You are currently browsing the monthly archive for Juni 2009.

Kalau Bro rajin baca hasil test ride media-media yang valid dan tidak doyan melebih-lebihkan, Bro pasti tahu karakter spidometer motor. Yup, doyan korupsi…. Dari motor bebek hingga kelas superbike pun, spidometernya sama saja, sama-sama doyan korupsi. Bedanya, kalau di kelas superbike di spidometer tertulis 300 Km/jam tetapi aslinya hanya sekitar 295 Km/jam, maka di motor-motor yang lumrah beredar di Indonesia, yakni bebek dan skubek, korupsinya termasuk gila-gilaan. Kecepatan yang sesungguhnya hanya sekitar 90 Km/jam bisa tertera sekitar 110 Km/jam di spidometer.

Kenapa sih spidometer doyan korupsi? Katanya sih supaya yang bawa motor takut dan segera mengendurkan tali gas kalau spidometer menunjukkan kecepatan tinggi…. Apakah benar demikian? Bukannya kalau spidometer menunjukkan kecepatan diatas 100 Km/jam maka si pengendaranya malah terpancing untuk menggeber kendaraannya lebih cepat lagi? Bahkan tidak jarang semakin menguatkan niat mengorek motor. Ini saya pertanyakan, sebab korupsi spidometer di motor kelas bebek ataupun skubek tampak terlalu parah…

Namun, sepertinya korupsi semacam ini akan terus berlangsung, apalagi untuk pasar motor Indonesia. Bukan apa-apa, kan di negara kita, motor yang top speednya tinggi akan dibilang bagus dan canggih. Nah, hal ini tentunya dapat mendongkrak penjualan dong… Misalkan ada motor bebek A yang di spidometernya tembus 120 Km/jam (padahal bohong) dan motor bebek B tembus hanya 105 Km/jam (mencoba jujur). Kalau kita anggap kedua motor bebek ini diproduksi 2 produsen yang secara goodwill seimbang dan secara desain, fitur dan harga beda-beda tipis, nah tentunya faktor top speed ini yang dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan akhir kan…

Jadi, wajar saja kalau tradisi korup di spidometer motor-motor kelas ringan di Indonesia merajalela, dan kemungkinan besar akan terus berlangsung, wong produsennya malah untung kok… Jadi, apakah hidup Bro sebagai bikers benar-benar bebas dari kesesatan? Wong spidometernya pada sesat semua kok…..

Foto: HP-Klassikku
Iklan
Buat Bro yang sudah lumayan banyak pengalaman berkendara, tentunya setuju dengan pendapat yang satu ini, yakni ragu pangkal celaka. Banyak sudah kecelakaan yang terjadi karena adanya keragu-raguan seseorang pengguna jalan yang menyebabkan malapetaka, bukan hanya pada dirinya, tetapi juga orang lain yang menjadi korban. Sebut saja contohnya kalau ada kendaraan yang ragu-ragu mau belok atau tidak, mau berhenti atau tidak, atau mau memotong jalan atau tidak. Semua hal itu membuat pengendara jalan lainnya ikut menjadi ragu dan terganggu ritme berkendaranya.

Contoh lain yang sering kita alami adalah saat berhenti di lampu merah. Banyak pengendara yang tambah tancap gas dikala lampu kuning bersinar, hal ini membuat pengendara yang tahu dan taat aturan pun tertimpa keraguan. Jika mereka membiasakan diri mengurangi kecepatan dan berhenti, maka pengendara yang kebiasaan tancap gas terus berisiko menimbulkan kecelakaan. Bukan hanya terhadap pengendara lain yang haknya mendapat lampu hijau dimakan, tetapi juga terhadap pengendara dari jalur yang sama.

Saya pribadi termasuk orang yang taat lalu lintas (bukan berarti tidak pernah melanggar lho…). Namun, ada pengalaman yang membuat saya terkadang berpikir dua kali untuk taat lalu lintas. Misalnya dalam urusan berusaha berhenti di lampu merah saat lampu kuning sudah menyala. Sebab, saya penah punya pengalaman ditabrak dari belakang. Dan yang nabrak adalah truk 3/4! Tidak ada terdengar tanda-tanda truk itu berusaha mengerem, tiba-tiba saja terdengar dentuman dahsyat. Untung saat itu naik mobil! Bayangkan, pintu belakang mobil sampai tidak bisa terbuka, dan ban belakang mobil susah berputar karena tergencet body mobil. Apa jadinya kalau naik motor?????

Oleh karena itu, jika mengalami keragu-raguan saat hendak berhenti di lampu merah, sebaiknya tancap gas saja Bro…. (sesatnya kumat nih hehe….). Daripada keseruduk dari belakang, mendingan sedikit melanggar kan???? Namun, memang situasi serba salah seperti ini sebaiknya kita hindari, sebab tetap tancap gas pun berbahaya. Bukannya takut tertabrak kendaraan yang berhak jalan, biasanya tidak akan kejadian, sebab lampu hijau tidak langsung menyala setelah lampu merah dari arah yang dihentikan menyala. Namun, perlu diwaspadai, banyak oknum yang suka mencuri start. Tidak hanya itu, Pak Pulisi tentunya tersenyum kalau, Bro menuju kearahnya…..

Oleh karena itu, selalu pantau kendaraan di belakang Bro sesaat sebelum memasuki kawasan lampu merah! Ini penting untuk meminimalisir risiko terseruduk dari belakang jika kita memilih berhenti karena taat aturan. Namun, sepandai-pandainya kita ada saja faktor perusak. Misalnya ketika jam pulang kantor. Saya sadar kalau akan melalui lampu merah. Namun, akibat jarak kendaraan yang terlalu padat dan silaunya pantulan lampu di kaca spion, saya tidak bisa memantau kendaraan dibelakang, dan saya memutuskan tetap tancap gas (takut keseruduk Bro…). Dan ternyata yang menerobos lampu merah hanya saya dan sebuah Daihatsu Taruna. Dan datanglah pak Pulisi yang berdiri di trotoar menghentikan kami berdua. Berhubung saya lagi bokek dan lagi naik si gesit irit yang lebih gesit tetapi tidak terlalu irit lagi akibat saya tune up, saya memutuskan kaboooooooorrrrrrr menerobos padatnya lalulintas Mampang hehe… (Kan si Pak Pulisi sudah dapat Taruna, kalau saya diikhlaskan saja ya Pak….).

Memang aturan lalu lintas kita yang bisa ditawar-tawar menimbulkan dilema tersendiri. Kalau saja aturan diberlakukan ketat tanpa tawar-tawaran dengan oknum kepolisian, semestinya semua orang mengurangi laju kendaraannya saat lampu kuning menyala. Di negara-negara maju Eropa sendiri, aturan lalu lintas diberlakukan ketat, sebab pelanggaran lalu lintas dapat menghilangkan nyawa orang lain. Ketegasan ini tercermin dari tingginya denda yang harus dibayar jika menerobos lampu merah. Contohnya di Norwegia, penerobos lampu merah harus membayar denda sebesar 590 Euro! Di Yunani bahkan tercatat sebagai denda paling mengerikan. Seseorang yang menerobos lampu merah di Yunani harus membayar denda sebesar 700 Euro saja……

Foto: HP-Klassikku

Masih ingat dengan Alex Hofmann? Masih dong… Kan pada tahun 2004-2005 dia bernaung di bawah tim MotoGP Kawasaki dan di tahun 2006 doi menggeber motor tim Ducati Pramac d’Antin.
Memang prestsasinya tergolong biasa saja, tetapi sebenarnya bisa dibilang bagus, mengingat motor-motor yang dikendarainya di ajang MotoGP saat itu memang bukan motor juara. Di kalangan pencinta MotoGP Indonesia sendiri, kemungkinan besar tidak ada yang menjadi fans Alex Hofmann, kalaupun ada, mungkin masih kehitung jari kali ye…
Saya juga sebelumnya tidak pernah ngefans sama Alex Hofmann. Namun, setelah melihat kiprahnya sebagai komentator dan host acara siaran langsung MotoGP di DSF, sedikit demi sedikit saya mulai ngefans juga, bukan sama kiprah balapnya, tetapi pada kemampuannya sebagai komentator, campur pemandu acara, campur wartawan, campur pembalap tester! Yoi, semua kerjaan itu dia borong!
Sebagai seorang mantan pembalap MotoGP, doi dengan mudah mewawancarai para pembalap di berbagai kelas. Hasilnya: top banget…. Beda dong kalau yang mewawancara seorang pembalap, tentunya pembalap yang diwawancarapun memberikan keterangan yang lebih berbobot. Sebagai pemirsa pun, saya banyak mendapat info dibelakang layar yang tidak akan keluar, seandainya si pewawancara hanya wartawan olahraga biasa.
Untuk mengorek informasi dari pembalap dan orang-orang penting di MotoGP, seorang pewawancara tidak hanya dituntut pandai berkomunikasi dan supel. Kemampuan berbahasa asing disini menjadi modal besar. Dan hal ini dikuasai Alex Hofmann. Doi bukan hanya lancar berbahasa inggris, tetapi juga bahasa Spanyol dan Italia! Ini merupakan faktor penting, terutama untuk mewawancarai pembalap kelas 125 cc yang rata-rata masih muda dan banyak yang tidak bisa aktiv berbahasa Inggris. Mungkin ada yang bisa berbahasa Inggris, tetapi perlu dipikirkan, informasi yang keluar dalam bahasa Inggris tentunya tidak selengkap dengan informasi yang dipaparkan dalam bahasa ibu si pembalap kan…. Nah, tampak kehebatan Hofmann disini sebagai seorang pewawancara, pembalap dan penerjemah.
Sepak Terjang Aprilia
Lho kok berubah judul, apa hubungannya dengan Alex Hofmann????? Ada Bro… ada bangeeeet! Masih ingat misteri joki Aprilia RSV-4 sebelum penyelenggaraan WSBK awal musim ini? Saat itu baru Max Biaggi yang dipastikan berduel untuk Aprilia, sedangkan joki satunya lagi belum dipastikan. Sebenarnya Aprilia menawarkan posisi ini kepada Alex Hofmann. Namun, Hofmann menolak dengan alasan dirinya masih belum 100% fit dari cedera. Hofmann sendiri mendapat tawaran ini bukan tanpa alasan jelas, tetapi karena dia joki tester yang paling berperan mengembangkan RSV-4. Hasil kerja Hofmann dan Aprilia memang berbuah manis, bahkan kalau tidak terjadi gangguan teknis, di Donington Park kemarin, Biaggi bisa jadi menyalip Spies disaat-saat terakhir. Dari racing line, terlihat Aprilia bisa lebih singkat memotong tikungan dibandingkan Yamaha. Dari tenaga pun, RSV-4 tidak kalah, hanya saja faktor umur Biaggi tidak bisa berbohong, apalagi kalau harus duel melawan Spies yang secara teknis top abies dan dalam usia jaya.
Kembali ke Hofmann…. Akibat ditolaknya lamaran Aprilia ini, Nakano pun mendapatkan berkah. Pembalap jepang ini berkesempatan menggeber Aprilia RSV-4 yang di tahun pertamanya terbilang sangat kompetitif. Bahkan klasemen saat ini memperlihatkan, Aprilia bertengger di atas Suzuki! Tampaknya Suzuki tanpa Neukirchner benar-benar ompong! Dengar-dengar kabar, Neukircher sendiri ingin segera turun di seri Brno… kita lihat saja, mudah-mudahan benar, sebab saat ini kompetisi WSBK terlihat mulai kurang greget dengan terlalu dominannya Spies. Haga yang terkesan main aman pun tampaknya harus mengubah strategi, maklum sekarang cuma terpaut belasan point akibat jatuhnya doi kemarin.
Dalam setiap siaran MotoGP, Hofmann yang masih dipercaya Aprilia mengembangkan RSV-4, menggeber motor ini di setiap lintasan yang digunakan! Doi mengitari sirkuit sambil memberikan komentar cara menaklukkan sirkuit dan memberikan tips-tips menaklukkan tikungan sirkuit-sirkuit tertentu. Performa RSV-4 pun terlihat lumayan menggiurkan. Di Mugello lalu, Hofmann menggeber motor gress ini hingga “hanya” 290 Km/jam, kalah 40-50 Km/jam dari motor-motor MotoGP.
Ini lucu lho… kan yang jadi sponsor siaran langsung MotoGP Suzuki Jerman…. Nah kok yang melakukan product placement malah Aprilia???? Aprilia sendiri berniat menurunkan minimal 4 motor untuk menggempur WSBK tahun depan. Niat ini bisa dimaklumi, dan memang harus dilakukan, sebab ladang emas mereka, yakni kelas 250 cc 2 tak akan digantikan Moto2 yang keseluruhan mesinnya disuplai Honda. Lagipula, bukankah motor yang bisa dimiliki umum adalah motor-motor yang berlaga di ajang WSBK? Jadi, jangan heran jika tahun depan Aprilia bisa merajalela di WSBK. Mungkin, Hofmann pun kembali turun balap di WSBK…
Foto:HP-Klassikku

Hari Rabu kemarin, saat hendak sholat Dzuhur berjamaah, mendadak bel mesjid berbunyi. Tidak normal, sebab kalau mau masuk mesjid ya tinggal masuk saja. Rupanya ada beberapa orang yang datang memberitahukan, kalau hari Rabu depan akan ada demonstarsi menentang keberadaan Islamisches Zentrum Jena. Namanya sih Pusat Islam Jena, tetapi isinya hanya seperti mesjid biasa kok. Bahkan kalau melihat keseluruhan ukuran ruangan, mungkin di Indonesia lebih dikatakan Musholah. Lihat saja fotonya, hanya ada ruangan tempat sholat, ruang serbaguna (biasanya dipakai belajar, atau kalau ngantuk saya suka tidur disini hehe…), dapur dan tempat wudhu dan toilet, totalnya menurut perkiraan saya tidak lebih dari 150 M persegi.
Setiap hari sepertinya tidak lebih dari 20 orang yang datang kesini, dan semuanya laki-laki lho, entah perempuannya pada kemana. Kebanyakan mahasiswi muslim sampai kesini seperti kehilangan jati diri, menyedihkan! Atau memang begitu sistemnya ya? Saya tidak tahu deh… Singkatnya, apanya yang mau didemo? Aktivitas saja nyaris tidak ada, paling Jum’atan. Istilahnya, sama seperti mesjid-mesjid di Indonesia yang sebatas menyediakan tempat sholat saja kok..
Kembali ke masalah demonstrasi! Siapa yang mau demo menentang kami? Siapa lagi kalau bukan NPD! Apa itu??? Itu partai kanan Bro… Kalau disini, partai kanan itu ya partai yang isinya menentang kehadiran orang asing ataupun segala sesuatu yang dinilai asing. Singkat kata, ini partainya neonazi! Kok Masih ada neonazi????? Bingung kan? Kenapa tidak dilarang? Padahal simbol-simbol Nazi menjadi sesuatu yang tabu dan dilarang disini… Itulah sisi lemah demokrasi… Kan semua orang bebas berpikir dan berpendapat! Asal tahu saja, ada kelompok di bawah partai ini yang beraliran radikal, cirinya: kepala Botak! Namun, bukan berarti orang Jerman yang plontos pasti neonazi ya…. Ciri lain mereka sebenarnya ada, tetapi tidak penting lah…
Kerjaan orang-orang ini memang meneror orang-orang asing, entah di jalan atau di kendaraan umum. Kalau ramai, biasanya sih sebatas mencibir, manas-manasin atau mengancung-ancungkan jari tengah. Saya juga pernah mengalami, dan rasanya pingin banget saya melakukan mal praktek, dengkul sama sikut gatel bgt deh! Mungkin saya kalah, tetapi paling tidak ada perlawanan kan… Namun, kalau ingat urusan hukum dan tanggung jawab, saya kuat-kuatin sajalah..
Aksi neonazi tidak sebatas itu, seringkali mereka menyerang kelompok kiri, nah bentuk kelompok kiri yang paling extrem ya anak punk hehe… Jadi kita temannya punkers dan musuhnya skinheads! Kejahatan geng botak ini kadang menimbulkan korban jiwa juga lho… Mereka pernah juga beberapa kali melakukan aksi membakar rumah orang Turki, yang di Jerman merupakan mayoritas orang asing, sebab usai PD-II mereka diundang sebagai pekerja tamu.
Media Jerman sendiri dan kepolisian terlihat segan mengangkat tema neonazi. Misalnya, saat ada kasus kebakaran dan ada kesengajaan, maka disebut sebatas ada kesengajaan, tetapi tidak disebutkan itu ulah neonazi! atau, saat ada bentrok penggemar bola antara penggemar FC St.Pauli melawan penggemar Hansa Rostock, maka hanya dibilang bentrok antar penggemar bola. Padahal penggemar Hansa Rostock itu beraliran kanan alias neonazi, sedangkan fans FC.St Pauli satu-satunya fans yang beraliran kiri. Dan asal tahu saja, penyerangan itu pun sudah direncanakan. Seperti biasa, mereka pun mengundang anggota neonazi dari kota lain untuk memperkuat aksinya. Bahkan saat ajang Piala Dunia antara Jerman vs. Turki, seusai pertandingan di kota Dresden terjadi kericuhan. 40 kedai doner kebab dihancurkan oleh neonazi! Dan saya mendapat kesan, media menyembunyikan hal semacam ini, maklum saja, aib!
Bagaimana dengan polisi sendiri? Kira-kira akhir tahun kemarin, seorang kepala polisi kota Passau kalau tidak salah, ditikam di rumahnya sendiri! Jangan membayangkan rumah doi dijaga kaya petinggi polisi Indonesia ya, di sini Polisi berpangkat tinggi tidak seperti di Indonesia yang bisa hidup enak (setorannya kenceng Bro….). Si Polisi ini ditikam, akibat doi berani merampas bendera Nazi saat pemakaman salah seorang anggota senior neonazi! ingat, simbol-simbol Nazi disini dilarang! Sampai sekarang pun, setahu saya, pelakunya belum tertangkap. Payah juga ya polisi sini…
Apakah yang akan terjadi Rabu depan pukul 09.00 di depan mesjid Jena??? Insyaallah kami juga akan bereaksi. rencananya kami akan membuat open house pada saat NPD berdemonstrasi nanti. Hingga saat ini, sudah ada pihak-pihak yang siap membantu kami kaum minoritas. Para mahasiswa, aktivis perempuan, gereja, pemerintah kota dan kaum kiri pun menentang aksi NPD ini. Hari selasa depan rencananya pak walikota akan berkunjung bersama pers ke mesjid.
Saya berharap tidak ada terjadi insiden-insiden kekerasan. Pastinya sih neonazi akan melakukan provokasi-provokasi, ya seperti biasa lah… Jam demo yang pukul 9 pagi di hari kerja juga menunjukkan, siapa mereka: pengangguran! Neonazi hanyalah sekumpulan orang prustasi berideologi sempit… Yang buat Jerman maju bukan mereka kok, tapi mereka membangga-banggakan Jerman berlebihan. Memang mereka mendapat angin dengan adanya krisis ekonomi seperti sekarang ini. Namun, show must go on kan…. teman-teman Jerman kami juga banyak kok, dan mereka bersedia mendukung dan menunjukkan, kalau Jerman terbuka pada kebudayaan asing.
Namun, saya pribadi deg-degan juga sih… Neonazi gitu lho… risiko bentrok cukup besar, walaupun aksi ini dikawal pihak kepolisian. Belum lagi pasca demo, biasanya neonazi masih berkeliaran di kota dan bikin rusak suasana… Hmmm tampaknya saya harus bersiap-siap menghadapi skenario buruk…
Oke Bro, doakan semuanya lancar dan damai ya… Saya mau latihan Taekwondo dulu… mau ngasah kapak merah dulu… mau mandiin kapak naga geni 212 dan keris Mpu Nularin plus keris Mpu Gondrong dulu, dan tentunya melatih jurus langkah seribu yang merupakan jurus andalan saya.. wuuuuuuuuuzzzzzzzzz……..





Kalau Bro kenal BMW R25 Series, R26 dan R27, maka Bro tentunya bisa membedakan BMW-BMW oldtimer tersebut dengan abang-abangnya ini, si R20 dan R23. Sepintas memang mirip, tetapi kalau diperhatikan, banyak juga lho perbedaannya. Memang yang terlihat di foto tidak ada yang mulus, maklum saja, usia tidak bisa bohong! Jika BMW R25-R27 lahir tahun 50an, maka abang-abangnya ini lahir sebelum Perang Dunia ke-2, jadi, bisa tampil utuh pun sudah baguuuusss….

Kita mulai dari R20 ya… Pada tahun 1936, BMW merasa program motor satu silindernya–yakni R2, R3 dan R4 yang menggunakan rangka dari baja tempa dan sok depan model per daun dan masih menggunakan tongkat untuk memindahkan gigi dengan tangan–sudah terlalu kuno dan harus dilengserkan.

Pada tahun 1937, BMW memperkenalkan R35 untuk menggantikan R4. R2 pun ikut dilengserkan dengan model baru berkapasitas 200 cc, yakni si R20. R20 termasuk motor yang secara optis dan teknis sangat modern untuk saat itu. Tidak heran, R20 menjadi motor paling digemari dan diimpi-impikan untuk kelas 200 cc pada masa itu.

Motor yang hadir di pameran ini lahir tanggal 26 Januari 1938! Nah, bisa jadi lebih tua dari Kakek-Nenek kita kan? R-20 sendiri hanya diproduksi dalam jangka waktu yang singkat, yakni dari tahun 1937 hingga 1938 saja. Motor yang jumlahnya hanya sekitar 5000 unit ini memiliki kapasitas mesin tepatnya 192 cc. Mesin ini mampu menghasilkan tenaga 8 PS @ 5400 rpm. Top speed BMW antik ini cukup lumayan, yakni 95 Km/jam, setara Suzuki Address 125 tuh…

Pada tahun 1938, bebas SIM untuk mengendarai motor berkapasitas hingga 200 cc dan pajak untuk motor berkapasitas yang sama dihapuskan. Sebagai gantinya, diberlakukan SIM untuk mengendarai motor hingga kapasitas 250 cc. BMW pun bereaksi cepat, mereka menelurkan R23! R23 sebenarnya hanya mesin R20 yang di bore up 8 mm. Suspensi R20 yang baru saja diperkenalkan tidak mengalami perubahan. Sistem kelistrikan dan 3 tingkat percepatan R20 pun dibiarkan seperti yang dulu, hanya saklar-saklar di setang yang diseragamkan dengan seri lainnya.

Motor yang dipajang di pameran kali ini lahir pada 01 Agustus 1939, wow…. Pernah terpikir, motor-motor saat ini dengan kualitas besi masakan bisa bertahan berapa lama??? Kita kembali ke R23! Motor yang kini berkapasitas 247 cc sanggup mengeluarkan tenaga lebih tentunya, yakni 10 PS @5400 rpm, sayang top speednya tidak bertambah. Sepeda motor yang mungkin memiliki kekuatan gaib saking antiknya inipun hanya diproduksi singkat, yakni 1938-1940, Hmmm mungkin karena PD II ya… BMW sendiri hanya memproduksi R23 sebanyak 9000 unit saja. Apakah R20 dan R23 ada yang nyasar ke Indonesia?????? Ijk rela lho dihibahkan hihihi….

Foto: HP-Klassikku
Sumber: yang punya motor

Suatu hari sekitar 3 tahun lalu saya main ke rumah seorang teman. Dia bercerita, kalau hari itu dia melihat seorang cewe pengendara Mio terjatuh karena setangnya kesamber RX-King yang sok-sokan. Bukannya bertanggung jawab, sang pengendara malah menggeber motornya dan kabur……..
Minggu depannya saya kerumah teman saya yang sama, dan kali ini dia yang jadi korban. Motor Vega R birunya yang belum satu tahun rusak sayapnya plus kerusakan minor lainnya. Teman saya sendiri hanya menderita beset dan keseleo, tetapi sakit hati dong, motor masih baru gitu lo… Yup, teman saya juga kesamber RX-King yang zig zag dengan belagunya, dan si RX-King pun melarikan diri…… Mendengar cerita ini, saya tidak kaget, karena:

Pada sekitar tahun 2002 di daerah dekat stasiun Tanjung Barat, saya menyaksikan sendiri di depan mata, sebuah RX-King selepas lampu merah menyodok kanan kiri dengan sembalapnya untuk tampil terdepan dan geber gas seenaknya. Bro yang kenal daerah ini pasti tau, jalanan di sekitar stasiun ke arah Depok di pagi hari memang lengang dan luas dan panjang, sip banget deh buat ngetes motor.

Dari suara mesin dan larinya, tampak si RX-King memang sudah korekan dengan knalpot standard bobok. Dan, kali ini yang kesenggol seorang anak SMA dengan motor bebeknya. Anak SMA itu terjatuh, untung kecepatan selepas lampu merah masih di gigi satu, masih pelan lah… Saya pikir, saya mau tolong dengan menghentikan si Tiger Hitam di tengah jalan supaya tidak tersambar kendaraan dari belakang. Namun, tampaknya pengendara lain ada yang bersedia membantunya. Di saat bersamaan, pengendara King yang berhelm cetok dengan tampang katronya melihat ke belakang dan memilih kaboooooooorrrrr….. Wong jalanan besar kosong melompong, RX-King korek pastinya mudah untuk melesat.

Saya yang sekitar 10 meter di belakang pengendara King sableng itu pun langsung ikutan tancap gas… dalam hati, enak aja nih orang seenak jidat maen kabur… Saya sih pede sekali ngejar RX-King spek korek harian. Kalau cuma korek karburator dan knalpot bobokan saja sih, dia ga bakal lepas… Maklum, settingan si Tiger Hitam di zaman jahiliyah dulu lumayan asoy, dipakai boncengan pun masih keuber itu RX-King kelas korek kampungan.

Singkatnya selepas stasiun saya sudah di samping kanan si pengendara RX-King gebleg itu… Merasa motornya tidak bisa kabur lagi, dia hanya bisa tetap tancap gas dengan tampang serba salah kadang nengok ke kiri takut saya pelototin (dan dalam hati pasti ciut banget tuh ketangkep, plus malu berat kalo RX-King ketangkep Tiger yang terkenal pelan). Dalam hati, mau saya apain ini orang ya, mau ditendang apa disenggol aja setangnya. Berdasarkan pengalaman zaman jahilliyah dulu, kalau adu senggol-senggolan setang, Tiger kemungkinan besar menang lawan RX-King ataupun Ninja 150.

Akhirnya saya pelototin saja tuh orang beberapa saat, sebab kalau saya senggol dan dia jatuh, kecil sekali kemungkinan helm cetok selamat dari kecepatan sekitar 120 Km/ jam… (pake Tiger standard juga keuber kok… korekannya cupu!). Saya pikir, kalau dia mati, ada gantian saya yang kabur, ataupun kalau saya berhentikan, saya juga tidak ada wewenang untuk menghakimi dia. Akhirnya saya tancap gas setelah bikin dia salah tingkah beberapa saat, saya pilih ngampus saja dibandingkan mengotori tangan mengurus biker yang bikin rusak nama bikers.
Nah berdasarkan dari kejadian yang saya alami, apakah saya berhak mengatakan seluruh pengandara RX-King pelaku tabrak lari? Apakah saya berhak mencap dan menggeneralisasi seluruh pengendara RX-King tukang ugal-ugalan? Jika ya, generalisasi itulah yang dinamakan stereotip.
Kenapa bisa ada stereotip? Mudah saja: Dunia itu terlalu kompleks! Otak kita tidak sanggup menyimpan informasi hingga mendetail. Oleh karena itu, informasi itu disederhanakan dan disimpan di otak sebagai Schemata. Informasi ini sifatnya prototip, artinya ada gambaran yang mewakili hal kompleks yang digambarkan. Stereotip sifatnya pun tidak lepas dari emosi kita sebagai manusia yang memperoleh gambaran stereotip itu dari hal-hal yang kita alami, kita baca, kita dengar atau kita peroleh dari sumber-sumber lain.
Di dunia bikers, ada beberapa stereotip yang umum, misalnya: RX-King motor jambret, Kawasaki warnanya hijau, Ducati warnanya merah, Harley Davidson penindas dan egois, Tiger jadul dan pelan, Yamaha boros, Honda awet dan sebagainya. Nah, apakah semua pendapat ini benar??? Sebagai bikers yang berilmu dan sudah punya pengalaman, kita bisa bilang Tidak! Tidak bukan berarti tidak benar semua atau tidak salah semua lho… Misalnya, Kawasaki ada yang memiliki warna lain selain hijau kan? Bukankah jauh lebih banyak RX-King yang dipakai mencari nafkah di jalan yang halal? Bukankah banyak yang protes kalau dibilang semua Yamaha boros? Bukankah ada kasus yang mengatakan Honda tidak awet?
Atau stereotip yang lebih besar cakupannya… misalnya: motor tidak tahu aturan, angkot bikin macet, orang Indonesia suka jiplak, orang Indonesia mental orang terjajah, orang Islam teroris dan sebagainya… Panas juga kan kalau ada orang yang koar-koar seperti itu? Pertanyaannya, apakah kita sendiri pernah terjebak pada stereotip? Sukar untuk mengatakan kalau kita tidak pernah menggunakan stereotip kan… Itu wajar kok, ingat, otak kita memang otomatis menciptakan stereotip itu. Stereotip berguna untuk memberikan orientasi, jadi tidak selalu negatif kan…
Namun, ketika kita tidak bisa lepas dari stereotip dan bersikeras stereotip itu berlaku untuk semua, maka sangatlah berbahaya! Sifat semacam ini menandakan, pengalaman si orang ini sempit! Contoh, kalau dia bilang semua Kawasaki berwarna hijau (pastinya bukan bikers nih…), itu artinya dia tidak pernah lihat Kawasaki lainnya yang berwarna selain hijau! Atau ada yang bilang motor tua itu murahan (wakakaka……), artinya dia tidak kenal dunia motor tua binti klassik!
Menurut Prof. Bolten, yang semacam ini menandakan orang itu miskin pengalaman, atau lebih kasar lagi bisa dibilang BEGO! Udah bego, ngomongnya koar-koar ga karuan, bahaya ga tuh?? Kenapa saya bilang bahaya, terlebih bagi kita masyarakat Indonesia? Kita ini kan plural, banyak suku bangsa dan berbagai agama di dalamnya… Ingat kerusuhan di tingkat masyarakat pasca reformasi? Kerusuhan Ambon? Kerusuhan Sampit? Atau pertengkaran antar kampung lainnya….. Ini semua kan akibat adanya stereotip buta itu…
Makanya Bro, sebagai orang Indonesia dan sebagai manusia yang berakal, kita harus bisa mengontrol pandangan stereotip kita. Bahkan perang melawan stereotip buta sudah dimulai di dunia perdangdutan Indonesia! Benar Saudara Nunoe????? Situ doyan dangdut kan??? Bukankah dulu ada lagu dangdut yang begini nih: Tidak semuaaaa laki-lakiiiiiiiiiiiii………

Sumber:

Prof. Dr. Jürgen Bolten, Dozent für Interkulturelle Wirtschaftskommunikation der FSU-Jena

Diolah oleh: Prof Dr. Arie Slight SS (Sarjana Sotoy)

Foto: HP-Klassikku


Banyak bikers muda yang ingin jadi pembalap motor tenar di ajang MotoGP. Namun, hanya sedikit saja dari mereka yang bisa mewujudkan impian ini. Diantara yang sedikit ini pun, tidak banyak yang bisa eksis dalam jangka waktu yang cukup panjang, lebih dari 2 musim kompetisi misalnya. Sebenarnya, apa sih kiat untuk dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama di ajang balap motor paling bergengsi ini? Untuk menjawab hal ini, orang yang paling tepat tentunya para senior layaknya Loris Capirossi ataupun sang legenda, Valentino Rossi. Nah, berhubung mereka nan jauh di sana, maka saya meminta bantuan Ki Gede Anue untuk melakukan terawang gaib dalam mencari jawabannya……

1. Prestasi! Pastilah…. syarat no.1 pastinya prestasi! Siapa yang mau motornya dikendarai pembalap yang tidak sanggup unjuk gigi? Tim mana yang mau buang-buang waktu, uang dan image jika mereka mengontrak pembalap yang lebih kencang ngeluh dan bikin alasannya dibandingkan geber motor di lapangan? Singkatnya, tidak ada tawar-tawaran untuk urusan yang ini. Di ajang kelas kampung, mungkin dana besar cukup, namun di ajang MotoGP, tanpa prestasi memadai, lupakan saja impian bertahan di ajang ini. Bukankah untuk bisa balap minimal harus tembus kualifikasi? So, kaya raya tidak cukup untuk dapat terjun rutin di sini.
2. Sponsor…. Menurut Ki Gede Anue, daya tarik duit lebih dahsyat dibandingkan ilmu pelet, buktinya para dukun dibayar pakai duit toh, bukan pakai pelet??? Emangnya ikan lele…. Nah, untuk dapat meraih sponsor, tentunya harus punya prestasi dan nama baik kan???
3. Komunikasi! Hari gini, yang tidak menguasai bidang ini susah untuk bertahan! Jika ada pembalap gagal, maka dia harus bisa memberikan alasan kegagalannya. Di dalam tim sendiri, tanpa komunikasi yang memadai, tim tidak akan bisa maksimal mengembangkan tunggangan! Pabrikan pun senang pada pembalap yang pandai berkomunikasi. Jangan heran jika ada pembalap-pembalap tertentu yang secara prestasi di lapangan mungkin kurang mengkilap, tetapi kehadiran mereka selalu ada di ajang MotoGP. Mungkin jika prestasinya sudah terlalu buruk, si pembalap tidak akan dikontrak sebagai pembalap yang turun langsung, tetapi doi akan tetap dipercaya dalam mengembangkan motor. Minimal, ga bakal jadi pengangguran lah… Jadi, seorang pembalap pun harus pandai mengeluh, jangan disamakan dengan tukang mengeluh ya… Artinya, kalau pembalap memiliki keluhan terhadap tunggangannya, dia termasuk pembalap yang bisa mengembangkan motor dan memiliki visi ke depan. Bandingkan dengan pembalap yang selalu puas dengan kendaraannya, tetapi prestasinya memble!

4. Ramah dong! Sama seperti dalam dunia keartisan, pembalap dituntut untuk ramah! Tidak hanya kepada fans, tetapi kepada seluruh anggota tim, peserta lain, dan anggota tim lain! Ini sangat penting, mengingat MotoGP tidak seperti F-1. Di MotoGP, para pelakunya saling mengenal satu sama lain… Nah, kalau ada pembalap yang didepak timnya dengan alasan keuangan misalnya, besar kemungkinan ada tim lain yang mau menggunakan jasa pembalap ini. Yup, semangat kekeluargaan ada juga lho di MotoGP….. Kalau ditanya, siapa pembalap MotoGP yang terkenal ramah dan down to earth, maka nama seperti Loris Capirossi dan Collin Edwards merupakan kandidat kuat. Tidak heran mereka tetap eksis hingga saat ini (tentunya faktor prestasi tidak boleh dikesampingkan ya…).
Hal penting lainnya yang masih terkait dengan keramahan dan komunikasi adalah hubungan baik dengan media! Pembalap harus pandai menggunakan media untuk memperbaiki atau mempertahankan popularitasnnya. Bukankah wartawan atau reporter juga manusia? Jika mereka ramah dan bisa membina hubungan baik dengan pers, maka otomatis mereka lebih akan sering nongol di media massa. Hasilnya, popularitas naik dan sponsor pun lebih tertarik untuk mengontraknya! Lha, wong foto si pembalap nongol sana-sini, iklan gratis doooong…… Kan si pembalap senantiasa menggunakan atribut sponsor…
5. Fans…… Pembalap tanpa fans bagaikan jendral tak berbintang! Menghargai fans terbukti menjadi faktor yang sangat penting kalau mau eksis jangka panjang. Sponsor pun turut memperhatikan, seberapa besar fans si pembalap, sebab jumlah fans merupakan indikator kuat popularitas dan daya jual si pembalap. Pembalap yang sangat perlu diteladani dalam hal ini siapa lagi kalau bukan Valentino Rossi! Rossi dengan segala ritual dan idenya bisa meraih banyak fans fanatik.. Jejak Rossi pun diikuti oleh Lorenzo, lihat ritual Lorenzos Landnya… Lihat juga penampilan baju balap atau motornya yang suka berubah karena disesuaikan dengan tema aktual atau negara yang dikunjungi. Semua itu tidak lepas dari usaha untuk mencuri hati penggemar baru..

6. Carilah bakat terpendam lainnya! Misalnya jago maen piano seperti James Toseland… Toseland yang posisinya semakin di ujung tanduk pun karena selalu kalah dari rekan satu tim sekaligus musuh utamanya di MotoGP, yakni Edwards, berusaha untuk meraih popularitas dengan cara lain. Misalnya maen piano di saat acara-acara sebelum race. Ingat, popularitas berkaitan erat dengan sponsor lho… Toseland sendiri berencana banting setir jika didepak dari MotoGP tahun ini. Dalam wawancaranya dengan DSF, doi mengatakan impiannya yang sejak dulu tertunda. Toseland mengatakan sangat ingin ikut kompetisi Abang None! Lihat saja gayanya di foto! Begini perkataan Toseland saat itu (saya terjemahkan sebebas-bebasnya):

Toseland: ” Assalamauaalaaaikuuuuummm…… Babe, Nyak, Ncang, Ncing, ame hadirin semua… Aye Toseland asal Betawi.. eh British… Pilih Aye yeeee……piiiiiiiisssss ah…..”

Terawang Gaib by Ki Gede Anue
Foto: HP-Klassikku

Sepertinya saya orang Indonesia pertama yang nyemplak S1000RR……..

Mumpung ada yang mau fotoin, gaya dulu ah, jiplak gayanya Ruben Xaus……..

Cockpit S1000RR yang khas…Max rpm 14.200: 1000 rpm lebih tinggi dibandingkan Superbike lainnya!

Pretty, simple, slim, sweet, but deadly……..

Brembo Boooooooo……………. BMW pun menawarkan BMW Race ABS dengan 4 modus, di brosurnya sih beratnya cuma 2,5 Kg! Edaaaann, Honda aja nambah 10 Kg kalau mau install ABS!

Ini dia head lamp yang bikin schock dan kecewa banyak orang… hmmmm.. mungkin seperti karya seni, butuh waktu untuk memahami dan mengapresiasinya…

Sterk… tapi berat kosongnya hanya 183 Kg! Full Tank pun hanya 203 KG! Bandingkan dengan R1 yang 214 Kg!

Reminds me to Yummy R6…….. Nooonggeeeenggggg ….

Mo nangis ngeliatnya…… sexy abissss…….. n don’t forget: 200 PS!!!!!!!! Kalau takut kepleset, BMW siap menginstall BMW DTC (Dynamic Traction Control)

Singset…. enak buat nyempil-nyempil………

Knalpot:dari header ke catalysator hingga muffler totalnya cuma 10 Kg!!!!!! Knalpot simple bersuara lantang! Ijk hou van je…….

Bapak di atas motor: “Ni BMW emang paling keren dibandingin motor-motor lain yang pernah diproduksi BMW….”
Mas2 Sales: ” Betul…”
Bapak2: “Bodinya, remnya, buntutnya, tankinya, velgnya, lengan ayunnya, semua saya suka!!!! Sampe kepada lampunya yang saya ga suka!”
Mas2 Sales:” Coba dinaikin aja dulu Be….”

Bapak2: ” Wah orang kecil kaya saya enak ga nih naik ni BMW?? Naek ah….”
Mas2 Sales:” Gimana Be, enak kan???”
Bapak2: ” Ya nih… pas-pas aja… tumben! Mantebsss……..”
Mas2 Sales:” Nah sekarang dari situ lampu depannya ga keliatan kan????!!!!!”

Yup, dimensinya beda dengan BMW modern lain… S1000RR menawarkan riding position layaknya motor Jepang… Bahkan menurut perasaan saya masih lebih relax dibandingkan nyemplak R6!

Ini dari brosurnya… entah kenapa, pelan-pelan saya bisa menerima lampu piceknya! Lampu asimetris ini lama-lama terlihat biasa kok, tidak lagi terkesan aneh… apalagi kalau nemplok di fairing yang warnanya selain yang acid green…..
Gaharrrr…..
Semboyannya: Welcome to Planet Power
Foto: HP-Klassikku
Buat Bro sekalian yang gagal memenangkan undian SMS nonton MotoGP ke Sachsenring, saya ucapkan selamat!!!!! Kan situ maunya menangin Ducati 848 toh??? Nah supaya Bro semua bisa lebih kenal Sachsenring, saya ada sedikit oleh-oleh dari sana, yup, dari ajang Internationale Deutsche Motorradmeisterschaft atau IDM.
Kalau Bro ke Sachsenring naik kereta, maka Bro akan tiba di stasiun Hohenstein Ernstthal, sebuah stasiun yang terlihat tidak seperti stasiun kota, melainkan hanya sebatas peron. Tidak tampak, kalau di sekitar stasiun ini ada sirkuit internasional yang sangat legendaris.
Turun dari kereta, hanya ada sepasang kakek-nenek yang menggunakan topi Kawasaki yang ikut turun dan dua orang laki-laki setengah baya lainnya. Dalam hati, wah ga laku nih IDM…. Namun, sesampainya di sirkuit, rame Bro……. Pada naik mobil rupanya… yang naik motor tidak begitu banyak, maklum saja, cuaca hujan!
Balap motor IDM, olahraga semua kalangan… dari anak muda, hingga orang tua…
dari naik Porsche, naik sepeda, naik kereta, hingga jalan kaki…….. (ga ada yang ngesot nih???)

Matahari hanya bersinar sekitar 2 jam saja, yakni selepas ajang IDM Superbike….

Suzuki mendatangkan pembalap Belanda dan Swiss………

Yamaha mendatangkan dari berbagai negara… Banyak yang pakai R1 di kelas Superbike.. Misalnya Jörg Teuchert yang hingga saat ini merajai klasemen IDM Superbike. Doi mantan juara WSS lho… BTW, R1 saya nobatkan sebagai Superbike dengan suara terhalus…. Yang paling bikin budek adalah RC8R! Kalau RC8R lewat, maka semua R1 disekitarnya nyaris tak terdengar lagi suaranya!


Dunlop bagi-bagi produk ke kelas 125 cc dan R6 cup……..


Pit….. lokasi penuh “keajaiban…”


ZX-6R, much better than ZX-10R yang di ajang IDM pun tampil di papan bawah….

Cari tukang tambal ban Om??????

Pit Bro…. tempat berburu tandatangan……

Motornya Sascha Hommel, pemimpin klasemen IDM Supersport… Di belakangnya ada Pak Tua… Mantebs, dah full uban tapi tetap full throttel

Setting R6 sebelum hujan lagi………

Kalo ga salah namanya Chris Burns, doi gantiin Martin Bauer, sang juara IDM tahun lalu yang saat ini dalam masa penyembuhan… (kayanya sih gelarnya sudah tidak bisa dipertahankan lagi…). BTW, si Burns dengan tampang cool abis, ternyata ramah kok… tipikal pembalap professional, bebas lemak euy……

Jeremy Mc Williams pun ada di sini, ikut geber di ajang Supersport… Dan doi buka skul balap Bro… ikut ikut ikut….

Situasi dari atas balkon…. banyak yang jualan, sayang duit ijk tipis…. BTW, ada product Ducati yang bisa dibeli semua masyarakat Indonesia: Pensilnya, cuma 1 Euro hehehe…….

Tikungan terakhir, tempat Rossi diembat Gibernau gara-gara ga mau ganti knalpot pendek… tapi tahun berikutnya Rossi di depan Gibernau dengan knalpot yang sama dengan Gibernau… dan bedanya pun tipiiiiiiiisss, i miss that moment!

ADAC Junior Cup, pakai Aprilia RSA 125 cc, diikuti 47 pembalap belia, 8 diantaranya Cewe!

Tikungan buta…. turunan panjang…….. lokasi tempat paling sering dipakai nyalip…


Saat indah saat mentari bersinar….

Ini dia ujung turunan tempat nyalip itu…… Pasti akan ada aksi salip-salipan lagi disini…

Lokasi dan saat sebelum start supersport… hujan mulai kembali mengancam…

Coba pakai teknik Panning pakai HP, sayang kejauhan…

Buka Payung sebelum hujan…….. Neng, Akang dipayungin doooong……..

Kelas Superbike pun kembali berbasah kuyup ria… ijk pun memutuskan pulang… dingin abis Bro… cuma pakai jaket bahan… suhu yang tadinya 19°Celcius langsung turun jadi 13° Celsius.. So, kalau mau kesini, jangan gengsi bawa payung ya…

Hasil berburu tanda tangan hehehe… lumayan, biarpun ga kenal, ikooooooooot ngantriiiiiii….

Cewe ikut balap mah lumrah di sini…………

” Say… aku mo balap nih… tapi ujyaan buechekk… mana ga ada ojyjekss……


Nelpon teruuuuzzzzzzzz… dasar Cewe!

Dah, jadi model aja ya….. tinggi 180an Bro…….. Malu ijk deket2…….

Kelinci khusus dewasa! Anfassen auf eigene Gefahr!!!!! (ga ngerti kan situ hehehe….)
Mereka ada di stand BMW, yup, Playboy pun mensponsori tim BMW Superbike IDM..
Foto: HP-Klassikku


Bro semua pasti kenal dengan Ducati Desmosedici, salah satu sepeda motor paling binal yang ada di muka bumi saat ini. Sekarang, mari kita berkenalan dengan Ducati Apollo, mbahnya Desmosedici. Banyak hal yang menarik jika kita menelusuri kisah Ducati yang satu ini, bahkan boleh dibilang sangat menarik! Sebab, tanpa kehadiran doi, belum tentu Ducati saat ini eksis dengan mesin L-Twinnya.

Berawal dari ide seorang importir Ducati di Amerika Serikat, Mike Berliner yang ingin menggulingkan dominasi Harley Davidson sebagai suplier motor polisi Amerika Serikat. Berliner bersaudara berkehendak merebut jatah pasar ini dari Harley Davidson, sebab secara langsung juga dapat mendongkrak penjualan motor yang sama untuk masyarakat umum. Untuk itu, mereka butuh motor sekonsep yang lebih superior. Mereka pun mengirimkan 2 unit Harley Davidson untuk dipelajari (atau dicontek???) oleh Ducati dan Moto Guzzi.

Berliner bersaudara memang sangat antusias dengan impian mereka, tetapi tidak dengan Ducati. Ducati mengajukan syarat, apalagi kalau bukan uang untuk biaya pelaksanaan proyek ini. Singkat kata, proyek ini pun terlaksana, dan dinamakan Apollo, yup, terinspirasi dari misi Apollo yang menjelajah hingga ke bulan pada masa perang dingin saat itu.

Tahun 1963, lahirlah si Ducati Apollo, sepeda motor bertenaga extra sangar saat itu. Motor bermesin V4-90° (atau disebut juga L-4) berpendingin udara berkapasitas 1256 cc ini menghasilkan tenaga hingga 100 PS bersih di roda belakang. Tenaga ini sangat fantastis di masa itu, mengingat Harley Davidson yang ada di zaman itu hanya menghasilkan 55 PS. Motor berbobot kosong 270 Kg ini pun sanggup meraih kecepatan puncak 190 Km/jam. Tenaga sebesar itu sebenarnya wajar, wong dikawal 4 buah karburator berventuri 32 mm!

Namun, seperti halnya motor-motor berperforma lebih dahsyat dibandingkan motor-motor sezamannya, motor ini kesulitan menemukan ban yang kuat menyalurkan tenaga besarnya. Ban-ban yang beredar saat itu tidak cukup sakti untuk mengawal velg ring 16 ducati Apollo. Akhirnya tenaga pun dikorting dengan menggunakan cukup 2 buah karburator berventuri 24 mm hingga hanya dapat menghasilkan 80 PS saja. Namun, tenaga motor dengan 5 tingkat percepatan ini masih dianggap terlalu menyiksa ban, akhirnya kembali diturunkan hingga 65 PS, dan dinyatakan aman…..

Pada bulan Maret 1964, motor ini pun diserahterimakan kepada pemiliknya melalui sebuah upacara. Motor berwarna emas ini kini tidak jelas keberadaanya. Sayang…. mengingat Ducati hanya sempat memproduksi 2 unit saja! Motor kedua yang berwarna silver-hitam kini bersemayam di museum Ducati di Bologna. Motor ini dihibahkan pemiliknya, seorang pria berkebangsaan Jepang, Hiroaki Iwashita. Berbeda dengan yang berwarna emas, Apollo yang ini benar-benar sport edition, sebab masih menggunakan 4 buah karburator Dell Orto! Apollo tidak jadi diproduksi massal dengan keputusan yang dikeluarkan pemerintah Italia. Memang Apollo dihentikan produksinya, namun konstruksi mesin L menjadi basis pengembangan motor-motor Ducati berkapasitas besar di kemudian hari.

Dimanakah Ducati Apollo berwarna emas? Besar kemungkinan pemiliknya (kalau itu motor masih ada, ataupun pemiliknya masih hidup) termasuk orang yang tidak pernah kuatir kehabisan duit…..

tersesat muter-muter

  • 1,826,628 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com