyak, tidak jarang juga menghuni podium teratas!  Pahitnya, setelah si anak ini tumbuh dewasa, banyak yang “diambil” negara lain. Atau bisa jadi prestasinya tidak lagi luar biasa. Bisa jadi faktor terbesar yang mempengaruhi mereka adalah “kolamnya” alias “lingkungannya”. Tidak jarang kita mendengar, urusan fasilitas dan uang menjadi “kartu as” pihak-pihak yang seharusnya berwenang membesarkan “bibit-bibit unggul” kita, untuk membela diri mereka. 

Soal bibit, banyaaaaaaakkkkkkkkk……..Apakah bibitnya bibit unggul? Mana ketahuan kalau tidak dididik dan diberi kesempatan….. Mana bisa ada yang “jadi” kalau tidak “dipelihara” di “kolam” yang tepat. Menanggapi hal ini, departemen perikanan blog sesat akan mencoba memberikan ide-ide sesat cara “pembudidayaan pembalap” di beberapa artikel kedepan…

Foto: HP-Klassikku

Berhubung masih nyerempet-nyerempet dunia Sinetron, sekalian saja BLog Sesat ini mengangkat sebuah karya Sinetron Indonesia yang menurut hasil survey kami menjadi salah satu sinetron yang memiliki kualitas akting, pengambilan gambar dan editing ala layar lebar: Ali Topan. Tidak heran dengan kualitas Sinetron yang satu ini, disamping aktor-aktor kawakan yang berakting di sini, sutradara pun termasuk sutradara ternama yang terkenal dengan filmnya yang bikin para abg dag dig dug nontonnya: Pachinko! Yup, Si Harry Dagoe Suharyadi.

Sinetron yang dibintangi salah satu putra Papua terganteng abad ini, yakni Ari Sesat Sihasale memang sudah cukup lama ditayangkan, kalau tidak salah di akhir 90-an atau awal tahun 2000an. Jujur saja ada sedikit ikatan batin sama sinetron ini, maklum, zamannya saya SMA juga terkadang disebut Arie Topan cuma gara-gara  sama-sama naik motor.

Berbeda dengan film layar lebarnya, sinetron ini mempertontonkan Ali Topan yang naik Harley Davidson, bukan motor trail. Ali Topan versi sinetron ini cukup logis (tidak lebay-red) menggambarkan kejahatan gengster narkoba, ketidakharmonisan anak dengan bapak yang sibuk bisnis  dan tidak lepas dari kisah cinta si aktor utama. Soal akting, kalau bisa saya bilang, beginilah seharusnya sinetron Indonesia! Kalau mau maju, liriklah kembali ke belakang! Bikin sinteron yang berkualitas dan tidak selalu mengangkat gaya hedonistik dan abg juga bisa sukses kok! Coba kalau lihat sekarang, mayoritas memang mengalami kemunduran……..

Ki Gede Anue yang sudah lama tidak nongol di layar dunia maya mendadak menghubungi pihak redaksi blog sesat. Pria aneh ini tampaknya memahami perasaan para produsen motor yang tidak sekaliber produsen Jepang yang sanggup melakukan aksi marketing yang didukung dana yang besar. Para produsen kecil (dalam bahasa Jepangnya: Mashikere) tentunya bisa bebek belur dompetnya kalau mengikuti langkah marketing YMKI yang mensponsori pembuatan film bertaraf nasional dan dibintangi aktor-aktor tenar yang punya tuntutan upah tinggi (Kagamurah-red).

Ki Gede Anue berusaha menghibur para produsen Mashikere… menurutnya, bukan budget besar yang menentukan di sini, tetapi keefektifan strategi! Pertanyaannya, apakah film bioskop bisa memiliki daya jangkau yang luas? Lalu, apakah di filmnya itu sendiri motor si sponsor ditunjukkan tampil superior ataupun ditampilkan dahsyat layaknya langkah product placement Triumph di film MI:2 yang dibintangi Tom Cruise? Kalau cuma nongol biasa aja sih ya kaga ngepek! Rugi namanya, kalau dalam trik product placement, produknya sendiri tidak ditampilkan “wah”! Apalagi daya sebar film bioskop yang relatif terbatas dan tidak menjangkau masyarakat luas, celakanya lagi kalau target marketingnya sendiri malah tidak terjangkau!

Ki Gede Anue tidak hanya melempar wacana, doi juga memberikan solusi gaib: incar para produsen dan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan sinetron! Silahkan adakan pendekatan dengan orang-orang properti, karena mereka yang menyediakan kendaraan-kendaraan yang dipakai syuting! Pendekatan dengan cara ini tidak perlu dana besar, dijamin gak bebek belur! Syukur-syukurnya lagi kalau sinetron yang diproduksi digemari dan muncul di prime time! Syukur-syukur lagi kalau iklan cuplikan sinetron yang berkali-kali dimunculkan bisa memuat produk yang ingin “numpang lewat” itu! Lebih mantebs lagi kalau si Produsen bisa merayu tim pembuat sinetron, agar produk mereka bisa nongol selalu di tipa sinetron itu tayang, yakni dengan muncul di opening creditsnya! Apa ga kaya cuci otak tuh kalau kita melihat gambar yang itu-itu terus di sinetron yang tayang nyaris tiap hari?????? Cara ini terbukti di bidang musik kan…banyak kan grup band yang langsung melejit, karena lagu mereka digunakan sebagai theme song dan selalu dikumandangkan mengiringi opening credits sebuah sinetron?

Ki Gede Anue menunjuk Honda Win sebagai salah satu motor yang sukses melalui product placement di sinetron Si Doel Anak Sekolahan! Bayangkan, tuh motor masih aja famous kan? Tidak terlepas memang dari kualitasnya, tetapi image yang ditampilkan di Sinetron yang dalam dunia gaib blog sesat dinominasikan sebagai sinetron terbeken sepanjang sejarah persinetronan Indonesia ini sangat membantu dalam pemasaran Honda Win. Sampai saat ini pun motor ini sangat diburu!

Minggu lalu, seorang teman yang sudah jadi juragan bermaksud memboyong Honda Win untuk alat ngider-ngider anak buahnya di sebuah perkebunan seluas 12 hektar. (Doi sendiri bukan anak motor dan bisa dibilang minim mengenal dunia motor, tapi di kepalanya ada satu nama: Honda Win!).Begitu ada iklan langsung disamperin oleh supir yang dia utus. Laporan supirnya: ludes! Bahkan ada yang menjual 4,9 juta, dan tidak bisa turun sepeser pun. Bagaimana mau turun, wong yang ngelihat ngantri!

Saran Gaib by Ki Gede Anue

Ni ada blog yang bahas Honda Win:

http://hondawin100.blogspot.com/2009/09/honda-win-100-cc.html

tersesat muter-muter

  • 1,786,402 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com