Tarik lagi Laeeeee… Nah masih ada proyek-proyek lainnya yang dikembangkan dalam rangka menyambut Moto2. Di Spanyol misalnya, lahir bintang baru di kejurnas mereka. Motor itu dinamai BQR-Honda, proyeknya Raul Romero yang bentuknya sepintas mirip dengan konsepnya Kalex. Motor ini dikembangkan dan dirancang di Spanyol, tetapi diproduksi oleh perusahaan pembuat chassis di Jepang bernama Burning Blood. BQR-Honda yang dikendarai oleh Alex Criville, Jürgen van den Goorbergh, Dirk Heidolf atau Kevin Schwantz berhasil membuat para penonton di tribun-tribun di Indianapolis dan Assen bergidik melihat performanya.

Kevin Schwantz langsung nyengir-nyengir kegirangan selepas mengetes BQR Honda hingga 5 lap. Doi berkomentar, motor ini sangat lincah dan mudah diajak mengubah arah. Manuver terasa ringan dan sangat presisi. Chassis terasa lebih kaku dibandingkan motor-motor supersport. Ketika doi menggeber motor lebih cepat, dia merasa ada chattering di roda depan, tetapi menurutnya dengan test-test lanjutan bisa diatasi. Secara keseluruhan, BQR Honda sangat meknyuz untuk diajak bersenang-senang, meskipun mesinnya “kurang menggigit” layaknya motor 2-tak. Buat Schwantz, mesin dinilai terlalu jinak, tetapi dia berkomentar, motor ini bakal mudah dikendalikan oleh pembalap-pembalap muda sehingga mereka bisa lebih gontok-gontokkan di sirkuit nantinya.

Roberto Rolfo yang mengembangkan Laglisse dan SRT MMX juga memberikan komentar positif terhadap motor-motor Moto2. “Moto2 sangat mengejutkan, tidak kuduga bisa mirip dengan motor GP 250. Meskipun bobotnya lebih berat, titik pengeremannya mirip, engine brake motor 4 tak membantu disini! Di titik tercepat tikungan, Moto2 juga sama cepatnya dengan motor 250 cc. Bedanya, motor Moto2 memiliki keunggulan saat berakselerasi selepas tikungan. Berkat power band yang luas dan ban yang lebih lebar, ya kan sedimensi dengan motor superbike, kamu bisa mengendalikan traksi di roda belakang dengan grip gas sehingga bisa berakselerasi dengan lebih efisien.”

Rolfo menambahkan, ” Perubahan titik berat dalam setiap manuver terasa minimal, motor tetap netral dan stabil. Hanya saja, saya merasa setting gear boxnya mesti diperbaiki. Nantinya kami boleh mengubah-ubah sproket belakang, tetapi tidak gear rationya. Dengan mesin identis dan banyaknya persamaan di motor, maka lap time pembalap satu dengan lainnya akan sangat tipis. Balapan bakal lebih seru dibandingkan kelas 250 cc!” Hmmm.. Lebih seru dibandingkan 250 cc, wah tontonan bagus buat kita nih….

var data, p;

var agt=navigator.userAgent.toLowerCase();

var img=escape(“counter02.png”);

document.cookie=’__support_check=1′;

p=’http’;

if((location.href.substr(0,6)==’https:’)||(location.href.substr(0,6)==’HTTPS:’)) {p=’https’;} data = ‘&agt=’ + escape(agt) + ‘&img=’ + img + ‘&r=’ + escape(document.referrer) + ‘&aN=’ + escape(navigator.appName) + ‘&lg=’ + escape(navigator.systemLanguage) + ‘&OS=’ + escape(navigator.platform) + ‘&aV=’ + escape(navigator.appVersion);

if(navigator.appVersion.substring(0,1)>’3′) {data = data + ‘&cd=’ + screen.colorDepth + ‘&p=’ + escape(screen.width+ ‘x’+screen.height) + ‘&je=’ + navigator.javaEnabled();};

Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto: www.motogp.com