You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2016.

20161008_120118

Diperkenalkan tahun 2015, Yamaha R1M memang begitu  wow, diklaim sangat mirip dengan M1, tenaga jauh melejit dan elektronik pun akhirnya menjadi salah satu yang terdepan di kelas superbike. Testimoni dan penilaian media pun benar-benar membuat motor ini membuat para pesaingnya terlihat usang, apalagi kalau dibandingkan dengan Honda CBR1000RR yang dari 2008 ya begitu-begitu saja dan sangat minim perubahan.

20161008_120334

Yamaha pun berusaha membuktikan kehebatannya dengan menjuarai Suzuka 8 Hours yang sebelumnya dirajai Honda. Tak sia-sia, 2015 dan 2016 dikuasai Yamaha. Eits…tapi untuk itu, Yamaha perlu menurunkan pembalap MotoGP, Bradley Smith dan Pol Espargaro! Artinya, dari sisi pembalap, tim ini jelas paling wow…

Hebat atau tidaknya motor ya harus dibuktikan di WSBK! Tentu Yamaha masih ingin mengulang prestasi manisnya bersama Ben Spies di tahun 2009 lalu! Yup, bayangkan, R1 punya nama besar yang memang waaaah banget, tapi baru 1 kali juara WSBK! Dan sayangnya tahun ini pun R1 bisa dibilang gagal! Kedua pembalapnya, Sylvain Guintoli dan Alex Lowes hanya menduduki peringkat 11 dan 12. Sebuah kegagalan untuk pabrikan selvel Yamaha dengan pengalaman segudang dan pembalap yang lumayan! Tak satupun juara seri diperoleh. Dan, lebih jlebnya, Honda dengan motor teknologi jadulnya (ya beda lah ya kalau sudah di sirkuit elektroniknya hehe) masih menempatkan Van der Mark di posisi 4 dan Hayden di posisi 5!

20161008_120247

Menarik meramalkan WSBK tahun depan! Kawasaki memang kokoh dengan Sykes dan Rea! Kedua pembalap Inggris ini kokoh di posisi 1 dan 2 klasemen, tetapi masalahnya, di 6 balapan (3 seri) terakhir, Chaz Davies dengan Ducati menjadi numero uno! Ih ngeri melihat performanya tahun depan!

Bagaimana dengan Yamaha? Tahun ini di posisi ke-5 di bawah Kawasaki, Ducati, Honda dan bahkan BMW. Tanpa ada pengembangan baru, tentu tidak mungkin. Belum lagi Honda dan Suzuki datang dengan senjata baru yang terlihat menjanjikan!

Hmmm.. Mungkin R1M memang sangat kompetitif aslinya, sehingga ketika mau dibuat lebih kompetitif lagi, mereka seperti kehabisan nafas…entahlah..kan ini artikel sotoy aja wkwk…

Honda di Indonesia punya kemudahan dalam menjual produknya karena jaringan bengkelnya buanyaaaak…  Namun, beda kasus kalau sampeyan beli Honda RC213V-S hehe… Motor balap Honda (RC) di abad ke-21 prototipe ke-3 ini diklaim 80% sama dengan yang dipakai Marquez untuk menjadi juara dunia 2 kali berturut-turut di 2013 dan 2014. Nah, di manakah bengkel di Indonesia yang bisa menservice motor ini tiap 6000 Km sesuai anjuran? Jangan tanya saya hehe..soalnya di Eropa pun hanya ada 6 bengkel yang ditunjuk Honda untuk membuat motor yang katanya per tahun hanya dibatasi 250 unit ini.

Oh ya, dibatasi 250 unit tentu ada alasannya. Motor extramahal ini (kalau hanya cari power mending beli Kawasaki H2R toh hehe…) hanya diproduksi satu unit per hari di unit khusus pabrik Honda di Kumamoto. Mekanik-mekanik terbaik dan penuh pengalaman merakit motor ini, yang sebagian besar dikerjakan manual, makanya maksimal hanya bisa melahirkan 1 unit RCV per harinya. Sebagai perbandingan, Honda bisa membuat 120 unit CBR1000RR per hari.

Blog Sesat meramalkan melalui Ki Gede Anue bahwa pembatasan ini bukan cuma masalah mementingkan kualitas. Bisa juga Honda ogah malu pengalaman lama terulang. Masih ingat motor Honda supermahal yang terbit tahun 1991, yakni NR750? Nah, dulu katanya limited 1000 unit, tetapi karena harganya yang muahaaaal ga karu-karuan (nanti kita bahas ya..) akhirnya yang terpesan dan dilepas ke pasar hanya 300 unit.

Nah, kalau sekarang kan Honda bilang limited 250 unit dulu… itu tentu lebih bijaksana..toh kalau mau lanjut kan masih bisa..kan ada kata “dulu” hehe…

20161008_132609

Katanya kan Cal Crutchlow sudah dapat motor spek pabrikan juga, nah Blog Sesat ingin mengajak orang-orang yang tersesat ke sini untuk pelan-pelan mengamati fenomena gunung es ini, maksudnya, yang kelihatan saja..dan percaya atau tidak, dalemannya pasti lebih banyak lagi bedanya hehe…(suudzon mode: on)

Kalau ngomongin livery, wah, asli, catnya saja beda kilapnya… terlihat jelas kalau melihat kedua motor ini langsung dengan kondisi pencahayaan yang sama. Kalau baca sponsor yang berkaitan dengan produk untuk roda dua, tampaknya sih memang dipakai produkya, MArquez pakai Repsol, Crutchlow pakai Castrol. Rantai pun harusnya beda, Marquez pakai RK, Crutchlow pakai DID.

20161008_132458

20161008_133146

Ke sektor depan, masih kelihatan kan bedanya.. Kaliper Marquez dan Crutchlow berbeda. Spatbor pun jelas berbeda, bisa dilihat terutama di bagian bawahnya, Marquez meruncing, sedangkan Crutchlow tetap agak lebar di bawah. Spatbor Marquez pun ada lubang anginnya di bagian pinggir depan atas, sedangkan Crutchlow tertutup, polos saja…

20161008_132700

20161008_133140

Ke sektor knalpot, jelas ya.. Marquez memakai produk Termignoni, sedangkan Crutcglow memakai produk knalpot yang dulu akrab banget dengan HRC di NSR 500, yakni Arrow.  Untuk desain knalpot, keduanya tampak terlalu identik, mengikuti bentuk knalpot asli RC213V-S.

20161008_133027

20161008_133127Lihat bagian triple clampnya, jelas beda kan.. Punya Marquez lebih melonjong, sedangkan punya Crutchlow lebih kaku dan terlihat lebih lebar dan ujung bawahnya menyudut. Oh ya, spidometer Marquez full digital, sedangkan Crutchlow memilih tachometer analog berwarna hitam.

Sekarang perhatikan tanki Marquez, seperti badan hewan berbuku-buku ya.. Tebakan Blog Sesat, depannya cover filter udara, tengahnya tanki bahan bakar, kemudian ditutup lagi di belakang dengan kondom agar bentuknya tetap rapi dan membantu pengendalian saat menikung ketika paha sebelah dalam perlu bertumpu pada tanki. Nah, Tanki Crutchlow terlihat polos, sama seperti RCV standar, ini fotonya saya tampilkan lagi:

20161008_134938

20161008_134909

20161008_133735

Polos kan Bro tankinya??

20161008_133200

20161008_132949

Terakhir, di bagian setang. Marquez tampak tak disponsori produk aftermarket di sektor ini.. Wajar, pasti sponsor level kecil macam produsen parts aftermarket tak mau keluar terlalu banyak uang di sini. Beda tentunya kalau untuk mensponsori tim kecil. Crutchlow tampak menggunakan grip gas buatan Pro Grip dan pelindung remnya menggunakan produk Rhizoma.

Apakah itu saja bedanya??? Ingat fenomena gunung es Bro hehe….

Seperti biasa, dalam rangka mengurangi memori HP, saya simpan sedikit foto-foto RC213V Marc Marquez yang terpajang di Intermot 2016 di sini. Motor ini jelas yang paling wow di ajang Intermot, paling bersinar Bro… Sebelahnya motor Crutchlow tak sebening dan berkilau RCV Marc Marquez! M1 Valentino Rossi pun demikian, tak seberkilau motor RC V sang Juara Dunia MotoGP 2016! Beda cat gitu kayanya, tak sebatas beda pemilihan warna saja. Motornya bahkan terlihat seperti mainan. Kadang berster seperti batu akik hehe… Yang sudah pernah lihat langsung pasti paham…

20161008_133027

20161008_132740

20161008_132700

20161008_132516

20161008_132434

Dalam rangka mengosongkan memori HP, saya simpan di sini sedikit foto-foto RC-213V pembalap Inggris yang minggu ini mampir ke Indonesia. Dari prestasinya dua kali juara seri di tahun ini, saya rasa tahun depan sudah selayaknya Honda memberikan lagi mesin pabrikan kepada Cal. Dan mungkin perlu melibatkannya sebagai rider yang bisa membangun motor, sebab doi kan sudah senior dan punya pengalaman dengan motor MotoGP Yamaha, Ducati dan Honda tentunya. Sayang juga sebenarnya Yamaha lebih memilih pembalap muda dan melepas Cal. Kalau diingat, Cal berjasa mempersembahkan 1 dari 4 gelar juara WSS yang dimiliki Yamaha. Tahun 2009 itu bahkan cukup lama, sebab sebelumnya Yamaha juara WSS di tahun 2000 di tangan pembalap Jerman, Jörg Teuchert. Hebatnya, Cal juara ketika CBR begitu dominan dan Honda menjadi juara konstruktor tahun itu.

20161008_133304

20161008_133340

20161008_133245

20161008_132329

20161008_133352

20161008_133226

Berikutnya, tentu RCV213 Marc Marquez hehe…Sabar ya, sudah banyak kan fotonya di mana-mana…

Kalau ada motor di booth Yamaha di Intermot 2016 yang mau saya beli (ceritanya-red), ya SCR 950. Ada beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan:

  1. Setelah melihat langsung, ternyata motor ini cukup rupawan. Desainnya simple, tapi cukup pas, sederhana, tidak berlebihan dan tidak ada garis-garis tidak perlu di motor ini.
  2. Setelah duduk di joknya, wah, senang, motor ini relatif kecil. Jelas lebih kecil daripada Dragstar 400 ataupun Dragstar 600 yang saya pernah test ride.
  3. Perawakan kecil ditopang mesin V twin60 derajat berkapasitas 942cc, wah, pastinya gesit dan benar-benar Scrambler, tidak seperti BMW R NineT Scrambler yang 220 Kg dan bongsor.
  4. Mesin masih berpendingin udara dengan power dibuat relatif kecil, hanya 52PS! Wah bakalan awet nih… Sekecil-kecilnya tenaga, torsinya masih 79,6 Nm @3000rpm, cukup banget lah…
  5. Motor 5 tingkat percepatan ini buat diduduki cukup rendah, tetapi jarak ke tanah dari bagian terbawah motor masih 145mm, masih cukup tinggi untuk benar-benar menjadi sebuah motor scrambler.
  6. Ban yang digunakan di buritan ban ring 17, lebarnya kalau tak salah hanya 130 atau 140, gampang deh nemuinnya. Mungkin PRnya kalau ban depan kenapa-kenapa karena ring 19.
  7. Penggeraknya pakai sabuk, bukan rantai… Entah apa plus minusnya hehe..tapi tampil beda lah..mungkin juga lebih praktis perawatannya.

20161008_120928

Buat yang mau gagah-gagahan, ini motor kurang cocok. Kaki-kakinya terlalu kecil, seperti yang sudah dideskripsikan di atas. Suspensi depannya pun hanya 41mm, sama sama Yamaha Byson ya??? Rem depan pun cakramnya hanya sebelah..Namun, buat yang doyan dandan, disediakan juga kok 30 macam parts aftermarketnya.

20161008_121136

Namun, motor minimalis ini saya rasa tepat sasaran bagi mereka yang senang motor yang kalem dan mudah perawatan. Soal mesin, ini kan mesin Yamaha XV950 yang sudah banyak beredar..Soal harga, dijamin bakal murah jatuhnya, di Amerika Serikat  8699 US Dollar. Kalau di Eropa ya harusnya masih bisa di bawah itu, bahkan di bawah 8000 Euro.

20161008_120928

Nah, lumayan jauh kan harganya dari BMW R NineT Scrambler yang dibanderol 13000 Euro. Soal tampang, memang kalah, tapi kalau duduk di atas SCR950, wah saya rasa sampeyan bakal berubah pikiran.. Enak, mungil, kebayang ni motor dipakai harian..

20161008_121009

Ya, itu yang sempat muncul dalam lamunan seandainya saya sedang di Indonesia dan lagi banyak duit, saat AHM menjanjikan kesempatan langka ini bagi para indener motor twin pertama Honda di Indonesia sejak zamannya CB200 berlalu.

Sempat minat banget untuk inden Honda CBR250RR..ya siapa tahu kan dapat rejeki untuk bisa menjajal RCV di Sentul, tentu sebuah pengalaman langka dan kamu bisa merasa menjadi salah satu biker paling beruntung se-Jakarta Selatan. Ya kalau ga dapat kesempatan test ride, paling motornya saya pakai sebulan-dua bulan, terus saya jual lagi hehe… Mending beli motor klassik buat investasi hehe..maklum Bro, ane masih butuh duit….Dan, megang motor baru dengan spek menjanjikan macam itu, di jalan pasti bakal banyak yang manas-manasin untuk tau performanya.. Ngeri kepancing saya hehe..

Namun, tetap saja kesempatan mengendarai motor prototipe itu berterbangan di angan-angan. Motor seharga 188.000 Euro di Jerman ini memang luar biasa! Racing Kitnya saja seharga 12.000 Euro lagi, seharga motor supersport 600cc Bro, tapi dengan racing kit itu “baru” dapat tenaga 215 PS, ya setara motor superbike tune up lah yang harganya paling sepersepuluhnya. Yup, ini motor termasuk mahal di satu sisi karena ditotal 200.000 Euro. Jadi kelihatan mahal kalau kita bandingkan dengan Desmosedici yang juga dijual Ducati dulu hanya dihargai 65.000 Euro  “saja”. Di sisi lain, ada lho kesempatan untuk memiliki motor legendaris dengan harga “terjangkau..”

Ngomong-ngomong, kata orang-orang yang udah coba memang ini motor rasanya hahaha…pasti pada terpukau dengan handlingnya deh.. Soal power sih ya memang joss, tetapi buat penghobi Superbike, tenaga 220 PS tak terlalu asing karena bobot motor ini juga “masih” 188 Kg! Tidak terlalu eksotis lah hari gini… Namun, handlingnya dan ketajamannya itu yang tak bisa didapatkan dari superbike tune up sekalipun.

Oh ya, memang sih ini replika, tetapi pasti masih jauh lah rasanya dari aslinya.. Bobot 188 Kg. Vs. 160 Kg sudah menjelaskan banget kan, pasti banyak komponen lain yang tidak sama dengan versi RCV dengan racing kit! Belum lagi tenaga… Mana mau HRC buka rahasia dapurnya untuk adanya kesempatan bisa dibedah-bedah oleh kompetitor! (Ini paragraf ceritanya saya lagi iri dengki dan sirik wkwkw…)

Ya sudahlah Bro..nikmati saja penampilannya dari Intermot 2016 kemarin:

20161008_133552

20161008_133632

20161008_133627

20161008_133735

20161008_133748

20161008_134915

20161008_134909

20161008_133748

20161008_134938

Per BMW-Ausstattungsprogramm wird aus der Scrambler ein engagierter Schotterschleuderer.

Mesin jadul tidak selalu berdampak buruk pada penjualan. Di tanah air, Honda dengan Tiger dan Megapro dan kawan-kawannya bisa begitu lama mengandalkan mesin Kaizen, mesin yang dari tahun 74 gitu-gitu aja. Nah, di Jerman, BMW pun bisa dibilang melakukan hal yang sama dengan mesin boxer berpendingin udaranya! Sebenarnya, BMW sudah mau menyuntik mati mesin ini! Mesin baru memang masih boxer, tapi sudah berpendingin cairan alias dengan radiator, tak lagi sebatas mengandalkan sirip-sirip udara dan oil cooler.

Namun, kehadiran BMW R NineT dengan mesin R1200 ternyata laku keras! Ya, tak bisa dibilang juga motor ganteng ini jualan mesin jadul, tapi memang gaya retronya bisa dibilang mudah disukai banyak orang, beda dengan BMW bemesin 4inline 1000 cc yang desainnya aneh-aneh! Dengan penjualan sebanyak 1720 unit, R NineT jadi motor ke-5 terlaris di Jerman! Padahal harganya juga tidak bisa dibilang murah! Hampir setara lah dengan motor-motor superbike Jepang!

Larisnya motor dengan mesin jadul ini membuat BMW berpikir ulang tentunya untuk menyuntik mati mesin ini. Alih-alih suntik mati, BMW ketagihan bikin motor yang dilengkapi dengan mesin ini! Dengan ubah rangka sedikit, ganti kaki-kaki, tanki dan perintilan, BMW mencoba melanjutkan panennya menggunakan BMW R NineT Scrambler! Yang namanya basis motornya sudah jelas, Blog Sesat meramalkan, motor ini pasti laris manis Bro! Dan yakin deh, di Indonesia pasti ada yang beli!

BMW R nineT Scrambler.

Kalau Suzuki Inazuma dibuat model gini boleh juga ya Bro hehe…masa dijadiin Gixxer..hadeuuuuh…..

Sumber:

http://www.motorradonline.de/einzeltest/bmw-r-ninet-scrambler-im-fahrbericht/756402

130_ps_2016_08_28_suter_mmx_500_1024-jpg-5270791

Bro sekalian pasti sudah kenal dong Suter MMX500. Motor ini bukan motor yang baru saja dikeluarkan, sudah beberapa lama lah diperkenalkan, bahkan sudah diterjunkan di Isle of Man kelas Senior-TT.

Secara spek, bisa dibilang ini komponen-komponen kelas wahid tercangkok di motor V-4 500 cc ini. Siapa yang tidak ngiler dengan mesin macam ini? Di tahun 2002, terakhir mesin 2 tak diterjunkan, powernya ada yang bilang sudah sampai 200PS! Ya, 180-200PS lah. Nah, Suter MMX500 ga mau bikin kecewa, mereka tawarkan tenaga 190 PS! Hari gini memang motor 1000 cc superbike bertenaga lebih dari 190 PS, tetapi bobot Suter hanya 130 Kg saja! Alias 60-70 Kg lebih ringan dibandingkan mesin motor superbike anyar! Ini persis lah dengan spek motor GP500 di akhir kejayaannya.

Valentino Rossi pun pernah melontarkan pendapat yang menurut Blog Sesat agak ngeledek: Lo bukan pembalap tulen kalau lo belom nyemplak motor GP500cc!

Yup, hari gini siapa yang masih geber motor 2 tak 500cc, sudah tak ada toh, tinggal the Doctor doang pembalap aktif MotoGP yang punya pengalaman di atas kuda binal tipe itu setelah Loris Capirossi pensiun!

370_ps_2016_08_28_suter_mmx_500_1024-jpg-5271223

Nah, biar ga diledek Rossi, harusnya pembalap MotoGP angkatan muda beli motor yang hanya dibuat 99 unit ini ya.. Toh secara finansial mereka mampu lah, harganya maih jauh lebih murah dibandingkan RC213V-S Honda yang 200.000 Euro itu kok. Motor ini dibanderol 110.000 Euro, ya lebih dari 5 kalinya BMW S1000RR lah, artinya harga di Indonesia ya pasti tembus 3 milliard. Masih lebih mahal sih sepertinya dibandingkan motor spek WSBK!

Motor ini sudah turun di TT bersama pembalap senior Ian Lougher. Namun, kehebatannya hanya di atas kertas. Motor ini memang kecepatan rata-ratanya di atas 190 Km/jam, tetapi itu hanya cukup untuk posisi 34. Sepertinya sih memang tenaganya tak terlalu dimaksimalkan, sebab saat ditest oleh wartawan Motorrad, doi merasa ini motor lemot dan setting suspensinya ga enak. Rupanya itu masih setting bawaan TT sesuai keinginan pembalap yang rambutnya sudah putih semua itu.

Begitu disetting ulang suspensi dan mesinnya, langsung monster ini mengamuk di Lausitzring!  Yup, setting trek TT pastinya beda lah dengan sirkuit Laustzring yang biasa digunakan untuk lomba WSBK. Setelah diganti setting dengan laptop (kalau zaman dulu kan masih pakai bongkar karburator dan setting spuyer, sekarang tinggal colok dan hanya butuh 20 menit untuk setting injector dan suspensi), si wartawan mengaku mendapatkan sensasi yang tidak pernah didapatkannya di motor 4 tak. 200_ps_2016_08_28_suter_mmx_500_1024-jpg-5270917

Jika sebelumnya saat rpm drop dan mesin serasa mau mati karena “banjir”, kini mesin menjadi super responsif, ngangkat mulu Bro roda depannya haha..Jadi ingat cerita Wayne Rainey tentang gilanya motor GP500. Memang tenaganya tak sedahsyat Motor MotoGP, bahkan tak selevel dengan motor WSBK, tetapi karena tak adanya electronis riding assist membuat semuanya sangat tergantung kepekaan rider dan keliahaiannya membuka gas! Ketika mesin terlalu drop, power pun drop! Kalau terlalu besar, power tiba-tiba berlimpah ruah! Power band yang sempit ini memang tantangannya. Rainey bilang, di sirkuit macam Laguna Seca, porsi rider bisa buka gas pol dengan motor 2 tak 500cc itu hanya 18%!
Saya sih cuma bisa membayangkan saja, sebab motor 2 tak yang akrab saya pakai hanya si Excel Rose. Saat setting karbunya buat ngebut, wah kalau putaran mesinnya kerendahan, motor jadi super lemot karena kelebihan bensin..apalagi Excel Rose belum dipasang reed valve sih..Akhirnya saya minta disetting irit saja agar putaran bawahnya enak dan powerbandnya meluas, meskipun jadi ga jago ngebut hehe..
Oh ya, kalau beli ini motor, jangan tanya irit atau tidak ya.. Untuk trek TT yang 60 Km lebih, MMX500 minta jatah 13 liter hehe.. jadi 13x lebih rakus daripada bebek 125cc injeksi! Namun, tenaganya kan 20x lebih besar hehe.. Daaaan, kalau motor biasa tiap 2500 Km minta oli baru dan service ringan, maka MMX500 tiap 2500 Km harus turun mesin untuk peremajaan komponen! Itu katanya sih terhitung panjang umur lho untuk spek motor balap dengan spek GP500! Repot kan hihihi..udah, Ninja 2 tak saja sudah cukup kencang lah…

Bro, yang namanya moge biasanya bikin mata saya melek. Namun, kali ini ada moge yang buat saya b aja alias biasa ajaaaaa… Yup, Suzuki GSX-S750 dengan desain barunya sepertinya memang diciptakan untuk mereka yang ngefans dengan power mesin 750 cc dan kehandalan mesin Gixxer 750 tahun 2005, seperti generasi sebelumnya,  yang memang top di kelasnya. Lebih dari itu, motor ini tidak menawarkan keistimewaan. Spek yang ditawarkan sangat biasa memang tujuannya untuk menekan harga juga, meskipun suspensi USD ya..tapi buat kelas ini itu standar…Bahkan moge sayap kepak yang 650cc masih lebih mahal lho dibandingkan doi.

Menurut saya sih fine-fine aja, hanya agak sayang, kenapa desainnya tidak ngejual ya..faktor emosinya di motor ini agak kurang..atau mungkin itu perasaan saya saja hehe..Mungkin karena bukan selera, saya foto dari mana saja, rasanya ga ada yang “dapet”. Oke, barangkali ada yang doyan, ini penampakannya di Intermot 2016 lalu:

20161008_14585220161008_14591520161008_15013620161008_14594020161008_150102

tersesat muter-muter

  • 1,786,402 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com