Di dalam dunia psikologi, ada teori yang menyebutkan, bahwa manusia selalu mencari alasan atas segala keberhasilan dan kegagalannya. Hal ini tentunya juga kita alami, betul tidak Bro? Kita sadar ataupun tidak sadar selalu mencari penyebab ataupun menganalisa faktor-faktor yang menyumbangkan keberhasilan ataupun mendatangkan kegagalan.
Faktor-faktor itu dapat dibagi menjadi dua, pertama, berdasarkan asalnya: Faktor yang datang dari luar diri sendiri dan faktor yang berasal dari diri sendiri. Hal yang kedua adalah, apakah faktor itu bisa diubah atau tidak bisa diubah. Bingung? Mari kita bahas dengan bantuan contoh dari dunia balap.
1. Faktor yang datang dari luar diri sendiri: Banyak! Misalnya motor, atau kalau mau lebih detail lagi komponen-komponen motor sendiri sudah masuk faktor ini. Misalnya, ketika seorang pembalap bisa tampil sukses, maka dirinya ataupun para pemerhati balap motor akan mencari faktor yang menyebabkan si pembalap sukses. Nah, faktor yang datang dari luar diri pembalap, selain motor misalnya mekanik, team, cuaca, suplier ban, suspensi, kondisi trek dan sebagainya.
2. Faktor yang datang dari diri sendiri: Ya cuma diri sendiri dan segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh diri sendiri, ketrampilan maupun fisik.
Seusai balap ataupun selama latihan, pembalap dan teamnya akan senantiasa mengevaluasi dan memantau perkembangan prestasi pembalap maupun performa motornya. Tentunya mereka berusaha meningkatkan kinerja dan sinergi keduanya. Di dalam teori psikologi seperti disebut sebelumnya, ada faktor yang bisa diubah dan tidak bisa diubah:
1. Faktor dari dalam diri sendiri yang bisa diubah: misalnya stamina, berat badan dan teknik membalap. Dengan latihan keras, pembalap bisa memperbaiki faktor ini, artinya di sini mereka dapat berusaha! Perhatikan performa Tom Lüthi tahun ini..meningkat kan? Bahkan bukan tidak mungkin dalam GP 250 kemarin doi menjadi juara 1! Asal tahu saja, selama musim dingin doi berlatih fisik dengan keras karena merasa cedera yang dideritanya membuat penampilannya tidak optimal. Tidak main-main, di bawah pengawasan personal trainer terkenal, Lüthi latihan fitnes 4-5 kali seminggu, dan perharinya hingga 12 jam!
2. Faktor dari luar yang bisa diubah: Nah ini yang paling gampang, misalnya setting mesin, setting suspensi, atau kalau mau lebih fenomenal ya ganti suplier ban di tengah musim seperti yang dilakukan Dani Pedrosa tahun lalu. Kalau tidak cukup, ya sekalian ganti motor berikut teamnya, seperti yang dilakukan Melandri dan Hayden tahun ini (ini pembalap dua kayanya malah tukeran nasib hehe….).
Intinya, manusia berusaha mengubah yang bisa diubah dalam rangka mencapai tujuannya! Seperti kita ketahui, dan tentunya kita alami, sekaya apapun team seorang pembalap, sejago apapun seorang pembalap, semua ada batasnya! Sebab, ada faktor internal dan eksternal yang tidak bisa diubah-ubah.
3. Faktor dari dalam (internal) yang tidak bisa diubah-ubah: misalnya bakat! Memang banyak yang bilang bakat hanya sepersekian persen, usaha lebih menentukan, tetapi pada kenyataannya harus diakui, bakat itu penting! Saya jujur saja tidak bakat main piano, setelah berlatih berbulan-bulan, akhirnya bisa juga, tentunya dengan kualitas untuk konsumsi pribadi hehe… Sebaliknya, adik saya sangat cepat menguasai piano. Cukup mendengar musik sekali, dia langsung bisa memainkan chord plus melodinya dengan lancar, tentunya di awal sedikit mencoba-coba! Bagaimana dengan seorang pembalap? Dari pengalaman sih, ketika ia sudah kehilangan mental ataupun bakat sembalapnya, mau tidak mau kemampuannya pun akan menurun, bahkan drastis! Contohnya kasus yang menimpa Manuel Poggiali……
4. Faktor dari luar (eksternal) yang tidak bisa diubah-ubah: Misalnya hujan, ban mbledug kaya Shinya Nakano di Mugello, piston macet, komponen mengalami mal fungsi, ataupun diseruduk pembalap lain seperti yang dialami Tom Lüthi kemarin dan sebagainya.
Singkatnya, mencari alasan itu penting untuk meningkatkan kinerja di kemudian hari. Pembalap yang kerjanya hanya mencari alasan saja tentunya perlahan akan terbongkar kekatroannya. Jika zaman dulu pembalap bisa beralasan motornya kurang kencang atau kurang tenaga, kini semua itu bisa tertulis di atas kertas. Komputer pun juga bisa mencatat kecepatan si pembalap di tikungan dan bagaimana karakter pembalap membuka gas ataupun mengerem. Seiring meningkatnya teknologi, ruang untuk mencari alasan di luar diri sendiri semakin sempit! Kini, alasannya beralih ke komponen yang tidak terekam sensor komputer seperti suspensi, ban, rem, rangka dsb.: ya kurang anteng lah… kurang kaku lah..kurang daya cengkram lah… Namun, kita tahu sendirilah, pembalap yang selalu gagal dan menyalahkan faktor di luar dirinya akan tersingkir dengan sendirinya.
Jika kita belajar dari juara-juara legendaris, kita bisa lebih maju dari keadaan sekarang, sebab juara-juara legendaris adalah orang-orang yang bisa membungkam berbagai faktor yang mendatangkan kekalahan! Saya pribadi mencoba menarik nilai yang bermanfaat dari perjuangan mereka. Salah satunya dengan blog beraliran sesat ini hehe… Saya tidak punya PC, tidak punya lap top, tetapi tidak menjadi alasan untuk tidak menulis artikel (kecuali Universitas tutup hehe…..).
Teks: Prof. Dr. Arie Slight, M.Psi. SPsi. (Sarjana Psikopat)
Foto:Repro by HP-Klassikku