Yo.. sudah lama ya kita tak ngobrolin MotoGP. Ya semenjak Sepang Clash, saya cukup terpukul kehilangan 2 heroes sekaligus. Yup, buat penggemar berat MotoGP macam saya, itu ga lucu lagi… Awalnya seru, tetapi mulai adanya haters, intrik, suudzon sono-sini, hal yang seru itu menjadi musibah dan lama-lama ga lucu lagi.

Oke, kita beralih ke judul.. Nah, silahkan tebak siapa hayo yang akan jadi kuda hitam? Kalau lihat hasil test sih Suzuki dengan Vinales sangat menjanjikan ya, bahkan dengan performanya yang sekarang, bisa dibilang kandidat juara dunia MotoGP 2016! Namun, ingat lagi awal dua tahun lalu dengan Alex Espargaro yang juga bahkan bisa dibilang lebih dahsyat, karena sampai kualifikasipun mencengangkan dan membuat tim pabrikan yang terkekang aturan tampak kewalahan. Nah, kalau ingat yang itu, maka Vinales dan Suzuki mungkin akan jadi kuda hitam! Yup, sekali-kali nyelengkat lah…tapi belum jadi kandidat serius juara dunia… Nah, siapakah kandidat seriusnya? Ini dia:

100_Ducati-in-der-MotoGP.jpg.4837748

Yup, Ducati, terutama Ianone… Sudah lihat sendiri kemampuannya bertarung sejak Moto2 dan 2 tahun belakangan di Ducati kan… Yup, soal teknik dan keberanian, dia jago! Soal sportifitas, terbukti Rossi disikat di Philipp Island. Nah, kurang motornya saja yang joss…

Namun, semenjak bergabungnya Gigi Dall’igna. (singkat Gigi aja ah..susah namanya wkwkw), Ducati pelan-pelan bermetamorfosis. Kabarnya, power gila-gilaan itupun masih terus digali sama Gigi… Sudah lama sih Ducati tak bermain di 240 PS, mereka sudah main di 250 PS dan bahkan 260 PS. Nah, tenaga segitu juga diperoleh dengan terus menyempurnakan ketahanan mesinnya. Menurut Gigi, mesin Ducati dengan Desmodromicnya punya karakter yang sangat baik. Di putaran tinggi tak kalah dengan Pneumatic pabrikan Jepang, di putaran rendah punya torsi dan akselerasi yang lebih baik! Ini kelihatan banget waktu Ianone melibas Rossi di Sirkuit omahnya Casey Stoner toh… Tentu Gigi mengisyaratkan, settingnya harus tepat, dan dia sudah memahami itu…

130_Ducati-in-der-MotoGP.jpg.4837802

Nah, faktor lainnya yang bisa membuat Ducati sangat berpotensi juara dunia adalah keahlian strategi Gigi! Yup.. Dia sadar, motornya yang hanya bagus di sirkuit tertentu saja tak cukup, harus bagus di sebanyak-banyaknya sirkuit! Pelan-pelan dengan ECU tunggal Magneti Marelli. Nah, sampeyan kan tahu Ducati sudah kerjasama dengan supplier ini sejak lama.. Mereka jelas lebih menguasai, lihat saja Honda yang tahun lalu saja sudah dinilai meiliki mesin yang terlalu liar! Padahal, Ducati yang saat ini memiliki mesin dengan peak power terbaik dan torsi terbuas!

Itu mah semua tau ya… Nah, jangan salah, strategi Ducati kenal dengan ECU tunggal ini sudah dimulai sejak tahun lalu sebenarnya. Mereka tau menggunakan ECU ini seefektif mungkin. Saat pabrikan baru pada bikin pr pasca musim 2015, Ducati sudah membuat pr mereka terkait ECU sejak musim 2015 berjalan! ECU tunggal ini sudah dipakai di Desmosedici tim Avintia, tim satelit mereka! Jangan heran kalau test Jerez lalu Scott Redding mampu mempecundangi catatan waktu Marc Marquez yang juga terjun di test yang sama. Ya berarti Ducati tinggal minta saja lah resepnya dari Avintia hihihi…

160_Ducati-in-der-MotoGP.jpg.4837856

Weits..tak hanya di situ Bro… Ducati terus mengembangkan Desmosedici mereka..ya iyalah… Nah, lucunya, mereka punya pembalap yang jago late braking (Andrea Dovizioso) dan pembalap yang jago ngegas duluan selepas tikungan (Andrea Ianone). Oh ya, Dovi hanya kuat di awal-awal seri 2015 saja, setelah itu doi didera masalah grip roda belakang yang menurutnya kurang ngegigit.

Naaaah, perubahan supplier ban dari Bridgestone ke Michelin membawa berkah bagi Ducati! Kenapa, karena grip ban depan Michelin lebih payah dibandingkan Bridgestone! Lho kok lebih payah malah senang???? Jangan lupa Bro..Ban depan Bridgestone memungkinkan membelok sambil mengerem hingga ke titik terujung tikungan! Nah, ini kan kekuatan pesaing mereka selama ini, yakni Honda dan Yamaha! Nah, kalau dengan Michelin duo pabrikan Jepang kehilangan keunggulan itu, Ducati untung dong…ibarat kata sekarang, kemampuan masuk tikungan mereka jadi selevel!

Nah nya lagi nih, grip ban belakang Michelin lebih baik! Nah, ini dia yang diinginkan dan cocok dengan Dovizioso! Bagaimana dengan Ianone? Ya sama lah untungnya, power Ducati saat keluar tikungan akan lebih terakomodir… ibaratnya, kalau dengan Bridgstone pas keluar tikungan (motor masih miring) tenaga akan dibatasi sebutlah di 150 PS misalnya, nah dengan Michelin sebutlah bisa dikasih 160 PS!

Sejak test berakhir dan memasuki masa libur, Ducati terus berbenah menyempurnakan motor mereka dengan setting ECU tunggal dan ban Michelin. Kata Gigi sih kerja perintilan yang halus-halus hihihi..

Bersinarnya Scott Redding dibandingkan Marc Marquez juga menunjukkan, Ducati sudah semakin matang. Katanya sih Ducati Desmo edisi 2016 ini bisa ngajak ridernya bicara wkwkw..maksudnya “bicara” adalah, motor kasih gelagat-gelagat kalau grip ban sudah tak sanggup atau motor akan mengalami low maupun highsider! Redding mengakui ini! Yang lagi puyeng tentunya Honda! Bahkan saat test Jerez hari pertama, Marquez terlempar dari motornya (highsider), padahal katanya doi tidak sedang membuka gas, hanya menahan gas saja..yup, makanya Honda puyeng! Motornya tidak mengajak ridernya “bicara”, atau terlalu sedikit ngajak “bicara” aka ngasih feedback je ridernya.  Mesin binal, ECU baru, ban depan gripnya lebih payah, makanya Honda lagi pusing pala barbie…

sumber foto dan inspirasi:

http://www.motorradonline.de/motogp-moto2-moto3/ducatis-strategie-fuer-die-motogp-saison-2016/705536