Pertama kali keluar di tahun 2002, motor 990cc MotoGP memang sudah dibuat harus lebih kencang untung menggantikan motor 500cc 2 tak. Maklum, kalau lebih pelan, tentu akan buruk bagi image balap motor tertinggi dunia itu. Dan mereka juga harus mempertahankan kastanya yang harus lebih tinggi dibandingkan motor-motor superbike di WSBK.20161008_120135

Penggantian motor 2 tak itu ternyata tak sebatas isyu ramah lingkungan saja. Di sumber yang sempat Blog Sesat baca, ada kejenuhan di 2tak. Bukan jenuh di level pembalap apalagi fans, tetapi jenuh di kalangan mekanik. Pengembangan mesin motor 2 tak saat itu sudah seperti di “plato”, tak lagi menanjak…melainkan statis di ketinggian tertentu. Ada keinginan kalangan mekanik ini untuk mengembangkan mesin baru dengan tantangan baru, yang pastinya bikin motor makin ribet dan ujung-ujungnya mahal level dewa wkwk…

Di sebuah artikel jaman doeloe, majalan Motorrad sempat mengangkat tema pembandingan 2 motor Valentino Rossi, yakni NSR 500 dan RC211V. Di musim akhirnya, NSR 500 Nastro Azzuro bertenaga 195 PS, sedangkan RC211V generasi pertama menyediakan 220 PS. Meskipun bobotnya lebih berat, kurva tenaga yang lebih linear membuat RC211V lebih “pemaaf” untuk dikendarai. Di tikungan motor-motor 2 tak bisa mengejar motor 4 tak yang berbobot puluhan Kg lebih berat, tetapi di straight sangat kelihatan bedanya, bagai zaman 800cc ketika Ducati Desmosedici Stoner melahap M1 Rossi di straight..

Sekembalinya ke 1000cc demi mencari biaya yang lebih rendah, tenaga motor MotoGP pun makin membrutal. Zamannya Ianone masih di Ducati, itu tenaga motor-motor MotoGP sudah berada di 260 PS. Motor RC213V Pedrosa saja sudah lebih dari 260 PS, apalagi motornya Ianone… Sayangnya, berapa pasnya tenaga motor MotoGP, tak ada yang mengumbar langsung.. Produsen cuma bilang, di atas sekian PS lah…

Kemarin Blog Sesat menemui sebuah video di Youtube yang lumayan bikin takajuik..

20180805_020110

Isinya David Coulthard menjelaskan cara kerja traction control di MotoGP. Di situ pun ada komentar dari Bradley Smith, pembalap Inggris yang bernaung di bawah tim KTM. Nah, di situ disebutkan, powernya sudah sampai di 300 horsepower! Ga mungkin banget makanya kalau tak pakai traction control!

Dari mana angka 300 horsepower itu? Entahlah.. kalau dari host macam DC dan pembalap yang diwawancara, ya ini bukan acara otomotif ecek-ecek…

Blog Sesat pun jadi ingat wawancara pasca race Brno Ahad kemarin. Di situ ada istilah “slow race”. Di Assen pun dikatakan “slow race”. Maksudnya, memang di awal-awal race semua pembalap menghemat ban dan tak menunjukkan kemampuannya. Tak ada yang berusaha kabur duluan. Ini semua demi menjaga ban hingga cukup untuk akhir race. Makanya, di beberapa balapan tahun ini banyak pembalap berada di rombongan terdepan, toh karena memang sama-sama tak ada yang berani ambil risiko kabur duluan karena risiko ban rusak sangat membayangi mereka.

Soal ban, pembalap rata-rata memuji Michelin yang bekerja baik dan menunjukkan perkembangan. Grip ban depan dan belakang makin sinkron. Mereka hanya mengeluhkan daya tahan ban. Kalau ditanya, apakah komponnya terlalu lunak, mereka juga tak bisa mengiyakan anggapan itu..

Menurut Blog Sesat, ban Michelin oke-oke saja dan makin oke. hanya tenaga 300 horsepower memang sudah bisa dibilang “terlalu” wkwk.. Menarik juga sih menyaksikan fenomena “slow race” ini…Tenaga 300 horsepower ternyata tak otomatis membuat pembalap lebih bisa kencang sepanjang race, kecenderungan untuk membalap halus dan menghemat ban makin besar. Dovizioso yang ditanya kemarin, apakah di akhir race dia mengganti mapping jadi lebih agresif membantah. Ia tak mengubah mapping, hanya memang berkendara lebih agresif di akhir race.

Iklan