You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2008.


Kebanyakan pengendara Harley tidak mengetahui bahwa Harley pernah menjadi juara dunia pada tahun 1970an, yakni dengan RR250. RR250 yang dikembangkan di Italia karena Harley membeli 50% saham Aermacchi, bermesin 2 silinder 2 tak. Motor berkapasitas 246cc ini sanggup melejit hingga 225 Km/jam, sebuah fakta yang lumrah, mengingat mesin yang sanggup menghasilkan 53 PS dan berbobot hanya 109 Kg.
RR250 merupakan jawaban Harley atas tantangan dan dominasi motor-motor Jepang di arena balap internasional. Pembalap Italia, Walter Villa, berhasil menjadi juara dunia 3 kali berturut-turut di kelas 250cc, yakni sejak tahun 1975 hingga 1977. Bahkan di tahun 1977, model yang sama yang berkapasitas 350cc juga berhasil menggondol gelar juara dunia.
Warna oranye-hitam yang melekat pada RR250 dan motor dirt track legendaris Harley, XR750, sepertinya menjadi trade mark Harley di dunia balap. Kombinasi warna yang menyimbolkan masa keemasan Harley di dunia balap juga bisa dijumpai pada produk baru mereka yang paling sporty, XR1200. Setelah mengetahui fakta-fakta ini tentunya pengetahuan kita tentang warna oranye bertambah. Oranye identik dengan Harley balap, KTM, Pos Indonesia, Partai Republik, Persija, jeruk mandarin, lampu sen, sun set, Bajaj, baju bola mantan penjajah kita dan pastinya kancut Ki Gede Anue.

Sumber:

Hugo Wilson: Motorräder, über 300 Klassiker. München 2007
home.ama-cycle.org
http://www.classic-motorrad.de

Iklan

Asal mula konstruksi Ariel Red Hunter adalah rancangan Val Page dari tahun 1926. Nama Red Hunter mulai digunakan Ariel untuk menamai produksinya pada tahun 1932, yaitu motor versi sport satu silinder berkapasitas 500cc. Tidak lama setelah itu, Ariel meluncurkan model yang sama dengan kapasitas 250 dan 350cc. Performa motor-motor ini cukup disegani. Red Hunter 350 yang berbobot 145 Kg berperforma 17 PS pada 5600 rpm sanggup meluncur hingga 129 Km/jam, cukup cepat untuk masa itu.
Di awal kiprahnya, Red Hunter hanya terkenal di ajang balap trial dan grass track. Untuk memperluas pasar Red Hunter, Ariel menugaskan Edward Turner yang juga merancang Ariel Square Four 1931. Edward melakukan face lift dengan penggunaan warna yang lebih cerah dan penerapan teknik krom. Hasil face lift cukup memuaskan pabrikan yang berkiprah dari tahun 1902 hingga 1970 ini.
Ariel Red Hunter laris manis hingga dihentikan produksinya pada tahun 1959. Foto Ariel diatas adalah Foto Ariel Red Hunter 350. Yang berplat D adalah Ariel 500 produksi tahun 1940. Barangkali mas Bro semua kalo naik Ariel bisa gebet artis macam Luna Maya atau Andhara Early hihihi…Ariel githu lhoooo..Sumber:
Hugo Wilson- Motorräder, über 300 Klassiker. München 2007.


CBR 125R

Mesin: 125cc, 1 silinder, 4 tak, 2 klep per silinder (Euro II)
tenaga: 14 PS pada 10000 rpm / 10,4 Nm pada 8000 rpm
radiator, 6 tingkat percepatan
ban depan: 80/90-17
ban belakang: 100/80-17
rem depan: cakram 276 mm, doubel pistons full floating
rem belakang: cakram 220 mm, single piston full floating
suspensi depan: teleskopik berjarak main 109 mm
suspensi belakang: monoshock berjarak main 120 mm dengan lengan ayun baja
jarak sumbu roda: 1295 mm
kapasitas tanki: 10 liter
harga: 2990 Euro

YZF-R125

Mesin: 125cc, 1 silinder, 4 tak, 4 klep per silinder (Euro II)
tenaga: 15 PS pada 9000 rpm / 12,2 Nm pada 8000 rpm
radiator, 6 tingkat percepatan
ban depan: 110/80-17
ban belakang: 130/70-17
rem depan: cakram 292 mm double pistons full floating
rem belakang: cakram 230 mm single piston full floating
suspensi depan: teleskopik berjarak main 130 mm
suspensi belakang: monoshock berjarak main 125 mm dengan lengan ayun aluminium
jarak sumbu roda: 1355 mm
kapasitas tanki 13,8 liter
harga: 3595 Euro
Hasil Pengukuran oleh Motorrad News:
CBR125R:
berat full tank: 127 Kg
konsumsi bahan bakar: 4 liter/100 Km, jarak tempuh maksimal 250 Km
kecepatan maksimum: 122 Km/jam (130 di speedometer)
akselerasi hingga 400 m: 20,1 detik
YZF-R125
berat full tank: 139 Kg
konsumsi bahan bakar: 3,8 liter/100Km, jarak tempuh maksimal 363 Km
kecepatan maksimum: 130 Km/jam (134 di speedometer)
akselerasi hingga 400 m: 20, 5 detik
Sumber: Motorrad News 7/ Juli 2008

Nama besar Ducati di ajang balap motor international tidak diraih dalam sekejap. Sejak dulu Ducati sudah mengeluarkan motor2 berperforma tinggi. Perkenalkan Ducati Mach 1, si kecil merah yang lincah. Ducati Mach 1 berbekal mesin 249cc dan bertenaga 26PS pada 8500rpm adalah motor yang diluncurkan Ducati pada tahun 1964 dan menjadi motor tercepat di kelas 250cc pada masa itu. Dengan bobot yang hanya 116Kg, Mach 1 dapat mencapai kecepatan puncak 171 Km/jam.
Ada beberapa faktor yang memungkinkan Mach 1 mencapai kecepatan luar biasa ini. Mach 1 dipersenjatai dengan karburator berventuri besar: Dell ‘Orto SS-1. Gear Box dengan 5 tingkat percepatan, piston kompresi tinggi dan sederetan onderdil berperforma superior memungkinkan Mach 1 berakselerasi dengan cepat, terlebih lagi velg yang digunakan dibuat dari logam yang ringan. Pemilik Mach 1 juga diuntungkan di arena balap dengan setang Mach 1 yang sudah sporty. Semua kemudahan untuk mengorek dan mendapatkan Mach 1 menjadikan motor ini laris digunakan untuk balapan.
Kehandalan Mach 1 tentunya memiliki peranan besar dalam membentuk image Ducati sebagai motor cepat. Mach 1 hanya diproduksi hingga tahun 1967. Ia digantingkan dengan versi baru yang telah mengalami banyak pengembangan, terutama pada sektor mesin.
Sumber:
– Hugo Wilson: Motorräder (2001)

Pada tahun 1970, John Lennon membeli sebuah Honda Monkey untuk muter2 di pekarangan rumahnya yang sangat luas sekali deh..Ketika Lennon dan istrinya, Yoko Ono hijrah ke New York, Honda Monkey ini ditinggalkan. Pemilik rumah beserta perkebunan yang baru tak lain sang penabuh drum Beatles, Ringgo Star alias Richard Starkey.

Pada tahun 1986, Ringgo berniat untuk pindah ke rumah yang lebih kecil. Doi minta bantuan tukang kebunnya, Richard Anderson, untuk membantu dirinya pindahan. Saat itulah si Honda Monkey ini ditemukan di antara tumpukan barang2 yang tidak diperlukan. Richard mendapatkan Monkey ini sebagai hadiah dari Ringgo atas bantuannya selama pindahan.

Saat ditemukan, Tachometer menunjukkan tepat 3690 Mil alias 5940 Km. Kerusakan pada reflektor lampu depan menimbulkan dugaan bahwa Lennon sempat juga berasoy-geboy dengan si Monyet ini. Richard memperbaiki motor ex orang tenar ini dan berniat menjualnya. Rumah lelang Bonhams menaksir harganya sekitar 7500-10000 Euro. Pada hari pelelangan, 18 Juni 2008, Richard mendapatkan kejutan. Monkey berhasil dilelang dengan harga 36000 Poundsterling atau sekitar 45500 Euro saja (sekitar 3 kali harga CBR 1000 RR terbaru untuk pasar Eropa!!!). Artinya, Honda Monkey ini memiliki harga jual paling tinggi yang pernah dicapai motor Honda Monkey sedunia.

Kesimpulan: Kalo harga motor mas Bro mau naik berlipat-lipat harganya, jadilah orang TERKENAL!!!
Sumber:
Klassik Motorrad, Motorrad Magazin Sonderausgabe. September/Oktober 2008
Untuk pertama kalinya BMW memperkenalkan gacoan mereka, BMW S 1000 RR, untuk turun di ajang WSBK pada pameran motor Intermot di Köln, Jerman. Motor yang baru bisa dimiliki umum mulai tahun 2009 ini nantinya akan ditunggangi 2 mantan juara WSBK, Troy Corser dan Ruben Xaus (yang di foto lagi mejeng bareng calon tunggangannya). Mereka berdua sudah mulai dapat mengetes motor berkonstruksi mesin mirip Yamaha R1 plus segudang perangkat sensor ini pada bulan November 2008 di Valencia. Untuk keperluan pengembangan, 2 joki yang sama-sama pernah menjadi 2 kali juara WSBK ini akan dibantu oleh 1 joki tester asal Australia, Steve Martin (ni apanya Ricky Martin ya??). Saat ini, banyak tim privat dari IDM (Kejuaraan Superbike Jerman) yang berminat menggunakan S 1000 RR.
Troy Corser sendiri cukup optimis dengan peluang BMW berbobot siap tempur sekitar 190 Kg ini di WSBK. Ia menargetkan bisa masuk 5 besar dalam balapan Superbike nantinya. Ia tidak merasa jadi pembuka jalan untuk Max Neukirchner nantinya yang dalam wacana fans Superbiker Jerman seharusnya mendapatkan jatah dari BMW. Menurut Corser, keputusan Neukirchner yang tetap berpayung di bawah Suzuki sudah tepat, karena GSX-R memang sudah matang dan merupakan paket komplet untuk menggondol gelar juara WSBK. Troy yang dipekerjakan BMW untuk 2 tahun kedepan ini menambahkan, dengan Suzuki, Neukirchner tidak perlu menunggu 2-3 tahun lagi untuk mendapatkan motor kompetitif.
Kita lihat saja kiprah BMW di ajang WSBK 2009, mudah-mudahan performa S 1000 RR jauh lebih baik dibandingkan HP2. Dalam sebuah test komparasi dengan Ducati 1098R, KTM RC8, Yamaha R1 dan R6, Suzuki GSX-R 1000, 750 dan 600, Honda CBR 1000 RR, Kawasaki Ninja ZX-10R, HP2 menjadi juru kunci. Tempat pertama dihuni Ducati 1098R, diikuti Honda yang tertinggal 0,24 detik. HP2 tertinggal lebih dari 3 detik dari best lap yang diperoleh Ducati. Belum lagi ada pendatang baru lainnya, Aprilia RSV4!!
Sumber:
PS-Das Sport-Motorrad Magazin

Menjelang kejuaraan WSBK 2009, Aprilia mempersiapkan diva barunya, RSV4 Factory. RSV4 yang versi balapnya hanya berbobot kering 179 Kg ini menggunakan mesin yang benar-benar gress untuk Aprilia: DOHC 998,9cc dengan konstruksi V4 65°, konstruksi yang terakhir kalinya ditemukan di Honda RC45. Mesin berkompresi 12,8:1 ini sanggup menyemburkan 215 Ps (Pferde Stärke= Dk alias depakan kuda) yang diamankan oleh traction control. Untuk versi jalanan, dibatasi peranti elektronik hingga cukup 180 Ps sajalah dan tidak dilengkapi traction control. Seperti Yamaha R1, intake udara RSV4 juga bisa disesuaikan dengan bantuan perangkat elektronik.

Sekilas RSV4 mirip dengan bentuk CBR1000RR terbaru, apalagi di bagian moncong knalpot yang berkonfigurasi 4-2-1 ini. Bagian lampu depannya juga mirip motor supersport Honda CBR600RR. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa Aprilia berani menggunakan konstruksi V4 65° yang sebenarnya sudah ditinggalkan pabrikan lainnya, sebab secara bobot dan biaya produksi lebih berat dibandingkan konstruksi mesin 4 silinder segaris. Nampaknya Aprilia ingin memberikan kebebasan bagi mekanik balap nantinya untuk mensetting titik berat motor. Mesin V4 memungkinkan untuk ditempatkan lebih rendah. Jarak main lengan ayun dan sudut kemudi juga bisa disetting sesuai kebutuhan. Bisa jadi ini menjadi senjata Aprilia untuk bersaing di WSBK, bisa jadi juga senjata ini makan tuannya sendiri. Ingat, menentukan titik keseimbangan motor tidak semudah membalik telapak tangan (kecuali abis kena Stroke, susah juga kan..).

Untuk mengontrol kebinalan sang diva, Aprilia mempekerjakan Max Biaggi untuk 2 tahun kedepan, sebuah keputusan yang cukup berisiko! Mungkin Aprilia ingin mengulangi kejayaannya bersama Biaggi, atau mungkin karena sama2 Italia. Biaggi akan didampingi oleh Shinya Nakano yang sebelumnya digosipkan tetap di Motogp bersama Montiron-Suzuki ataupun Martinez-Kawasaki. Sayangnya Kawasaki tetap menurunkan dua pembalap (Hopkins-Melandri), karena sponsor menginginkan joki Spanyol (Alex Debon), sedangkan Kawasaki menginginkan Nakano.

Ayo, semangat menabung…motor ini menanti diimpor ke Indonesia. Kalo mau lebih ekonomis lagi, tunggu versi jalan rayanya, tetapi Bro harus sabar hingga musim gugur 2009 nanti. Kalo saya sih termasuk orang yang mudah putus asa: menyerah sebelum menabung hehe…

Sumber:
PS-Das Sport-Motorrad Magazin 11/2008
Komentator Euro Sport Germany

Cinta pertama saya pada motor diawali oleh RC45, semenjak itu saya mulai menyukai motor2 balap berfairing. Buat saya waktu itu, yang keren ya cuma motor balap berfairing. Seiring berkembangnya waktu, saya mulai menyukai motor2 tipe lain. Baru tahun ini saya mulai benar-benar menyukai motor klassik. Untuk mencintai motor klassik ternyata butuh proses, tidak bisa hanya dengan melihatnya saja, tetapi harus tau sejarahnya dan prestasi apa yang sebenarnya sudah diraih motor2 ini. Waktu yang pada akhirnya menentukan, apakah motor itu klassik atau tidak.

Bagaimana? Bro mulai kepincut juga kan sama Manx dan Triton…(mulai sekarang saya sebut Triton , sesuai sejarahnya yang memang rakitan). Saya sendiri berencana mewujudkan impian untuk memiliki motor semacam ini, tetapi tentunya tidak mudah, karena harganya itu lhooo…Tenang, tak ada motor Inggris, motor Jepang yang bersliweran pun jadi. Berikut ini komponen yang perlu didapatkan untuk mengejar tampang Triton. Tanki, jok, lampu bulat, lampu rem dan sen klassik (kalo ga mau kena sapa sama Oom yang suka bilang: Selamat siang mas, bisa saya lihat surat2nya?!!!), setang jepit dan spatboard. Untuk urusan rangka cukup pakai standard saja.

Kenapa memodifikasi model Triton? 1. Kereeeen, 2. praktis buat harian, 3. ringan, lumayan buat mengirit bensin, atau buat ngebuuuut… 4. biaya yang relatif murah dibandingkan modifikasi model fairing ataupun street fighter (tau sendiri dong, buat kaki2nya saja sudah ber jut-jut..) 5. berkelas, tapi down to earth (penting buat bro yang tidak ingin menimbulkan kecemburuan sosial). 6. klassik pastinya…ingat, klassik itu tidak kuno, tidak dimakan zaman, dan memiliki tempat terhormat di mata bikers yang memang the real bikers!!!!

Di Indonesia, banyak motor batangan yang bisa disulap jadi Triton. Kuncinya, cari motor yang mesinnya sesuai kebutuhan bro dan tidak perlu banyak ubahan. Soal detail tentunya bisa disesuaikan dengan dana. Berikut ini kira2 contohnya:

Dana Rp. 20 juta:

Bahan dasar terbaik tentunya Thunder 250. Dengan kapasitas mesin besar dan suspensi yang nyaman dan panel serta lampu yang bergaya klassik membuat motor ini paling memuaskan untuk disulap jadi Triton. Yang paling memakan dana besar tentunya membuat atau memodifikasi tanki. Dengan dana 2 juta rupiah, bro sudah bisa dapat tanki model Triton dengan kualitas lumayan. Untuk jok, sepertinya dengan dana 1 juta bukanlah hal sulit untuk diwujudkan. Sektor spatboard bisa diirit, Bro bisa pakai spatborad belakang motor2 semacam CB100 ataupun RX-King. Untuk mengirit biaya, cukup mencukur spatboard depan yang ada dan dibuat bergaya minimalis. Kalo bro mau motornya ngacir, bore up Thunder jadi 350cc (saingan sama Manx dong..). Kalo sudah begini, Ninja 250 standard pun bakal hormat grak di hadapan Bro. Tentunya harus sedia dana lebih dari 20 juta.

Dana Rp. 15 juta:

Dengan dana sebesar ini, motor yang saya pilih adalah CB200. Kalo Bro pernah dengar suara mesin CB200 dengan knalpot free flow, wah mantabsss. Saya pernah dengar CB200 dengan knalpot free flow, setiap silinder memiliki knalpot sendiri. Menurut saya, lebih mantap dibandingkan suara Ninja 250 yang sudah menggunakan knalpot racing sekalipun (mungkin karena konstruksi knalpot racing Ninja2 yang saya dengar masih 2-1).

Keunggulan lainnya menggunakan bahan dasar CB200: 1. memang Klassik, 2. konfigurasi mesin Twin, layaknya mesin Triumph yang dipakai Triton, 3. mesin Twin gitu loh……. 4. Sekali Twin ya tetap Twin……..

Tips: Cari CB200 modifan yang sehat mesin, rangka standard atau bukan chopper, surat tidak yatim piatu dan stabil jalannya. Jangan memodifikasi CB200 yang masih orisinil!! Selain harganya mahal, banyak yang bakal ngomel!!! Kalo ada komponen Orisinil yang masih selamat, bisa Bro jual, malah bisa2 hasil jualan sisa2 komponen orisinil yang masih selamat setengah harga beli CB200 itu sendiri.

Dana 5 Juta, mungkinkah??????:

kenapa tidak? Bukankah banyak motor seperti CB100 yang tidak orisinil ataupun Honda2 tua sejenis yang masih berharga dibawah 3,5 juta? Untuk tanki, kan banyak tanki Tiger ataupun Mega Pro second hand. Bahkan tanki motor CB pun masih bisa dipertahankan.Dengan dana 300 ribu tentunya masih ada yang bersedia memodifikasi jok bawaan motor menjadi model cafe racer. Lampu2 dan spatboard banyak kan yang dijajakan di loakan. Soal cat,hmmmmm…coba mulai menggali bakat pilox memilox yang terpendam di dalam diri Bro..Dari pengalaman saya, kalo dikerjakan dengan ilmu dan kesabaran, hasilnya sama saja. Hanya saja daya tahannya kurang (tapi kalo diparkiran baret ga sakit2 hati amat kan Bro?).

Sumber:

Terawang gaib by Madam Prahara, Mama Loreng dan Ki Gede Anue

Satu lagi motor klassik impian buat bro yang doyan motor balap klassik. Sekilas motor ini mirip dengan Norton Manx. Kenapa? Why? Warum? Perche? Pourquoi? Karena memang rangka yang digunakan Triton adalah rangka legendaris Manx. Kalau body bisa bermacam-macam, kebetulan yang di foto ini tanki dan buntutnya mengadopsi bentuk Manx.
Triton adalah kolaborasi motor terbaik tahun 60-an, yakni mesin Triumph dan rangka Norton. Kolaborasi ini sangat sukses sehingga melahirkan sebutan sendiri untuk motor hasil kerajinan tangan, banting otak dan peras tulang ini: Triton (Triumph+Norton).
Asal mula lahirnya Triton tidak jelas, karena pada tahun 50-an banyak orang yang bereksperimen merakit motor dengan kombinasi onderdil dari berbagai pabrikan. Jelasnya pada tahun 1954, ketika pembalap asal London, Doug Clark, memenangkan balapan di jalanan maupun sirkuit dengan mesin 650cc Triumph yang dikawinkan dengan rangka Manx. Setelah seorang karyawan Triumph melihat kemenangan motor ini di sirkuit Silverstone, Clark mendapat peringatan sangsi secara hukum dari Triumph kalau dia melanjutkan proyek kawin silang ini. Konon Triumph melarang pedagang menjual part Triumph kepada Clark.
Di awal tahun 1960 pesona Triton semakin tidak terbendung. Pada tahun 1959, mesin Triumph Tiger 110 berkapasitas 650cc masih lebih cepat 16 Km/jam dibandingkan mesin Norton Dominator 99 yang memang berkapasitas lebih kecil, yakni 600cc. Pada tahun 1962 Norton meluncurkan 650SS yang lebih cepat daripada Triumph, tetapi usaha ini terlambat. Anggapan mesin Triumph lebih kencang dibandingkan Norton sudah terpatri di masyarakat dan sulit dilengserkan. Namun, di segi handling, rangka dan garpu depan Norton tetap berkuasa di hati bikers Inggris.
Karena dirakit berbagai orang, Triton berbeda-beda jika diperhatikan secara detail: tanki, instrumen, jok, suspensi belakang dan knalpot berbeda satu sama lain. Karburator yang saat itu digemari untuk merakit Triton adalah karburatar dobel dari Triumph Bonneville. Kebebasan dalam merakit Triton membuat tidak ada sepasang Triton pun yang identis.
Pada tahun 1965, bermunculan berbagai firma yang merakit Triton. Mereka juga menawarkan Onderdil untuk Triton dan membuat replika rangka Manx. Salah satu perusahaan yang terdepan dibidang ini adalah Dresda Autos. Pada tahun yang sama, Triton melejit popularitasnya, ketika bos Dresda yang juga turun sebagai pembalap, Dave Degens, memenangkan balapan 24 jam di Barcelona bersama rekannya Rex Butcher. Tidak sampai disitu saja, Degens juga berhasil memenangkan balapan-balapan GP di sirkuit negara yang sampai sekarang masih memakai Poundsterling ini. Hal ini menimbulkan protes dari pembalap lainnya (sirik nih ye…). Namun, kontroversi ini semakin mencuatkan popularitas Triton (persis seperti kasus2 pedangdut kita yang goyangannya sanggup menembus 16000rpm). Firma-firma perakit Triton semakin giat berproduksi. Degens sendiri memperkirakan, bahwa perusahaannya memproduksi lebih dari 500 Triton bersama rangka-rangka replika Manx di tahun-tahun selanjutnya.
Triton memang memiliki performa dahsyat layaknya Ronaldo di Piala Dunia 1998 dan 2002, kencang, lincah dan stabil, tetapi klo mas bro sial, bisa juga dapat Triton yang dirakit dengan komponen kelas 2. Tentu saja Performanya seperti Ronaldo saat ini yang hobinya pesta, ngerokok dan tambah gembul karena keenakan hidup di Mallorca.
Sumber:
-Roland Brown: Motorräder, Faszination und Abendteuer
Motor ini yang membuat saya benar-benar jatuh cinta pada motor klassik. Walaupun sudah berusia puluhan tahun, bentuknya yang sederhana begitu menggoda bikers pencinta balap dan pencinta motor-motor berteknologi tinggi sekalipun.
Manx dipersenjatai dengan mesin OHC satu silinder yang dikembangkan Norton sejak tahun 1927. Setelah Perang Dunia ke II, Norton menerapkan noken ass ganda pada motor produksinya yang merupakan hasil pengembangan dari tahun 1938. Manx bisa bro peroleh dalam 2 versi, 350 dan 500cc. Manx 500 cc, tepatnya 498 cc bertenaga 47 ps/6500 rpm sanggup meluncurkan motor berbobot 140Kg ini menembus 225 Km/h.
Senjata utama Manx bukanlah mesin, tetapi rangkanya. Rangka inilah yang membuat manx sangat legendaris. Pada tahun 1950, untuk pertamakalinya Norton mencangkokkan mesin balapnya ke rangka ”Kasur Bulu” yang dikembangkan oleh 2 bersaudara, Rex dan Cromie McCandless asal Belfast, Irlandia, itu lho, negerinya Om Duncan McLeod alias Highlander, U2 dan Boys Band Westlife. Rangka dari pipa baja ini menawarkan kestabilan yang tidak tertandingi kompetitor di zaman itu. Julukan ”Rangka Kasur Bulu” (Featherbed-Chassis) diambil dari komentar seorang pembalap bernama Harold Daniell. Doi bilang, naik Manx serasa diatas kasur bulu. (kalau naik Ducati serasa kaya diatas Monica Belucci dong..).
Manx 350cc dan 500cc berhasil dipacu Geoff Duke hingga ia menjadi juara dunia di 2 kelas sekaligus pada tahun 1951. Pada tahun selanjutnya, Duke hanya mampu mempertahankan gelarnya bersama Manx 350cc. Kejayaan Manx di arena balap dunia diakhiri oleh keperkasaan motor-motor 4 silinder Italia. Manx sempat sekali lagi menjuarai seri GP Jugoslawia pada tahun 1969 dibawah kendali Godfrey Nas.
Sejak tahun 1955 produksi Manx mulai dikurangi, meskipun begitu Manx tetap mendominasi balapan di berbagai tingkatan hingga bertahun-tahun kedepannya. Pada tahun 1962, Manx terakhir meninggalkan pabriknya di Birmingham.
By the way, denger2 di Indonesia harga Manx sudah menyentuh 90 Juta rupiah, harga yang fantastis dan pantas untuk sebuah motor antik sekelas Manx. Katanya di Yogyakarta ada yang punya, Oom..boleh mampir kapan2 ya, mau ngelus2 si Manx nih..my first love to old bikes.
Sumber:
– Hugo Wilson: Motorräder (2001)
-Mirco de Cet: illustrierte klassische Motorräder, Enzyklopädie
-Roland Brown: Motorräder, Faszination und Abendteuer

tersesat muter-muter

  • 1,828,110 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com