You are currently browsing the monthly archive for November 2009.

Kita lanjutkan wawancaranya Om Suter… Menurut Anda, bagaimana produk para kompetitor saat ini?

Jujur saja, saya belum banyak terlalu memperhatikan produk kompetitor. Namun, saya yakin kalau Aprilia saat ini berada di level yang sama dengan kami. Mereka tentunya nanti mengembangkan motor balap yang kompetitif. Pada kompetitor home made yang lain, saya rasa ada yang kurang gitu.. Sebuah motor balap yang baik dari segi estetika juga harus kelihatan baik. Sebuah aturan lama di dunia balap menyebutkan, motor yang kelihatan dahsyat nantinya juga akan berperforma dahsyat, sebab kalau si pembalap tidak suka dengan penampilan tunggangannya dan merasa duduk di atas sebuah “gentong”, motivasi yang diperlukan untuk bisa lebih cepat 0,5 detik per lap-nya bisa hilang.
Namun, saya tidak mau mengeluarkan komentar yang panas di kuping kompetitor. Tentunya para kompetitor tidak boleh dianggap enteng. Balap motor itu adalah olahraga tim, dimana dengan segenap kekuatan tim kamu bisa “menggeser gunung”. Lihat saja di kelas MotoGP, ada yang pakai konstruksi mesin V dan 4 silinder sejajar, ada yang pakai rangka karbon, ada juga yang aluminium. Banyak teknik yang bisa digunakan dan pada akhirnya mereka sama-sama cepat, karena mereka tahu, bagaimana menggali potensi teknik yang mereka gunakan. Di tangan yang tepat, tentunya motor seperti BQR dan Moriwaki juga bisa cepat. Yang penting adalah, setelah balapan, bisa tidak langsung mengadakan analisis dan perbaikan yang tepat. Dalam hal ini, kami pegang kartu bagus! Kami tidak lagi mengembangkan teknologi dengan sistem trial and error, kalau ada masalah muncul, kami tahu apa yang harus dilakukan.

Anda setuju dengan pendapat yang mengkhawatirkan Aprilia dengan segala kelebihan mereka akan kembali mematikan warna-warni di kelas ini?

Di kelas 250 cc lalu memang begitu, tetapi saat ini pun mereka dihadapkan pada permasalahan serius. Tahun depan mereka tidak bisa lagi memberikan motor lama dengan harga ajiiiip bin murah meriah. Di tahun pertama mereka menawarkan material dengan harga yang sudah pasti (sudah tahu sendiri kan mahalnya…namanya juga banyak yang harus dikembangkan nyaris dari awal lagi-red). Toh nantinya pelaku balap akan melihat, kalau kami juga bisa memberikan material yang kompetitif dengan harga lebih jujur (ekonomis dan tidak “mainin” konsumen-red). Maksud saya, bukan berarti timnya Martinez tidak menjadi favorit juara dunia Moto2 tahun depan. Kemungkinan memang besar, mereka meraih gelar tahun 2010, toh Martinez tidak perlu pusing memikirkan anggaran, dia juga punya pembalap-pembalap terbaik dan punya uang untuk melakukan test, sebanyak dia mau. Namun, seperti saya bilang, balap motor itu olahraga tim. Nantinya orang juga akan lihat, tidak perlu Aprilia untuk bisa kompetitif di barisan depan. Bisa jadi produsen kecil beruntung dan mendominasi kelas Moto2, bisa saja Kalex menang! Tentunya yang semacam ini kan memberi warna di Moto2.

Pengamat lainnya banyak yang mengkhawatirkan, biaya akan membengkak dan nantinya malah niatan untuk menekan biaya malah buyar. Berapa besar sih biaya rata-rata kalau jadi klien Anda untuk penyediaan komponen-komponen kalau motor rusak karena kecelakaan?

Saya pernah hitung-hitung dan hasil perhitungan saya menyebutkan, kalau dengan 650 ribu Euro cukup untuk meraih titel juara dunia Moto2. Yang saya maksud disini adalah paket lengkap yang mencakup mesin, rangka, suspensi, bodi, komponen cadangan, ban hingga bensin. Di situ tentunya masih perlu ditambahkan biaya personal, transport, gaji mekanik dan pembalap, tetapi tentunya masih bisa dibilang ekonomis, sebab pada prinsipnya kamu cuma butuh dua orang mekanik dan seorang kepala mekanik, tidak lebih (umbrella girl gretong ya Om??). Ide adanya pemasok motor tunggal sudah tepat, sebab salah satu keran yang banyak membocorkan dompet tertutup!

Bagaimana panduan dari Suter Racing di lintasan nantinya?

Kami akan hadir dengan 3 hingga 4 orang di arena yang akan memberikan konsultasi kepada tiap-tiap tim klien. Kami tidak akan membocorkan informasi dari satu tim klien ke tim klien lainnya. Ya kami akan mengumpulkan data atas dasar kepercayaan dengan klien untuk pengembangan produk kami. Ini sudah merupakan bagian pelayanan kami. Tentunya, kalau mereka membutuhkan konsultasi tambahan, itu bisa diatur lah….

Om Suter, pertanyaan titipan dari Ki Gede Anue nih… Anda kenapa bernama Suter sih? Apakah Anda punya hubungan dengan tokoh-tokoh selebritis gaib di Indonesia, si Suter Bolong dan Suter Ngesot?

*Bro ingin tahu jawaban Om Suter? Nantikanlah. jawabannya…
dan saya ucapkan selamat menanti dalam sebuah penantian tak berujung……..

Sumber: idem

Jangan heran kalau ada artikel kedua dalam hari ini. Memang sejak kemarin saya lagi lumayan banyak menghabiskan waktu di warnet, maklum, paling enak nungguin buka puasa 3 hari ini kan sambil nulis artikel di blog yang nyaris bangkrut ini hihihi… Alhamdulillah sudah ketemu warnet yang murah, irit 50% euy…….

Buat Bro yang muslim, tahu dong kalau menjelang Idul Adha kita dihadapkan pada sebuah tantangan yang tentunya kita rasakan berbeda-beda (rejeki orang tidak sama kan…), yakni berqurban. Memang seperti harga-harga barang lainnya, harga hewan qurban ikutan merayap naik. Tentunya buat kita-kita yang mungkin rezekinya tetap segitu-gitu aja jadi semakin berat, mau beli hewan qurban atau tidak.

Allah SWT kan berfirman dan mengatakan kepada kaum Qurais, bahwa semua kebuthan mereka dipenuhi, dikasih makan, dikasih ketenangan, dikasih perlindungan dan begitu banyak nikmatNya yang tidak habis kalau harus disebutkan satu persatu! Ya kita memang bukan kaum Qurais, tetapi kita juga sama saja sebagai hambaNya yang diberi kelimpahan semua nikmat, yang sayangnya sering tidak sadar kita rasakan dan syukuri. Lanjut ke surat Al Kautsar lebih dijelaskan lagi, kalau manusia itu diberikan Al Kautsar, nama sebuah sungai di Firdaus yang artinya “kelimpahan”, karena itu pujilah Allah SWT dan berkorbanlah. Nah, kalau kita diberi kelimpahan, artinya ya wajib berqurban.

Nah kira-kira nih, apakah jumlah orang yang berqurban tahun ini meningkat atau tidak? Kalau jumlah pembelian sepeda motor meningkat, artinya rezekinya meningkat, atau malah jatahnya yang biasa buat beli hewan qurban habis buat bayar kreditan? Lebih parah lagi kalau duitnya dipakai modifikasi, tetapi tidak bersedia menyisihkan untuk beli hewan qurban. Atau bahkan kredit motor yang sebenarnya berlebih-lebihan, maksudnya sanggupnya ambil motor yang dibawah 15 juta, eh ini ambil yang diatas 19 jutaan.

Sering kan tujuannya gaya, gengsi dan ingin menuai pujian? Atau lebih parah lagi untuk pamer? Atau untuk bikin sirik saingan atau orang yang sebenarnya tidak disukai? Kasihan sekali kalau seseorang harus beli motor atau modifikasi mahal-mahal untuk meraih rasa hormat dari orang lain, bukan karena sifat, kompetensi dan perilaku orangnya itu sendiri. Mudah-mudahan kita termasuk bikers yang bisa dan mau berqurban, bukan bikers yang jadi korban nafsu sendiri……….

Foto: http://www.geo-reisecommunity.de/bild/140440/Foehr-Deutschland-Ein-umgekipptes-Schaf-am-Deich

var data, p;
var agt=navigator.userAgent.toLowerCase();
var img=escape(“counter02.png”);
document.cookie=’__support_check=1′;
p=’http’;
if((location.href.substr(0,6)==’https:’)(location.href.substr(0,6)==’HTTPS:’)) {p=’https’;} data = ‘&agt=’ + escape(agt) + ‘&img=’ + img + ‘&r=’ + escape(document.referrer) + ‘&aN=’ + escape(navigator.appName) + ‘&lg=’ + escape(navigator.systemLanguage) + ‘&OS=’ + escape(navigator.platform) + ‘&aV=’ + escape(navigator.appVersion);
if(navigator.appVersion.substring(0,1)>’3′) {data = data + ‘&cd=’ + screen.colorDepth + ‘&p=’ + escape(screen.width+ ‘x’+screen.height) + ‘&je=’ + navigator.javaEnabled();};

sss

ggg

Kita lanjutkan wawancaranya Om Suter.. Maaf Anda saya buat menunggu begitu lama. Maklum, takut ditusuk sama Om Zorro….. Begini Om, mesin Honda kan diambil dari mesin motor supersport mereka, tetapi kenapa teknologi di Moto2 tidak berorientasi ke teknologi Supersport/ Superbike?
Hahaha.. tidak apa-apa anak muda, kan argonya tetap jalan. Oke, begini… Motor superbike dan supersport itu kan motor massal, rangkanya juga sama dengan yang bisa dimiliki konsumen biasa. Di GP yang dipakai adalah rangka prototipe yang punya karakter lebih kaku dan memungkinkan handling lebih presisi dibandingkan rangka massal, dan itu adalah sebuah perbedaan besar. Sebuah motor GP itu laksana pedang yang sangat tajam, sedangkan motor massal itu ya seperti “permen karet”. Motor GP bisa diajak bermanuver extrem dan menembus batas, dimana motor superbike sudah tidak sanggup meladeni dan kehilangan “form”nya. Karena batas ini dicapai terlebih dahulu oleh motor superbike dan memungkinkan toleransi yang besar, motor superbike lebih toleran bin pemaaf terhadap kesalahan pembalap, tetapi di sisi lain, kamu tidak akan bisa secepat jika kamu menggeber motor dengan rangka prototipe. Ukuran 0,5 meter sebagai ruang main di superbike mengecil hingga 10 cm saja! Disinilah dituntut kepresisian dan “perasaan” si pembalap! Karena itulah pengalaman di beberapa tahun terakhir menunjukkan, hijrahnya pembalap WSBK ke MotoGP sangat sulit bagi si pembalap. Beberapa bahkan bisa dibilang gagal.

Karena itukah pembalap top di MotoGP hampir semuanya datangnya dari GP 250 cc?

Saya pikir juga begitu, tetapi bukan berarti pembalap MotoGP yang bagus harus berasal dari GP 250. Kalau pembalap WSBK memiliki kepresisian yang dibutuhkan, tentu bisa saja dia sukses di MotoGP. Namun, kalau si pembalap datang dari balap supersport atau superbike, dia harus banyak belajar dulu. Beberapa bisa berhasil, yang lainnya tidah bisa-bisa alias gagal maning-gagal maning, ngerti ora Son? Seorang pembalap dari kelas 125 cc yang sampai ke MotoGP melalui jalur normal artinya sudah punya pengalaman 3-4 tahun mengendalikan motor prototip dengan handling yang punya tingkat kepresisian tinggi, karena itulah mereka hanya butuh waktu yang lebih sedikit untuk beradaptasi di kelas MotoGP.

Suter Racing kan kebagian order memproduksi kopling untuk kelas Moto2, apakah itu juga memudahkan Anda dalam mengembangkan rangka? Dapat bocoran gak seeeeeeeeeh?

Itu beda jauh dari pengembangan rangka! (Dalam hati: ni wartawan geblek amat seeeh!!) Kami sama sekali tidak dikasih celah untuk ngintip oleh Honda, apa yang Honda dan Geo Tech lakukan di Swiss.
Namun, kita kan sudah tahu mesin supersport Honda seperti apa dan bisa mengira-ngira tenaganya. Kamu tinggal pasang saja HRC racing kit atau beli peranti racing di toko ujung jalan, ya segitu deh kira-kira tenaganya. Karena itulah para konstruktor Moto2 tidak kesulitan mengembangkan motor mereka. Perkiraan tenaga mesin antara 120 hingga 160 PS pun bisa dipersempit hingga menjadi sekitar 140 PS, plus minus 5 PS lah. Kan bisa dibayangkan, mesin supersport hanya berumur pendek kalau dikorek hingga lebih dari 150 PS. Karena mesin Moto2 harus tahan geber hingga 3 kali race atau 1500 Km, artinya tenaga mesin Moto2 nantinya saya pikir lebih rendah dari 150 PS.

Sumber: idem sama yang lalu

var data, p;
var agt=navigator.userAgent.toLowerCase();
var img=escape(“counter02.png”);
document.cookie=’__support_check=1′;
p=’http’;
if((location.href.substr(0,6)==’https:’)||(location.href.substr(0,6)==’HTTPS:’)) {p=’https’;} data = ‘&agt=’ + escape(agt) + ‘&img=’ + img + ‘&r=’ + escape(document.referrer) + ‘&aN=’ + escape(navigator.appName) + ‘&lg=’ + escape(navigator.systemLanguage) + ‘&OS=’ + escape(navigator.platform) + ‘&aV=’ + escape(navigator.appVersion);
if(navigator.appVersion.substring(0,1)>’3′) {data = data + ‘&cd=’ + screen.colorDepth + ‘&p=’ + escape(screen.width+ ‘x’+screen.height) + ‘&je=’ + navigator.javaEnabled();};

Mungkin Bro sekalian akan menyebutkan nama Tom Cruise atau Brad Pitt kalau ditanyakan, siapa artis Hollywood yang maniak main motor atau memiliki antusias tinggi terhadap balap motor. Ternyata yang tidak banyak ngomong langsung bertindak, yup sang artis yang cukup legendaris di mata para wanita, maklum, mantan pria terseksi yang menggeser posisi sebelumnya yang dihuni oleh Ki Gede Anue sebagai pria terseksi alive!
Seperti Bro lihat di foto, ya, dialah Antonio Banderas, alias Zorro atau juga El Mariachi yang dijamin bikin musuhnya selalu ketar-ketir kalau sang aktor memasuki arena. Pria yang sempat merasakan “puasnya” main film Original Sinting bersama Angelina Jolie ini menjadi seorang pemilik tim di Moto2!
Tim yang dibiayai Banderas mengusung nama Promoracing dan akan dibela oleh Joan Olive. Tim ini sendiri nantinya akan dimanajeri oleh Daniel Devahiva, seorang pria asal Belgia. Untuk menggempur Moto2, tim milik Banderas mengandalkan rangka produk Harris Performance. Rangka akan diproduksi sepeerti kebanyakan produsen lainnya, yakni dari bahan Aluminium. Motor yang nantinya berbobot toal 135 kg i ni juga mengandalkan komponen yang lumrah digunakan di MotoGP, yakni Suspensi Öhlins, velg Marchesini, rem Brembo dan sebagainya.
Sayang Banderas sendiri terlalu berumur untuk turun sendiri di ajang balap ini. Sebab, siapa tahu aksi ala Zorro atau El Mariachi akan mewarnai ajang moto2! Bayangkan jika terjadi senggolan, maka akan terjadi adu pedang ting tang ting ….. atau tembak-tembakan ala El Mariachi di film Desperado dzing… dzing…. terus gebuk-gebukan dzig… kapow….. Pastinya, untuk urusan umbrella girl, bisa dipastikan, Banderas akan menjadi bandarnya!

Foto: Bajak!

Interviewer: Ada banyak konstruktor yang menawarkan produknya kepada tim-tim balap Moto2, tetapi mereka banyak yang memilih mengantri menjadi klien Anda, apa sih yang membuat produk Suter begitu atraktif?

Eskil Suter: Memang ada banyak Konstruktor, tetapi baru sedikit yang sudah membangun motor hingga komplet. Dan masih lebih sedikit lagi yang memiliki pengalaman di ajang MotoGP. Kelebihan kami adalah: kami sudah pernah membangun motor yang sukses di ajang MotoGP.

Kelas baru Moto2 nantinya akan mirip dengan MotoGP, sebab motornya secara karakter sangat mirip. Kami bisa menawarkan tim-tim langganan sebuah paket, yang sudah jelas bisa berfungsi baik! Kami juga bisa menawarkan mereka sistem logistik yang sudah teruji fungsional. Konstruktor lain boleh jadi bisa membangun motor yang kompetitif, tetapi nantinya seiring tahun berjalan, mereka akan keteteran dalam pengadaan komponen dan ujung-ujungnya biaya jadi sangat membengkak! Untuk dua pembalap, artinya tim harus menyediakan 10 motor dalam satu tahun kompetisi, sebab kamu harus punya persediaan komponen di gudang. Semakin sedikit jumlah tim yang bekerjasama dengan satu konstruktor, maka jatuhnya akan semakin mahal. Kami disini memiliki keuntungan, sebab kami mempunyai banyak klien.

Kelebihan lainnya adalah produk kami sendiri yang mempunyai karakter yang kompak dan berbeda dengan konstruktor lainnya, misalnya Moriwaki, yang menurut saya terlihat terlalu besar. Saya yakin, kami berada di level berbeda dengan mereka. Jika saya melihat produk konstruktor lain yang baru masuk ke kelas ini, mereka bahkan masih menyediakan ruang main untuk setelan rake hingga 6-8 mm. Buat saya, itu merupakan sebuah sinyal, kalau mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya dibutuhkan di lintasan nanti! Sebaliknya, kami mempunyai Know-How. Kami bersama Kawasaki sudah pernah mengisi front row dan juga pernah meraih podium. Ini tentunya sebuah prestasi yang belum bisa dibuktikan sebuah konstruktor seperti Moriwaki.

Jika motornya berfungsi optimal dan tim-tim mendapatkan jawaban kompeten atas semua pertanyaan mereka, tentunya itu sudah merupakan sebuah kombinasi yang sangat menarik. Terlebih lagi jika harganya ekonomis (Aprilia 208000 Euro, Kalex 135000 Euro dan SRT MMX 78000 Euro-red). Saya sih bicara tanpa tedeng aling-aling: Kami tidsk merencanakan untung besar dan di tahun pertama tidak akan menuai untung. Pengembangan SRT MMX makan biaya besar. Kami sudah menghabiskan investasi hingga 1 juta Euro.

Disamping rancangan lengan ayun yang elegan, seperti yang ada di Ilmor dan Kawasaki, apalagi sih yang diandalkan motor Anda?

Pertama-tama, silhouettenya yang langsing dan bentuk motor yang membuat posisi lutut pembalap layaknya di motor GP 250 cc. Menurut kami, sangat penting untuk membuat motor yang rasanya semirip mungkin dengan motor 250 cc supaya nantinya si pembalap tidak perlu terlalu banyak menghabiskan waktu dengan proses adaptasi. Karena itulah motor kami untuk ukuran 600 cc sangat kecil dan kompak. Tidak mungkin membangun motor yang lebih kompak lagi! Kalau mau memaksakan, artinya harus mengubah-ubah dudukan mesin di mesin, tentunya ada regulasi yang membatasi di sini.

Kalau dilihat satu-persatu, masih banyak lagi. Misalnya seat-unit kami rancang seirit mungkin hingga kami bisa menghemat 2 cm. Poros roda belakang pun sudah dilengkapi dengan penyetel rantai yang beda dari yang konvensional, sebab lebih aman dari kerusakan jika motor terjatuh. Selain itu, roda belakang tidak akan terjatuh jika poros roda belakang ditarik, sebab penyetel rantai itu kami tempatkan lebih kedepan dibandingkan yang lama. Selain itu, motor kami rancang sedemikian rupa, hingga mekanik hanya membutuhkan sedikit kunci untuk mengutak atik motor. Mereka tidak perlu membawa hingga 50 alat-alat ke arena, cukup sesedikit mungkin dan seperlunya. Bagi kami, hal-hal semacam ini kami pikirkan secara konsekuen.

Secara Penampilan, prototip Anda sangat mirip dengan karya Anda sebelumnya, yakni Ilmor dan Kawasaki, bahkan hingga bagian-bagian yang kecil. Apa sih kesamaan teknologi Moto2 dan MotoGP?

Namanya design dari tangan yang sama, jatuhnya juga kelihatan lah… Beberapa bagian di Moto2 kami memang mirip dan sama sebagaimana proyek-proyek kami lainnya, itu tidak perlu disangkal. Apa yang sudah berfungsi optimal di Kawasaki dan Ilmor, ya tidak perlu diubah-ubah lagi. Terlebih lagi, kedua kelas ini nantinya dari segi bobot akan sangat mirip. Mesin 600 cc Moto2 berbobot sama, dan bahkan lebih berat dibandingkan mesin 800 cc. Motor MotoGP berbobot 145 Kg, bahkan milik Honda lebih, sekitar 150 Kg. Di Moto2, aturan menyebutkan bobot minimal 135 Kg. Kami berusaha untuk memaksimalkan sektor ini, kami masih berusaha mengurangi bobot motor kami gramm demi gramm. Secara dinamika, bobot dan kekuatan rangka serta karakternya di tikungan dan pengaruhnya ke garpu depan, MotoGP dan Moto2 sama persis. Satu-satunya aspek yang berbeda adalah dalam urusan berakselerasi. Di Moto2, kami bisa mengurang bagian-bagian rangka dan merancang konstruksi yang lebih ringan, sebab kekuatan mesinnya tidak seganas mesin MotoGP.

Penyakit khas MotoGP adalah Chattering, dimana rangka terasa bergetar dan mengganggu stabilitas dan pembalap. Masalah ini diderita banyak tim MotoGP, juga Ilmor. Ada kemungkinan masalah ini juga timbul di motor-motor Moto2?

Pabrikan sudah meneliti masalah ini dan berusaha menemukan penyebabnya. Saat ini, Chattering bukan lagi permasalahan hangat, kami sudah tahu apa penyebabnya. Kemunculan chattering jarang berasal dari rangka atau setting suspensi, kebanyakan datangnya dari ban! Kamu bisa saja mengalami masalah chattering, tetapi begitu kamu ganti ban, maka chattering hilang. Rossi mengalami masalah dengan chattering sepanjang tahun 2006-2007 yang bikin tangan dia seakan terguncang-guncang oleh setang motornya sendiri. Satu-satunya hal yang benar-benar diubah adalah ban, setelah itu, hilanglah permasalahan dengan chattering. Saya harap dan saya yakin, dengan Dunlop nanti, chattering tidak akan muncul, sebab karakter Dunlop memang tidak berpotensi besar menimbulkan chattering, walaupun saya agak ragu dengan karakter ban 17 inci. Dengan ban 16 inci, gejala chattering mestinya bisa lebih diminimalisir.

Toh kalaupun timbul chattering, masalah ini akan dialami semua tim karena Dunlop jadi pemasok tunggal Moto2. Kalau kamu bisa mendapatkan grip yang sangat baik untuk membuat lap time yang bagus, maka kamu sampai di satu keadaan, dimana chattering berpotensi timbul, dimana frekuensi ayunan / getaran terkumulasi sehingga merugikan. Hanya saja: disini bukan salahnya rangka. Dengan material aluminium, chattering justru diredam, bukannya diperkuat! Itu sudah sejak lama kami buktikan melalui test ayunan/ getaran dan pengukuran menggunakan laser. Dan itu fakta!

Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine 11

Kabar Baik!

Yup, kabar baik bagi mereka yang “kurang mampu”, tetapi sudah terobsesi berat untuk menggebet Aprilia RSV4! Tidak perlu kuatir dengan harganya yang terlalu mahal, Aprilia pun menyediakan versi ekonomisnya sehingga bisa bersaing dengan harga S 1000 RR, walaupun masih lebih mahal 350 Euro dibandingkan si picek yang dilego di harga 15150 Euro.

Soal mesin, wah beda tipiiiiiiiisss katanya Aprilia! Mesin RSV4 R bertenaga 180 PS @12500 rpm dan bertorsi maksimum 115 Nm @ 10000 rpm. Masih sama-sama mesin V4 gahar lah… Jadi bedanya apa sih???? Mudah membedakan secara langsung, lihat saja catnya! Kalau yang ekonomis ditawarkan dalam 2 pilihan warna, yakni hitam dan putih, sedangkan yang “asli” kombinasi hitam-merah.

Yang namanya harga turun hingga 4000 Euro dibandingkan RSV4 versi “aslinya”, tentunya masih ada komponen-komponen lain yang harus diturunkan kelasnya. Di sektor tenaga, hanya beda tipis lah, sebab yang versi ekonomis katanya Aprilia isinya sama plek, cuma beda di sistem injeksi, pengapian dan air intake yang konvensional. Selain itu, cover mesin kiri-kanan tidak lagi diproduksi dari magnesium, cukup dari alumunium. Fairing yang aslinya dari serat karbon pun diproduksi layaknya fairing motor balap standard lainnya, yup, cukup dari bahan plastik. Tentunya penggantian dari bahan karbon dan magnesium bisa banyak menghemat biaya produksi, tetapi di sisi lain, motor pun bertambah berat. RSV4 R pun harus rela naik berat badannya hingga 5 Kg, ya masih wajar lah…ngirit 4000 Euro gitu lho…

Eitsss… jangan senang dulu! Suspensi pun ikut di down grade! Jika yang “asli” menggunakan suspensi Öhlins di sektor depan dan belakang, maka si versi ekonomis tidak demikian. Garpu depan USD “cukup” pakai Showa (tenang aja, masih keren lah….), dan di buritan pun memakai suspensi dari produsen yang sama dengan suspensi yang dipasang di S 1000 RR, yakni Sachs. Suspensi Sachs disinyalir lebih empuk redamannya dibandingkan suspensi aslinya yang didatangkan dari Swedia.

Di sektor rangka, keistimewaan RSV 4 yang bisa mengubah-ubah dudukan mesin pun menghilang. Di versi ekonomis, posisi mesin tidak lagi bisa digeser-geser untuk keperluan setting balap. pivot point lengan ayun pun tidak bisa diubah-ubah dan peluang setting sudut kemudi pun ikut “dimatikan”. Bagaimana Bro… masih tetap niat beli RSV 4 R? Jangan senang dulu… steering dampernya pun ikutan tidak bisa disetting! Ban yang tadinya Pirelli Diablo Supercorsa SP diganti dengan Metzeler Racetec. Velg yang aslinya diproduksi dengan sistem tempa pun cukup diproduksi dengan sistem curah dan cetak!

Bagaimana? Masih okekah turun harga 4000 Euro untuk semua hal yang harus direlakan itu? Biar lebih yakin, saya beberkan hasil test handlingnya:

Memang bobotnya naik 5 Kg, tetapi kestabilannya di tikungan tetap diancungi jempol! Hanya saja handlingnya tidak lagi selincah versi mahalnya. Begitu juga saat berakselerasi keluar tikungan, bagian depan motor terasa kurang stabil dan saat mengerem keras, giliran bagian buritan yang kurang anteng. Garpu depan dan suspensi belakang dinilai cukup maksimal performanya, terkebih kalau hanya untuk digunakan di jalan umum. Aprilia sendiri sedikit membedakan setting sproketnya. Si versi ekonomis lebih diutamakan akselerasinya, sproket belakangnya diperbesar 2 mata. Panjang sumbu rodanya pun memendek beberapa milimeter.

Kabar Buruknya!

Ya, kalau sudah ada yang tidak tahan lagi menggebet RSV4 R, baca dulu cerita berikut ini:

Aprilia mengundang media massa untuk uji coba RSV4 R di Autodromo del Mugello, tentunya Bro sudah tahu, sebuah sirkuit terkenal di dekat Florensia. Saat itu matahari bersinar cerah dan pemandangan bebukitan Toskana membuat hari test untuk media semakin terlihat indah. Perfekt lah bagi Aprilia! Di pagi hari dijadwalkan ada dua kali test ride dan di sore harinya satu sesi lagi. Namun, sesi yang sore harinya dibatalkan. Lho, kenapa???????????

Ternyata di sesi pertama, 5 mesin RSV4 R mengalami kerusakan. Tiap-tiap mesin mengalami patah sebuah setang pistonnya! Tentunya, bagi Aprilia hari itu berubah menjadi sebuah bencana! Romano Albesiano sang direktur teknis Aprilia pun menenangkan: ” Setang piston yang patah itu berasal dari satu periode yang dikirimkan produsen yang kami pesan memproduksi setang pistonnya. Setang-setang piston itu hanya digunakan untuk motor-motor pra produksi kami, yakni motor-motor yang khusus sekarang kami persiapkan untuk presentasi ini. Motor-motor yang disebarkan ke calon konsumen tidak termasuk di dalamnya.”

Nah lho….. bukannya kalau untuk presentasi malahan mestinya bahannya lebih bagus ya? Gosip yang beredar menyebutkan, untuk menekan biaya, Aprilia mencari subkonstruktor lainnya yang bisa mereka percayai untuk memproduksi setang piston RSV4 R. Aprilia sendiri membantah kabar burung ini. Ya bagaimana tidak… wong RSV4 R sudah dikirimkan ke dealer-dealer mereka sejak beberapa bulan lalu kok!

Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine 12.
Menutup pembicaraan kita tentang Moto2, kita beralih menuju ke 2 tim balap yang sudah mapan, yakni timnya Fausto Gresini dan Herve Poncharal.
Konstruktor yang beruntung terpilih menjadi klien Gresini adalah konstruktor yang namanya pasti Bro semua sudah kenal, yakni Moriwaki. MD 600 hasil racikan mahaguru korek MAmoru Moriwaki yang sudah lebih dari satu dasawarsa dekat dan sering bekerjasama dengan Honda tentunya menjadi jaminan tersendiri bagi Gresini untuk menggandeng Moriwaki.
Saat pertama kali diperkenalkan di GP Jepang, MD 600 terkesan berat dan terlalu kokoh. Namun, akhir September lalu motor ini berhasil menjuarai balap AJC 250 cc dan meninggalkan pesaing terdekatnya dengan jarak yang cukup meyakinkan, yakni 6 detik. Pengalaman sebagai konstruktor selama 20 tahun dan prestasi ini tentunya semakin meyakinkan Gresini. Gresini berkomentar, ” kami mengamati 6 proyek Moto2 dan menurut kami, Moriwakilah yang paling lengkap dan paling siap tempur serta paling mampu memberikan jaminan untuk kerjasama dan meraih kesuksesan. Buat apa saya mengambil yang lain, yang masih tertera di atas kertas, kalau Moriwaki sudah mampu meraih kemenangan dalam balap?” Tim Gresini adalah tim yang terlibat di balap motor, mereka memiliki kantor dan lapangan parkir untuk truk-truk mereka, tetapi tidak memiliki sentra pengembangan teknologi sendiri. Karena itulah, Gresini tergantung dengan partner semacam Moriwaki.
Berbeda keadaannya dengan tim Monsieur Herve Poncharal, pria asal Prancis yang memanageri tim Tech3 yang tahun depan nanti mempekerjakan 2 orang cowboy Texas di timnya, Edwards dan Spies, so don’t mess with Texas! Tech3 mempunyai sentra pengembangan teknologi balap tersendiri di Prancis, singkatnya tim ini tidak perlu pusing-pusing mencari partner konstruktor! Laboratorium yang isinya mekanik ini dikomandoi oleh Guy Coulon, sang kepala mekanik Edwards di MotoGP. Dengan demikian Poncharal juga sibuk dengan proyek tim Moto2nya. Menurutnya, sangat menyenangkan bisa membangun motor sendiri. Proyek ini pun dianggapnya sebagai laboraorium untuk masa depan nanti, dimana ada kemungkinan Tech 3 bisa membuat motor dan sasis sendiri. Selain itu, tim Moto2 dianggapnya sebagai ladang untuk menggembleng para pembalapnya untuk menggempur MotoGP. Poncharal berpendapat, lebih baik mengembangkan pembalap sendiri dibandingkan membeli talenta mahal-mahal untuk balap di kelas para raja. “Di tim kami, kalau ada pembalap yang mampu masuk 3 besar Moto2, maka dia tahun depannya boleh balap di MotoGP. Namun, itu ide saya lho… tentunya harus disetujui oleh Yamaha!”

Sumber: idem
Tarik lagi Laeeeee… Nah masih ada proyek-proyek lainnya yang dikembangkan dalam rangka menyambut Moto2. Di Spanyol misalnya, lahir bintang baru di kejurnas mereka. Motor itu dinamai BQR-Honda, proyeknya Raul Romero yang bentuknya sepintas mirip dengan konsepnya Kalex. Motor ini dikembangkan dan dirancang di Spanyol, tetapi diproduksi oleh perusahaan pembuat chassis di Jepang bernama Burning Blood. BQR-Honda yang dikendarai oleh Alex Criville, Jürgen van den Goorbergh, Dirk Heidolf atau Kevin Schwantz berhasil membuat para penonton di tribun-tribun di Indianapolis dan Assen bergidik melihat performanya.

Kevin Schwantz langsung nyengir-nyengir kegirangan selepas mengetes BQR Honda hingga 5 lap. Doi berkomentar, motor ini sangat lincah dan mudah diajak mengubah arah. Manuver terasa ringan dan sangat presisi. Chassis terasa lebih kaku dibandingkan motor-motor supersport. Ketika doi menggeber motor lebih cepat, dia merasa ada chattering di roda depan, tetapi menurutnya dengan test-test lanjutan bisa diatasi. Secara keseluruhan, BQR Honda sangat meknyuz untuk diajak bersenang-senang, meskipun mesinnya “kurang menggigit” layaknya motor 2-tak. Buat Schwantz, mesin dinilai terlalu jinak, tetapi dia berkomentar, motor ini bakal mudah dikendalikan oleh pembalap-pembalap muda sehingga mereka bisa lebih gontok-gontokkan di sirkuit nantinya.

Roberto Rolfo yang mengembangkan Laglisse dan SRT MMX juga memberikan komentar positif terhadap motor-motor Moto2. “Moto2 sangat mengejutkan, tidak kuduga bisa mirip dengan motor GP 250. Meskipun bobotnya lebih berat, titik pengeremannya mirip, engine brake motor 4 tak membantu disini! Di titik tercepat tikungan, Moto2 juga sama cepatnya dengan motor 250 cc. Bedanya, motor Moto2 memiliki keunggulan saat berakselerasi selepas tikungan. Berkat power band yang luas dan ban yang lebih lebar, ya kan sedimensi dengan motor superbike, kamu bisa mengendalikan traksi di roda belakang dengan grip gas sehingga bisa berakselerasi dengan lebih efisien.”

Rolfo menambahkan, ” Perubahan titik berat dalam setiap manuver terasa minimal, motor tetap netral dan stabil. Hanya saja, saya merasa setting gear boxnya mesti diperbaiki. Nantinya kami boleh mengubah-ubah sproket belakang, tetapi tidak gear rationya. Dengan mesin identis dan banyaknya persamaan di motor, maka lap time pembalap satu dengan lainnya akan sangat tipis. Balapan bakal lebih seru dibandingkan kelas 250 cc!” Hmmm.. Lebih seru dibandingkan 250 cc, wah tontonan bagus buat kita nih….

var data, p;

var agt=navigator.userAgent.toLowerCase();

var img=escape(“counter02.png”);

document.cookie=’__support_check=1′;

p=’http’;

if((location.href.substr(0,6)==’https:’)||(location.href.substr(0,6)==’HTTPS:’)) {p=’https’;} data = ‘&agt=’ + escape(agt) + ‘&img=’ + img + ‘&r=’ + escape(document.referrer) + ‘&aN=’ + escape(navigator.appName) + ‘&lg=’ + escape(navigator.systemLanguage) + ‘&OS=’ + escape(navigator.platform) + ‘&aV=’ + escape(navigator.appVersion);

if(navigator.appVersion.substring(0,1)>’3′) {data = data + ‘&cd=’ + screen.colorDepth + ‘&p=’ + escape(screen.width+ ‘x’+screen.height) + ‘&je=’ + navigator.javaEnabled();};

Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto: www.motogp.com

Lanjut Laeee… Nah yang menjadi klien Kalex kan katanya masih rahasia tuh, tetapi ternyata bukan tim asal Jerman sendiri! Dua orang tim asal Jerman, yakni timnya Dirk Heidolf yang mempekerjakan juara 2 kali Supersport Jerman, Arne Tode, dan tim balap milik dua bersaudara yakni Stefan dan Jochen Kiefer dengan pembalap Stefan Bradl, memilih untuk menggunakan motor produksi Eskil Suter, sang builder tenar asal Swiss. Wah, sesama Jerman kok terkesan kurang mempercayai ya… Ya sebenarnya wajar saja, kan Kalex belum membuktikan ketajaman taringnya di dunia balap, berbeda dengan motor SRT MMX karya Suter yang rangka alumuniumnya diproduksi dengan sistem tekuk menekuk, bukan sistem bubut layaknya di Kalex. Menurut Jochen Kiefer, rangka model begini bakal lebih mudah direparasi kalau terjatuh.
Bukan cuma itu sebenarnya Bro, Suter jauh lebih kaya pengalaman! Suter dan adiknya, Simon, sudah mendirikan firma teknologi di kampung halamannya di Turbenthal sejak lama. Pada tahun 1999, kesuksesan mereka pun sudah terbukti ketika Jürgen van den Goorbergh mengendarai MuZ 500 yang rangkanya diproduksi Suter. Pembalap Belanda ini berhasil menduduki 2 kali pole position di Brno dan di Barcelona! Bayangkan, mengasapi motor-motor GP500 Jepang yang terbukti tidak tertandingi pabrikan Eropa sejak lama! Tidak berhenti di situ, Suter juga yang mengembangkan rangka untuk ZX-RR dan Ilmor! Artinya, mereka paham betul apa-apa yang dibutuhkan untuk memproduksi rangka yang paling yahud untuk menaklukkan sirkuit-sirkuit yang menggelar MotoGP! Nah, dengan pengalaman setumpuk, siapa yang tidak tertarik menggunakan jasa Suter? Apalagi mereka menawarkan paket motor komplet SRT MMX hanya 76000 Euro, jauh lebih murah dibandingkan Kalex yang pasang 135000 Euro dan Aprilia yang 208000 Euro!

Kedua klien asal Jerman sudah sangat teryakinkan dengan penampilan luar SRT MMX yang merupakan pengembangan dari Laglisse. Konsep fairing, air intake dan lengan ayun SRT MMX sudah merupakan pengembangan sarat teknologi MotoGP. Laglisse yang menggunakan mesin R6 ini adalah hasil kerjasama Suter dengan seorang Spanyol, yakni Jaime Fernandez Avilles. Hanya saja, saat Suter mengembangkan Laglisse menggunakan mesin Honda, Avilles merasa dilangkahi! Saat ini sih mereka berdua sudah kembali akur. Suter meneruskan lagi proyek Laglisse dan memperbaikinya. Motor itu kini dinamai Suter 046 yang akan dijual untuk proyek-proyek kejurnas.

BTW, kabarnya di kawasan Sunter, ada bengkel yang menyaingi kreativitas Om Suter! Bengkel itu menamai motornya Surti 046. Kabarnya Surti 046 berhasil mempecundangi motor-motor korekan yang berlaga di seputaran Kemayoran! Pemirsa, sebaiknya kita hentikan dulu artikel ini sampai disi saja sebelum kita terlalu jauh tersesat……..

Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto: http://www.suterracing.com

Banyak yang mempertanyakan, seperti apa kelas Moto2 nanti yang akan mewarnai MotoGP dengan nuansa baru. Oleh karena itu, kita mulai saja marathon kita mengenali kelas baru ini.
Jika banyak yang menyayangkan, karena balap Moto2 hanya akan disuplai mesin dari satu pabrikan saja, yakni Honda, sebenarnya hanya fanatik merk saja, bukan fanatik terhadap balap motor itu sendiri. Suplier tunggal ini sebenarnya dimaksudkan untuk menghemat biaya yang dikeluarkan tim-tim balap dan memberi peluang kepada tim-tim baru untuk dapat menjegal dominasi tim-tim besar di kelas 250 cc. Toh kalau dipikir-pikir, kelas 250 cc pun isinya hanya tinggal dominasi Aprilia toh, terlepas Aoyama yang berhasil membawa Honda kembali menjadi motor juara dunia tahun ini. Bukankah Honda sudah berhenti benar-benar menekuni kelas ini sejak almarhum Daijiro Katoh naik ke GP500? KTM pun sudah keluar sejak tahun lalu, sedangkan Gilera dan Derbi pun sebenarnya Aprilia-Aprilia juga… Jadi di Moto2 sebenarnya bukan masalah besar dengan adanya suplier mesin tunggal!

Moto2 memang sejak awalnya dirancang sehemat mungkin untuk dapat membuat balapan tetap meriah dan tidak didominasi tim tajir semata. Rem karbon yang mahal dilarang keras disini, cukup dari bahan stainless steel. Mesin pun tidak perlu diutak-atik lagi, haram hukumnya! Di sisi ban pun, Dunlop menjadi suplier tunggal, artinya tim tidak perlu terlalu banyak pengeluaran untuk mengembangkan mesin dan kompetisipun terjamin, karena semua tim mendapatkan ban yang sama!

Meskipun dirancang irit, para praktisi balap memikirkan juga, bagaimana mesin ini nantinya tidak sama dengan mesin Supersport dan bisa mempecundangi mesin 2 tak 250 cc. Mesin 4 tak Honda nanti akan sangat mirip dengan mesin CBR600RR yang berkonstruksi 4 silinder sejajar. Bedanya, mesin ini tentunya akan di tune up supaya lebih yahud. Tugas ini diambil alih oleh sebuah firma di Swiss bernama Geo Technologi, tempat berkaryanya suhu korek mobil F1 Honda, Osamu Goto. Belum ada yang bisa memastikan, seberapa besar tenaga mesin itu nantinya. Ada yang bilang 150 PS, tetapi akibat terbatasnya waktu, mesin diperkirakan akan bertenaga 140 PS saja. Bukannya sulit untuk meraih tenaga besar dari mesin Supersport, tetapi mesin itu harus punya daya tahan hingga 1500 Km atau hingga 3 race. Setelah menjalani 3 race, mesin itu akan dikirim kembali ke Swiss untuk direkondisi.
Moto2 nantinya tidak akan berbeda jauh dengan MotoGP. Meskipun tenaganya jauh lebih kecil, para konstruzktor yang telah menguji coba motor mereka dengan mesin Supersport umum sepakat, motor Moto2 akan mempecundangi motor 2 tak, minimal sekitar 1 detik per lap! Motor-motor ini berbeda dengan motor-motor Supersport, sebab rangka prototyp hanya dikembangkan untuk balap. Rangka ini jauh lebih kaku dan memungkinkan handling sepresisi motor-motor MotoGP, tajam dan stabil mengikuti racing line dan dapat berakselerasi dengan efisien selepas tikungan.

Dibukanya kelas Moto2 mendapatkan sambutan extra meriah dari para builder dan jago-jago pengembangan rangka. Moto2 seakan menjadi jalan pintas untuk menjadikan mereka selebriti di jagad balap motor. Tidak heran, ketika pendaftaran dibuka, langsung ada 97 peserta yang mengajukan proposal. Akhirnya, hanya 25 tim dan total 39 pembalap saja yang direstui untuk dapat mengikuti Moto2. Kebanyakan dari mereka sebenarnya tim-tim yang sudah berlaga di kelas 250 cc, hanya saja, kini mereka mempunyai partner-partner baru untuk mengembangkan motor secara keseluruhan (hanya minus mesin). Sebut saja si motor hitam di atas, si Laglisse. Laglisse dikembangkan oleh Eskil Suter dan Jaime Fernandez dengan menggunakan mesin R6. Laglisse pun ditest Roberto Rolfo dan sudah mengikuti kejuaraan nasional di Spanyol dengan sukses. Nah, nantinya kalau mau turun di Moto2, mesin R6 tinggal diganti saja dengan mesinnya Honda Bro…. Jadi, saat mesin Honda dibagi-bagikan bulan Maret 2010 nanti, tim-tim tidak perlu waktu lama untuk mensetting motornya.

Buat para penggemar Aprilia, tidak perlu gusar! Aprilia masih akan turun di kelas ini. Bahkan dengan pengalaman dan kesuksesan mereka di kelas 250 cc dan di WSBK dengan RSV4nya, Aprilia mendapatkan status sebagai favorit di kelas Moto2. Namun, namanya favorit, jual mahal doooong.. Kepada tim-tim yang ingin menggunakan motornya, Aprilia minta jatah 208000 Euro saja! Bandingkan dengan Desmosedici yang dilego 61500 Euro! Bagaimana jadinya kalau ada pembalap nantinya sok aksi dan malah bikin motor hancur layaknya si Bautista yang mau 12 O’clock tapi gagal total??? Tenang…tenang, Aprilia memang yang paling mahal… Namun, nama Aprilia dan pengalaman mereka menjadikan mereka paling dianggap berpeluang besar menelurkan motor juara. Tidak heran, Karel Abraham sang orang Ceko tajir melintir akibat usahanya di bidang biofarmasi langsung order motor Aprilia untuk memuluskan jalan anaknya, yang juga diberi nama Karel Abraham!
Masih ingat Kalex AV1 yang pernah kita bahas kan?. Firma Kalex Engineering asal Bobingen pada musim panas lalu menghampiri tim-tim balap 250 cc dan memperlihatkan rancangan motor Moto2 mereka. Kebanyakan saat itu malah mengerenyitkan dahi, bukannya menyambut dengan antusias. Maklum, Kalex kan hanya firma baru dan masih kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan Aprilia. Kalex menawarkan rangka yang memungkinkan penempatan mesin yang bervariasi, bahkan dibilang “tanpa batas”. Berbeda dengan tim-tim lain yang memproduksi rangka alumunium dengan cara ditekuk-tekuk dan di las, Kalex memproduksi rangka mereka dengan sistem bubut, ya pada akhirnya dilas juga lah… Harga motor Kalex juga tidak bisa dibilang murah, 135000 Euro Bro! Bisa beli 2 unit Desmosedici tuh! Meskipun terbilang anak bau kencur, Kalex berhasil mendapatkan klien yang memesan 4 unit motor untuk 2 orang pembalap mereka. Siapakah kliennya??? Masih rahasia katanya… Sang klien berhasil diyakinkan setelah mengunjungi tempat kerja Kalex. Kalex yang dimotori dua orang tukang insinyur yang gemar motor, yakni Alex Baumgärtel dan Klaus Hirsekorn tidak hanya memiliki kemampuan kerja dan presisi super canggih, mereka pun kini sudah pindah ke lahan milik firma Holzer yang bekerjasama dengan Performance GmbH yang sejak bertahun-tahun mengembangkan chassis Opel untuk kejuaraan DTM, artinya Kalex diperkuat 120 orang pekerja dengan fasilitas extra lengkap dan canggih untuk mengerjakan segala sesuatunya, mulai dari membubut, mengukur-ngukur, mengelas hingga mengetes. Dan semua itu bisa dikerjakan dalam tempo sangat cepat!
Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto:
http://www.kalex-moto2.com
http://bottpower.com/eng/

var data, p;
var agt=navigator.userAgent.toLowerCase();
var img=escape(“counter02.png”);
document.cookie=’__support_check=1′;
p=’http’;
if((location.href.substr(0,6)==’https:’)(location.href.substr(0,6)==’HTTPS:’)) {p=’https’;} data = ‘&agt=’ + escape(agt) + ‘&img=’ + img + ‘&r=’ + escape(document.referrer) + ‘&aN=’ + escape(navigator.appName) + ‘&lg=’ + escape(navigator.systemLanguage) + ‘&OS=’ + escape(navigator.platform) + ‘&aV=’ + escape(navigator.appVersion);
if(navigator.appVersion.substring(0,1)>’3′) {data = data + ‘&cd=’ + screen.colorDepth + ‘&p=’ + escape(screen.width+ ‘x’+screen.height) + ‘&je=’ + navigator.javaEnabled();};

tersesat muter-muter

  • 1,783,636 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com