You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2018.

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). Hari ini Indonesia kembali berduka atas kecelakaan pesawat yang terjadi..

Pagi-pagi, kabar inilah yang saya dengar.. Ketika pergi ke balai kota untuk mengambil visa yang sudah jadi, di videotron pun sudah tertayang berita duka ini:

20181029_083352

Ketika mengambil perpanjangan visa pun, si bapak-bapak yang bertugas menanyakan: Sudah dengar kabar pagi ini? (tanpa menyebut di mananya, tetapi karena dia tau saya dari Indonesia, ya saya jawab: sudah). Kami pun bicara singkat tentang keadaan di Indonesia. Menurutnya Indonesia lagi tak tenang..

Saya bilang, ya tenang-tenang saja, tergantung di daerah mana.. Memang sedang banyak bencana alam skala besar. Ditambah kecelakaan pesawat hari ini…

Dia bilang dia khawatir, karena anaknya akan ke Indonesia.. Ya saya bilang, wajarlah..namanya juga orang tua, mau segede apa itu anak juga tetap anak..

20181029_083359-1

Kejadian macam ini tentu sangat berat bagi yang ditinggalkan.. Bahkan bagi banyak masyarakat Indonesia, ini tentu akan tertanam dalam memori kolektif kita. Lebih berat juga tentu bagi yang pernah merasakan ditinggal orang tercinta karena kejadian serupa. Yang punya orang-orang tercinta yang bergelut di bidang penerbangan pun tentu juga akan dihinggapi was-was dan kekhawatiran.

Jujur, saya termasuk yang jadi was-was tiap kali terbang… Aneh, karena saya cinta penerbangan, menikmati dunia penerbangan, naik pesawat jadi hiburan tersendiri. Namun, belakangan ini, kesenangan itu bercampur juga dengan kekhawatiran. Salah satu aktivitas di waktu luang saya adalah menonton video-video aviasi. Yang menarik juga tentu mempelajari bagaimana kecelakaan-kecelakaan penerbangan terjadi. Pengetahuan tentang ini di satu sisi mengurangi rasa takut terbang, tetapi di sisi lain bikin takut juga. Karena hal-hal kecil bisa mengawali terjadinya kecelakaan pesawat. Ketika terbang, justru saya jadi sadar, betapa pemurahnya Allah mengizinkan kita bisa menjelajah bumi dengan sangat cepat. Betapa pemurahnya Allah dengan menjadikan jutaan penerbangan menjadi penerbangan yang selamat dan kita mendapatkan apa yang kita inginkan dengan penerbangan itu.

Oh ya, ada satu ayat yang selalu terlintas di benak saat terbang:

2018-10-29-08-49-43

Kalimat “Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih.” sungguh jadi yang mengingatkan saya jika dalam penerbangan, apalagi saat cuaca buruk, betapa kita semua bergantung pada Allah. Manusia dengan segala teknologi dan kepintarannya tak pernah bisa jadi jaminan keselamatan 100%! Pesawat baru dan cuaca bagus plus pilot berpengalaman pun tak menjamin 100%. Semakin kita tahu bagaimana faktor-faktor kecil bisa menyebabkan maut menjemput sebuah penerbangan, harusnya bisa semakin memudahkan kita memahami kalimat dalam Al Mulk ayat ke-19 ini.

Ayat ini juga yang dikatakan jadi awal Abbas Ibnu Firnas, cendikiawan Muslim pertama asal Spanyol yang memikirkan bagaimana caranya orang bisa terbang, jauh sebelum Leonardo da Vinci mengemukakan ide itu. Bahkan sang Maestro asal Italia itu dikatakan juga terinspirasi Ibnu Firnas.

Semoga yang ditinggal bersabar dan yang pulang ke Tuhannya pulang dalam segala keridhoanNya…

Berapa harga helm yang biasa dipakai pembalap WSBK atau MotoGP? Ya helm balap merk Arai, Shoei dan selevelnya sudah bisa diperoleh dengan harga 600-700 Euroan. Ya di bawah 1000 Euro buanyak lah.. Nah, helm yang akan kita bahas ini jauh lebih mahal. Oh ya, ini helm massal ya, siapa saja bisa beli, bukan helm yang dibuat khusus dan ditaburi batu mulia (kalau ada lho..). Mau lihat tampilannya? Ini dia..

Nah..gitu doang tuh… Helm massal termahal itu ternyata tanpa visor hihi..yup, bayar mahal pun masih kelilipan! Ya bisa diorder sih visornya..

Desainnya retro, sepintas terlihat lumayan sih, tetapi biasa aja kalau harus dijuluki helm termahal. Bikin ganteng juga nggak wkwk..Jangan terpengaruh modelnya yang sepintas mirip MM93 ya..

Der Helmhersteller Veldt hat sich mit dem italienischen Luxusschuhhersteller Berluti zusammengetan.

Kalau kita lihat detailnya, hmm keren juga lama-lama.. Helm ini dibuat kerjasama antara produsen helm, yakni Veldt (sangat awam bagi Blog Sesat) dan produsen sepatu lux asal Italia, yakni Berluti (Ini juga sama sekali belum pernah Blog Sesat dengar).

Herausgekommen ist der wohl teuerste Helm der Welt.

Der Veldt Berluti basiert auf dem Jethelm V-1.

Basisnya adalah Jethelm V-1 yang terbuat dari carbon… Hmm pantas, dari carbon sih, ya okelah jadi mahal.

Bagian dagunya bisa dilepas. Dari jauh seperti helm murah malah ya.. Padahal material carbon itu dilapisi busa dan kulit berkualitas sangat tinggi. Ya namanya juga barang lux..

Untung saja Blog Sesat ga naksir. Kalau naksir, berabe juga. Maklum, helm yang beratnya tak sampai 1000 Gramm ini harganya mulai 3215 Euro! Bisa dapat 4 helm balap selevel Arai atau Shoei..

sumber: https://www.motorradonline.de/motorradhelme/veldt-berluti-teuerster-helm-der-welt.1036788.html

Dengan diluncurkannya BMW S1000RR terbaru di EICMA nanti, BMW juga menyatakan ingin kembali lagi ke ajang WSBK secara lebih serius. Memang sekarang masih ada S1000RR di lintasan dan ga malu-maluin lah dibanding pabrikan besar macam Honda, tetapi tim itu sudah lepas dari campur tangan BMW kan..

Markus Reiterberger ist frisch gekürter Superstock-Europameister.

BMW pasang target tak muluk-muluk, mereka hanya ingin meramaikan barisan depan. Target yang terbilang wajar.. Mengingat yang sekarang saja ada di papan tengah. Pembalap yang diandalkan pun lumayan, mereka mengincar Tom Sykes yang akan hengkang dari Kawasaki. Mantan juara dunia WSBK 2013 ini akan ke BMW setelah membalap 228 kali selama 9 tahun untuk geng ijo.

Sykes akan didampingi juara Eropa tahun ini di kelas superstock, yakni Markus Reiterberger. Di 2016 dan 2017, Reiterberger sudah merasakan persaingan di WSBK, jadi bukan anak bawang juga..

BMW sendiri tak mau terlalu repot mengurusi tim balap mereka di WSBK, untuk itu mereka kerjasama dengan Team Shaun Muir Racing (SMR) yang tahun ini masih mengandalkan Aprilia. SMR akan mengurus logistik dan hospitality plus sebagian besar crew, sedangkan BMW mengambil alih sektor elektronik dan membangun mesin di departemen balap mereka…

Hmmm, patut ditunggu nih.. Blog Sesat jadi tergoda lagi mau nonton WSBK ke Assen hehe..

Sumber:

https://www.motorradonline.de/superbike-wm/bmw-in-der-superbike-wm-2019-mit-sykes-und-reiterberger.1036780.html

Motor nasional…. Hmmm, sudah ada sih.. ya katanya motor nasional.. Sayangnya masih seperti kurang dilirik pihak yang harusnya bisa mensupport, baik dari segi dana, kebijakan maupun pemberitaan.

20181002_110056

Abaikan fotonya ya.. Ini entah motor roda tiga buatan mana.. Masa iya buatan Austria? Ini bukan KTM yang itu kan..meskipun sama-sama oranye hihi…

Namun, motor roda tiga justru lebih logis! Kendaraan ini tentu diperlukan bagi sektor-sektor macam pertanian atau sektor perkebunan. Sektor perikanan pun bisa juga memanfaatkannya kan. Meskipun kendaraan macam ini tak akan jadi kebanggaan, tetapi nilai gunanya lebih bisa dinikmati. Dan persaingan produksi motor roda tiga tentu belum seberdarah-darah roda 2 dan roda 4 kan..

Hanya saja roda 3 seperti masih sebatas motor dengan bak di belakang saja, padahal kalau didesain yang bisa untuk dagang atau transportasi menarik juga. Mungkin bisa lirik-lirik gaya ala Piaggio Ape.

20181002_110108

Lebih bagus lagi tentunya jika ada dukungan untuk pabrikan motor nasional yang menggunakan tenaga listrik. Masa depannya kan ke arah sini.. Ngapain lari dari Monas ke Ancol dulu kalau yang lain-lain sudah mau menuju ke daerah puncak?

Adanya motor nasional macam Gesits sudah oke banget.. Yang semacam ini layak lebih diperhatikan. Perlu didukung kualitas dan pengembangannya. Memang sudah tampak kok dukungan dari pemerintah, tetapi kesinambungannya perlu diperhatikan. Aturan bebas pajak atau pajak rendah untuk motor tanpa emisi ini perlu dipertimbangkan juga agar lebih banyak yang beralih. Kalau pajaknya tinggi seperti motor konvensional ya susah juga..

Sebagai pencinta motor klassik, ada kalanya gelora merestorasi begitu bergejplak melihat motor-motor tergolong klassik yang sebenarnya punya nilai hisoris dan ekonomis tergeletak begitu saja dan habis termakan oksigen alias teroksidasi alias mengarat. Gimana gitu ngeliatnya.. Ada rasa tertantang, ada rasa iba, ada juga rasa ingin menambah pengalaman dan menulis cerita baru.

Namun, memutuskan begitu saja untuk membangun atau merestorasi sebuah kendaraan perlu perhitungan matang. Jangan sampai tujuan tak tercapai, deritanya saja yang didapat. Maksudnya, keluar duit sih pasti, keluar waktu apalagi.. Makan hati pun bagian dari proses restorasi, tetapi kalau tujuan tak didapat, ya ruginya ga ketulungan… Kecuali kalau tujuannya murni menyelamatkan sebuah motor tanpa peduli itu motor punya siapa.. Itu namanya malaikat penyelamat motor haha.. Malaikat juga tau, yang kaya begini sedunia paling sangat segelintir. Nah, buat orang-orang awam, ya ga bisa ikut-ikutan sembarangan.

Blog Sesat sendiri sempat ada niat membangun sebuah motor Austria 2 tak 250cc single silinder bermerk PUCH. Motor adalah punya almarhum om yang waktu itu masih hidup. Kondisi motor masih lebih menyedihkan dibanding Suzuki A100 yang ada di foto. Namun, ada satu hal yang mencegahnya.. si motor itu statusnya hadiah buat om saya, tetapi dia pun ragu, itu hadiah atau bukan.. sebab antara dipinjamkan dan dikasihnya juga ga jelas akadnya hihi.. Makanya tak bisa juga dijual oleh om saya.

Nah, kalau statusnya begini, tak mungkin juga itu motor dibangun.. Kalau jadi juga buat siapa juga tak jelas.. dan megang barang yang tak jelas statusnya tentu cari tambahan pikiran juga.

20181002_110031

Oke, kita ke kasus awam saja. Ada beberapa pertimbangan, kapan sebuah motor layak dibangun kembali.

  1. Duit! Jangan ngebangun motor kalau tak ada dananya, ini namanya cari penyakit dengan nambah-nambah pikiran.
  2. Jangan membangun motor kalau motornya tidak kita sukai. Kalau harus keluar duit, itu rasanya menyuramkan kehidupan!
  3. Kalau motornya bukan motor langka dan kondisinya parah, mending cari bahan lain! Kecuali ada nilai historis itu motor!
  4. Jangan membangun motor kalau kita tak paham di mana dapat partsnya dan berapa harga partsnya. Percuma kalau nantinya tak selesai dibangun, itu motor tetap akan dilihat seperti bahan! Kecuali ini motor klassik berkelas!
  5. Jangan lupa menghitung juga berapa lama pajak itu motor mati! Meskipun motor kecil kapasitasnya dan sudah berumur, kalau harus bayar pajak 5 tahun misalnya dan harus balik nama, siapkan dana di atas 2 jutaan untuk surat-suratnya saja. Nah, kalau itu motor yang pasarannya 4 jutaan, mending cari yang suratnya hidup dan taat pajak.

Nah, dari 5 point yang sudah disebutkan, bisa disimpulkan, Suzuki A100 ini tak layak bangun! Kondisinya parah, pajak mati entah berapa lama dan partsnya tentu tak semudah kalau mau bangun CB100 atau C70 yang banyak parts KWnya dan bahkan ada originalnya. Satu-satunya yang membuat motor ini layak bangun ya hanya nilai historis, itu pun kalau ada…

Di penghujung bulan September 2018, Blog Sesat kembali tersesat ke Yogyakarta. Sempat galau mau naik apa. Maksud hati ingin naik motor, ya mengulang nostalgia dengan si Excel Rose lah, tetapi si Excel Rose sedang dalam keadaan tidak hidup dan lama tak dipakai. Selain itu waktu tempuh yang butuh enaknya 4 hari tak ada, belum lagi di Yogyanya 2 hari. Wah, butuh 6 hari, waktu segitu terlalu banyak saat urusan lain juga masih butuh perhatian. Akhirnya ya naik pesawat haha… Ya pulang pergi 800 ribuan lah.. Kamis sore berangkat, Sabtu malamnya sudah kembali lagi ke Jakarta. Kalau naik motor Excel Rose si Vespa Excel korek harian sih bensinnya plus oli samping sekitar 300 ribuan. Namun, kalau dihitung dengan makan selama perjalanan dan kalau ada biaya nginep, tentu naik pesawat jatuh-jatuhnya bisa lebih murah hihi..

20180927_163826(1)

Berangkat naik Air Asia.. Harusnya sekitar jam 3 berangkat, tetapi pending jadi jam 5an. Ya ga papa sih..kebetulan ga buru-buru.. Di ruang tunggu pun jadi dapat KFC dan air mineral hehe… Ya mending pending di bawah sih, sebab seorang rekan dengan pesawat lain pendingnya muter-muter di udara karena bandara Adi Suciptonya penuh.

20180927_180644

Penerbangan terasa menyenangkan. Cuaca relatif bagus. Dan pilot landing dengan mulus hehe…

Oh ya, serunya di Yogya itu, kita bisa turun dari pesawat tanpa garbarata alias jet bridge. Menyenangkan buat saya yang suka melihat-lihat pesawat.

20180927_181002

Dengan ini, kesempatan untuk foto-foto pesawat pun lebih terbuka. Belum lagi menikmati desingan dan merasakan angin bandara hihi…

20180929_195905-1

Pulangnya saya naik Nam Air. Beda dengan keberangkatan yang dipending, pas pulangnya di Sabtu malam ini justru dimajukan 1 jam hihi.. Alhamdulillah bukan jadi masalah untuk saya. Dan saya menikmati penerbangan dengan Boeing 737-500 ini. Seru juga membandingkan Boeing yang memang kecil ini dengan yang 777. Doi butuh jarak sedikit saja untuk take off. Penerbangan menyenangkan..di udara lumayan lah dapat biskuit dan air mineral hehe..

Saat landing pun mulus… Dan serunya saat landing ada pesawat lainnya yang lebih di depan yang landing di Terminal 1. Seru juga mengamati pesawat lainnya yang sedikit lebih di depan pararel landing dengan pesawat yang saya naiki.

20180929_195959

Oh ya, ini foto yang saya ambil waktu mendarat di Adi Sucipto: Boeing 737-500 Nam Air.. si pesawat khas bermesin gepeng hehe.. Gepeng karena ini pesawat memang dirancang rendah, supaya bongkar muat dan ini itunya tak merepotkan dan bisa menjangkau airport-airport daerah yang peralatannya memang tak biasa melayani pesawat-pesawat besar.

20180927_180549

20180927_180600

20180927_180613

Sampai di tujuan dan bisa memandang pesawat di saat matahari baru terbenam.. wah, buat Blog Sesat itu sebuah rejeki hehe..

Ini dia tampilannya!!!

20180304_123307

Hoax?????

Weitsss…

Kan Blog Sesat bilang bisa jadi hihihi…

Kenapa sebuah barang itu mahal?? Tentu ada berbagai faktor. Kebanyakan karena kelangkaannya. Namun, nilai sejarah bisa juga memberikan nilai nominal di suatu kendaraan. Misalnya kendaraan bekas orang besar atau pernah dipakai untuk acara tertentu oleh orang kenamaan, tentu punya nilai lebih. Sebut saja Honda CB100 yang dipakai untuk syuting Dilan 90, buset dijual 50 juta wkwk… Entah itu hoax atau bukan atau benar dan sudah laku atau belum..

Kembali ke foto.. Vespanya bukan harus Vespa mahal dan Vespa yang ini. Bisa juga Vespa lainnya.. Nah, coba ikuti trik ini..Buat Vespanya penuh tandatangan seperti Vespa di foto. Namun, supaya harganya melambung tentu harus ditandatangani orang penting.

Kalo Sampeyan punya Vespa yang ditandatangani RI1 dari pertama sampai sekarang, dijamin Vespa itu salah satu Vespa termahal di Indonesia.. ya udah ga mungkin toh ada tandatangan RI1 pertama dan kedua…

Di dunia permotoran, Suzuki Smash jelas bukan siapa-siapa. Kehadirannya dirancang Suzuki untuk menjadi motor semurah-murahnya untuk menahan gempuran serbuan motor Cina yang murahnya ga kira-kira. Ya namanya awal-awal, harga yang sangat murah yang ditawarkan motor Cina plus kondisi ekonomi yang sangat lesu membuat motor Cina banyak dilirik. Untuk itulah Suzuki mengeluarkan motor 110cc 4 tak ini.

Beban Smash sungguh berat, sebab di satu sisi doi harus jadi motor entry level, di sisi lain doi harus menggantikan Suzuki Shogun 110 yang merupakan legenda road race.. Hasilnya, ya ketebak.. Ga mungkinlah legenda roadrace bisa tergantikan dengan motor paket hemat.

Di rumah Keluarga Sesat ada satu unit motor yang punya stroke tergolong pendek ini. Berapa jarak yang sudah ditempuh motor terbitan 2003 ini? Entahlah.. Di tahun 2011 sih sudah 70.000 Km. Dan motor ini masih dipakai terus hingga hari ini. Entah kabel putus atau spidometer mati, sejak lama sekali (sepertinya sih lebih ke spidometer mati), berapa Km yang tertempuh tak terkira lagi hihi.. ya iyalah, ini tahun 2018 Bro!

20180926_084216-1

Dua pekan Blog Sesat mudik, Smash tromol black engine inilah yang jadi andalan. Pergi ke Jakarta, Sumarecon, Depok, Bogor, semua ditempuh dengan lancar.

Kenapa pilih Smash, tak pakai si Tiger? Tentu saja karena ingin ngirit haha… Ini motor memang masih iriiiit… Isi 20 ribu cukup untuk rute Bogor-Depok-Jakarta Selatan-Sumarecon-Jakarta Selatan-Depok wkwk… Kalau pakai Tiger, wah, 50 ribu pun kurang.. Dan untuk macet-macetan tentu asikan pakai Smash..

Soal tarikan, masih asik! Alhamdulillah malah ga ada ngasep2 tanda piston aus. Sempat saya pakai dari Depok ke Tanjung Priok jam 2 siang…wah panasnya.. Itu pun si Smash tetap bertenaga, padahal hawa panas mesinnya lumayan terasa, jarang sampai terasa sepanas itu.. bahkan knalpot di bagian chromenya ada muncul lapisan tipis seperti pelangi…pertanda knalpot kepanasan luar biasa..

Oh ya, yang sudah diganti di Smash ini adalah karburator..itu karena dol baut mainjetnya.. sisanya, sektor mesin tak pernah dibongkar… kampas kopling pun masih bawaan. Alhamdulillah banget..ini motor memang terbukti motor membahagiakan haha…

Saat pembuatan plat kendaraan, di dekat workshopnya ada sederetan Suzuki New Smash dalam keadaan terparkir dan lumayan tertutup debu. Kalau melihat debunya, ada kesan motornya untuk beberapa saat tidak aktif.

20181008_134754-1

Setahu saya, ini motor-motor yang dipakai untuk program antar-jemput perpanjangan STNK. Jasa macam ini lumayan menarik sih, kita bisa menghemat waktu. Ya memang sebentar sih perpanjangan STNK, hanya saja jalan ke sananya itu lho yang makan waktu. Belum lagi kadang berbentrokan dengan jam kerja kan.

Sosialisasinya kok rasanya kurang ya. Di sana ada poster besar sih tentang layanan ini, sayang tidak sempat saya cermati benar, apakah ada informasi detailnya atau tidak. Saya coba googling, tetapi tak dapat informasi yang valid tentang program ini. Barangkali Bro ada yang tahu atau pernah memanfaatkan jasanya?

Kalau R27 dan Excel Rose telat bayar pajak hitungan bulanan, maka si Honda GL100 K yang murtad jadi BMW K100 GL ini telatnya 2 tahun lebih… Maklum, sejak tahun lalu harusnya dibayarkan, tetapi karena harus perpanjang 5 tahunan, tentu perlu gesek nomor rangka dan nomor mesin. Masalahnya, ini motor sedang ngejogrok dalam keadaan mati mesin di tempat yang tak bisa diakses Blog Sesat waktu itu.. Akhirnya baru di kesempatan mudik kali inilah doi akhirnya kembali ke pangkuan Blog Sesat hihi..

Karena keadannya masih mati mesin, mau ga mau saya harus bolak balik deh. Ya jadi perlu ambil formulir untuk cek fisik. Harga formulir ini 10 ribu rupiah. Setelah gesek nomor rangka yang ada di komstir sebelah kiri dan nomor mesin di bagian bawah sebelah kiri dekat lubang pembuangan oli, besoknya saya bawa formulirnya ke samsat.

IMG-20160530-WA0044

Gesek sendiri irit 10 ribu rupiah setahu saya, lumayan lah buat bayar parkirannya. Setelah memasukkan formulir, tak sampai 10 menit saya sudah dipanggil..hmmm aneh juga kok cepet banget, padahal orang lain masih banyak yang ngantri.. Alhamdulillah deh, mungkin mereka urusan yang lain ya..

20181008_120112-1

Nah, karena telatnya 1,5 tahun lebih, saya harus urus SKP dulu di lantai 3. Prosesnya lumayan cepat. Hanya saja waktu itu saya kepotong istirahat, jadi 1,5 jam lah totalnya sampai bayar SKP di loket bank DKI di situ juga. Bayar SKP untuk GL 100 K keluaran 1987 ini kena pokok pajak 92.000 dan denda 22.100 rupiah. Total harus keluar 114.100 rupiah di lantai itu.. dan seperti biasa, dibulatkan ke atas wkwk…

Nah, baru deh dari situ ke lantai 4. Enaknya, sekarang cukup ketik plat nomor dan print lalu tanda tangan. Kemudian sertakan KTP, BPKB dan STNK untuk perpanjangannya.

IMG-20181011-WA0012-1

Untuk perpanjangan kali ini harus keluar lagi 337.400 rupiah…ya jadi 338.000 tentunya wkwk.. Ya tak sampai 1 jam beres..

Yang ajaib sekarang justru di tempat pembuatan plat. Tak sampai 5 menit beres! Dan itu plat nomornya sudah kering wkwkwk… Sip lah, ada perbaikan signifikan..selain cepat kering, cat pun kali ini tergolong rapi..

tersesat muter-muter

  • 2.445.258 x 1000 rpm

Kata yang tersesat

arieslight pada Kelemahan Thunder 125
Tar pada Kelemahan Thunder 125
Tar pada Kelemahan Thunder 125
arieslight pada Tidur Terlalu Lama……
Poleng pada Tidur Terlalu Lama……

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Top Clicks

Follow Motorklassikku on WordPress.com